![]() |
| (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
Waktu: 27 Juli 1947
Tempat: Driyorejo (Gresik)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:
Sebuah usaha untuk mengumpulkan foto/gambar tentang Indonesia zaman dulu yang tersebar di dunia maya. Setelah 13 tahun (hampir) tiap hari mengudara blog ini mohon izin untuk mulai mengurangi frekwensi siarannya. Anda tetap diminta untuk menambahkan/membetulkan informasi di setiap foto/gambar ini. Urun rembug Anda akan membantu pemirsa yang lain.
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.
Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Pemukiman warga Tionghoa di Tangerang (Serpong?) (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Pabrik teh (di Cibadak, Sukabumi?) (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Sebuah kawasan pemukiman di Jawa (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Perkebunan karet di kaki Gunung Salak, Bogor (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| April 1947: Ulang tahun ke-5 Skuadron Udara 18 di lapangan terbang militer Cililitan, dengan sebuah pesawat pembom B-25 Mitchell di latar belakang (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Awak pesawat pembom B-25 mempersiapkan … (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| … dan mengangkut peralatan fotografi dan pemetaan … (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| … yang kemudian digunakan Belanda semasa Aksi Polisionil 1 (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Lukisan di sebuah tembok dari bangunan yang tammpaknya dibumihanguskan pejuang kemerdekaan. Di sebelah kiri tertulis "pedjoeang kita", sementara di sebelah kanan gambar dari Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lenin, dan Josef Stalin. (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Dua prajurit Belanda berpose di depan tembok ini. (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Pekalongan, Agustus 1947: Pasukan Belanda menemukan atribut komunisme di pabrik teh yang dibumihanguskan pejuang kemerdekaan (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Sebuah bendera dengan lambang yang sama dengan yang ada di foto di atas, juga ditemukan militer Belenda (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Jember, kemungkinan juga 1947: Pasukan Belanda menurunkan papan PKI (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Edisi lain dari foto pertama (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Cirebon, Juli 1947: Pasukan Belanda memajang potret Soekarno hasil rampasan, di depan sebuah truk militer semasa Aksi Polisionil 1 (klik untuk memperbesar | © nationaalarchief) |
![]() |
| Rute Surabaya menuju Malang, 24 Juli 1947: Kendaraan lapis baja Belanda dengan poster Soekarno hasil rebutan, semasa Aksi Polisionil 1 (klik untuk memperbesar | © nationaalarchief) |
![]() |
| Kemungkinan di sekitar Yogyakarta, 20 Desember 1948: Dua tentara KNIL asal Maluku dengan potret Soekarno dan ledekan "Ha-Ha-Ha Boeng Karno", semasa Aksi Polisionil 2 (klik untuk memperbesar | © nationaalarchief) |
Waktu: Juli 1947 dan Desember 1948
Tempat:
Cirebon, Jawa Timur, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief
Catatan:
Foto pertama merupakan update dalam ukuran lebih besar dari gambar yang pernah dimuat di posting ini sebelumnya.
![]() |
| De Groene Amsterdammer, 9 Agustus 1947 (klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS) |
Karikatur ini keluar pada saat Aksi Polisionil 1 dan menggambarkan bagaimana Dewan Keamanan PBB, yang digambarkan sebagai polisi militer, menghentikan gerak maju pasukan Belanda yang digambarkan mengendarai kendaraan militer dengan bersenjata.
![]() |
| De Vlaam, Januari 1949 (klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS) |
Karikatur ini keluar pada saat Aksi Polisionil 2, dan menggambarkan aksi Belanda sebagai perusakan atas sebuah cagar budaya. Lampu spot dengan nama "UNO" (PBB) mengarah ke aksi Belanda ini. Teks yang mengiringi berbunyi: "Belanda, dunia mengawasimu …".
![]() |
| Vrij Nederland, 22 Januari 1949 (klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS) |
Tindakan Belanda yang menangkap para petinggi pemerintah Republik Indonesia dalam Aksi Polisionil 2, dan membuangnya ke Bangka, digambarkan sebagai aib yang memalukan di karikatur ini. Belanda tampak tampil di sidang Dewan Keamanan PBB dengan mengenakan baju tidur (?) bertuliskan "Banka", sementara negera-negara lain, dalam pakaian resmi dan terhormat, terkaget-kaget melihat penampilan Belanda.
![]() |
| Elsevier De Groene, 23 Januari 1949 (klik untuk memperbesar | © Eppo Doeve / AVS) |
Berbeda dengan 3 karikatur di atas yang cenderung kritis atas aksi Belanda, karikatur yang keempat ini justru melihat PBB bersama komunisme internasional sebagai luapan bah yang siap menenggelamkan Indonesia. Justru Belanda lah, yang digambarkan sebagai bocah yang dengan jarinya menutup lubang yang berpotensi memicu runtuhnya bendungan pelindung, yang menjadi pencegah terjadinya bencana. Penggambaran ini tampaknya diilhami oleh novel Hans Brinker.
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS) |
Waktu:
1947, 1948, 1949
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Leo Jordaan / Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:
![]() |
| Pasukan Belanda menguasai markas TNI di Genuk, Semarang (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIMH) |
![]() |
| Militer Belanda menangkap seorang kopral TNI di sekitar Probolinggo (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NOVO) |
![]() |
| Pasukan Belanda menguasai markas TNI yang belum teridentifikasi (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIMH) |
![]() |
| Stasiun kereta Sumpiuh, Banyumas (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Sebuah sekolah di Cilacap (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Sebuah gereja (atau biara?) di wilayah Bogor (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Rumah praktek dokter R. Koestedjo (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Altar yang menunjukkan usaha perusakan dan pembakaran (klik untuk memperbesar | © gahetna) |
![]() |
| Dinding gereja dengan sisa-sisa perusakan (klik untuk memperbesar | © gahetna) |
![]() |
| Barang-barange gereja yang dirusak (klik untuk memperbesar | © gahetna) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © NIMH) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © spaarnestad) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © spaarnestad) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © spaarnestad) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © spaarnestad) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © spaarnestad) |
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © spaarnestad) |
![]() |
| Seorang tentara Belanda berlari maju, tampak beberapa senapan berserakan (kemungkinan milik para pejuang kemerdekaan) (klik untuk memperbesar | © spaarnestad) |
![]() |
| Tentara Belanda membidik dan berlindung di balik kendaraan lapis baja (klik untuk memperbesar | © spaarnestad) |
![]() |
| Pasukan Belanda menguasai "Bentengpoort" (klik untuk memperbesar | © spaarnestad) |
![]() |
| Militer Belanda memakamkan tentaranya yang gugur dalam peperangan di Palembang (klik untuk memperbesar | © spaarnestad) |