Tampilkan postingan dengan label 1908. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1908. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juni 2022

Dari sebuah album foto tentang Cilacap dan sekitarnya di kisaran tahun 1908 (5)

Kali Yasa, dilihat dari Brug Menceng
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perkampungan rumah panggung di Pulau Motean, Segara Anakan
(orang Belanda menerjemahkan Segara Anakan sebagai Kinderzee)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Hotel Bellevue di Cilacap
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pantai Karangbolong di Nusa Kambangan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kawasan benteng Banteng Mati di Nusa Kambangan dilihat dari Pulau Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1908
Tempat: Cilacap, Nusa Kambangan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 04 Juni 2022

Dari sebuah album foto tentang Cilacap dan sekitarnya di kisaran tahun 1908 (4)

Kawasan pelabuhan di Cilacap
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah jalan utama di Cilacap
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Stasiun kereta Cilacap
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Tangsi militer Cilacap
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Area kediaman para perwira KNIL
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1908
Tempat: Cilacap
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 02 Juni 2022

Dari sebuah album foto tentang Cilacap dan sekitarnya di kisaran tahun 1908 (3)

Hoo Swan Hie, salah satu pemuka warga Tionghoa di Cilacap
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pasar Plasen
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Stasiun kereta barang di Donan, Cilacap
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Dua kapal uap Jerman berlabuh di Cilacap: Reichenbach dan Thüringen
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gedung De sociëteit te Tjilatjap dengan latar belakang sebuah kapal uap
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1908
Tempat: Cilacap
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 31 Mei 2022

Dari sebuah album foto tentang Cilacap dan sekitarnya di kisaran tahun 1908 (2)

Solok Kipah, di pesisir selatan Nusa Kambangan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah jalan yang diapit rangkaian pohon kenari
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gudang penyimpanan gula
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kediaman Asisten Residen Cilacap
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gedung De sociëteit te Tjilatjap
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1908
Tempat: Cilacap, Nusa Kambangan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Minggu, 29 Mei 2022

Dari sebuah album foto tentang Cilacap dan sekitarnya di kisaran tahun 1908 (1)

Sampul album foto
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pantai selatan Nusa Kambangan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pantai utara Nusa Kambangan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Benturan ombak di Solok Kipah, pesisir selatan Nusa Kambangan
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1908
Tempat: Nusa Kambangan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 25 Januari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1903-1923

De Amsterdammer, 1 November 1903
(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / Universiteit Leiden)

Karikatur ini menggambarkan Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz menyambut kedatangan Merkurius, dewa perdagangan Romawi, di pelabuhan Sabang, yang menyusul Mars, dewa perang Romawi, yang sudah ada di sana. Karikatur ini bisa ditafsirkan bahwa dari awal Belanda memang memiliki motivasi ekonomi di dalam usahanya untuk menguasai Aceh.

De Amsterdammer, 26 Januari 1908
(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / Universiteit Leiden)

Karikatur di atas berasal dari era ketika para seniman besar Belanda di bidang pertunjukan pada mendatangi wilayah Nusantara. Nama-nama yang ditampilkan a.l. Louis Bouwmeester, Anton Kimmel, dan Albert Vogel. Mbok Indonesia yang merasa heran bertanya kepada Nona Belanda apakah mereka itu anak-anaknya. Nona Belanda menjawab bahwa mereka itu sekedar pencari emas.

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Karikatur ini muncul antara tahun 1914 dan 1918 dan menggambarkan bagaimana seorang agen Jerman merayu rakyat Indonesia dengan menjanjikan senjata dan uang untuk mengenyahkan penjajah Belanda. Bahwa Jerman mencoba membangkitkan perlawanan rakyat Indonesia untuk mengusir Belanda, ini adalah hal yang tampkanya jarang disinggung sejarah.

(klik untuk memperbesar | © Piet van der Hem / AVS)

Karikatur ini muncul di tahun 1923, di saat Belanda melakukan banyak pengetatan anggaran. Tetapi, sebuah undang-undang dengan nama de Vlootwet (Undang-undang Armada) disahkan, guna mempertangguh kekuatan laut Belanda di wilayah Nusantara. Tampaknya saat itu Belanda sudah menyadari bahwa wilayah Nusantara dengan banyak pulau dan periarannya memerlukan armada laut yang tangguh. Boleh jadi Belanda juga sudah melihat bahwa kekuatan laut Jepang bisa menjadi ancaman serius; sebuah pandangan yang kemudian terbukti benar.

Waktu: 1903, 1908, 1918, 1923
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke beberapa peristiwa di Nusantara
Tokoh: Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek | Louis Raemaekers | Piet van der Hem
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk | Universiteit Leiden
Catatan:

Rabu, 30 Desember 2020

Karikatur karya Johan Braakensiek tentang Mbok Indonesia, 1905-1920

De Amsterdammer, 3 Desember 1905
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur ini menggambarkan kebingungan para politisi Belanda melihat rakyat Indonesia tak habis-habisnya beranak pinak. Si Mbok Indonesia bercerita kepada Dirk Fock (kelak menjadi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda 1921-1926) dan rekan-rekannya bahwa dia melahirkan kembar empat, sebelumnya kembar tiga, sebelumnya lagi kembar empat, dst. Dirk Fock berkomentar bahwa mereka harus memikirkan pendidikan anak-anak ini, begitu kesempatan kerja, dan aspek lainnya.

De Amsterdammer, 16 Oktober 1908
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Jurnalis Belanda Charles Boissevain mengadakan perjalanan di Hindia-Belanda di tahun 1908 dan mempublikasikannya (a.l. sebagai buku yang terbit tahun 1909). Karikatur di atas menggambarkan bagaimana Mbok Indonesia merasa bahwa dia terlalu banyak didandani atau dipercantik oleh Boissevain sehingga menjauh dari realita. Boissevain menyahut bahwa kalau orang sudah mencintai seorang wanita, dia akan mengusahakan si wanita senantiasa tampak menawan.

De Amsterdammer, 7 November 1915
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas tampak seperti adegan dari kisah pahlawan super, tapi sejatinya diinsprirasi oleh kisah Perseus yang akan membebaskan Andromeda dari cengkraman naga. Perseus menggambarkan Johan Paul van Limburg Stirum yang baru saja ditunjuk menjadi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang baru, sementara Andromeda adalah (Mbok) Indonesia, dan naga adalah burokrasi yang tampaknya di saat itu pun sudah menjadi tantangan yang sulit untuk dihadapi seorang gubernur jenderal sekalipun.

De Amsterdammer, 28 Februari 1920
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur ini terbit dalam rangka menyambut hari kelahiran Multatuli (Eduard Douwes Dekker) yang ke-100, tepatnya 2 Maret 1920. Mbok Indonesia tampak digambarkan memberikan penghormatan kepada penulis yang telah membuka kekejaman penjajahan di Hindia-Belanda melalui karyanya Max Havelaar.

Waktu: 1905, 1908, 1915, 1920
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke persoalan terkait Indonesia (Hindia-Belanda)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk | Universiteit Leiden
Catatan:

Jumat, 30 Oktober 2020

Jakarta tempo doeloe: Jembatan angkat selain Kota Intan

Jembatan Kota Intan telah menjadi salah satu ikon peninggalan bersejarah di Jakarta. Sejatinya, Jakarta pernah memiliki jembatan angkat lain, seperti di kawasan Pasar Ikan, dan salah satu lainnya yang belum teridentifikasi di bawah ini. Dari semua itu, yang tersisa tampaknya hanya jembatan Kota Intan.

Antara 1857 dan 1908: Jembatan angkat di Pasar Ikan, dalam posisi diturunkan
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Sekitar tahun 1865: Jembatan angkat di Pasar Ikan, dalam posisi diangkat
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Kawasan Pasar Ikan di sekitar tahun 1870
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Jembatan angkat yang memiliki banyak nama: Jembatan Rusman, Jembatan Berak, Scheidbrug (Jembatan Perpisahan) yang tampaknya diplesetkan menjadi Schijtsburg (yang memang berarti Jembatan Berak)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1865, 1870, 1908
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia / Universiteit Leiden
Catatan:

Jumat, 11 September 2020

Kartu pos kuno dari Jawa Barat

1900: Istana Bogor
(klik untuk memperbesar | © F.B. Smits / AVS)

1908: Kebun Raya Bogor
(klik untuk memperbesar | © Tio Tek Hong / AVS)

Bandung, sekitar 1915: Anak-anak sekolah membaca koran Bintang Hindia
(klik untuk memperbesar | © Visser & Co. / AVS)

1930-1934: Stasiun radio Malabar, Bandung
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Rumag di perkampungan Sunda
(klik untuk memperbesar | © Kawai & Co. / AVS)

Waktu (dari atas ke bawah): 1900, 1908, 1915, antara 1930 dan 1934, ?
Tempat: Bandung; Bogor
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto: F.B. Smits / Tio Tek Hong / Visser & Co. / ? / Kawai & Co.
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Foto nomor 3 pernah dimuat di posting ini dalam versi diwarnai.

Selasa, 21 November 2017

Perkembangan Hotel Homann, Bandung, dan jalan di sekitarnya dari tahun 1895 ke 1912

1895
(klik untuk memperbesar | © B.N. Teensma / KITLV)
1908
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
1910
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
24 Maret 1912
(klik untuk memperbesar | © K.H. Verschoor / KITLV)
5 April 1912
(klik untuk memperbesar | © K.H. Verschoor / KITLV)

Waktu: 1895, 1908, 1910, 1912
Tempat: Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan:

Jumat, 17 November 2017

Perkembangan Hotel Preanger, Bandung, dan jalan di sekitarnya dari tahun 1890 ke 1925

1890
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
1908, menurut lukisan JC Becker
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
1910
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
1915
(klik untuk memperbesar | © P. Voorhoeve / KITLV)
1920
(klik untuk memperbesar | © H. Marechal / KITLV)
(klik untuk memperbesar | © K.H. Veschoor / KITLV)

Waktu: 1890, 1908, 1910, 1920, 1925
Tempat: Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan: