Tampilkan postingan dengan label Aksi Polisionil 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aksi Polisionil 1. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juni 2026

Aksi Polisionil 1: Pasukan Belanda memasuki wilayah Driyorejo, Gresik, 1947

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 27 Juli 1947
Tempat: Driyorejo (Gresik) 
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 26 Januari 2026

Bom udara Jepang yang digunakan para pejuang untuk meranjau sebuah jembatan tetapi gagal meledak, 1947

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan besar 1947 semasa Aksi Polisionil 1
Tempat: Jawa (?)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 31 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (28)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:Soerabaya: Vluchtelingen van de Indonesische Terreur, afkomstig van Madoera.
  • Terjemahan:Surabaya: Para pengungsi asal Madura [yang mencari perlindungan] dari teror Indonesia
  • Bahasan: Teks dan foto ingin menunjukkan bahwa masyarakat banyak lebih merasa nyaman di dekat para tentara Belanda (yang berdiri tanpa baju di latar belakang). Apabila melihat posisi warga di dalam foto ada kemungkinan mereka dikumpulkan di sebuah lapangan yang memang menjadi basis tentara Belanda, dan tampaknya mereka sedang mendapatkan semacam pengarahan dari pihak yang tidak tampak di foto.
  • Catatan:
Waktu: 1947
Tempat: Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 22 September 2025

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (33): Berbagai tempat

Pemukiman warga Tionghoa di Tangerang (Serpong?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pabrik teh (di Cibadak, Sukabumi?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kawasan pemukiman di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Perkebunan karet di kaki Gunung Salak, Bogor
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Juli/Agustus 1947
Tempat: Jawa (a.l. Bogor, Sukabumi?, Tangerang)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga rangkaian foto dengan tema "bumi hangus" sebagai reaksi para pejuang kemerdekaan atas Aksi Polisionil 1 pihak Belanda, yang dimulai di posting ini.

Senin, 19 Mei 2025

Beberapa pesawat militer KNIL Udara di sekitar masa perang kemerdekaan: Pesawat pembom B-25

April 1947: Ulang tahun ke-5 Skuadron Udara 18 di lapangan terbang militer Cililitan, dengan sebuah pesawat pembom B-25 Mitchell di latar belakang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Awak pesawat pembom B-25 mempersiapkan …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dan mengangkut peralatan fotografi dan pemetaan …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… yang kemudian digunakan Belanda semasa Aksi Polisionil 1
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 23 September 2024

Atribut komunisme yang ditemukan pasukan Belanda pada masa perang kemerdekaan (2)

Lukisan di sebuah tembok dari bangunan yang tammpaknya dibumihanguskan pejuang kemerdekaan. Di sebelah kiri tertulis "pedjoeang kita", sementara di sebelah kanan gambar dari Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lenin, dan Josef Stalin.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua prajurit Belanda berpose di depan tembok ini.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan besar Juli/Agustus 1947
Tempat: kemungkinan di Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 21 September 2024

Atribut komunisme yang ditemukan pasukan Belanda pada masa perang kemerdekaan (1)

Pekalongan, Agustus 1947: Pasukan Belanda menemukan atribut komunisme di pabrik teh yang dibumihanguskan pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah bendera dengan lambang yang sama dengan yang ada di foto di atas, juga ditemukan militer Belenda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jember, kemungkinan juga 1947: Pasukan Belanda menurunkan papan PKI
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Edisi lain dari foto pertama
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947
Tempat: Jember, Pekalongan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Foto pertama, dan keempat, pernah dimuat di posting ini.

Minggu, 08 Mei 2022

Foto Soekarno yang direbut pasukan Belanda dan dipertontonkan di kendaraan militer mereka, 1947/1948

Cirebon, Juli 1947: Pasukan Belanda memajang potret Soekarno hasil rampasan, di depan sebuah truk militer semasa Aksi Polisionil 1
(klik untuk memperbesar | © nationaalarchief)
Rute Surabaya menuju Malang, 24 Juli 1947: Kendaraan lapis baja Belanda dengan poster Soekarno hasil rebutan, semasa Aksi Polisionil 1
(klik untuk memperbesar | © nationaalarchief)
Kemungkinan di sekitar Yogyakarta, 20 Desember 1948: Dua tentara KNIL asal Maluku dengan potret Soekarno dan ledekan "Ha-Ha-Ha Boeng Karno", semasa Aksi Polisionil 2
(klik untuk memperbesar | © nationaalarchief)

 Waktu: Juli 1947 dan Desember 1948
Tempat: Cirebon, Jawa Timur, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief
Catatan: Foto pertama merupakan update dalam ukuran lebih besar dari gambar yang pernah dimuat di posting ini sebelumnya.

Rabu, 18 November 2020

Karikatur Belanda tentang posisi PBB dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, 1947-1949

De Groene Amsterdammer, 9 Agustus 1947
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini keluar pada saat Aksi Polisionil 1 dan menggambarkan bagaimana Dewan Keamanan PBB, yang digambarkan sebagai polisi militer, menghentikan gerak maju pasukan Belanda yang digambarkan mengendarai kendaraan militer dengan bersenjata.

De Vlaam, Januari 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Karikatur ini keluar pada saat Aksi Polisionil 2, dan menggambarkan aksi Belanda sebagai perusakan atas sebuah cagar budaya. Lampu spot dengan nama "UNO" (PBB) mengarah ke aksi Belanda ini. Teks yang mengiringi berbunyi: "Belanda, dunia mengawasimu …".

Vrij Nederland, 22 Januari 1949
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Tindakan Belanda yang menangkap para petinggi pemerintah Republik Indonesia dalam Aksi Polisionil 2, dan membuangnya ke Bangka, digambarkan sebagai aib yang memalukan di karikatur ini. Belanda tampak tampil di sidang Dewan Keamanan PBB dengan mengenakan baju tidur (?) bertuliskan "Banka", sementara negera-negara lain, dalam pakaian resmi dan terhormat, terkaget-kaget melihat penampilan Belanda.

Elsevier De Groene, 23 Januari 1949
(klik untuk memperbesar | © Eppo Doeve / AVS)

Berbeda dengan 3 karikatur di atas yang cenderung kritis atas aksi Belanda, karikatur yang keempat ini justru melihat PBB bersama komunisme internasional sebagai luapan bah yang siap menenggelamkan Indonesia. Justru Belanda lah, yang digambarkan sebagai bocah yang dengan jarinya menutup lubang yang berpotensi memicu runtuhnya bendungan pelindung, yang menjadi pencegah terjadinya bencana. Penggambaran ini tampaknya diilhami oleh novel Hans Brinker.

Waktu: 1947, 1949
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Eppo Doeve | Leo Jordaan | Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 10 November 2020

Karikatur Belanda tentang Aksi Polisionil 1 dan 2, 1947-1949

(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini terbit di Het Parool edisi 29 Juli 1947, yang tampaknya menyindir Aksi Polisionil 1 sebagai tindakan berlebihan layaknya seorang polisi mengatur lalu lintas dengan mengerahkan meriam berkaliber raksasa.

(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini terbit di Het Parool edisi 21 Desember 1948, dengan mengutip ucapan Julius Caesar ketika memutuskan untuk memerangi Gnaeus Pompeius Magnus: Alea iacta est ("dadu telah digulirkan", artinya keputusan sudah diambil tapi keluarannya belum bisa dipastikan). Leo Jordaan secara cerdik memplesetkan ucapan ini menjadi Alea Djokja est. Intensinya sama, yaitu bahwa keputusan Belanda melancarkan Aksi Militer 2 dengan menyerang Yogyakarta ini merupakan keputusan yang tidak bisa ditarik balik, dan hasil akhirnya tidak bisa diketahui dengan jelas.

(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Karikatur ini terbit di De Vlam edisi 8 Januari 1949, memperlihatkan bagaimana diplomat Belanda Jan Herman van Roijen, di panggung sebuah pertunjukan dengan latar belakang gunung berapi yang menggambarkan Indonesia, dan tentara Belanda sebagai lelakon, mengganti papan judul Militaire Actie (aksi militer) dengan Veiligheids-maatregelen (tindakan pengamanan). Kalimat di bawah berbunyi: Explicateur van Royen: … De houding van het publiek dwingt ons, de vertoning onder een andere naam voort te zetten … (Van Roijen sang explikator: Sambutan penonton memaksa kami untuk meneruskan pertunjukan dengan nama lain), yang tampaknya menggambarkan bagaimana Belanda berusaha menunjukkan kepada dunia, di forum PBB saat itu, Aksi Polisionil 2 bukan sebagai tindakan militer.

Waktu: 1947, 1948, 1949
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan / Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 26 Desember 2019

Aksi Polisionil 1: Tentara Belanda merebut pos-pos TNI, 1947

Pasukan Belanda menguasai markas TNI di Genuk, Semarang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIMH)
Militer Belanda menangkap seorang kopral TNI di sekitar Probolinggo
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NOVO)
Pasukan Belanda menguasai markas TNI yang belum teridentifikasi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIMH)

Waktu: Juli 1947
Tempat: Genuk (Semarang), Probolinggo
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / Nederlands Instituut voor Militaire Historie / Nationaal Oorlogs- en Verzetsmuseum Overloon)
Catatan:

Sabtu, 16 November 2019

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (32): Banyumas, Bogor, Cilacap

Stasiun kereta Sumpiuh, Banyumas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah sekolah di Cilacap
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah gereja (atau biara?) di wilayah Bogor
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Rumah praktek dokter R. Koestedjo
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Juli/Agustus 1947
Tempat: Bogor, Cilacap, Sumpiuh (Banyumas)
Tokoh:
Peristiwa: Reruntuhan dan puing-puing hasil aksi bumi hangus yang dilakukan pejuang kemerdekaan ketika Belanda menjalankan Aksi Polisionil 1 terhadap bangunan yang dipandang mewakili sosok Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 11 Juli 2019

Biara Ordo Fransiskan di Cicurug, Sukabumi yang terlantarkan di masa perang kemerdekaan, 1947 (2)

Altar yang menunjukkan usaha perusakan dan pembakaran
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Dinding gereja dengan sisa-sisa perusakan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Barang-barange gereja yang dirusak
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 30 Juli 1947
Tempat: Cicurug (Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa: Ketika Belanda mulai melancarkan Aksi Polisionil 1 di bulan Juli 1947 dan merebut wilayah-wilayah Republika Indonesia, TNI melancarkan aksi bumi hangus ke objek-objek vital dan juga ke bangunan yang dianggap sebagai simbol Belanda, a.l. biara Ordo Fransiskan ini.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Lihat juga posting sebelum ini.

Rabu, 29 Mei 2019

Aksi Polisionil 1: Sebuah keluarga Belanda mengungsi, 1947

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa: Ternyata di saat perang kemerdekaan, bukan hanya rakyat Indonesia yang harus mengungsi, warga Belanda pun harus meninggalkan kediaman mereka, seperti yang dialami keluarga Bloem ini. Tampak Pak Bloem (berbaju putih) ditemani istrinya (paling kanan) dan dua anak perempuannya (paling depan dan belakang) serta pembantunya yang membawa sepeda, pergi meninggalkan komplek perumahan mereka dengan latar belakang tentara Belanda berjaga-jaga. Tampak pula dua anak kecil digendong, serta satu bocah dituntun tanpa alas kaki. Menarik untuk dicatat bahwa para perempuan di keluarga Bloem ini mengenakan kebaya.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 19 Maret 2019

Aksi Polisionil 1: Truk militer Belanda meledek "Mana Soekarno?", 1947

(klik untuk memperbesar | © NIMH)

Waktu: Juli-September 1947
Tempat: Jawa Barat (?)
Tokoh:
Peristiwa: Seekor anjing memandang dari lubang sebuah truk militer Belanda milik Tijger Brigade yang dicoreti dengan tulisan Waar is Soekarno? (Mana Soekarno?) semasa Aksi Polisionil 1.
Fotografer: Vermeulen
Sumber / Hak cipta: Nederlands Instituut voor Militaire Historie
Catatan:

Rabu, 27 Februari 2019

Aksi Polisionil 1 di sekitar Palembang: Pejuang kemerdekaan yang tertangkap Belanda di Palembang, 1947

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: Juli 1947
Tempat: Palembang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: W.F.J. Pielage
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Senin, 25 Februari 2019

Aksi Polisionil 1 di sekitar Palembang: Pasukan Belanda merebut Palembang, 1947

Seorang tentara Belanda berlari maju, tampak beberapa senapan berserakan (kemungkinan milik para pejuang kemerdekaan)
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Tentara Belanda membidik dan berlindung di balik kendaraan lapis baja
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Pasukan Belanda menguasai "Bentengpoort"
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Militer Belanda memakamkan tentaranya yang gugur dalam peperangan di Palembang
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: Juli 1947
Tempat: Palembang
Tokoh:
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer: W.F.J. Pielage
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: