Tampilkan postingan dengan label pembantu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembantu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Gambar dari buku "Indisch Prentenboek, I. Bedienden en Beroepen" tentang kusir dan tukang kebun

Kusir
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Tukang kebun
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1909
Tahun peristiwa:
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: J.H. de Bussy
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Senin, 27 April 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Gambar dari buku "Indisch Prentenboek, I. Bedienden en Beroepen" tentang babu dan koki

Babu
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Koki
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1909
Tahun peristiwa:
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: J.H. de Bussy
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Edisi lain dari gambar di atas pernah dimuat di posting ini sebelumnya.

Sabtu, 25 April 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Gambar dari buku "Indisch Prentenboek, I. Bedienden en Beroepen" tentang kuli dan jongos

Kuli
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Jongos
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1909
Tahun peristiwa:
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: J.H. de Bussy
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Edisi lain dari gambar kedua pernah dimuat di posting ini sebelumnya.

Minggu, 04 Januari 2026

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (31)

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.


Surabaya, November 1945: Tiga warga Tionghoa dan seorang pembantu (?) yang menggendong anak, mengungsi dari rangkaian pertempuran yang melahirkan Hari Pahlawan.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1947: Seorang wanita Tionghoa bersama dua anak kecil mengungsi ke wilayah yang dikuasai Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jawa, 1947: Teks foto menyebutkan bahwa para pria Tionghoa ini menceritakan pengalaman mereka semasa berada di bawah kekuasan para pejuang kemerdekaan …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… sementara edisi lain dari foto yang sama disertai dengan teks bahwa para pria Tionghoa ini meminta bantuan militer Belanda untuk membebaskan sejawat mereka yang disekap para pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945, 1947
Tempat: Jawa (a.l. Surabaya)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga foto-foto lain di rangkaian yang dimulai di posting ini.

Senin, 27 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (3)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Ini adalah gambaran seorang bujang di sebuah rumah yang sangat mewah, terlihat dari ukuran tiang yang besar serta halaman yang luas, kemudian juga dari rumah tetangga yang tampak lumayan megah. Pakaian bujang ini tampak berlapis: selain kemeja putih, dia juga mengenakan semacam luaran berwarna ungu, disesuaikan dengan warna penutup kepalanya. Celana panjangnya, yang bermodel Obelix, juga ditutupi dengan kain batik sepaha, dan dikencangkan dengan kain berwarna keemasan dan hitam. Meski pakaiannya berlapis, bujang ini tetap tanpa alas kaki.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini cukup jitu menangkap apa yang disajikan oleh lukisan. Tapi si model AI tetap belum terlatih dengan jenis celana stirrup, sehingga dia menggambarkannya seperti celana biasa.
(klik untuk memperbesar)
Ini adalah gambaran tentang kesatuan keamanan bentukan Belanda bernama Jayeng Sekar. Anggotanya direkrut dari keturunan ningrat dari jajaran penguasa lokal. Mereka mendapat seragam seperti orang Eropa, termasuk sepatu dan pedang, seperti yang ditampilkan di lukisan di atas.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
AI mereka lukisan di atas dengan banyak kebebasan. Subjek utama di lukisan ditampilkan dengan cukup meyakinkan; latar belakangnya tetapi bervariasi. Dari empat prajurit Jayeng Sekar, hanya dua yang ditampilkan; sementara formasi batu di tepi kawanan berkuda diterjemahkan sebagai sebuah gunung.
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 03 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (13)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Salah satu perlintasan Sungai Cikandi (atau Cidurian) di Serang yang tanpa jembatan. Orang menggunakan rakit bambu yang ditopang dua perahu, dan memanfaatkan tali yang diikat di kedua tanggul untuk menggerakkan rakit dari tepi ke tepi.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sepasang warga Belanda di depan sebuah rumah mewah di Bogor. Lelaki Belanda tampak menulis sesuatu di sabak, kemungkinan rangkaian instruksi yang ditujukan kepada pembantu rumah tangga yang berdiri di sebelahnya.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Saat makan di sebuah keluarga Belanda yeng terdiri dari suami, istri, dan satu anak. Tiga pembantu sibuk menemani acara santapan ini: babu perempuan menyuapi si anak bule, seorang opas membuka botol minuman, sementara seorang opas lain berjalan membawa hidangan ke arah meja. Si pria Belanda mengenakan pakaian a la Eropa, sementara istrinya memakai kain, kebaya, serta tampaknya juga selop yang ditumpukan ke sebuah dudukan kayu.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rumah pembantu di sebuah kediaman warga Belanda. Si babu tampak sedang membesarkan api dengan cara meniupkan angin ke tungku, anaknya (?) membawa kayu bakar, sementara suaminya (?) menyikat sebuah sepatu yang kemungkinan milik tuannya.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Acara kumpul-kumpul sore hari yang menjadi tradisi warga Belanda di Jawa. Tampak pria tuan rumah menyambut kedatangan sepasang tamu, sementara empat wanita sudah duduk berbicang-bincang di teras. Di acara seperti ini pakaian a la Eropa, bukan kain dan kebaya, menjadi sandangan standar.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 23 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (8)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Bogor: Suasana di dapur sebuah rumah yang kemungkinan dihuni warga Belanda. Seorang opas yang berpakaian lengkap, tapi tanpa alas kaki, tampak siap membawa makanan dan sebotol minuman. Seorang tukang kebun bertelanjang dada membawa kayu bakar dan ceret minum. Sementara seorang pembantu tampak menumbuk sesuatu di ulekan. Gambar ini juga memperlihatkan model tungku serta perlatan dapur saat itu.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Seorang nyonya Belanda berkebaya di ruang penyimpanan makanan bersama dua opas. Si nyonya memegang semacam sendok (untuk mentega) dan piring porselan, sementara opas yang di tengah sibuk dengan makanan berwarna putih (tepung? beras?), dan opas di kiri berjalan membawa sebakul nasi dan sepiring makanan menuju ruangan lain. Di rak tampak persedian minuman dalam botol dan kemungkinan gundukan kentang.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Seorang pemikul di area Kebun Raya berjalan melewati barisan pohon beringin
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Istana Gubernur Jenderal dengan kawanan rusa di sekitar kolam. Dikabarkan bahwa dulunya kolam ini memang digunakan untuk berenang, mendayung, dan aktivitas air lainnya.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Masyarakat berlalu lalang di depan sebuah gereja
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 23 Februari 2025

Dari Padang sampai ke Banda: Lukisan pemandangan Nusantara karya Charles William Meredith van de Velde, 1844 (5a - Jakarta)

Charles William Meredith van de Velde (1818-1898) tampaknya seorang dengan berbagai bakat dan kemampuan. Dia pernah menjadi perwira angkatan laut, tentara bayaran, pembuat peta, anggota palang merah, hingga misionaris. Salah satu keahlian dia adalah menangkap keindahan alam dari tempat yang dia kunjungi, dan menuangkannya ke atas kanvas. Dia terkenal sebagai pembuat peta Palestina di pertengahan abad ke-19, serta pelukis kota dan tempat di Palestina yang dia singgahi. Sebelumnya, dia juga mengabadikan banyak tempat di Nusantara dalam beberapa karya lukisannya, yang akan kita lihat di seri berikut ini.


Keramaian di pelabuhan Sunda Kelapa dengan kapal layar berbagai ukuran, perahu kecil, serta perahu penumpang beratap panjang datar yang bentuknya masih digunakan sampai sekarang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Gereja Willem yang sekarang menjadi Gereja Immanuel
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rumah seorang warga Eropa (di Jatinegara) dengan sang pemilik tampak berbincang dengan seorang Tionghoa, sementara warga lokal bekerja mengurus kebun dan kuda
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1844
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar: Charles William Meredith van de Velde
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Edisi lain dari foto pertama pernah dimuat di posting ini.

Kamis, 05 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (2)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Seorang wanita Dayak Punan, dengan kalung, tapi tanpa perhiasan lain seperti anting, hiasan rambut, tattoo, dsb.
(klik untuk memperbesar)
Tiga pria Dayak tertidur dengan mandau, tameng, dan kantung air digantung atau disandarkan ke pohon. Tampaknya masyarakat Dayak membawa semacam tikar untuk merebahkan diri saat istirahat.
(klik untuk memperbesar)
Dua wanita Dayak. Yang sebelah kiri kemungkinan memiliki jenjang sosial lebih tinggi karena berkalung, beranting, dan memakai kain yang lebih panjang. Yang sebelah kanan, menurut Carl Bock adalah maid ("pembantu"), tampaknya bertugas menggendong anak dari perempuan yang kiri.
(klik untuk memperbesar)
1-4: Pola tattoo suku Dayak. 5: Semacam anyaman untuk menyimpan barang.
(klik untuk memperbesar)
Seorang kepala suku dengan mandau dan tombak
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Rabu, 01 Mei 2024

Raden Ayu, istri dari Raden Saleh Syarif Bustaman di tahun 1870

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: sekitar 1870
Tempat: Jakarta
Tokoh: Raden Ayu (istri dari pelopor seni lukis modern di Indonesia, Raden Saleh)
Peristiwa:
Juru foto:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Pada saat itu berfoto dengan didampingi "abdi dalem" yang duduk bersimpuh merupakan mode yang menunjukkan status tinggi. Sang pedamping tampak memegang tempat pembuangan sepah yang menunjukkan bahwa Raden Ayu merupakan pengunyah pinang sirih, sebuah tradisi yang saat itu tampaknya masih sangat populer.

Rabu, 28 Februari 2024

Wartawan peliput perang di Indonesia setelah Jepang kalah: E. Taylor, A. MacPherson Parkes, dan W. Eve di Balikpapan, 1945

Taylor (kiri) dan MacPherson Parkes (kanan) bersama dua pembantu rumah tangga
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Taylor (kiri) dan Eve (membaca majalah Time) dilayani seorang jongos
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Taylor dan Eve bermain kartu …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… ditemani minuman keras
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Taylor dan Eve membawa senjata api
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Balikpapan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 15 Februari 2024

Buku belajar huruf "Indisch ABC" dari tahun 1910 (2)

G … gudang; H … haji; I … inlander (pribumi)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
J ... jager (pemburu); K ... kerbau; L ... lutung
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: 1910
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa: Buku Indisch ABC adalah buku Belanda untuk anak-anak berisi pengenalan huruf dengan mengacu pada hal-hal di Hindia-Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting sebelumnya dari tahun 2019.

Selasa, 02 Januari 2024

Wajah penghuni Hindia-Belanda: Foto bersama kerabat, sahabat, dan sejawat (1)

1900: Acara minum teh dan/atau kopi di halaman rumah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Acara makan minum di halaman rumah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Acara makan di gazebo; tampak a.l. seorang pria berpakaian Jawa, dan dua orang wanita berwajah Indonesia dengan model pakaian serta rambut seperti orang Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1911: Keluarga Berg bersama sejawat
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1900, 1911
Tempat: tidak ada keterangan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 11 Februari 2023

Kumpulan foto hasil jepretan Isidore van Kinsbergen: Kalangan ningrat Jawa

Dunia purbakala Indonesia tidak akan lepas dari nama Isidore van Kinsbergen. Juru foto asal Belgia ini merupakan orang pertama yang mencoba mendokumentasikan peninggalan purbakala warga di sepanjang Jawa, dari barat hingga ke timur di sekitar tahun 1860. Di samping situs-situs terkenal seperti Borobudur dan Panataran, Isidore juga merambah ke tempat lain yang belum mendapat perhatian orang seperti Ciamis, Garut, Kuningan, Majalengka, dan Tasikmalaya. Blog ini pernah memuat sebagian dari foto-foto purbakala ini (lihat posting dari tanggal 5 Desember 2019 hingga 6 Januari 2020). Selain itu, Isidore juga meninggalkan banyak foto tentang wajah-wajah orang Jawa menjelang akhir abad ke-19 dari berbagai kalangan.

Blog ini mencoba mengumpulkan foto-foto ini yang tampak bertebaran di berbagai tempat.


Seorang bangsawan Jawa, yang sayangnya diberi judul salah (bukan oleh Isidore) Malaischer Radjah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Tengah: 3 putri dari Sultan Hamengkubuwono VI;
kanan: istri dari Bupati Lebak (?);
kiri: 2 putri dari Bupati Lebak, yaitu Mursilah dan Saripah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Putra tertua dari Bupati Bandung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang wanita ningrat bersama abdi dalemnya
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1860-an
Tempat: Jawa (a.l. Bandung, Lebak, Yogyakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Isidore van Kinsbergen
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Untuk foto nomor 2 lihat juga posting ini.

Rabu, 25 Mei 2022

Sepuluh foto dari "Atjeh-Album" karya perwira Belanda S. Bonga keluaran tahun 1889 (3)

Dari NGA

Gampong Keudah di Kutaraja dengan kediaman controleur Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kereta api dan barisan pasukan Belanda di jembatan di atas Krueng Aceh (jembatan Demmenie)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kawasan pemukiman orang Eropa di Gampong Keudah, Kutaraja
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Dari Universiteit Leiden

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1889 atau sebelumnya
Tempat: Kutaraja
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia | Universiteit Leiden
Catatan: