Tampilkan postingan dengan label Madura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Madura. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Desember 2024

Kompilasi berwarna dari berbagai gambar dan foto yang digabungkan (3)

Di penghujung abad ke-19 ada usaha dari pihak-pihak Belanda dan pihak lain untuk memperkenalkan wajah Hindia-Belanda dengan cara yang diharapkan menarik minat banyak khalayak: Dari sekian banyak foto hitam putih, yang sebagiannya sudah pernah dimunculkan di blog ini, pihak-pihak ini mengumpulkannya, menggambar ulang dengan tangan, mewarnainya, dan menggabungkannya dengan bahan dari foto lain. Hasilnya adalah semacam kompilasi yang akan dimunculkan di seri ini.
Pengadilan desa di Jawa, pewarnaan dari foto yang pernah dimuat di posting ini
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Wajah-wajah kaum pria di Nusantara: 1. pemuka warga Sumatera bagian utara, 2. pria Aceh, 3. warga Padang, 4. warga Minangkabau, 5. tetua warga Pasemah, 6. pria Nias dalam pakaian perang, 7. kuli angkut di kalangan warga Dayak, 8. pemuka warga Timor, 9. pria Arafura dalam pakaian perang, 10. lelaki Bali, 11. pria Papua
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Wajah-wajah kaum wanita di Nusantara: 1. pengantin Jawa, 2. perempuan Jawa, 3. wanita Pasundan, 4. perempuan Madura, 5. warga Payakumbuh, 6. warga Minangkabau dari kawasan Gunung Merapi, 7. perempuan Payakumbuh, 8. wanita Singgalang, 9. pemuka warga Nias, 10. budak dari Batak, 11. anak perempuan dari seorang raja Batak, 12. wanita Bali, 13. perempuan Dayak
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: akhir abad ke-19
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 17 November 2024

Peta kuno dari tahun 1706: Jawa dan sekitarnya

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1706
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi: Peta keluaran Belanda ini paling tidak memiliki dua hal yang perlu dicatat. Pertama, sumber Portugisnya sangat kental, ini terlihat dari cara penulisan beberapa nama tempat yang mengikuti cara orang Portugis menulisnya. Kedua, peta ini memuat nama-nama tempat di pesisir utara Jawa yang jarang tercantum di peta lain dengan skala seperti ini; ini memperkuat dugaan bahwa penyusunan peta ini bersandar berat pada catatan para pelaut (Portugis?) yang menyusuri pantai utara Jawa. Ini misalnya terlihat dari pencatuman Anyer (Anser), Untung Jawa (Ontung Java), Angke (Angkee), Pamanukan (Manucan), Pati (Paty), dan Sedayu (Sydaye), di samping nama-nama yang sudah menjadi "langganan" seperti Banten, Jakarta, Mataram, Gresik, Blambangan, dsb. Di luar Jawa kita bisa baca juga Lampung (Lumpan) di Sumatera, serta Kota Waringin (Cotaringa) dan Sampit di Kalimantan di samping nama-nama yang sudah terkenal seperti Palembang (Palimbam) dan Banjarmasin (Bandermassin).
Juru kartografi: Pieter van der Aa
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 16 Oktober 2024

Peta kuno keluaran Perancis dari tahun 1750: Ketika di Jawa ada 4 kerajaan dan 27 provinsi

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)


Tahun terbit: 1750
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini merupakan pendahulu dari peta yang sebelumnya dimuat di posting ini dan ini. Ketiga-tiganya menaruh perhatian lumayan terhadap nama-nama sungai dan gunung. Namun yang menarik, dari sudut alokasi wilayah peta ini menampilkan pembagian yang lebih banyak atau beragam. Jumlah kerajaan tetap ada empat yaitu Kesultanan Banten, Batavia, Kesultanan Cirebon, dan Kesultanan Gresik. Tetapi wilayah-wilayah lain dikelompokkan dalam 27 "provinsi", sebuah jumlah yang banyak, dengan beberapa nama yang sekarang sudah pudar atau dilampaui wilayah lain pamornya.

Di bagian barat Jawa ada

  • Bandung
  • Ciasem
  • Kandangwesi
  • Karawang
  • Koewassing Goloen & Impanagara (?)
  • Pamanukan
  • Parakan Muncang (saat itu tampaknya lebih luas daripada Bandung)
  • Priangan (saat itu belum termasuk Bandung)
  • Sidamar
  • Sukapura
  • Sumedang;

di bagian tengah Jawa ada

  • Bagelen
  • Banyumas
  • Gabbang (?)
  • Kedawung
  • Mataram
  • Panaraga;

di bagian timur Jawa ada

  • Blambangan
  • Brindiok (?)
  • Diapan (?)
  • Kediri
  • Lodaya
  • Madiun
  • Panarukan
  • Pasuruan
  • Puger
  • Singasari
  • Surabaya;

sementara di Madura kita membaca nama-nama tempat seperti Pamekasan, Sampang, dan Sumenep.

Juru kartografi: Jacques-Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 04 Oktober 2024

Peta kuno dari tahun 1760: Ketika Jawa dibagi dalam 4 kerajaan, 2 provinsi, dan 5 distrik (2)

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1760
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini merupakan variasi dari peta yang pernah dimuat di posting ini sebelumnya. Peta yang dikeluarkan oleh bangsa Perancis ini lumayan tertarik dengan sungai-sungai dan gunung-gunung di Jawa sehingga banyak kita baca kata rivier (di peta disingkat "R.", sungai), montagnes (pegunungan), serta mont (gunung). Selain itu, seperti pernah disinggung sebelumnya, menurut peta ini di Jawa ada 4 royaume (kerajaan), yang tampaknya istilah mereka untuk wilayah Jakarta yang dikuasai Belanda (Royaume de Jacatra), serta kawasan kesultanan Banten (Bantam), Cirebon (Tsieribon), dan Gresik (Gressic). Peta ini juga menyebut dua wilayah dengan istilah province, yaitu Cidamar (Sidamer) di barat serta Blambangan (Balambuan) di timur. Wilayah lain yang sebelumnya merupakan basis wilayah Kesultanan Mataram, disebut dengan istilah district, yaitu Wates (Watas), Kedaung (Kadoewang), Panaragan (Pannaraga), Lodaya, serta Puger (Poeger). Selanjutnya, selain Madura, ada 4 wilayah yang tampaknya dianggap penting saat itu, tapi tidak diberikan istilah administratif, yaitu Ciasem (Tsiassem), Sukapura (Soekapoera), Tuban, dan Panarukan (Panarucam).
Juru kartografi: Jacques-Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 22 September 2024

Peta kuno dari tahun 1910: Jawa Tengah dan Timur, serta Madura

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1910
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini merupakan bagian dari seri peta Hindia-Belanda yang diterbitkan di tahun 1910. Peta Jawa dan Madura ini menampilkan wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Perhatian khusus diberikan kepada dua kota pelabuhan terbesar di kawasan ini yaitu Semarang dan Surabaya yang diberi bagian dengan skala yang lebih besar.
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 08 September 2024

Peta lipat untuk perjalanan dari tahun 1905 tentang Jawa dan Madura

Tampilan penuh peta dalam 30 lipatan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Jilid pembungkus peta
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Tampilan dekat ke salah satu bagian peta
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Index yang mempermudah pencarian sebuah tempat di peta
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1905
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Awal abad ke-20 merupakan masa dimulainya produksi mobil untuk khalayak yang berada. Ini memicu mobilitas serta minat akan perjalanan ke berbagai pelosok, termasuk di Pulau Jawa. Di awal abad ke-20 ini kita mencatat dokumentasi, termasuk foto-foto, dari beberapa kunjungan warga Belanda ke Jawa. Atau warga Belanda sendiri yang sudah berdiam di Jawa atau dari luar Jawa dan kemudian mengadakan perjalanan keliling di pulau ini. Tak dilupakan pula perjalanan dari beberapa bangsawan Jawa yang bisa membeli mobil dan menggunakannya untuk pelancongan ke beberapa daerah. Ini semua membutuhkan adanya peta seperti yang terpampang di atas ini. Peta yang bisa dilipat ini memang cocok untuk digunakan di dalam perjalanan.
Hal lain yang bisa dicatat dari peta ini adalah pembagian wilayah di Jawa saat itu: Banten, Jakarta (yang meliputi hingga Subang), Priangan (yang melebar hingga ke Banjar), Cirebon, Banyumas, Pekalongan, Kedu, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Rembang, Madiun, Kediri, Surabaya, Pasuruan, dan Besuki. Madura, seperti biasa digolongkan sebagai satu wilayah tersendiri.
Juru kartografi: E. de Geest / J. F. Niermeyer
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 23 Agustus 2024

Peta kuno berbahasa Perancis dari tahun 1745: Pesisir Jawa dan sekitarnya

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1745
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini tampaknya fokus sepenuhnya ke navigasi pelayaran, dan hanya mencantumkan informasi tentang wilayah-wilayah pesisir, serta tidak peduli dengan kawasan pedalaman. Kita melihat tampilan penuh tentang Bangka, Belitung, dan Madura, serta sebagian kecil dari Kalimantan dan Sumatera. Sesuai judul peta, Carte de l'isle de Java, pulau Jawa menjadi tokoh utama di peta ini dengan pencantuman nama-nama kawasan sbb. sesuai arah jarum jam: Banten (Bantam), Jakarta (Jakatra), Karawang, Ciasem, Cirebon, Gresik, Surabaya (Soberabaie), Panarukan, Blambangan (Balemboang), Surapati, Yogyakarta (Susuhunan dan Panaraga), Bagelen, Sukapura, dan Cidamar (Sidamer).
Juru kartografi: Jean-Baptiste d’Apres de Mannevillette
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 03 Agustus 2024

Peta militer Inggris dari tahun 1811: Jawa dan Madura

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)


Tahun terbit: 1811
Tempat terbit: London
Tokoh:
Deskripsi: Invasi Inggris ke Jawa di tahun 1811 adalah bagian dari sejarah Indonesia yang relatif kurang dikenal, dan orang Indonesia umumnya merasa bahwa negeri ini dijajah oleh Belanda tanpa interupsi hingga Jepang menyerbu di tahun 1942. Terlepas dari catatan di atas, peta ini adalah dokumen militer yang berasal dari masa penyerbuan Inggris ke Jawa ini. Peta ini cukup menarik karena membagi wilayah Jawa dan Madura dalam beberapa kawasan yang barangkali dari sudut pandang sekarang bisa mencengangkan; misalnya

  • adanya kawasan Jampang di selatan Jawa Barat
  • wilayah Cirebon saat itu meluas ke selatan hingga mendekati Cilacap
  • wilayah Jawa Tengah tersekat-sekat dalam banyak kawasan
  • Mataram yang dulunya mendominasi Jawa meninggalkan sisa wilayah di selatan Jawa
  • adanya nama-nama besar saat itu yang kemudian harus mundur mempersilakan nama lain untuk tampil seperti Jipang, Kertosono, Sedayu, Wirosobo, Bagelen, Sukapura, Ciasem, serta Batulayan.

Juru kartografi: John Stockdale
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 16 Juni 2024

Peta kuno dari tahun 1760: Ketika Jawa dibagi dalam 4 kerajaan, 2 provinsi, dan 5 distrik (1)

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1760
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Peta berbahasa Perancis ini menampilkan Jawa dan Madura dengan pembagian di beberapa royaume (kerajaan) serta district (wilayah), dan juga dua kawasan yang diberi istilah province. Yang termasuk kategori royaume adalah Bantam (Banten), Jacatra (Jakarta), Tsieribon (Cirebon), dan Gressic (Gresik). Istilah district tampaknya mengacu ke wilayah-wilayah selatan Kesultanan Mataram, yaitu mulai dari Watas di barat (~Cilacap sekarang), Cadoewang, Pannaraga, dan Lodaya, hingga ke Poeger di timur (~Jember). Dua wilayah dengan predikat province adalah Sidamer (Cidamar, sekarang wilayah Cianjur dan Sukabumi) di barat dan Balambuan (Blambangan) di timur. Wilayah Tsiassem (Ciasem, sekarang Karawang dan Subang) dan Soekapura (~Ciamis) di barat, serta Panarucam (Panarukan) mendapat porsi penting tanpa diberikan predikat. Sementara dari Madura satu tempat diberi perhatian khusus, yaitu Sammanap (Sumenep).
Juru kartografi: Jacques Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 17 Mei 2024

Peta kuno dari sekitar tahun 1753: Jawa dan Madura

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: ~1753
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Sebuah peta yang dihiasi dengan gambar-gambar untuk menunjukkan wilayah yang kaya akan gunung, sawah, penduduk, hewan liar, dsb.
Juru kartografi: Gerard van Keulen
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 30 Maret 2024

Peta Pulau Jawa dan Madura keluaran tahun 1724 berdasarkan deskripsi dari François Valentijn

Empat potongan pertama yang memperlihatkan Banten, Jakarta, Jawa Barat, serta Jawa Tengah
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Tiga potongan berikutnya yang berisi Jawa Timur dan sebagian Bali, dengan pengulangan di potongan yang memperlihatkan Jawa Tengah
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Zoom ke wilayah Jakarta, Tangerang, dan Bekasi
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Zoom ke ujung timur Jawa dan bagian barat Bali
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Zoom ke wilayah Surabaya, Gresik, dan sebagian Madura
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: 1724
Tempat: Bali, Jawa, Madura
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar: J. van Braan & G. onder de Linden
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 04 Maret 2024

Peta jalur mobil di Pulau Jawa dan Madura yang dikeluarkan "Java Motor Club" di tahun 1920-an

Sampul pelindung peta
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Jilid dari tabel jarak antar kota
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Bagian barat Jawa yang saat itu terbagi atas Banten, Bogor, Ciamis, Cirebon, Indramayu, Jakarta, Karawang, dan Priangan Barat/Tengah/Timur
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Bagian tengah Jawa yang secara administrasi dibagi menjadi Bagelen, Banyumas Selatan/Utara, Blora, Kedu, Klaten, Kudus, Pekalongan, Rembang, Semarang, Surakarta, Tegal, Wonosobo, dan Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Bagian timur Jawa yang terdiri dari Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Madiun, Malang, Mojokerto, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Surabaya, serta Madura Barat/Timur
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: 1920-an
Tempat: Jawa dan Madura
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 24 September 2022

Wajah Nusantara dalam album foto "Herinneringen aan Insulinde" keluaran studio Onnes Kurkdjian (3)

1921: Beberapa perahu di Madura
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1921: Menyadap pohon karet
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1921: Memanen tebu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1910-an: Pembuat gerabah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1910-an: Petani saat panen
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: antara 1910 dan 1921
Tempat: Jawa, Madura
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Onnes Kurkdjian (Surabaya)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto nomor 4 dan 5 pernah dimuat di posting ini.

Kamis, 22 September 2022

Wajah Nusantara dalam album foto "Herinneringen aan Insulinde" keluaran studio Onnes Kurkdjian (2)

Pantai di Balikpapan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Teluk Gorontalo
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1910: Jembatan kereta api menjelang Malang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1910-an: Ladang singkong
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1921: Sebuah gua di Madura
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: antara 1910 dan 1921
Tempat: Balikpapan, Gorontalo, Madura, Malang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Onnes Kurkdjian (Surabaya)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto nomor 3 pernah dimuat di posting ini; nomor 4 di posting ini.

Selasa, 20 September 2022

Wajah Nusantara dalam album foto "Herinneringen aan Insulinde" keluaran studio Onnes Kurkdjian (1)

1921: Jilid album foto
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1910: Buga kopi robusta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1910: Pura Ulun Danu Batur (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1921: Sebuah pantai di Madura
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1921: Tari Cakelele versi Sulawesi (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: antara 1910 dan 1921
Tempat: Bali, Madura, Sulawesi
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Onnes Kurkdjian (Surabaya)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto nomor 2 pernah dimuat di posting ini.

Minggu, 19 Desember 2021

Dari sebuah perjalanan ke Lombok, Bali, dan Madura di sekitar tahun 1930: Dua foto dari Madura

Berlayar dengan perahu nelayan Madura
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Dua perempuan dengan babi piaraan di Ujung Piring
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: antara 1925-1934
Tempat: Madura
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 03 September 2021

Dari album foto "Herinneringen aan Java 1913-1919": Priangan, Madura, Sulawesi

PENGANTAR

National Gallery of Australia membeli banyak koleksi foto dari Leo Haks. Salah satunya adalah sebuah album foto berjudul Herinneringen aan Java 1913-1919 (Kenang-kenangan tentang Jawa 1913-1919) yang memuat 39 foto yang tampaknya keluaran studio foto Onnes Kurkdjian, Surabaya. Album ini banyak berisi foto dari kawasan Jawa Timur serta tentang hasil bumi, yang mengindikasikan bahwa pemiliknya kemungkinan adalah seorang Belanda yang aktif di bidang perkebunan/kehutanan di Jawa Timur dari tahun 1913 hingga 1919. Album ini juga berisi beberapa foto dari kawasan Priangan, Borobudur, Jogjakarta dan malah Sulawesi, yang kemungkinan menunjukkan wilayah lain di Nusantara yang pernah dikunjungi si pemilik album ini.

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Sebuah kampung warga Priangan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pesawahan di wilayah Priangan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kawah Gunung Tangkuban Parahu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Nelayan Madura
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sabung ayam di Madura
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Salah satu pesisir Sulawesi
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: antara 1913 dan 1919
Tempat: Jawa Barat, Madura, Sulawesi
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Onnes Kurkdjian
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 20 Maret 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (11)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


Tanpa nomor: Kawah Tangkuban Perahu
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1. Pantai utara Laut Jawa di Desa Bonang (Lasem, Rembang)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
2. Desa tertinggi di Jawa: Sembungan (Dieng, Wonosobo)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
3. Profil perbukitan di dataran tinggi Dieng
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
4. Dataran di Pulau Madura
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
5. Pesawahan dengan latar belakang Gunung Singgalang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
6. Ngarai Sianok, Bukittinggi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Bandung, Lasem (Rembang), Dieng, Dieng, Madura, Agam, Bukittinggi
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Universiteit Leiden
Catatan: