Tampilkan postingan dengan label Banyumas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Banyumas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (15)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Bahasan di awal: Kemiskinan ada dari dulu hingga sekarang, termasuk di masa penjajahan Belanda, dan kemudian dikabarkan meningkat tajam di masa pendudukan Jepang. Proklamasi kemerdekaan juga tidak menyulap kemiskinan menjadi sirna; perang kemerdekaan malah makin mempersulit pelaksanaan pengentasan kemiskinan karena prioritas para pihak berada di memenangkan konflik. Banyak foto yang menunjukkan kemiskinan semasa perang kemerdekaan: orang yang berpakaian compang-camping, berbadan kurus kering, luntang-lantung, dan warga yang senang mendapatkan makanan atau layanan kesehatan yang dibagikan pihak Belanda. Ini dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk menunjukkan bahwa masyarakat yang berada di bawah kekuasaan Republik Indonesia sangat menderita; dan bahwa Belanda datang untuk mengubah suasana ini ke yang jauh lebih baik.
  • Teks asli penyerta foto:Een van de veertien ten dode gedoemden, die wij in een afdeling van de gevangenis te Banjoemas aantroffen. Deze lieden waren veroordeeld tot de doodstraf door uithongering en waarom? Omdat zijn "koerang semangat" (onvoldoende ijverig) waren. Banjoemas.
  • Terjemahan:Salah satu dari empat belas terpidana mati yang kami temukan di salah satu sudut penjara di Banyumas. Orang-orang ini dihukum mati dengan cara dibiarkan kelaparan, dan mengapa? Karena mereka "koerang semangat". Banyumas.
  • Catatan: Lihat juga kumpulan foto yang menampilkan kemiskinan di masa lalu.
Waktu: 1947
Tempat: Banyumas
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 03 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (14)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Bahasan di awal: Kemiskinan ada dari dulu hingga sekarang, termasuk di masa penjajahan Belanda, dan kemudian dikabarkan meningkat tajam di masa pendudukan Jepang. Proklamasi kemerdekaan juga tidak menyulap kemiskinan menjadi sirna; perang kemerdekaan malah makin mempersulit pelaksanaan pengentasan kemiskinan karena prioritas para pihak berada di memenangkan konflik. Banyak foto yang menunjukkan kemiskinan semasa perang kemerdekaan: orang yang berpakaian compang-camping, berbadan kurus kering, luntang-lantung, dan warga yang senang mendapatkan makanan atau layanan kesehatan yang dibagikan pihak Belanda. Ini dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk menunjukkan bahwa masyarakat yang berada di bawah kekuasaan Republik Indonesia sangat menderita; dan bahwa Belanda datang untuk mengubah suasana ini ke yang jauh lebih baik.
  • Teks asli penyerta foto:In de gevangenis van Banjoemas vonden we tusschen vodden en lompen 14 levende skeletten die veroordeeld waren tot de "hongerdood"en waarom? Omdat ze "koerang semangat" waren, d.w.z. geen voldoende ijver aan den dag legden voor de z.g. Republiek. De man in de achtergrond was pas 3 maanden binnen. Allen leden aan dysentie en lagen in hun vuil.
  • Terjemahan:Di penjara Banyumas, di antara tumpukan kain yang compang-camping, kami menemukan 14 kerangka hidup yang dikutuk "kelaparan", dan mengapa? Karena mereka "koerang semangat", yang berarti mereka tidak menunjukkan semangat yang cukup untuk [berjuang demi] Republik. Lelaki di latar belakang baru berada di dalam penjara selama tiga bulan. Semuanya menderita disentri dan terbaring di antara kotoran mereka.
  • Catatan: Lihat juga kumpulan foto yang menampilkan kemiskinan di masa lalu.
Waktu: kemungkinan 1947
Tempat: Banyumas
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 24 Februari 2025

Foto udara atas kawasan-kawasan industri di Jawa, sekitar pertengahan 1920-an (7)

Pabrik gula Sewugalur di Kulonprogo, Yogyakarta, yang area pabriknya tampak besar dibanding kawasan pemukiman pegawainya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pabrik gula Purwokerto di tengah pesawahan, perkebunan tebu, dan pemukiman warga serta pegawai pabrik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pabrik gula Kalirejo di Sumpiuh, Banyumas, dengan sebuah taman bundar yang dikelilingi perumahan pegawai pabrik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1920-an (1924?)
Tempat: Jawa (Banyumas, Purwokerto, Yogyakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 16 November 2019

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (32): Banyumas, Bogor, Cilacap

Stasiun kereta Sumpiuh, Banyumas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah sekolah di Cilacap
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah gereja (atau biara?) di wilayah Bogor
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Rumah praktek dokter R. Koestedjo
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Juli/Agustus 1947
Tempat: Bogor, Cilacap, Sumpiuh (Banyumas)
Tokoh:
Peristiwa: Reruntuhan dan puing-puing hasil aksi bumi hangus yang dilakukan pejuang kemerdekaan ketika Belanda menjalankan Aksi Polisionil 1 terhadap bangunan yang dipandang mewakili sosok Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 11 April 2018

Aksi Polisionil 1: Beberapa foto dari Jawa Tengah

Banyumas, September 1947: Sabotase TNI atas jembatan di atas parit ini memperlambat laju kendaraan lapis baja Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
27/28 Juli 1947: Pos pemberhentian Belanda di antara Banyumas dan Cilacap
(klik untuk memperbesar | © Hugo Wilmar / spaarnestad / gahetna)
20 Juli 1947: Pasukan Belanda menguasai alun-alun Purwokerto
(klik untuk memperbesar | © Hugo Wilmar / spaarnestad / gahetna)
Konvoi pasukan Belanda di Solo
(klik untuk memperbesar | © Henri  Cartier Bresson / Magnum / gahetna)
Tegal, Juli 1947: Penduduk membongkar barikade yang dipasang para pejuang, dengan disaksikan prajurit Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Ambarawa, Agustus 1947: Kesatuan KNIL dalam pertempuran melawan para pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1947
Tempat: Ambarawa, Banyumas, Cilacap, Purwokerto, Solo, Tegal
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Hugo Wilmar (2 foto), Henri  Cartier Bresson (1 foto)
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo / Het Nationaal Archief
Catatan:

UPDATE 3 Januari 2020
Foto nomor 3 dalam ukuran yang lebih besar:

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaanerstad)

Selasa, 17 Oktober 2017

Perayaan 50 tahun bertahtanya Ratu Wilhelmina, 1948

Lomba gigit koin di alun-alun Banyumas
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pawai masyarakat Alor Timur
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pawai anak-anak di Purwakarta
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Upacara di istana Gubernur-Jenderal
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 6 September 1948
Tempat: Alor, Banyumas, Jakarta, Purwakarta
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 6 September 1948 warga Belanda merayakan 50 tahun bertahtanya Ratu Wilhelmina, termasuk di wilayah yang dikuasai Belanda di Indonesia. Wilhelmina sendiri, dengan perayaan 50 tahun ini, menjadi penguasa Belanda terlama dalam sejarah.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 10 Januari 2017

TNI hijrah dari Banyumas (3)

PENGANTAR

Perundingan Renville menghasilkan keputusan yang diperdebatkan: di satu sisi, Belanda mengakui secara resmi eksistensi Republik Indonesia; di sisi lain, Republik Indonesia hanya diakui di Yogyakarta serta sebagian dari wilayah Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Salah satu konsekuensinya adalah bahwa pasukan TNI harus hengkang dari luar wilayah itu. Maka dimulailah proses perpindahan pejuang TNI secara besar-besaran yang dikenal dengan istilah hijrah.

Banyak wilayah di Jawa Barat menjadi tempat awal proses hijrah. Pasukan TNI berkumpul a.l. di Cianjur, Ciwidey, Kuningan, Purwakarta, dan Sukabumi untuk meninggalkan kampung halaman dan tempat perjuangan menuju Jawa Tengah. Tapi bukan hanya dari Jawa Barat, proses hijrah juga tercatat terjadi di Sumatera Selatan (pangkalan udara Karang Endah, Gelumbang, Muara Enim), Jawa Tengah (Banyumas, Kroya), dan Jawa Timur (Bangil).

Pihak Belanda lumayan banyak membuat foto dari peristiwa ini. Betapa tidak, inilah kesempatan Belanda untuk mendokumentasikan pejuang TNI tanpa harus takut adanya baku tembak.

Kita akan lihat bagaimana pasukan TNI sebagian besar berperlengkapan seadanya, bahkan sering tanpa alas kaki. Tapi ini semua tidak menghalangi mereka untuk berbaris dengan bangga memasuki area permulaan hijrah. Ini akan sangat mendukung pernyataan bahwa TNI itu memang "berasal dari rakyat".

Beberapa foto lain akan memperlihatkan bagaimana beragamnya senjata TNI. Senjata-senjata itu harus diserahkan ke pihak Belanda sebelum proses hijrah dimulai. Kita akan lihat senapan dan mitraliur, granat dan ranjau, hingga ke pedang samurai Jepang, bahkan sampai ke ban-ban mobil untuk diserahkan ke pihak Belanda.

Kita juga akan lihat bahwa pasukan TNI bukan hanya lelaki, tetapi juga dari kaum perempuan. Ini sangat menarik buat pihak Belanda sehingga mereka membuat beberapa foto dari para pejuang wanita ini. Selain pejuang wanita, Belanda juga mencatat bahwa ada juga pejuang TNI yang masih bisa dikategorikan sebagai anak-anak. Selain itu, juru foto Belanda memperlihatkan bagaimana isteri dan keluarga pejuang TNI rela ikut meninggalkan kampung halaman mereka menuju wilayah baru yang boleh jadi tidak pernah mereka kenal atau lihat sebelumnya.

Selanjutnya, di beberapa foto akan kita lihat bagaimana pejuang TNI bisa ngobrol santai dengan pasukan Belanda, malah berfoto bersama sambil tersenyum. Suatu hal yang boleh jadi tak terbayangkan sebelumnya ketika kedua belah pihak masih saling bertempur.

Selamat menyimak bagian dari sejarah kita ini!

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 8 Februari 1948
Tempat: Banyumas
Tokoh:
Peristiwa: Pasukan TNI siap diangkut truk-truk Belanda untuk menuju wilayah yang dikuasai Republik Indonesia.
Fotografer: J.C. Taillie
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Foto keempat juga berasal dari fotografer J.C. Taillie tetapi bertanggal 7 Februari 1948. Jadi masih belum jelas betul apakah ini juga bagian dari hijrah TNI dari Banyumas.

Minggu, 08 Januari 2017

TNI hijrah dari Banyumas (2)

PENGANTAR

Perundingan Renville menghasilkan keputusan yang diperdebatkan: di satu sisi, Belanda mengakui secara resmi eksistensi Republik Indonesia; di sisi lain, Republik Indonesia hanya diakui di Yogyakarta serta sebagian dari wilayah Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Salah satu konsekuensinya adalah bahwa pasukan TNI harus hengkang dari luar wilayah itu. Maka dimulailah proses perpindahan pejuang TNI secara besar-besaran yang dikenal dengan istilah hijrah.

Banyak wilayah di Jawa Barat menjadi tempat awal proses hijrah. Pasukan TNI berkumpul a.l. di Cianjur, Ciwidey, Kuningan, Purwakarta, dan Sukabumi untuk meninggalkan kampung halaman dan tempat perjuangan menuju Jawa Tengah. Tapi bukan hanya dari Jawa Barat, proses hijrah juga tercatat terjadi di Sumatera Selatan (pangkalan udara Karang Endah, Gelumbang, Muara Enim), Jawa Tengah (Banyumas, Kroya), dan Jawa Timur (Bangil).

Pihak Belanda lumayan banyak membuat foto dari peristiwa ini. Betapa tidak, inilah kesempatan Belanda untuk mendokumentasikan pejuang TNI tanpa harus takut adanya baku tembak.

Kita akan lihat bagaimana pasukan TNI sebagian besar berperlengkapan seadanya, bahkan sering tanpa alas kaki. Tapi ini semua tidak menghalangi mereka untuk berbaris dengan bangga memasuki area permulaan hijrah. Ini akan sangat mendukung pernyataan bahwa TNI itu memang "berasal dari rakyat".

Beberapa foto lain akan memperlihatkan bagaimana beragamnya senjata TNI. Senjata-senjata itu harus diserahkan ke pihak Belanda sebelum proses hijrah dimulai. Kita akan lihat senapan dan mitraliur, granat dan ranjau, hingga ke pedang samurai Jepang, bahkan sampai ke ban-ban mobil untuk diserahkan ke pihak Belanda.

Kita juga akan lihat bahwa pasukan TNI bukan hanya lelaki, tetapi juga dari kaum perempuan. Ini sangat menarik buat pihak Belanda sehingga mereka membuat beberapa foto dari para pejuang wanita ini. Selain pejuang wanita, Belanda juga mencatat bahwa ada juga pejuang TNI yang masih bisa dikategorikan sebagai anak-anak. Selain itu, juru foto Belanda memperlihatkan bagaimana isteri dan keluarga pejuang TNI rela ikut meninggalkan kampung halaman mereka menuju wilayah baru yang boleh jadi tidak pernah mereka kenal atau lihat sebelumnya.

Selanjutnya, di beberapa foto akan kita lihat bagaimana pejuang TNI bisa ngobrol santai dengan pasukan Belanda, malah berfoto bersama sambil tersenyum. Suatu hal yang boleh jadi tak terbayangkan sebelumnya ketika kedua belah pihak masih saling bertempur.

Selamat menyimak bagian dari sejarah kita ini!

Letnan Van Warmelen (kiri 1) dan Kolonel D. Huising (Panglima Brigade V Belanda; kiri 2) berbicara dengan pengamat dari Komisi Tiga Negara, yaitu seorang perwira Inggris (berseragam Skotlandia) dan Letnan Kolonel Oliver O'Dickson dari AS (kanan)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pengamat KTN dari Inggris dan Kolonel Huising menjelang pemberangkatan pasukan TNI
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 8 Februari 1948
Tempat: Banyumas
Tokoh:
Peristiwa: Pasukan TNI siap diangkut truk-truk Belanda untuk menuju wilayah yang dikuasai Republik Indonesia.
Fotografer: J.C. Taillie
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Jumat, 06 Januari 2017

TNI hijrah dari Banyumas (1)

PENGANTAR

Perundingan Renville menghasilkan keputusan yang diperdebatkan: di satu sisi, Belanda mengakui secara resmi eksistensi Republik Indonesia; di sisi lain, Republik Indonesia hanya diakui di Yogyakarta serta sebagian dari wilayah Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Salah satu konsekuensinya adalah bahwa pasukan TNI harus hengkang dari luar wilayah itu. Maka dimulailah proses perpindahan pejuang TNI secara besar-besaran yang dikenal dengan istilah hijrah.

Banyak wilayah di Jawa Barat menjadi tempat awal proses hijrah. Pasukan TNI berkumpul a.l. di Cianjur, Ciwidey, Kuningan, Purwakarta, dan Sukabumi untuk meninggalkan kampung halaman dan tempat perjuangan menuju Jawa Tengah. Tapi bukan hanya dari Jawa Barat, proses hijrah juga tercatat terjadi di Sumatera Selatan (pangkalan udara Karang Endah, Gelumbang, Muara Enim), Jawa Tengah (Banyumas, Kroya), dan Jawa Timur (Bangil).

Pihak Belanda lumayan banyak membuat foto dari peristiwa ini. Betapa tidak, inilah kesempatan Belanda untuk mendokumentasikan pejuang TNI tanpa harus takut adanya baku tembak.

Kita akan lihat bagaimana pasukan TNI sebagian besar berperlengkapan seadanya, bahkan sering tanpa alas kaki. Tapi ini semua tidak menghalangi mereka untuk berbaris dengan bangga memasuki area permulaan hijrah. Ini akan sangat mendukung pernyataan bahwa TNI itu memang "berasal dari rakyat".

Beberapa foto lain akan memperlihatkan bagaimana beragamnya senjata TNI. Senjata-senjata itu harus diserahkan ke pihak Belanda sebelum proses hijrah dimulai. Kita akan lihat senapan dan mitraliur, granat dan ranjau, hingga ke pedang samurai Jepang, bahkan sampai ke ban-ban mobil untuk diserahkan ke pihak Belanda.

Kita juga akan lihat bahwa pasukan TNI bukan hanya lelaki, tetapi juga dari kaum perempuan. Ini sangat menarik buat pihak Belanda sehingga mereka membuat beberapa foto dari para pejuang wanita ini. Selain pejuang wanita, Belanda juga mencatat bahwa ada juga pejuang TNI yang masih bisa dikategorikan sebagai anak-anak. Selain itu, juru foto Belanda memperlihatkan bagaimana isteri dan keluarga pejuang TNI rela ikut meninggalkan kampung halaman mereka menuju wilayah baru yang boleh jadi tidak pernah mereka kenal atau lihat sebelumnya.

Selanjutnya, di beberapa foto akan kita lihat bagaimana pejuang TNI bisa ngobrol santai dengan pasukan Belanda, malah berfoto bersama sambil tersenyum. Suatu hal yang boleh jadi tak terbayangkan sebelumnya ketika kedua belah pihak masih saling bertempur.

Selamat menyimak bagian dari sejarah kita ini!

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 8 Februari 1948
Tempat: Banyumas
Tokoh:
Peristiwa: Pasukan TNI siap diangkut truk-truk Belanda untuk menuju wilayah yang dikuasai Republik Indonesia.
Fotografer: J.C. Taillie
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 10 Juli 2016

Aksi Polisionil 1: Pasukan Belanda memuat bom ke pesawat pemburu di Banyumas, 1947

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: Agustus 1947
Tempat: Banyumas
Tokoh:
Peristiwa: Pasukan Belanda memuat bom ke pesawat pemburu Curtiss P-40N Kittyhawk di Banyumas.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 02 Juni 2016

Kegiatan tentara Belanda ketika tidak sedang menggempur pejuang Indonesia (5): main bola

Banyumas, 7 Februari 1948
(klik untuk memperbesar | © J.C. Taillie / gahetna)
April 1948
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Tanjung Priuk, 13 Maret 1948
(klik untuk memperbesar | © R.G. Jonkman / gahetna)
Semarang, 12 April 1948
(klik untuk memperbesar | © Th. van de Burgt /  gahetna)
Waktu: 1948
Tempat: Banyumas, Semarang, Tanjung Priuk
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: J.C. Taillie / R.G. Jonkman / Th. van de Burgt
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Sabtu, 20 Februari 2016

Acara hiburan dari tentara Belanda untuk masyarakat Indonesia (2) - Banyumas

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 1 Oktober 1947
Tempat: Banyumas
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Th. van deBurgt
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Ya, ada stand poffertjes.

Senin, 21 Juli 2014

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (5)

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.


Bagian 5: Peranan Konsul Republik Tiongkok
Ketika Republik Indonesia masih sangat muda, sebagian orang masih melihat bahwa status warga ex Hindia-Belanda tidak jelas. Ada yang beranggapan bahwa Republik Tiongkok (Kuomintang) harus menjadi kekuatan yang melindungi warga Tionghoa di wilayah yang dilanda konflik. Di sini kita akan melihat beberapa peninjauan oleh utusan Konsulat Tiongkok di berbagai tempat.

Mayor Pao, perwira militer Tiongkok, meninjau puing-puing perumahan warga Tionghoa di Pekanbaru yang dirusak para pejuang kemerdekaan. Januari 1949.
gahetna)
Wakil Konsul Tiongkok meninjau situasi di Semarang, didampingi 2 perwira militer.
gahetna)
Dua perwira militer Tiongkok di Semarang dalam lawatan Wakil Konsul Tiongkok ke kota ini.
gahetna)

Konsul Tiongkok Chieng Y Pe (?) di Palembang, dalam kunjungan Gubernur Jenderal van Mook ke wilayah ini.
gahetna)
Wakil Konsul Tiongkok meninjau situasi di Banyumas.
gahetna)

Konsul Tiongkok Lee Djin Gun (?) berbicara di depan warga Tionghoa di Medan yang menurut pemberitaan Belanda meminta bertahannya kekuasaan Belanda di wilayah ini. 4 September 1947.
gahetna)

Perwira militer Tiongkok, Kapten Li Chen Hsiung meninjau situasi di Purwakarta.
gahetna)

Waktu: masa perang kemerdekaan
Tempat: Pekanbaru, Semarang, Banyumas, Palembang, Purwakarta
Tokoh:
Peristiwa: Kunjungan para pejabat konsulat Tiongkok, termasuk para perwira militernya, ke berbagai kota di untuk meninjau situasi yang menyangkut warga Tionghoa semasa perang kemerdekaan.
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Menarik untuk dipelajari lebih lanjut:
1. Sejauh mana kunjungan-kunjungan di atas berpengaruh ke situasi warga Tionghoa saat itu.
2. Apakah ini juga mempengarugi sikap Tiongkok, sebegai pemegang kursi tetap di Dewan Keamanan, di dalam mendukung kemerdekaan Indonesia di PBB. Umumnya diketahui bahwa Tiongkok termasuk pendukung Indonesia.
3. Sejauh mana agama mengambil peran di dalam sikap Tiongkok. Chiang Kai-shek dikenal dekat dengan beberapa jenderal Muslim di jajaran tentara Tiongkok, dan para panglima perang ini loyal terhadap dia. Di saat perang kemerdekaan Indonesia, Chiang Kai-shek malah mempercayakan jabatan Menteri Pertahanan Nasional Tiongkok kepada Jenderal Bai Chongxi (Pai Chung-hsi), seorang jenderal Muslim.
4. Atau semua hal di atas sama sekali tidak ada peranannya, dan masalah warga Tionghoa di Indonesia tidak mendapat perhatian karena Kuomintang berkonsentrasi penuh ke masalah perseteruan dalam negeri di dalam perseteruan melawan golongan komunis pimpinan Mao Zedong?


UPDATE 4 Juli 2018
Berikut beberapa foto di atas tetapi dengan kualitas yang lebih bagus, dan ukuran lebih besar. Foto-foto dibuat tanggal 10 Oktober 1947 oleh Th. van de Burgt dan J.C. Taillie, meliput kedatangan Wakil Konsul Tiongkok di Jakarta, Chu Tsang Tung yang didampingi Kapten Li Chen Hsiung dan Letnan Hu Yung Shen di landasan pacu Wirasaba, Purbalingga, yang dilanjutkan dengan inspeksi ke wilayah sekitar Banyumas.
Letnan De Vries menyambut Wakil Konsul Chu Tsang Tung, disaksikan Kapten Li Chen Hsiung
(klik untuk memperbesar | © J.C. Taillie / gahetna)
D.ki.k.ka.: ?, Li Chen Hsiung, Chu Tsang Tung, Hu Yung Shen, De Vries
(klik untuk memperbesar | © Th. van de Burgt / gahetna)
D.ki.k.ka.: ?, Li Chen Hsiung, ?, Hu Yung Shen, De Vries
(klik untuk memperbesar | © Th. van de Burgt / gahetna)
D.ki.k.ka.: ?, Li Chen Hsiung, Kolonel J. Meyer (komandan Brigade V), Hu Yung Shen, De Vries
(klik untuk memperbesar | © Th. van de Burgt / gahetna)

Tambahan foto dari peristiwa yang sama:
D.ki.k.ka.: ?, Li Chen Hsiung, Hu Yung Shen, ?, Chu Tsang Tung
(klik untuk memperbesar | © J.C. Taillie / gahetna)

UPDATE 3 Agustus 2018
Foto nomor 4 dengan kualitas yang lebih bagus.
Palembang, 18 September 1947
(klik untuk memperbesar | © Th. van de Burgt / gahetna)