Tampilkan postingan dengan label Lebak (Banten). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lebak (Banten). Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juni 2026

Dari Padang sampai ke Banda: Lukisan pemandangan Nusantara karya Charles William Meredith van de Velde, 1844 (8 - Jawa)

Charles William Meredith van de Velde (1818-1898) tampaknya seorang dengan berbagai bakat dan kemampuan. Dia pernah menjadi perwira angkatan laut, tentara bayaran, pembuat peta, anggota palang merah, hingga misionaris. Salah satu keahlian dia adalah menangkap keindahan alam dari tempat yang dia kunjungi, dan menuangkannya ke atas kanvas. Dia terkenal sebagai pembuat peta Palestina di pertengahan abad ke-19, serta pelukis kota dan tempat di Palestina yang dia singgahi. Sebelumnya, dia juga mengabadikan banyak tempat di Nusantara dalam beberapa karya lukisannya, yang akan kita lihat di seri berikut ini.
Gunung Ringgit di Situbondo
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Edisi lain dari gambar di atas
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Pemandangan di Lebak, Banten
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Sebuah lembah di Ciomas (Bogor?) yang disebut sebagai Dano (Danau?)
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Versi berwarna dari lukisan di atas
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1844
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Paul Lauters yang menyalin dari karya Charles William Meredith van de Velde
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Lihat rangkaian lain lukisan karya Van de Velde ini mulai dari posting ini.

Sabtu, 11 Februari 2023

Kumpulan foto hasil jepretan Isidore van Kinsbergen: Kalangan ningrat Jawa

Dunia purbakala Indonesia tidak akan lepas dari nama Isidore van Kinsbergen. Juru foto asal Belgia ini merupakan orang pertama yang mencoba mendokumentasikan peninggalan purbakala warga di sepanjang Jawa, dari barat hingga ke timur di sekitar tahun 1860. Di samping situs-situs terkenal seperti Borobudur dan Panataran, Isidore juga merambah ke tempat lain yang belum mendapat perhatian orang seperti Ciamis, Garut, Kuningan, Majalengka, dan Tasikmalaya. Blog ini pernah memuat sebagian dari foto-foto purbakala ini (lihat posting dari tanggal 5 Desember 2019 hingga 6 Januari 2020). Selain itu, Isidore juga meninggalkan banyak foto tentang wajah-wajah orang Jawa menjelang akhir abad ke-19 dari berbagai kalangan.

Blog ini mencoba mengumpulkan foto-foto ini yang tampak bertebaran di berbagai tempat.


Seorang bangsawan Jawa, yang sayangnya diberi judul salah (bukan oleh Isidore) Malaischer Radjah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Tengah: 3 putri dari Sultan Hamengkubuwono VI;
kanan: istri dari Bupati Lebak (?);
kiri: 2 putri dari Bupati Lebak, yaitu Mursilah dan Saripah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Putra tertua dari Bupati Bandung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang wanita ningrat bersama abdi dalemnya
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1860-an
Tempat: Jawa (a.l. Bandung, Lebak, Yogyakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Isidore van Kinsbergen
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Untuk foto nomor 2 lihat juga posting ini.

Kamis, 04 Maret 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (3)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


35. Wanita pemetik daun teh di Cibeber (Lebak)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
36. Para pemetik teh berkumpul di halaman pabrik teh
(klik untuk memperbesar | © AVS)
38. Pabrik teh Pasir Nangka, Cianjur
(klik untuk memperbesar | © AVS)
40. Perkebunan tebu, kemungkinan di Jawa
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Lebak, Jawa Barat, Cianjur, Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Atlas Van Stolk
Catatan: Edisi lain dari foto no. 35 pernah dimuat di posting ini.


Jumat, 15 Maret 2019

Bupati Lebak, Raden Adipati Karta Natanegara, 1865

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 1865
Tempat: Lebak (Banten)
Tokoh: Raden Adipati Karta Natanegara (Bupati Lebak yang menjadi tokoh antagonis di karya sastra Max Havelaar)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: Tulisan di bawah foto terbaca "[A]dipattie Karta Natta Negoro Boepatti
pada 15 Maart 1865 soeda oemoer 75 tahoen"

Kamis, 15 Maret 2018

Dewan pemerintahan daerah (regentschapsraad) di zaman Belanda: Lebak, 1926

PENGANTAR

Dimulai di pertengahan tahun 1920-an pemerintah Hindia-Belanda membentuk regentschapsraad (dewan pemerintahan daerah) di beberapa wilayah. Meski kewenangannya tidak besar, dan juga keanggotaannya tidak ditentukan rakyat, ini termasuk langkah maju di dalam menampung aspirasi warga jajahan, sebagaimana halnya pembentukan Volksraad beberapa tahun sebelumnya. Berdasarkan foto-foto yang tersedia, dewan pemerintahan daerah ini kelihatannya hanya dibentuk di wilayah Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian kecil Jawa Tengah.

Yang menarik dari foto-foto ini adalah keanggotaan dewan dan bagaimana pakaian yang dikenakan menunjukkan latar belakangnya. Warga Belanda tentunya berpakaian a la Barat; dan tanpa tutup kepala. Jumlah warga Belanda ini umumnya sedikit, kecuali di daerah yang menjadi tempat favorit mereka tinggal, seperti Jakarta, Bandung, atau Garut.

Warga lokal memiliki keanekaragaman dalam hal berpakaian. Kelompok priyayi umumnya mengenakan blangkon, baju adat, serta kain batik untuk bawahannya. Warga yang mendapat pendidikan Barat sudah mengenakan pakaian a la Barat, misalnya bercelana panjang, berjas, berdasi, dan tanpa tutup kepala. Kaum bangsawan yang mengenyam pendidikan modern berada di tengah-tengah: tetap mengenakan blangkon dan baju adat, tetapi menambahinya dengan dasi, baik yang panjang maupun kupu-kupu; bawahannya bisa celana atau kain tradisional. Di samping itu ada juga kelompok ulama atau saudagar Muslim yang mengenakan serban atau peci, baju jas tertutup atau jubah panjang, dengan bawahan kain sarung atau celana panjang.

Hampir semua yang muncul di foto adalah laki-laki. Ada beberapa wanita kulit putih, serta perempuan berkebaya di foto tertentu; tapi tidak jelas apakah mereka anggota dewan juga, atau istri dari salah satu anggota dewan.

Dewan pemerintahan daerah Lebak, 1926-1929
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: antara 1926-1929
Tempat: Lebak (Banten)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Senin, 15 Januari 2018

Tugu Romusha di Lebak, Banten 1948

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 23 Desember 1948
Tempat: Lebak (Banten)
Tokoh:
Peristiwa: Sebuah monumen, yang kelak dikenal dengan nama Tugu Romusha, yang didirikan oleh pemerintah Republik Indonesia, untuk mengenang warga Banten yang menjadi korban kerja paksa romusha di masa penjajahan Jepang.
Fotografer: Hesselman
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: