Tampilkan postingan dengan label Citeureup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Citeureup. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Agustus 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Abraham Salm tentang berbagai tempat di Jawa (2)

Ini merupakan pelengkap dan tayang ulang (reload) dalam ukurang yang lebih besar dari beberapa lukisan karya Abraham Salm yang pernah dimuat sebelumnya. Lihat tautan di bagian "Catatan" di bawah.


Bogor: Rumah besar milik asisten-residen di Citeureup dengan latar belakang pesawahan dan pegunungan
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Malang: Pantai di Srigonco, Bantur, dengan bongkahan batu besar baik di latar depan maupun di belakang, sementara beberapa warga tampak bersantai di tepian laut
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Serang: Perahu-perahu yang lalu lalang di Anyer dengan pelabuhannya di latar belakang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kawasan Bromo-Tengger-Semeru: Pemandangan di Bromo dengan banyak orang menaiki kuda dengan mengenakan topi kuning
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: sekitar 1872
Tempat terbit:
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Abraham Salm
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Tautan dari posting sebelumnya tentang Banten, Bogor, Gunung Semeru, Malang/Tegal, dan Sumedang.

Kamis, 16 Agustus 2018

Lukisan karya Abraham Salm dari sekitar tahun 1872: Bogor

Kedungbadak
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Lembah di kaki gunung Salak
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Kedungbadak
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Rumah asisten-residen di Citeureup
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Iring-iringan pengantin di kaki gunung Salak
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1872
Tempat: Bogor (a.l. Citeureup dan Kedungbadak)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer/Pelukis: Abraham Salm
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Selasa, 08 Juli 2014

Tentara Jepang yang memilih desersi atau bergabung dengan pemuda Indonesia di dalam melawan Belanda (1)

Pengantar: Setelah kapitulasi Jepang semua tentaranya diperintahkan untuk menyerahkan diri dan peralatan perangnya kepada Sekutu. Secara umum perintah ini dipatuhi, yang membuat usaha para pemuda Indonesia untuk merebut senjata dari tangsi-tangsi pasukan Jepang menemui rintangan. Korban jatuh di kedua belah pihak.

Di sisi lain, sebagian serdadu tidak sudi menyerah, dan lebih memilih desersi atau malah bergabung dengan para pejuang kemerdekaan di dalam perang melawan Belanda. Berikut beberapa fotonya.

(klik untuk memperbesar)
© gahetna

Tiga serdadu Jepang yang gugur ketika bertempur bersama para pemuda Indonesia di dalam melawan pasukan Belanda. 

© gahetna

© ???

Sisa-sisa usaha penyergapan para pemuda atas konvoi tentara Belanda di wilayah Medan (21 Juli 1947). Dalam peristiwa ini dua serdadu Jepang gugur, dan satu lagi tertangkap Belanda. Mitraliur yang terfoto adalah senjata Jepang.


Updata tanggal 21 Juni 2015:  Foto paling atas tersedia di bawah ini dengan resolusi yang lebih besar. Menurut catatan Belanda gugurnya tiga orang ini terjadi pada tanggal 19 Juli 1946 ketika para pejuang berusaha menyergap pasukan Belanda di antara Citeureup dan Cileungsi.
(klik untuk memperbesar | © gahetna)