Tampilkan postingan dengan label 1950-an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1950-an. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Maret 2025

Perkebunan teh "Pangerango" di Sukabumi di sekitar awal tahun 1950-an - 4: Tampak dekat para pegawai dan perpisahan

Perkebunan teh "Pangerango" didirikan perusahaan "H.G.Th. Crone" di sekitar akhir abad ke-19/awal abad ke-20 di Pasir Datar, sebuah desa di kaki Gunung Pangrango, yang sekarang masuk Kecamatan Caringin, Sukabumi. "Henrich Gottfried Theodor Crone" sendiri merupakan sebuah usaha dagang di Amsterdam yang mengimpor hasil bumi dari Hindia-Belanda dan menjualnya di Eropa. Foto-foto berikut tidak mencantumkan tanggal, dan hanya berisi keterangan singkat. Jadi kemungkinan foto-foto ini berisi hal-hal ini:

  • Wajah area perkebunan setelah pemilik Belanda-nya kembali menyusul selesainya Perang Kemerdekaan dan adanya pengakuan kedaulatan dari Belanda terhadap Republik Indonesia.
  • Usaha membangun kembali bangunan pabrik yang tampaknya sebelumnya dibumihanguskan para pejuang kemerdekaan.
  • Wajah warga sekitar yang bekerja di pabrik teh.
  • Wajah para pegawai, termasuk bagian keamanan yang bersenjata api ketika suasana paska-pengakuan kedaulatan situasi masih dianggap belum stabil.
  • Foto perpisahan yang kemungkinan muncul setelah Soekarno menyerukan nasionalisasi aset-aset yang sebelumnya dikuasai dan dijalankan orang dan perusahaan Belanda.

Teh yang sudah dikemas dengan merek Pangerango dan Crone, dikelilingi pekerja dan pegawai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pegawai keuangan di mejanya yang diisi a.l. dengan mesin tik dan brankas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pos keamanan dengan pedang dan deretan senjata api
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Komandan jaga dan pegawai keuangan di dekat sebuah truk
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1956: Acara perpisahan di Hotel Preanger
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1950-an
Tempat: Bandung, Desa Pasir Datar (Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 16 Maret 2025

Perkebunan teh "Pangerango" di Sukabumi di sekitar awal tahun 1950-an - 3: Wajah para pekerja pabrik

Perkebunan teh "Pangerango" didirikan perusahaan "H.G.Th. Crone" di sekitar akhir abad ke-19/awal abad ke-20 di Pasir Datar, sebuah desa di kaki Gunung Pangrango, yang sekarang masuk Kecamatan Caringin, Sukabumi. "Henrich Gottfried Theodor Crone" sendiri merupakan sebuah usaha dagang di Amsterdam yang mengimpor hasil bumi dari Hindia-Belanda dan menjualnya di Eropa. Foto-foto berikut tidak mencantumkan tanggal, dan hanya berisi keterangan singkat. Jadi kemungkinan foto-foto ini berisi hal-hal ini:

  • Wajah area perkebunan setelah pemilik Belanda-nya kembali menyusul selesainya Perang Kemerdekaan dan adanya pengakuan kedaulatan dari Belanda terhadap Republik Indonesia.
  • Usaha membangun kembali bangunan pabrik yang tampaknya sebelumnya dibumihanguskan para pejuang kemerdekaan.
  • Wajah warga sekitar yang bekerja di pabrik teh.
  • Wajah para pegawai, termasuk bagian keamanan yang bersenjata api ketika suasana paska-pengakuan kedaulatan situasi masih dianggap belum stabil.
  • Foto perpisahan yang kemungkinan muncul setelah Soekarno menyerukan nasionalisasi aset-aset yang sebelumnya dikuasai dan dijalankan orang dan perusahaan Belanda.

Sebuah truk yang mengangkut mesin pendingin dikelilingi pekerja dan warga
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pekerja berseragam, kemungkinan bersama anak dan istri
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para mandor perkebunan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para montir pabrik dengan latar belakang sebuah bangunan pabrik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1950-an
Tempat: Desa Pasir Datar (Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 14 Maret 2025

Perkebunan teh "Pangerango" di Sukabumi di sekitar awal tahun 1950-an - 2b: Usaha pendirian kembali bangunan pabrik

Perkebunan teh "Pangerango" didirikan perusahaan "H.G.Th. Crone" di sekitar akhir abad ke-19/awal abad ke-20 di Pasir Datar, sebuah desa di kaki Gunung Pangrango, yang sekarang masuk Kecamatan Caringin, Sukabumi. "Henrich Gottfried Theodor Crone" sendiri merupakan sebuah usaha dagang di Amsterdam yang mengimpor hasil bumi dari Hindia-Belanda dan menjualnya di Eropa. Foto-foto berikut tidak mencantumkan tanggal, dan hanya berisi keterangan singkat. Jadi kemungkinan foto-foto ini berisi hal-hal ini:

  • Wajah area perkebunan setelah pemilik Belanda-nya kembali menyusul selesainya Perang Kemerdekaan dan adanya pengakuan kedaulatan dari Belanda terhadap Republik Indonesia.
  • Usaha membangun kembali bangunan pabrik yang tampaknya sebelumnya dibumihanguskan para pejuang kemerdekaan.
  • Wajah warga sekitar yang bekerja di pabrik teh.
  • Wajah para pegawai, termasuk bagian keamanan yang bersenjata api ketika suasana paska-pengakuan kedaulatan situasi masih dianggap belum stabil.
  • Foto perpisahan yang kemungkinan muncul setelah Soekarno menyerukan nasionalisasi aset-aset yang sebelumnya dikuasai dan dijalankan orang dan perusahaan Belanda.

Bagunan ketel uap yang dipasang kembali dikelilingi sisa-sisa tembok bangunan lama
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pekerjaan bongkar pasang di area pabrik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pekerjaan di rangka atap
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Salah satu area difoto dari ketinggian, memperlihatkan berapa besar ukuran satu bangunan saja, dengan bangunan lain di latar belakang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1950-an
Tempat: Desa Pasir Datar (Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 12 Maret 2025

Perkebunan teh "Pangerango" di Sukabumi di sekitar awal tahun 1950-an - 2a: Usaha pendirian kembali bangunan pabrik

Perkebunan teh "Pangerango" didirikan perusahaan "H.G.Th. Crone" di sekitar akhir abad ke-19/awal abad ke-20 di Pasir Datar, sebuah desa di kaki Gunung Pangrango, yang sekarang masuk Kecamatan Caringin, Sukabumi. "Henrich Gottfried Theodor Crone" sendiri merupakan sebuah usaha dagang di Amsterdam yang mengimpor hasil bumi dari Hindia-Belanda dan menjualnya di Eropa. Foto-foto berikut tidak mencantumkan tanggal, dan hanya berisi keterangan singkat. Jadi kemungkinan foto-foto ini berisi hal-hal ini:

  • Wajah area perkebunan setelah pemilik Belanda-nya kembali menyusul selesainya Perang Kemerdekaan dan adanya pengakuan kedaulatan dari Belanda terhadap Republik Indonesia.
  • Usaha membangun kembali bangunan pabrik yang tampaknya sebelumnya dibumihanguskan para pejuang kemerdekaan.
  • Wajah warga sekitar yang bekerja di pabrik teh.
  • Wajah para pegawai, termasuk bagian keamanan yang bersenjata api ketika suasana paska-pengakuan kedaulatan situasi masih dianggap belum stabil.
  • Foto perpisahan yang kemungkinan muncul setelah Soekarno menyerukan nasionalisasi aset-aset yang sebelumnya dikuasai dan dijalankan orang dan perusahaan Belanda.

Pemasangan rangka baja untuk tiang dan atap
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Gundukan bahan bangunan yang dijaga seorang berseragam
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Usaha membangun kembali dari sisa-sisa reruntuhan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sisa-sisa tembok yang tampaknya sebelumnya dibumihanguskan para pejuang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1950-an
Tempat: Desa Pasir Datar (Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 10 Maret 2025

Perkebunan teh "Pangerango" di Sukabumi di sekitar awal tahun 1950-an - 1: Wajah Pasir Datar

Perkebunan teh "Pangerango" didirikan perusahaan "H.G.Th. Crone" di sekitar akhir abad ke-19/awal abad ke-20 di Pasir Datar, sebuah desa di kaki Gunung Pangrango, yang sekarang masuk Kecamatan Caringin, Sukabumi. "Henrich Gottfried Theodor Crone" sendiri merupakan sebuah usaha dagang di Amsterdam yang mengimpor hasil bumi dari Hindia-Belanda dan menjualnya di Eropa. Foto-foto berikut tidak mencantumkan tanggal, dan hanya berisi keterangan singkat. Jadi kemungkinan foto-foto ini berisi hal-hal ini:

  • Wajah area perkebunan setelah pemilik Belanda-nya kembali menyusul selesainya Perang Kemerdekaan dan adanya pengakuan kedaulatan dari Belanda terhadap Republik Indonesia.
  • Usaha membangun kembali bangunan pabrik yang tampaknya sebelumnya dibumihanguskan para pejuang kemerdekaan.
  • Wajah warga sekitar yang bekerja di pabrik teh.
  • Wajah para pegawai, termasuk bagian keamanan yang bersenjata api ketika suasana paska-pengakuan kedaulatan situasi masih dianggap belum stabil.
  • Foto perpisahan yang kemungkinan muncul setelah Soekarno menyerukan nasionalisasi aset-aset yang sebelumnya dikuasai dan dijalankan orang dan perusahaan Belanda.

Dua bangunan pabrik teh di tepi sawah
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pemandangan ke area pabrik dilihat dari ketinggian
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sisa-sisa (?) tembok pabrik dilihat dari kejauhan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jalanan menuju area pabrik teh
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1950-an
Tempat: Desa Pasir Datar (Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 27 Januari 2025

Bintang film kondang tempo doeloe: Dian Anggrianie & Farida Arriany

Farida Arriany
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dian Anggrianie
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1950-an
Tempat: Jakarta (?)
Tokoh: Dian Anggrianie, Farida Arriany (bintang film)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 25 Januari 2025

Bintang film kondang tempo doeloe: Ermina Zaenah

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1950-an
Tempat: Jakarta (?)
Tokoh: Ermina Zaenah (bintang film)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 23 Januari 2025

Bintang film kondang tempo doeloe: Mimi Mariani

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1950-an
Tempat: Jakarta (?)
Tokoh: Mimi Mariani (bintang film)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 21 Januari 2025

Bintang film kondang tempo doeloe: Siti Aminah Cendrakasih

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1950-an
Tempat: Jakarta (?)
Tokoh: Siti Aminah Cendrakasih (bintang film)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 15 Mei 2020

Warisan Kartini: Sekolah Kartini di Jakarta (2)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Sejarah Hindia-Belanda menunjukkan bahwa tokoh yang menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia, bagi pihak Belanda saat itu tak lebih dari pemberontak, pembuat onar, penyulut kerusuhan, dsb. Sebaliknya, orang yang diberi tanda jasa oleh Belanda, bagi bangsa Indonesia merupakan pembantai, penjahat perang, kolaborator, dsb.

Raden Ayu Kartini merupakan satu dari sedikit pengecualian: Orang Belanda dan Indonesia sama-sama kagum dan menghargai apa yang beliau rintis untuk memajukan bangsa Indonesia, terutama kaum perempuannya. Bahkan kemudian warga Belanda bersama warga Indonesia bersama-sama meneruskan dan mengembangkan apa yang telah beliau mulai, yaitu dengan menghidupkan sarana pendidikan untuk anak-anak perempuan Indonesia.

Seri foto berikut ini akan menampilkan foto-foto Kartini dan keluarganya, dan diteruskan dengan munculnya sekolah-sekolah Kartini di berbagai pelosok

Murid-murid di ruang kelas
(klik untuk memperbesar | © NMVW)
Kemungkinan penjaga sekolah dan keluarganya
(klik untuk memperbesar | © NMVW)
Ruang kelas dengan peta Belanda dan teks berbahasa Belanda
(klik untuk memperbesar | © NMVW)
Kemungkinan penjaga sekolah di ruang guru, dengan potret Kartini di dinding
(klik untuk memperbesar | © NMVW)
Seorang guru Belanda dekat gerbang sekolah, dengan penjaga sekolah di latar belakang
(klik untuk memperbesar | © NMVW)
Murid-murid Sekolah Kartini Jakarta di awal 1950-an, tidak lagi memakai kain dan kebaya
(klik untuk memperbesar | © NMVW)
Waktu: 30 Oktober 1920 (kecuali foto terakhir yang berasal dari awal 1950-an)
Tempat: Jakarta
Tokoh: 
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Museum van Wereldculturen
Catatan:

Jumat, 24 Januari 2020

Jepretan Charles Breijer 1947-1953: Haji Agus Salim dan cucu

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)

Waktu: antara 1947-1953
Tempat: ?
Tokoh: Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri 1947-1949, pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan di jalur diplomasi)
Peristiwa:
Fotografer: Charles Breijer
Sumber / Hak cipta: Het Geheugen van Nederland / Nederlands Fotomuseum
Catatan:

Rabu, 17 April 2019

Tiga potret Soekarno dari tahun 1950-an

(klik untuk memperbesar | © Charles Breyer / KITLV)
(klik untuk memperbesar | © Charles Breyer / KITLV)
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
Waktu: 1950-an
Tempat: Jakarta (?)
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Fotografer: Charles Breyer (dua foto terakhir)
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan:

Kamis, 17 Januari 2019

Beberapa foto dari tahun 1950-an

Ini adalah beberapa foto tanpa catatan yang mengundang pembaca untuk memberikan kontribusi tentang peristiwa apa, di mana, dan kapan.
Keterangan di bawah hanya perkiraan yang perlu diverifikasi lebih lanjut.

Ujuk rasa ke Istana Merdeka 17 Oktober 1952?
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Ujuk rasa ke Istana Merdeka 17 Oktober 1952?
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Ujuk rasa ke Istana Merdeka 17 Oktober 1952?
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pemberontakan PRRI/Permesta?
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
17 Desember 1957: Kesebelasan Belanda meninggalkan lapangan hijau dalam suasana panas ketika Soekarno menyerukan nasionalisasi aset-aset Belanda di Indonesia
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1950-an
Tempat: ?
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: