Tampilkan postingan dengan label Johannes van Swieten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Johannes van Swieten. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 April 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (15)

Jembatan kayu di atas Krueng Aceh
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Tentara Belanda di sisi utara Keraton Aceh yang mereka duduki
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Area kuburan para sultan Aceh
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Gambar para panglima yang oleh Belanda disebut "penakluk" Aceh: Köhler, Van Swieten, Van Kerchem, Vam der Heijden, Van Pittius, Pel, Verspyjk, Diemont
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Tiga pemuka Kuala Gigieng, Aceh: Syahbandar, Habib Abdurrahman, dan Raja
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Sabtu, 23 Januari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1888-1897

De Amsterdammer, 16 September 1888
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas mengenang salah satu jenderal KNIL yang mashur di Perang Aceh dan tampaknya menyukai wilayah Minangkabau, Johannes van Swieten, yang meninggal pada tanggal 9 September 1888.

De Amsterdammer, 8 Oktober 1892
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas menggambarkan serah terima jabatan Gubernur-Jenderal Hindia-Belanda dari Cornelis Pijnacker Hordijk (kanan) ke Carel Herman Aart van der Wijck (kiri) dengan latar belakang Istana Bogor. Hordijk mengeluhkan bahwa nama Buyten-Sorgh (=buiten zorge; cikal bakal nama Bogor) yang maknanya "tanpa kekhawatiran" telah menjadi Nooyt-Gedagt (=nooit gedagt) yang bermakna "tidak pernah bermesraan". Tampaknya keluhan ini keluar karena konflik di Aceh dan kemudian Lombok menjadi masalah pelik untuk kedua gubernur-jenderal ini.

De Amsterdammer, 17 April 1893
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas menggambarkan bagaimana Presiden Perancis, Marie François Sadi Carnot, yang kewalahan menghadapi perlawanan bangsa Afrika di koloni Perancis di sana, meminta saran dari politisi Belanda, Willem Karel van Dedem, yang dianggap handal dalam menghadapi wilayah jajahannya. Van Dedem hanya bisa berujar bahwa Carnot pastinya belum pernah mendengar perlawanan rakyat Aceh.

De Amsterdammer, 24 Oktober 1897
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas menggambarkan bagaimana Gubernur-Jenderal Cornelis Pijnacker Hordijk memberikan kursi baru untuk rakyat Indonesia dengan tumpuan batubara, tembakau, minyak bumi, dan emas, untuk menggantikan kursi lama yang sudah mulai patah yang bertumpu sepenuhnya pada hasil agraria tembakau, gula, dan kopi.

Waktu: 1888, 1892, 1893, 1897
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke beberapa peristiwa di Nusantara
Tokoh: l.d.a.
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Jumat, 05 Juni 2020

Buku bergambar untuk anak-anak Belanda tentang Perang Aceh (3)

Gambar-gambar berikut berasal dari buku Tafereelen uit den oorlog met Atchin; voor de jeugd (Adegan-adegan Perang Aceh, untuk kaum muda) yang mencoba menampilkan Perang Aceh kepada anak-anak Belanda dalam bentuk gambar dan sajak. Tentu saja Belanda digambarkan berada di pihak yang baik, dan Aceh di pihak sebaliknya. Kita akan melihat bagaimana Belanda diceritakan harus menghadapi penderitaan dan kesusahpayahan; tetapi pada akhirnya mendapatkan kemenangan. Pembantaian atas warga Aceh tentu saja tidak akan ada di buku ini.

Sajak ini mencoba menggambarkan baiknya Belanda dan brutalnya warga Aceh. Ketika enam pejuang Aceh tertangkap, Belanda melepaskan mereka kembali; bahkan Jenderal van Swieten memberi mereka uang perak. Ketika keenam orang ini pulang, warga Aceh lain yang heran karena mereka tertangkap hidup, mengeksekusi mereka dengan pedang.
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Sajak ini bercerita tentang kemenangan pasukan Belanda pada saat kebakaran hutan, di mana para pejuang Aceh dikabarkan malah berhamburan kabur.
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Sajak penutup menceritakan bagaimana Sultan Aceh akhirnya menyerah kepada Belanda, dan bagaimana perdamaian dikabarkan muncul di bawah pemerintahan Belanda.
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: buku berkisah tentang peristiwa di tahun 1873-1874
Tempat: Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Penerbit: A. Tjaden
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:
Sajak pertama
ZES ATCHINEEZEN.
Hier een voorbeeld, hoe boosaardig
Velen zijn in Atchins heir:
Zes van hen had men govangen
En ontsloeg hen spoedig weer.
Zelfs gaf Generaal van Swieten
Elk van hen wat silvergeld,
't Geen bij hun behouden aankomst
Aan hun hoofdman wordt gemeld
"Wat!" zoo schreeuwt hij … zoo dicht bij hem,
"En gij hebt hem niet gedood …?"
Zesmaal klieft zijn zwaard het luchtruim,
En hun bloed kleurt de aarde rood.
Sajak kedua
BOSCHBRAND.
Op de vloot ook was men wakker,
En hield in den mast de wacht.
Eenmal zag men dat een leger,
In een bosch zich veilig dacht;
Maar de dappre Janmaats staken,
't Bosch aan weerszij den brand,
En de felbestokkte vijand,
Vloog vorwoed naar allen kant.
Om weer nieuw te loopen,
Van het Nederlandsche heir
Want de landmacht onzen braven,
Ving of sabelde aller neer.
Sajak ketiga
GEHEELE ONDERWERPING VAN ATCHIN.
Eenmal zal de sultan knielen
Voor het Nederlandsch gezag,
En aan Atchins havens wappert
Dan de Nederlandsche vlag.
Dan zal vrede wederkeeren
In de waatren van dat rijk,
En aan alle handelschepen
Biedt zijn reede een veilge wijk.
Dan zal noeste vlijt 't vorgoeden
Vielen nu ook de offers zuur:
't Atchineesche rijk zal bloeien
Onder Nederlandsch bestuur.