Tampilkan postingan dengan label pecinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pecinan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 November 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (12)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Hardouin memperlihatkan wajah seorang ulama di Jawa di abad ke-19, kemungkinan di sebuah area keagamaan misalnya mesjid atau pesantren. Dia mengenakan serban, sarung kotak-kotak, baju gamis yang ditutup jubahm serta sndal jepit. Dia juga membawa sebuah kitab dan tasbih.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
AI cukup berhasil dalam membuat lukisan Hardouin menjadi tampak realistis. Bagian-bagian dari pakaian si ulama, hingga ke kita dan tasbihnya tampak seperti hasil fotografi. AI tetapi menambahkan kumis dan janggut putih ke Pak Kyai yang membuatnya tampak lebih matang.
(klik untuk memperbesar)
Ini adalah seorang Tionghia yang duduk memainkan kongahyan, sebuah alat musik gesek yang kemudian menyebar ke masyarakat Betawi, Sunda, Jawa, hingga ke Bali. Pria ini digambarkan bertelanjang dada dan bertaucang dan kelihatan sedang berada di sebuah kawasan pecinan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Secara keseluruhan AI lumayan berhasil menampilkan gambaran yang lebih realistis dari lukisan Hardouin di atas. Si pemain konghayan digambarkan seperti nyata, begitu juga pria di latar belakang, kawasan perumahan hingga ke lampion yang menggantung. Kesalahan muncul di alat penggesek yang ditampilkan seperti sepasang sumpit yang panjang.
(klik untuk memperbesar)
 
Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 04 November 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (7)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Ini adalah lukisan Hardouin tentang seorang penari perempuan di sebuah keraton Jawa. Hardouin cukup jeli untuk menampilkan banyak detail di pakaian si penari: mulai dari penutup kepala, anting-anting, ornamen di dada, hiasan di lengan atas, ikat pinggang, hingga ke motif kain batik yang dikenakan si penari.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Cukup mengagetkan bahwa AI bisa mereka ulang detail yang dijabarkan Hardouin di lukisannya, mulai dari penutup kepala hingga ke kain batik, dan instruksi ke AI sepenuhnya tanpa prompt khusus, hanya permintaan membuat lukisan menjadi semacam foto realistis.
(klik untuk memperbesar)
Ini adalah penjual unggas hidup yang tampaknya menjajakan dagangannya di sebuah kawasan pecinan. Dia memikul seekor kalkun, paling tidak dua ayam kampung dan satu bebek. Si pria ini berpakaian seperti lelaki kelas bawah biasa pada zamannya: telanjang dada dan nyeker, tetapi bertutup kepala, bercelana dan bersarung.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI cukup meyakinkan untuk menampilkan si penjual unggas. Si ayam kalkun bisa terdeteksi, begitu juga bilah bambu melengkung yang menjadi pikulan di pria. Hanya ayam yang di sebelah kiri tereduksi menjadi dua ekor dalam komposisi yang berbeda dari lukisan Hardouin.
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 23 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (1)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Seorang pemuka warga Priangan dalam pakaian berburu. Pakaian ini terdiri dari topi caping pipih di atas blangkon, kemudian naju kebesaran berkerah tinggi dengan banyak ornamen keemasan, serta kain batik yang dikencangkan dengan kain bebat di pinggang. Dia juga memakai semacam pelindung betis dan kaki berwarna merah-kuning, tapi tanpa alas kaki. Kudanya kemungkinan besar yang sedang dipegang pawangnya di sebelah kiri.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI yang cukup mendekati komposisi aslinya, meski alas kakinya memiliki variasi.
(klik untuk memperbesar)
Seorang kuli, kemungkinan di sebuah gudang barang di kawasan pecinan, berdasarkan model bangunan yang berada di latar belakang. Kuli ini duduk di atas sebuah kotak kayu, sementara seorang rekannya tampak berbincang dengan seorang yang berbaju lebih perlente yang mengindikasikan posisi sosial yang lebih tinggi.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini secara keseluruhan bisa menangkap apa yang ditampilkan Hardouin di lukisannya. Hanya saja AI membaca "FH" bukan "EH" di kotak yang diduduki sang kuli, dan mengubah font-nya. Kemudian AI juga menempatkan kaki si kuli menapak di tanah, bukan menggantung, serta mengubah postur tangan kirinya. AI juga menambah genteng di bangunan di sebelah kiri belakang yang sejatinya tidak ada di lukisan.
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: sekitar 1855 
Tempat terbit: Paris 
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 19 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (6)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Dua kuli memikul barang melewati sebuah jembatan dengan latar belakang pemukiman khas pecinan; kemungkinan ini menunjukkan wilayah Pintu Kecil, Jakarta
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Hotel Marine di Molenvliet (sekarang Jalan Gajahmada) yang ada sejak tahun 1830-an; hotel ini berhenti beroperasi 5 tahun setelah lukisan ini diterbitkan, dan berbagai bangunan telah menggantikannya hingga sekarang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Monumen Michiels di Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng) yang didirikan di tahun 1855 untuk mengenang Jenderal KNIL Andreas Victor Michiels dan para serdadu KNIL yang gugur di Hindia-Belanda; Michiels adalah komandan KNIL yang menyerang a.l. Jambi, Bonjol, Kuta, serta Singkil, dan ditewaskan di tahun 1849 oleh pasukan pimpinan Ratu Klungkung, Dewa Agung Istri Kanya
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Suasana di gardu malam di Jakarta, dengan dua ronda yang tertidur, sementara yang berada di luar memegang lembing tampak hanya setengah terjaga; kentongan dan dua alat penangkap pencuri terlihat di sekitar gardu
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Keramaian di sebuah kawasan pecinan di Jakarta dengan delman, pedagang keliling, dan pedagang jongkok menghiasa pemandangan jalan, sementara di depan satu rumah tampak sebuah transaksi sedang berlangsung
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 11 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (2)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Acara rampogan sima yang menempatkan harimau Jawa di lapangan yang dikelilingi para pria bersenjata tombak. Tradisi yang mempercepat kepunahan jenis satwa ini kemudian dilarang pemerintah Hindia-Belanda di tahun 1905.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Air terjun Bantimurung di luar Maros, Sulawesi Selatan, yang penampakan kininya, terlepas dari keramaian pengunjung sekarang, masih sangat mirip dengan yang terlukis di atas.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Stadhuis van Batavia, yang menjadi balaikota Jakarta dari tahun 1627 hingga 1913; sekarang menjadi Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kesibukan di kawasan pecinan di Jakarta dengan rumah-rumah yang khas kawasan pecinan, sementara kubah Gereja Imanuel tampak menjulang di kanan belakang
 (klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Dua kuli mengangkut barang dengan melalui Gerbang Amsterdam di Jakarta, sementara sebuah trem berkuda mengikuti jalur rel mengitari ikon yang sekarang sudah hilang ini
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis) 
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 20 April 2025

Beberapa lukisan kuno tentang Jakarta dari berbagai masa (1)

Karya Dirk Homberg, ~1920: Kesibukan di Kali Besar
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Karya François Valentyn, ~1724-1726: Pemandangan ke arah Jakarta dilihat dari Laut Jawa dengan Kastil Batavia di latar tengah beserta tembok pertahanan yang memanjang, serta pegunungan di kawasan Bogor di latar belakang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Karya Dirk Homberg, ~1925: Perumahan warga Tionghoa di Pintu Kecil
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1724/1726, 1920, 1925
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Dirk Homberg, François Valentyn
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 09 April 2025

Surabaya di sekitar tahun 1920-an (3)

Sebuah trem melintas di atas Jembatan Simpang/Gubeng
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah jembatan di kawasan Pengampon
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga Surabaya mandi di Kali Pegirian, dengan latar belakang rendaman bambu, pakaian yang dijemur binatu, serta perumahan warga Tionghoa
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1920-an (?)
Tempat: Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 05 April 2025

Surabaya di sekitar tahun 1920-an (1)

Kawasan pecinan Kembang Jepun
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah rumah mewah di kawasan Darmo
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jembatan Merah di atas Kali Mas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1920-an (?)
Tempat: Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 29 Maret 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (9)

Salah satu sudut kota Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Perempatan Harmoni dengan "lapak" penjahit Perancis ternama di Jakarta ketika itu, Oger Frères, di sebalah kanan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah jalan di Jakarta yang kemungkinan sekarang menjadi Jalan Gajah Mada/Hayam Wuruk
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah kampung di, saat itu pinggiran, Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Jumat, 11 Oktober 2024

Pertempuran Surabaya, Oktober-November 1945 (6)

Dua tentara Inggris tanpa baju berlari dengan menghunus senapan di tengah pertempuran kota
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua tentara Inggris bersiaga di balik gerobak dan benda-benda lain yang malang melintang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang prajurit Inggris yang terluka diangkut dengan tandu
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Militer Inggris mengamati seorang pejuang yang gugur di pertempuran (catatan foto Belanda menyebutnya "extremist")
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kesibukan di sebuah kawasan pecinan dengan latar belakang bendera palang merah
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Oktober-November 1945
Tempat: Surabaya
Tokoh:
Peristiwa: Beberapa foto dari peristiwa di sekitar pertempuran antara para pejuang kemerdekaan di wilayah Surabaya melawan pasukan Inggris, di antaranya dari kesatuan asal jazirah Hindia, yang berlangsung di bulan Oktober dan November 1945.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 21 Juli 2024

Aksi pasukan Inggris di Jakarta, 1945 (3)

Pasukan Seaforth Highlanders dalam kostum tradisional mereka
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Oktober 1945: Dua tentara Inggris asal India di belakang seorang juru kamera Indonesia
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Oktober 1945: Konvoi tank di bawah pimpinan Mayor B.P. Boyd di sebelah trem jurusan"Jembatan Merah - Kramat - Tanah Abang" yang bertuliskan seruan kemerdekaan We Need Just Now Independence!
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
November 1945: Seorang tentara Gurkha menyalami seorang bocah Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
20 November 1945: Tank Inggris di sebuah kawasan pecinan setelah patroli mereka mendapat serangan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 19 Juli 2024

Aksi pasukan Inggris di Jakarta, 1945 (2)

29 Oktober 1945: Konvol tank pimpinan Mayor B.P. Boyd di Salemba
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Awak tank dengan nomor urut 2 berdiri di atas kendaraan lapis baja mereka, salah satunya seorang Sikh asal India
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Konvoi tank Inggris di Jatinegara …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… melintasi kawasan pecinan …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… disaksikan warga Tionghoa yang bermukim di sana
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 29 Oktober 1945
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: