Tampilkan postingan dengan label 1936. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1936. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Mei 2026

Penampilan KNIL Darat sebelum Perang Dunia II (3)

16 Desember 1939: Pasukan KNIL menyusuri Kali Sunter
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang serdadu KNIL berlatih menggunakan senapan mesin
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1 Maret 1927: Kesatuan zeni KNIL memasang lampu sorot yang a.l. bisa digunakan untuk "membidik" potensi serangan udara atau musuh yang mencoba menyerbu dari laut ke pesisir
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
28 Juli 1936: Jenderal Bakker (paling depan berkuda) memeriksa kesiapan Batalion Mobil X di tempat yang kelak menjadi Lapangan Banteng, dengan latar belakang Gereja Katedral
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: a.l. 1927, 1936, 1939
Tempat: a.l. Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 22 Mei 2026

Kekuatan KNIL Laut sebelum Perang Dunia II (3)

Kesatuan Marinir di geladak sebuah kapal perang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Siluet kapal penjelajah Hr. Ms. Java di perairan Makassar
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kemungkinan 1936: Kapal perang Sumatra (depan) dan Soemba (belakang) serta beberapa kapal selam menyambut kedatangan Laksamana Madya Hendrikus Ferwerda yang diangkat menjadi Panglima Angkatan Laut Hindia-Belanda. Foto diambil di perairan Tanjung Priuk yang saat itu masih bisa menyingkap Gunung Salak (kanan) dan Gunung Gede (kiri) di latar belakang.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: a.l. 1936
Tempat: a.l. Makassar, Tanjung Priuk (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 31 Januari 2025

Gubernur Jenderal Hindia-Belanda terakhir, Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (tanpa istri): Dalam beberapa foto (2)

Kemungkinan 1936: Tjarda dalam pakaian kebesaran gubernur jenderal
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebelum 1942: Para pembesar Hindia Belanda dalam acara pembukaan sidang Volksraad Batavia. D.ki.k.ka.: L.G.C.A. van der Hoek (Gubernur Jawa Barat), J.H.B. Kuneman (Ketua Raad van IndiĆ«),  A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (Gubernur Jenderal Hindia Belanda), Ir. E.A. Voorneman (Walikota Batavia), Mr. P.A. Blaauw (Ketua Volksraad).
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebelum 1942: Tjarda dalam pakaian sipil
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Agustus 1945: Tjarda bersama petinggi militer KNIL setelah dibebaskan dari kamp tawanan Jepang. Kondidi kurus tampak tak tertutupi di badan beberapa orang di foto ini.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Antara 1946 dan 1948: Setelah dibebaskan dari kamp tahanan Jepang di Manchuria, Tjarda kembali ke Belanda dan di 1946 ditunjuk menjadi Duta Besar Belanda di Perancis. Gambar di atas menunjukkan Pak Dubes Tjarda, kedua dari kiri, berkunjung ke Hollywood.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1936, 1940-an, 1945
Tempat: a.l. Jakarta, Los Angeles (California)
Tokoh: Jonkheer Alidius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (Gubernur Jenderal Hindia-Belanda 1936-1942)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 20 Januari 2025

Lukisan karya Willem Gerard Hofker tentang wanita dan pria Bali (3)

1936: Seorang lelaki Bali di dekat kurungan ayam sabung
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
1938: Penari Legong
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
1938: Dua wanita Bali mengusung sesajen
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
1948: Tiga wanita Bali
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Edisi lain dari lukisan di atas
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1936, 1938, 1948
Tempat: Bali
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar: Willem Gerard Hofker
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 16 Januari 2024

Wajah penghuni Hindia-Belanda: Polisi pangreh praja

Polisi dan aparat keamanan di Bandung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Para pegawai di pangreh praja (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah acara yang dihadiri para pegawai dinas pangreh praja dan keluarga (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1936
Tempat: Jawa (a.l. Bandung)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Coklan (foto pertama)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 10 Desember 2022

Gubernur Jenderal Hindia-Belanda terakhir, Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (dan istri): Dalam beberapa foto (1)

Tjarda dalam sebuah foto tanpa tahun
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jakarta, 25 September 1936: Tjarda (kiri) ketika menerima jabatan gubernur jenderal dari pendahulunya, Bonifacius Cornelis de Jonge (kanan)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Surakarta, kemungkinan akhir 1930-an: Ny. Tjarda bersama Mangkunegoro VII
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sekitar 1941: Tjarda dan istri dalam sebuah kunjungan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sekitar 1941: Ny. Tjarda bersama dua tokoh perempuan yang belum teridentifikasi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)


Waktu: a.l. 1936, 1941
Tempat: a.l. Istana Merdeka (Jakarta), Surakarta
Tokoh: Bonifacius Cornelis de Jonge (Gubernur Jenderal Hindia-Belanda 1931-1936); Jonkheer Alidius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (Gubernur Jenderal Hindia-Belanda 1936-1942); Mangkunegoro VII (Pangeran Praja Mangkunegaraan)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Untuk foto kedua, lihat juga posting ini.

Sabtu, 01 Oktober 2022

Persiapan Hindia-Belanda menghadapi Perang Dunia II: Skuadron pesawat Fokker C.X dan Koolhoven F.K.51

Skuadron Koolhoven F.K.51 di Kalijati, Subang, dengan latar belakang Gunung Burangrang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tujuh Fokker C.X di lapangan udara Andir, Bandung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Skuadron Fokker C.X di atas pesawahan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Skuadron Fokker C.X di atas perbukitan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: sekitar 1936
Tempat: Jawa (a.l. Bandung dan Subang)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 25 Juni 2022

Berbagai rumah tradisional dan mesjid di tahun 1930-an

1937: Perumahan warga Tengger
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pinggiran Batavia: Perumahan warga Tionghoa (kiri) yang tampaknya berhadapan dengan perumahan warga lokal (kanan)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1936: Bagian belakang sebuah pecinan di Jakarta (Jatinegara?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1937: Sebuah kampung di Salatiga
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah mesjid di Jawa yang belum teridentifikasi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Mesjid Raya Medan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: sekitar 1930-an (a.l. 1936, 1937)
Tempat: Jakarta, Medan, Salatiga, Tengger
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 15 Juni 2022

Pertambangan timah di Bangka-Belitung, 1936

Pemuatan timah ke kapal, Belitung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dredger bernama Sergang pertambangan di Bangka
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Foto udara atas kawasan pertambangan di Pangkalpinang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Penambangan timah di bawah tanah di Kelapa Kampit, Belitung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kapal dredger bernama Doejoeng di perairan Belitung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tangga penghubung di pertambangan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1936
Tempat: Bangka, Belitung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 30 Mei 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Para pengikut NSB di Medan

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda.


22 Februari 1935: Sebuah rumah yang menjadi markas NSB di Medan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
8 Juli 1936: Pimpinan NSB di Medan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
6 September 1936: Tokoh NSB Belanda, Gerrit van Duyl (memegang topi kolonial) bersama para pengikut NSB di pelabuhan Belawan …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… sebelum Van Duyl kembali ke Belanda setelah lawatannya di Nusantara
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)


Waktu: 1935, 1936
Tempat: Medan
Tokoh: Gerrit van Duyl (teolog Protestan dan politisi pucuk pimpinan NSB)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lelaki di foto keempat yang mengenakan topi kolonial di belakang Van Duyl lumayan mirip dengan tokoh yang disinyalir sebagai "dalang" NSB oleh karikatur yang pernah dimuat di posting ini. Pilihan lain adalah lelaki paling kanan di foto kedua.

Kamis, 26 Mei 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Pengikut NSB di Surabaya

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, antara lain di Surabaya.


19 Januari 1934: Deklarasi pendirian NSB di Surabaya, dengan bendera NSB, foto Ratu Wilhelmina, dan foto Anton Mussert
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
19 Januari 1935: Foto bersama para pengikut NSB memperingati satu tahun berdirinya NSB di Surabaya, sesi para lelaki …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dan sesi foto bersama para wanita
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
22 Agustus 1936: Pimpinan Nationale Jeugdstorm (berseragam) bersama seorang petinggi NSB …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
…  dan bersama tiga petinggi NSB
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tiga pimpinan NSB di Surabaya, salah satunya kemungkinan berdarah campuran
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1930-an (a.l. 1934, 1935, 1936)
Tempat: Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: