Tampilkan postingan dengan label Teuku Panglima Tibang Muhammad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teuku Panglima Tibang Muhammad. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Januari 2022

Dari sebuah album Woodbury & Page tentang Aceh di sekitar tahun 1887 (6)

Pohon beringin dengan latar belakang Gunongan dan makam Sultan Iskandar Thani
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Rumah sakit di Kutaraja
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Tiga lelaki berpose di sekitar jembatan dan area pemukiman
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Teuku Panglima Tibang Muhammad
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Warga Belanda di antara sekelompok warga Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1887
Tempat: Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Woodbury & Page
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 02 Januari 2021

Koleksi foto dari masa kejayaan tembakau di utara Sumatera — Album II: Pelbagai etnis

PENGANTAR

Seperti sudah disinggung sebelum ini, dan juga di posting tanggal 1 Desember 2020, sejarah mewariskan banyak album foto tentang wilayah utara Sumatera dari masa kejayaan perkebunan tembakau. Isinya tentunya foto-foto yang terkait dengan perkebunan tembakau, serta manusia dan tempat atau tempat di sekitarnya. Foto-foto ini umumnya jepretan C.J. Kleingrothe, seorang Jerman yang menetap di Medan dari penghujung abad ke-19 hingga awal abad ke-20, atau keluaran dari studio foto miliknya. Tapi album kali ini berisi foto-foto dari studio Ernst & Co.

Beberapa foto tampaknya sangat populer, sehingga ia muncul di lebih dari satu album; blog ini akan menampilkan pengulangan foto seperti ini. Blog ini juga akan menampilkan hampir semua foto dua kali: sekali dalam tampilan halaman album penuh, dan yang kedua dipotong dengan fokus ke isi foto. Hal ini terpaksa dilakukan karena Blogger membatasi ukuran lebar/panjang foto ke maksimum 1600 pixel, sementara pengecilan ukuran akan mengurangi mutu informasi yang termuat di foto.


Versi fokus

Kesatuan KNIL dari etnis Ambon, Belanda, dan Jawa; sebagian dengan istri dan anak-anak
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Prajurit KNIL di pos Bukit Kubu di tepi sungai Besitang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Prajurit KNIL dan komandan Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang wanita Keling
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perempuan Jawa, lelaki Tionghoa, dan pengawas Belanda di pengolahan daun tembakau
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekitar kawasan pemukiman warga Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kampung warga Melayu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Teuku Panglima Tibang Muhammad, tokoh Aceh asal Hindustan yang kontroversial
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Versi halaman penuh

Kesatuan KNIL dari etnis Ambon, Belanda, dan Jawa; sebagian dengan istri dan anak-anak
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Prajurit KNIL di pos Bukit Kubu di tepi sungai Besitang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Prajurit KNIL dan komandan Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang wanita Keling
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perempuan Jawa, lelaki Tionghoa, dan pengawas Belanda di pengolahan daun tembakau
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekitar kawasan pemukiman warga Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kampung warga Melayu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Teuku Panglima Tibang Muhammad, tokoh Aceh asal Hindustan yang kontroversial
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1890
Tempat: Sumatera Utara
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Ernst & Co.
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 19 Januari 2016

Potret Teuku Panglima Maharaja Tibang Muhammad, di sekitar awal abad ke-20

(klik untuk memperbesar | © fotoleren/spaarnestad)

Waktu: antara 1880-1910
Tempat: Aceh
Tokoh: Teuku Panglima Maharaja Tibang Muhammad
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo / Fotoleren
Catatan: Panglima Tibang merupakan tokoh yang kontroversial. Dia berasal dari Lahore, datang ke Aceh ketika masih kecil, kemudian bisa menunjukkan diri sebagai orang yang bisa dibutuhkan Sultan. Dia bisa meniti karir hingga sebagai syahbandar dan bahkan panglima laut Aceh. Ketika meletus perang melawan Belanda, tindakan-tindakan Panglima Tibang bisa dilihat sebagai usaha menyelamatkan Sultan, tetapi juga sebagai pengkhianatan atas Aceh yang menguntungkan Belanda. Bahwa kemudian Panglima Tibang mendapat bintang pernghargaan dari Belanda, seperti terlihat di foto ini, membuat pandangan kedua lebih melekat di ingatan para pejuang Aceh.