Tampilkan postingan dengan label Soekarno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Soekarno. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Mei 2022

Kedatangan Soekarno di bandara Beijing, 1956

(klik untuk memperbesar | © nationaalarchief)

Waktu: 5 Oktober 1956
Tempat: Bandara Beijing
Tokoh: Mao Zedong (Pemimpin Republik Rakyat Tiongkok); Soekarno (Presiden RI); Zhou Enlai (Menteri Perdana RRT)
Peristiwa: Soekarno dan rombongannya disambut Mao Zedong dan Zhou Enlai serta dielu-elukan masyarakat Tiongkok ketika Soekarno tiba di bandara Beijing dalam lawatannya ke RRT.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: China Photo Service / Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 08 Mei 2022

Foto Soekarno yang direbut pasukan Belanda dan dipertontonkan di kendaraan militer mereka, 1947/1948

Cirebon, Juli 1947: Pasukan Belanda memajang potret Soekarno hasil rampasan, di depan sebuah truk militer semasa Aksi Polisionil 1
(klik untuk memperbesar | © nationaalarchief)
Rute Surabaya menuju Malang, 24 Juli 1947: Kendaraan lapis baja Belanda dengan poster Soekarno hasil rebutan, semasa Aksi Polisionil 1
(klik untuk memperbesar | © nationaalarchief)
Kemungkinan di sekitar Yogyakarta, 20 Desember 1948: Dua tentara KNIL asal Maluku dengan potret Soekarno dan ledekan "Ha-Ha-Ha Boeng Karno", semasa Aksi Polisionil 2
(klik untuk memperbesar | © nationaalarchief)

 Waktu: Juli 1947 dan Desember 1948
Tempat: Cirebon, Jawa Timur, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief
Catatan: Foto pertama merupakan update dalam ukuran lebih besar dari gambar yang pernah dimuat di posting ini sebelumnya.

Jumat, 06 Mei 2022

Soekarno dan Haji Agus Salim di pengasingan di Parapat, 1949 (updated)

Soekarno dan Agus Salim berjalan-jalan di tepi Danau Toba …
(klik untuk memperbesar | © nationaalarchief)
… duduk-duduk di tangga menikmati udara luar …
(klik untuk memperbesar | © nationaalarchief)
… berpose di depan Villa Marihat yang kemungkinan menjadi kediaman mereka selama pengasingan
(klik untuk memperbesar | © nationaalarchief)


Waktu: Januari/Februari 1949
Tempat: Parapat (Simalungun, Sumatera Utara)
Tokoh: Soekarno (Presiden RI), Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri RI)
Peristiwa: Dalam Aksi Polisionil 2 Belanda menyerbu Yogyakarta dan menangkapi para petinggi Republik Indonesia, serta mengasingkannya ke Parapat serta Bangka.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief
Catatan: Foto di atas merupakan tambahan dan update (lebih besar dan/atau lebih tajam) dari foto-foto yang ada di posting ini sebelumnya.

Sabtu, 30 April 2022

Soekarno bersama Gina Lollobrigida di Roma, 1964

(klik untuk memperbesar | © nationaalarchief)
(klik untuk memperbesar | © nationaalarchief)

Waktu: 9 September 1964
Tempat: Roma (Italia)
Tokoh: Soekarno (Presiden RI); Gina Lollobrigida (aktris Italia)
Peristiwa: Soekarno menghadiri salah satu pemutaran perdana film Woman of Straw, yang dibintangi Gina Lollobrigida, Sean Connery, dan Ralph Richardson.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief
Catatan:

Tambahan foto dari peristiwa yang sama:
(klik untuk memperbesar)

Kamis, 25 November 2021

Pertemuan-pertemuan politik antara pihak Indonesia Republik, Indonesia Federal, dan Belanda di tahun 1949

Jakarta, 31 Januari 1949: Sidang Majelis Permusyawaratan Federal (Bijeenkomst voor Federaal Overleg) di gedung bekas Volksraad, sekarang Gedung Pancasila
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Bangka, 2 Maret 1949: Pertemuan antara pihak Republik yang saat itu dalam pembuangan (a.l. Soekarno, Hatta, dan Mohammad Roem di sebelah kiri), dan pihak Federal (a.l. Anak Agung Gde Agung dan Sultan Hamid II di sebelah kanan)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Bandara Kemayoran, 12 April 1949: Kedatangan diplomat Van Roijen (paling kiri) yang akan memimpin pembicaraan antara Belanda dengan Indonesia
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Jakarta, 14 April 1949: Pembicaraan antara Belanda dan Indonesia; yang berjas gelap di tengah kemungkinan adalah Van Roijen
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1949
Tempat: Jakarta
Tokoh:
  • Anak Agung Gde Agung (bangsawan Bali, saat itu tokoh federal, kelak menjadi Menteri Luar Negeri RI dan pahlawan nasional)
  • Jan Herman van Roijen (diplomat Belanda)
  • Mohammad Roem (Menteri Dalam Negeri RI)
  • Muhammad Hatta (Wakil Presiden RI)
  • Soekarno (Presiden RI)
  • Sultan Hamid II (Sultan Pontianak, tokoh federal)
Peristiwa: l.d.a.
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Untuk foto pertama lihat juga posting ini yang menampilkan peristiwa yang sama.

Jumat, 18 Juni 2021

Kunjungan rombongan wartawan Amerika untuk meliput Indonesia, 1949 (1)

PENGANTAR

Di salah satu posting sebelum ini, blog ini menampilkan foto bagaimana Ki Hajar Dewantara memperlihatkan dan menerangkan pamflet PKI ke rombongan wartawan Amerika Serikat yang berkunjung ke Yogyakarta. Berikut ini tambahan dan update dari kegiatan para jurnalis ini.

Awalnya tampaknya para wartawan ini menemui Soekarno di pengasingannya di Bangka. Setelah itu mereka pergi ke Yogyakarta untuk bertemu dengan para tokoh Republik. Seterusnya, para wartawan ini berkunjung ke Jakarta untuk berbicara dengan tokoh-tokoh Serikat. Kemudian perjalanan mereka dilanjutkan ke Medan untuk berbicara dengan tokoh anti-republik.

Seperti disebutkan sebelumnya, ketika mereka meneruskan penerbangan ke India, kecelekaan pesawat menewaskan semua peserta rombongan ini. Foto-foto kegiatan mereka selama di Indonesia tapi tetap terwariskan ke kita.


(klik untuk memperbesar | © Theo van Pinxteren / AVS)

Waktu: Bangka
Tempat: 21 Juni 1949
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa: Soekarno menghadapi para wartawan asal Amerika Serikat yang menemui di pengasingannya di Bangka.
Juru foto/gambar: Theo van Pinxteren
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Sebelumnya, posting ini berjudul Wartawan Amerika menemui Soekarno di pengasingannya di Bangka, 1949 yang sekarang diubah setelah ditemukan tambahan foto-foto lain yang terkait dengan aktifitas rombongan para wartawan ini.

Rabu, 16 Juni 2021

Soekarno bersama Ahmad Subarjo, Abikusno Cokrosuyono, dan Abdul Gaffar Pringgodigdo menghadapi wartawan asing, 1945

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: Oktober 1945
Tempat: Jakarta
Tokoh:
  • Soekarno (Presiden RI),
  • Abdul Gaffar Pringgodigdo (Sekretaris Negara; ketiga dari kanan),
  • Ahmad Subarjo (Menteri Luar Negeri RI; kedua dari kiri),
  • Abikusno Cokrosuyono (Menteri Perhubungan RI; keempat dari kanan)
Peristiwa: Soekarno dan beberapa pejabat negara pertama Republik Indonesia menerima kedatangan para wartawan perang asing.
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Lihat juga foto lain dari peristiwa yang sama di posting ini.

Selasa, 02 Februari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1948

De Vlam, antara 1946 dan 1948
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Ada kalangan di Belanda yang menganggap bahwa Uni Sovyet, atau dunia komunisme, mendukung Indonesia dalam perjuangannya melawan Belanda. Menurut karikatur ini, kenyataannya keberanian Indonesia yang dengan tangan kosong melawan Singa Belanda yang bersenjata pedang, justru membuat melongo si Beruang Rusia.

(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur karya Leo Jordaan yang berjudul De oplossing? (Solusi?) ini tampaknya mengajukan pendapat bahwa solusi atas konflik bersenjata antara Belanda dan Indonesia mungkin bisa tercapai apabila kekuatan militer kedua belah pihak meletakkan senjatanya dan beristirahat tanpa harus segan-segan berdekatan.

De Groene Amsterdammer, 24 Juli 1948
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Olimpiade 1948 yang diselenggarakan di London seharusnya bisa menjadi ajang persahabatan pertama dunia setelah usainya Perang Dunia II. Kenyataannya 1948 merupakan tahun yang penuh konflik, a.l. Arab vs. Israel, Stalin vs. Tito, Marshall vs. Molotov, dsb. termasuk Soekarno vs. Van Mook. Dewi pembawa obor Olimpiade tampak digambarkan kesulitan untuk berjalan melewati pihak-pihak yang bertikai ini.

Het Parool, 14 Desember 1948
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini memperlihatkan Muhammad Hatta dan Menlu Belanda Dirk Stikker, yang sebenarnya berdiri tidak jauh dari satu sama lain, dan keduanya sudah bersedia dan bersiap untuk saling menghampiri. Tetapi belukar yang terdiri dari berbagai macam persoalan menghalangi keduanya untuk makin mendekat. Beluar ini a.l. adalah kesalahpahaman, gengsi, penafsiran atas hasil perjanjian Linggarjati dan Renville, dll.

Waktu: 1948
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu konflik Belanda-Indonesia di tahun 1948.
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 24 Oktober 2020

Soekarno bertemu Laksamana Tadashi Maeda dan pejabat sipil dan militer Jepang lain di Makassar, 1945

(klik untuk memperbesar | © Nishijima)

Dari kiri ke kanan:

  • Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi
  • Kenichi Hayashi (perwira intelejen)
  • Laksamana Muda Tadashi Maeda
  • Ichiki (pejabat administrasi sipil)
  • Kapten Masuzo Yanagihara (pejabat urusan politik)
  • Mitsuhashi (gubernur wilayah laut)
  • Shigetada Nishijima
  • Soekarno
  • Sumanaig (? pejabat administrasi militer)
  • Tajuddin Nur
  • Tomegoro Yoshizumi
  • Ahmad Subardjo

Waktu: 30 April 1945
Tempat: Makassar
Tokoh: l.d.a.
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nishijima
Catatan:

Selasa, 13 Oktober 2020

Karikatur Belanda tentang Papua: Tema yang membesar

Vrij Nederland, Oktober 1958: Je kunt er mee sukkelen …
(Mereka bisa bergelut dengannya)
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Di tahun 1958, Belanda masih melihat dirinya senasib dengan Inggris dan Amerika dalam hal Papua. Inggris, digambarkan oleh Harold MacMillan harus menangani masalah Siprus, dilambangkan dengan kucing galak dalam karung. Sementara Amerika, digambarkan oleh John Foster Dulles harus berurusan dengan persoalan Taiwan yang dilambangkan dengan naga penyembur api. Belanda, digambarkan oleh Willem Drees, meski tampak harus menanggung beban berat, tetapi relatif tidak terganggu oleh beban Papua yang dilambangkan dengan babi hutan. Ketiganya digambarkan harus membawa "hewan peliharaan" mereka ke klinik hewan PBB.

Vrij Nederland, Juli 1961: "Luipaard op schoot"
(Macan tutul di pangkuan)
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

"Luipaard op schoot" adalah acara TV populer di Belanda tentang hewan liar. Karikatur ini menggambarkan bagaimana di tahun 1945 Belanda masih melihat Papua sebagai kucing kecil yang lucu. Tetapi di tahun 1961, kucing ini sudah membesar menjadi macan besar yang memberatkan.

Algemeen Dagblad, Oktober 1962: Einde tijdperk Nieuw Guinea
"Vaarwel mijn Nieuw Guinea, verwacht een andere Heer"
(Akhir dari Ginea Baru; "Selamat tinggal Ginea Baruku, nantikan tuan barumu")
(klik untuk memperbesar | © Fritz Behrendt / AVS)

Akhirnya  di tahun 1962, Belanda, digambarkan oleh Joseph Luns dan Jan de Quay dalam kapal layar berbentuk terompah tradisional Belanda, harus meninggalkan Papua. Di ufuk langit tampak matahari bermuka Soekarno terbit.

Waktu: 1958, 1961, 1962
Tempat: Papua (dilambangkan)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Fritz Behrendt
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 18 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1960-1962

(klik untuk memperbesar | © AVS)
 25 Februari 1960: "Sabuk zamrud khatulistiwa"
Karikatur ini menggambarkan Soekarno menyerahkan sabuk zamrud Indonesia kepada Nikita Khrushchev yang memakainya dengan suka cita, sementara di di lehernya sudah memiliki kalung negara-negara satelit.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
6 April 1961. Karikatur ini menggambarkan bagaimana Theo Bot sedang menggodok "Dewan Nugini", sementara di latar belakang harimau Soekarno mengintai.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
17 Januari 1962. Karikatur ini menggambarkan bagaimana Sekretaris Jenderal PBB, U Thant, hanya bisa melongo melihat Belanda (diwakili Jan de Quay) dan Indonesia (diwakili Soekarno) saling tuduh di meja konferensi tentang Papua, masing-masing dengan perlengkapan senjata.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
2 Maret 1962. Karikatur ini memperlihatkan terbaliknya suasana: Kalau dulu Sultan Jogja harus mengakui dominasi Belanda (lihat posting ini), maka kemudian politisi Belanda (Jan de Quay) harus mengakui dominasi Soekarno.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
14 November 1962. Terpecahnya posisi Belanda dalam hal Irian digambarkan oleh karikatur ini. Direktur KLM saat itu, Emile Van Konijnenburg, tampak tidak memiliki masalah untuk terus berhubungan dengan Soekarno.

Waktu: 1960, 1961, 1962
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Leendert Jurriaan Jordaan (#1), Charles Boost (#2, 3, 5), Fritz Behrendt (#4)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 16 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1959

(klik untuk memperbesar | © AVS)
12 Februari 1959: "Baik-baik ya, tapi jangan lempar ke topi si bapak!"
Karikatur ini menggambarkan bagaimana Amerika (diwakili oleh Dwight Eisenhower) dan Inggris (diwakili Harold Macmillan) bukan hanya membiarkan Soekarno melecehkan Belanda (diwakili Louise Beel) tapi memberinya amunisi, selama Soekarno tidak mengganggu topi Irian.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
4 Juni 1959: "Tetes terakhir"
Karikatur ini menggambarkan Soekarno menghabiskan tetes terakhir dari Demokrasi Terpimpin.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
11 Juli 1959: "Bapak-bapak, sidang kabinet dibuka"
Karikatur ini menyambut berita bahwa Soekarno membubarkan Kabinet Juanda dan menggantinya dengan kabinet baru yang terdiri dari 4 bagian. Bagi si karikaturis, isi kabinet ini hanyalah Soekarno semua.

Waktu: 1959
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Leendert Jurriaan Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 14 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1958

(klik untuk memperbesar | © AVS)
9 Januari 1958: "Presiden melakukan lawatan"
Karikatur ini menggambarkan bagaimana Soekarno melakukan perjalanan ke luar negeri sementara dalam negeri sendiri sedang kebakaran.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
6 Februari 1958: "Liburan di Jepang; pengganggu acara"
Karikatur ini menggambarkan Soekarno berlibur ke Jepang, dan disanjung oleh dua warga Jepang yang ternyata berwajah Mao Zedong dan Nikita Khrushchev. Sementara itu, tangan tokoh Permesta Ventje Sumual memperingatkan Soekarno tentang tokoh-tokoh komunis di pemerintahan.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
13 Maret 1958: "Instruktor: 'Lebih ke kiri lagi!'"
Karikatur ini menggambarkan Soekarno belajar menyetir mobil di sekolah mengemudi "Bintang Merah" (komunisme). Soekarno sudah berada di pinggir jurang perang saudara, si instruktor menyuruh Soekarno untuk menyetir makin ke kiri.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
15 Maret 1958: "Menunggang harimau"
Karikatur ini menggambarkan Soekarno membawa harimau perang saudara dari Jawa menuju Sumatera, sementara wajahnya tampak tidak yakin apakah harimau ini bisa dikendalikan.

Waktu: 1957
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Leendert Jurriaan Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 12 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1957 (2)

(klik untuk memperbesar | © AVS)
5 Desember 1957: "Drama tanpa kata"
Karikatur ini menggambarkan bahwa tindakan Soekarno untuk memangkas perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia hanya akan membuatnya jatuh ke pangkuan Mao Zedong dan Nikita Khrushchev dengan genggaman komunismenya.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
7 Desember 1957: "Lampu ajaib Aladin: Memanggil (jin) lebih mudah daripada mengendalikannya" ditambah kutipan dari karya Goethe Der Zauberlehrling: "Arwah yang aku panggil tidak akan lepas dariku"
Karikatur ini menggambarkan bahwa kemarahan rakyat Indonesia, yang dipanas-panasi Soekarno dalam hal Irian Barat, akan membesar dan tidak bisa dikendalikan.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
12 Desember 1957: "Menteri yang bertobat 'Tidak ada lagi makanan dan pakaian mewah!'"
Potongan koran menyebutkan bahwa "Soekarno, yang pertama kali muncul ke publik setelah percobaan pembunuhan tanggal 30 November, mengatakan akan ada kekurangan bahan pangan dan pakaian di masa depan, tetapi rakyat Indonesia harus tetap mempertahankan jiwa revolusinya."
Di sekeliling Soekarno ditampilkan rakyat Indonesia yang memang sudah tidak punya makanan dan pakaian yang melimpah.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
14 Desember 1957: "Orang yang akan tertimpa kelapa"
Karikatur ini menggambarkan bagaimana tentara berusaha mencegah Soekarno dari menggoyang-goyangkan pohon agitasi untuk mencegah dia tertimpa kelapa Mao Zedong dan Nikita Khrushchev.

Waktu: 1957
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Leendert Jurriaan Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 10 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1957 (1)

(klik untuk memperbesar | © AVS)
5 Januari 1957: "Badai melanda Indonesia"
Karikatur ini menggambarkan bagaimana ketidakpuasan daerah telah membuat Aceh, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Tengah meninggalkan Soekarno.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
10 Januari 1957
Tampaknya pernah ada perselisihan antara Belanda (diwakili Joseph Luns) dan Inggris (diwakili Harold Macmillan) a.l. terkait penerbangan KLM dari Amsterdam ke Singapura (yang waktu itu masih jajahan Inggris). Amerika (diwakili Dwight Eisenhower) mencoba menengahi sesama anggota NATO ini. Tetapi diam-diam tangan Eisenhower memasok sesuatu ke Indonesia (diwakili Soekarno di balik pintu).

(klik untuk memperbesar | © AVS)
17 Januari 1957: "Penyanyi tenor baru"
Karikatur ini menggambarkan bagaimana Soekarno lantang di panggung dengan memegang pedang kediktatoran, tetapi semuanya diatur oleh Mao Zedong, Nikita Khrushchev, dan Gamal Abdel Nasser.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
9 Maret 1957: "Dalang dan wayangnya"
Karikatur ini menggambarkan Soekarno sebagai dalang dengan lakon "Irian" tetapi malah mendapat kemarahan dari wayang Indonesia Timur (tampaknya melambangkan Permesta) dan Sumatra (melambangkan PRRI).
(klik untuk memperbesar | © AVS)
21 November 1957: "Irian ... atau pintu kerangkeng dibuka!"
Karikatur ini menggambarkan Soekarno siap membuka pintu amukan massa, yang begitu terkepas bebas kemungkinan bisa memangsa dirinya sendiri, dan pada ujungnya hanya menguntungkan burung nasar Mao Zedong dan Nikita Khrushchev.

Waktu: 1957
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Charles Boost (nomor 2), Leendert Jurriaan Jordaan (selain nomor 2)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 08 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1954-1956

(klik untuk memperbesar | © AVS)
30 Januari 1954. Kasus persidangan Leon Jungschläger pernah menjadi kontoversi sengit antara Belanda dan Indonesia. Belanda merasa bahwa Indonesia tidak sepenuhnya jujur dalam hal ini. Karikatur ini menggambarkan bagaimana ketika Soekarno bicara tentang kasus ini, di depan a.l. Dwight Eisenhower dan John Foster Dulles, detektor kebohongan ditawarkan, tetapi Amerika (diwakili Richard Nixon) menolaknya.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
15 November 1955. Soekarno berkata di Bandung bahwa "Hanya ada tiga pemimpin besar dalam sejarah yang mampu menarik jutaan orang untuk berkumpul: Hitler, Gandhi, dan Soekarno!" Ucapan penuh percaya diri ini disambar karikaturis Leendert Jordaan dengan menggambarkan Soekarno bersama pecinya, diberi kacamata dan jubah Gandhi, serta rambut, seragam, dan ayunan tangan Hitler. Jordaan memberi judul karikatur ini "three in one".
(klik untuk memperbesar | © AVS)
24 Mei 1956. Soekarno mendapat gelar doktor kehormatan dari Columbia University, dan langsung merobek pengakuan bersalah terhadap Belanda.

Waktu: 1955, 1955, 1956
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Charles Boost (nomor 1 dan 3), Leendert Jurriaan Jordaan (nomor 2)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 06 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1948-1952

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Januari 1948. Karikatur ini menggambarkan tokoh sosialis Belanda, Koss Vorrink, merobek mahkota Kerajaan Belanda di tengah kehancuran setelah Perang Dunia II. Di latar belakang tampak Soekarno digambarkan bersiap memegang mahkota baru yang terbuat dari tulang belulang.
(klik untuk memperbesar | © AVS)
10 Januari 1948. Karikatur ini diberi judul "Silakan duduk di sini!", menggambarkan bagaimana Soekarno merasa keki karena diberi tempat perundingan kecil bersama wilayah-wilayah federasi buatan Belanda, sementara meja perundingan besar diisi penuh olah para politisi Belanda, Belgia, Australia, dan Amerika (Louis Beel, van Mook, Paul van Zeeland, Richard Kirby, Frank Graham).

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Februari 1949. Karikatur ini menggambarkan Komisaris Tinggi untuk Urusan Hindia-Belanda, Louis Beel, tampak sendirian berteriak-teriak "Halo! Halo!" semantara bayangan besar Soekarno-Hatta ada di latar belakang. Saat itu Soekarno-Hatta dan para pemimpin sipil lain diasingkan di Bangka oleh Belanda setelah Aksi Polisionil 2.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
18 November 1952. Soekarno berbicara di Tanjung Karang bahwa dulu orang menyalahkan Belanda atas hal-hal yang buruk, sekarang (ketika banyak ketidakpuasan dilontarkan daerah ... yang kemudian berujung ke pemberontakan), orang menyalahkan pemerintah pusat di Jakarta atas semua hal yang salah. Karikaturis Leendert Jordaan menggambarkan Soekarno menjadi "kambing hitam baru" yang disambut beberapa politisi Belanda yang juga pernah dikambinghitamkan dalam urusan Hindia-Belanda: van Mook, Louis Beel, dan Willem Drees. Ketiganya menyambut Soekarno "Silakan masuk, selamat datang."


Waktu: 1948, 1949, 1952
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Karel Thole (#1), Leendert Jurriaan Jordaan (#2,4,5), Wim van Wieringen (#3)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: