Tampilkan postingan dengan label Leon Nicolaas Hubert Jungschläger. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Leon Nicolaas Hubert Jungschläger. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 November 2020

Karikatur Belanda tentang kasus pengadilan Leon Jungschläger, 1956

Blog ini sudah menampilkan beberapa posting terkait proses pengadilan atas . Kali ini ada tambahan karikatur karya Leo Jordaan yang merekam peristiwa yang turut memperburuk hubungan Belanda-Indonesia ini.

Vrij Nederland, 3 Maret 1956
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Dakwaan dengan hukuman mati atas Jungschläger adalah hal yang sangat memukul masyarakat Belanda. Teks di karikatur berbunyi "Mau ke mana, hai budaya?" yang tampaknya menyindir bahwa masyarakat Indonesia menunjukkan peradaban kelam masa lampau dengan dakwaan ini.

Vrij Nederland, September 1956
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur ini lebih keras lagi. Sikap Indonesia di kasus Jungschläger dianggap sebagai penistaan atas Dewi Keadilan, sama dengan sikap rasis warga putih Amerika Serikat saat itu atas warga kulit hitam.

Waktu: 1956
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke proses peradilan di Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 12 November 2020

Karikatur Belanda tentang pertemuan Menlu Belanda dan Indonesia, Joseph Luns dan Anak Agung, di tahun 1955-1956

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Het Parool, terbitan 13 Desember 1955
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Anak Agung bertemu Joseph Luns untuk membahas hubungan Indonesia dan Belanda, tapi pertemuan ini dibayang-bayangi oleh de derde man (orang ketiga), yaitu Leon Jungschläger yang kasus hukumnya memperburuk hubungan kedua negara.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Vrij Nederlands, terbitan 17 Desember 1955
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Anak Agung bertemu Joseph Luns untuk membahas perbaikan hubungan Indonesia dan Belanda. Luns tapi tampak tidak begitu bahagia karena Anak Agung tampak yang mendikte pembicaraan. Istilah menu à la carte diplesetkan oleh Jordaan menjadi menu à la (Dja-)carte.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: ?, terbitan akhir 1955 atau awal 1956
Juru gambar: Charles Boost
Isi: Karikatur ini berjudul Daar zijn we weer (kita bertemu lagi), yang memperlihatkan keengganan Joseph Luns bertemu dengan Anak Agung. Menariknya, Joseph Luns jutsru tampak didorong oleh orang-orang berpeci, atau pihak Indonesia.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Vrij Nederlands, terbitan 21 Januari 1956
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Anak Agung bertemu Joseph Luns di Jenewa dengan dibayang-bayangi kekhawatiran pecahnya hoop (harapan), begrip (pengertian), dan vertrowen (kepercayaan) antara kedua negara yang diwakili.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Vrij Nederlands, terbitan 24 Februari1956
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Pertemuan antara Anak Agung dan Joseph Luns di Swiss pada musim dingin benar-benar membuat pembicaraan antara keduanya membeku.

Waktu: 1955, 1956
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke pertemuan Anak Agung dan Joseph Luns di Jenewa, Swiss
Tokoh: Ida Anak Agung Gde Agung (Menteri Luar Negeri Indonesia), Joseph Luns (Menteri Luar Negeri Belanda)
Peristiwa: Di akhir tahun 1955 dan awal 1956 berlangsung Konferensi Belanda-Indonesia dengan tujuan memperbaiki hubungan kedua negara, yang delegasinya dipimpin oleh menteri luar negeri masing-masing.
Juru foto/gambar: Charles Boost / Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 08 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1954-1956

(klik untuk memperbesar | © AVS)
30 Januari 1954. Kasus persidangan Leon Jungschläger pernah menjadi kontoversi sengit antara Belanda dan Indonesia. Belanda merasa bahwa Indonesia tidak sepenuhnya jujur dalam hal ini. Karikatur ini menggambarkan bagaimana ketika Soekarno bicara tentang kasus ini, di depan a.l. Dwight Eisenhower dan John Foster Dulles, detektor kebohongan ditawarkan, tetapi Amerika (diwakili Richard Nixon) menolaknya.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
15 November 1955. Soekarno berkata di Bandung bahwa "Hanya ada tiga pemimpin besar dalam sejarah yang mampu menarik jutaan orang untuk berkumpul: Hitler, Gandhi, dan Soekarno!" Ucapan penuh percaya diri ini disambar karikaturis Leendert Jordaan dengan menggambarkan Soekarno bersama pecinya, diberi kacamata dan jubah Gandhi, serta rambut, seragam, dan ayunan tangan Hitler. Jordaan memberi judul karikatur ini "three in one".
(klik untuk memperbesar | © AVS)
24 Mei 1956. Soekarno mendapat gelar doktor kehormatan dari Columbia University, dan langsung merobek pengakuan bersalah terhadap Belanda.

Waktu: 1955, 1955, 1956
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Charles Boost (nomor 1 dan 3), Leendert Jurriaan Jordaan (nomor 2)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 28 November 2015

Persidangan atas Leon Nicolaas Huber Jungschläger (3)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 1950-an (sebelum 1957)
Tempat: Jakarta
Tokoh: Herman Bouman (pengacara Jungschläger; paling kiri, memegang hidung); Leon Nicolaas Huber Jungschläger (mantan intel KNIL yang dituduh membantu pemberontakan DI/TII dengan memasok uang dan peralatan militer.)
Peristiwa: Persidangan atas Jungschläger
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:
1. Jungschläger didakwa hukuman mati yang menyulut dukungan penduduk Belanda atas dirinya. Di tahun 1956, hanya beberapa hari sebelum vonis dijatuhkan, Jungschläger menderita pendarahan dan meninggal. Persidangan tidak dilanjutkan.
2. Wanita di latar belakang kemungkinan adalah isteri dari Herman Bouman, yang kemudian menjadi pembela Jungschläger karena Herman Bouman belakangan ikut dituduh bekerja sama dengan Jungschläger dan karenanya segera meninggalkan Indonesia. Isteri Bouman sebenarnya guru bahasa, tidak mengecap pendidikan hukum.

Minggu, 15 November 2015

Persidangan atas Leon Nicolaas Huber Jungschläger (2), 1956

Tentara yang mengamankan sidang pengadilan
(klik untuk memperbesar | © gahetna/spaarnestad)
Mobil Ny. Bouman, pembela Jungschläger, yang dirusak massa
(klik untuk memperbesar | © gahetna/spaarnestad)
Warga mendengarkan jalannya sidang melalui radio
(klik untuk memperbesar | © gahetna/spaarnestad)
Suasana persidangan (kemungkinan pemeriksaan saksi)
(klik untuk memperbesar | © gahetna/spaarnestad)
Waktu: 1956
Tempat: Jakarta
Tokoh: Herman Bouman (pengacara Jungschläger; di foto bawah, kedua dari kanan, berdasi panjang)
Peristiwa: Persidangan atas Jungschläger yang didakwa membantu pemberontakan DI/TII dengan memasok uang dan peralatan militer.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:
1. Jungschläger didakwa hukuman mati yang menyulut dukungan penduduk Belanda atas dirinya. Di tahun 1956, hanya beberapa hari sebelum vonis dijatuhkan, Jungschläger menderita pendarahan dan meninggal. Persidangan tidak dilanjutkan.
2. Wanita di belakang Herman Bouman kemungkinan adalah isteri dari Herman Bouman, yang kemudian menjadi pembela Jungschläger karena Herman Bouman belakangan ikut dituduh bekerja sama dengan Jungschläger dan karenanya segera meninggalkan Indonesia. Isteri Bouman sebenarnya guru bahasa, tidak mengecap pendidikan hukum.

Senin, 13 April 2015

Persidangan atas Leon Nicolaas Huber Jungschläger (1), 1954

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1954
Tempat: Jakarta
Tokoh: Leon Nicolaas Hubert Jungschläger (mantan perwira intel AL Belanda), Herman Bouman (pengacara Jungschläger; berdasi)
Peristiwa: Persidangan atas Jungschläger yang didakwa membantu pemberontakan DI/TII dengan memasok uang dan peralatan militer.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:
1. Jungschläger didakwa hukuman mati yang menyulut dukungan penduduk Belanda atas dirinya. Di tahun 1956, hanya beberapa hari sebelum vonis dijatuhkan, Jungschläger menderita pendarahan dan meninggal. Persidangan tidak dilanjutkan.
2. Wanita di barisan belakang kemungkinan adalah isteri dari Herman Bouman, yang kemudian menjadi pembela Jungschläger karena Herman Bouman belakangan ikut dituduh bekerja sama dengan Jungschläger dan karenanya segera meninggalkan Indonesia. Isteri Bouman sebenarnya guru bahasa, tidak mengecap pendidikan hukum.