Tampilkan postingan dengan label Louis Joseph Maria Beel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Louis Joseph Maria Beel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Oktober 2025

PM Belanda, Louis Joseph Maria Beel, di Indonesia 1947/1948 (2)

Kemungkinan di Kemayoran, 1947: Jan Jonkman (kiri) bersama Louis Beel (tengah) dan Van Mook (kanan berkacamata)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kemungkinan di gedung yang kelak menjadi Istana Merdeka, 1948: Politisi Belanda, Lambertus Neher (kanan), dengan didampingi Louis Beel (berjas putih), menyalami perwakilan warga Sulawesi Selatan yang berpakain seperti warga Arab
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
November 1947, kemungkinan di kapal USS Renville di perairan Tanjung Priuk: Kapten kapal USS Renville, William W. Ball (kanan) menjamu Willem Drees (kanan) dan Louis Beel (tengah) menjelang persiapan perundingan Renville.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947, 1948
Tempat: Jakarta
Tokoh: Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 24 Oktober 2025

PM Belanda, Louis Joseph Maria Beel, di Indonesia 1947/1948 (1)

Jakarta, 1948: Louis Beel (kanan) berbicara dengan perwakilan warga bagian timur Nusantara di sebuah acara di gedung yang kelak menjadi Istana Merdeka. Kedua dari kiri berkumis kemungkinan adalah Don J. Thomas Ximenes da Silva dari Sikka (Flores), sementara di sebelah kirinya, berkacamata dan berjas terang, adalah Cokorda Gde Raka Sukawati dari Bali.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jakarta, November 1948: Louis Beel (kiri) berbicara dengan Wakil PM Belanda, Willem Drees (kanan) menjelang penyelenggaraan perundingan Renville
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kemayoran, 7 Mei 1947: Menteri Penerangan Mohammad Natsir (kiri), menyambut kedatangan Menteri Urusan Jajahan Belanda, Jan Jonkman (membelakangi), dengan disaksikan oleh Van Mook (bertopi) dan Louis Beel (kanan)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947, 1948
Tempat: Jakarta
Tokoh:Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 28 September 2025

Van Mook, Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, dan para tamunya di tahun 1948 (3)

1 Agustus 1948: Van Mook menyambut kedatangan Uskup Agung Georges-Marie de Jonghe d'Ardoye yang diutus Vatikan sebagai Delegatus Apostolik pertama untuk wilayah Hindia-Belanda, di resepsi perpisahan dia sebagai Letna Gubernur Jenderal
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
September 1948, d.ki.k.ka.: Menlu Belanda Dirk Stikker, PM Belanda Louis Beel, Van Mook, Laksamana Madya Frederik Jentje Kist (Menteri Kelautan di Kabinet Pemerintahan Federal Sementara)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
11 Oktober 1948: Acara perpisahan Van Mook yang akan melepas Letnan Gubernur Jenderal empat hari kemudian. Acara dihadiri banyak kalangan, sipil dan militer, kulit putih dan lokal, termasuk Petrus Johannes Willekens (Vikaris Apostolik Batavia) dan seorang memakai kafiyeh a la Timur Tengah (tokoh masyarakat dari Sulawesi Selatan?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1948
Tempat: Jakarta
Tokoh: Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 15 November 2021

PM Belanda, Louis Beel, mengeluarkan pernyataan pemerintah Belanda terkait konflik di Indonesia, 1948

Louis Beel memberikan pernyataan pemerintah Belanda terkait konflik di Indonesia
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Louis Beel mengeluarkan pernyataan pers
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1948
Tempat: Jakarta
Tokoh: Louis Joseph Maria Beel (Perdana Menteri Belanda)
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 04 Februari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1949-1952

De Vlam, 26 Maret 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Salah satu saat paling kelam dalam sejarah Belanda adalah era pendudukan Jerman Nazi di masa Perang Dunia II. Karenanya, membandingkan petinggi sipil dan militer Belanda dengan tokoh Nazi merupakan sindiran yang sangat pedas. Dan ini dilakukan oleh karikaturis Wim van Wieringen.

Pemicunya adalah sanggahan dari para pejabat Belanda atas adanya kekerasan atau malah kejahatan perang yang dilakukan KNIL dan/atau militer Belanda di Indonesia; padahal, laporan tentang itu paling tidak terdengar dari Sulawesi Selatan, Pakishaji, Bondowoso, Karawang, dan Bangka. Wim membandingkan sanggahan ini dengan penyangkalan para tokoh Nazi bahwa mereka tahu adanya pengiriman kaum Yahudi ke kamp pemusnahan.

Wim menggambarkan Komisioner Tinggi untuk Hindia-Belanda, Louis Beel (kelak menjadi PM Belanda), dan Panglima Belanda Jenderal Simon Spoor, berbaris seirama dengan Panglima SS, Heinrich Himmler, dan Menteri Propaganda Jerman, Joseph Goebbels, dan semuanya berteriak dalam bahasa Jerman "Es ist nicht wahr" (Itu tidak benar).

De Vlam, 5 November 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Penghujung 1949 adalah masa ketika Belanda harus mengakui kedaulatan Indonesia. Karikatur di atas menggambarkan burung garuda yang menjadi terbang bebas meninggalkan sebagian kalangan Belanda yang tampaknya selama ini memiliki beberapa rencana yang terpaksa menjadi batal dan berantakan. Rencana yang terbaca a.l. penangkapan atas ibunda Soekarno, pergerakan tentara, serta rencana atas Papua.

Vrij Nederland, 28 Januari 1950
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Buku sejarah di Indonesia umumnya menyebut pemberontakan APRA sebagai ulah Westerling. Tetapi karikatur di atas menggambarkan bahwa Westerling hanyalah sebagai bidak catur yang dimainkan orang lain. Karikatur ini bertanya: "Wie is de speler?" (Siapa pemainnya/dalangnya?).

Vrij Nederland, 31 Maret 1952
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Pada tanggal 22 Mei 1952, atasa militer Indonesia di Belanda, Kolonel Mas Tirtodarmo Haryono, dikepung dan ditodong dengan pistol oleh 2 orang tak dikenal. Sempat terjadi pergulatan dan tembakan, namun Haryono selamat meskipun kepalanya berdarah terpukul gagang pistol. Karikatur di atas memperlihatkan bagaimana PM Belanda, Willem Drees, bersama Nona (Nyonya?) Belanda harus kaget melihat bahwa di kasur mereka (artinya di negeri mereka) banyak sekali kutu busuk. Menurut catatan atas karikatur ini, pelaku kekerasan atas Haryono bukanlah perorangan, melainkan bagian dari kelompok anti-Indonesia yang terorganisir.

Waktu: 1949, 1950, 1952
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Belanda dan Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 01 Januari 2021

Karikatur karya Leo Jordaan tentang Mbok Indonesia, 1949

Vrij Nederland, 7 Mei 1949
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Di Eropa ada tradisi tiang Mei di mana masyarakat menari bersama di sekeliling sebuah tiang/batang pohon yang dihias. Di bulan Mei 1949 hanya negara kolonial Inggris, diwakili PM Clement Atlee, yang menari senang bersama mantan jajahannya, India; sementara Belanda (diwakili PM Willem Drees) dan Perancis (diwakili PM Robert Schuman) masing-masing harus pusing menghadapi penentangan dari wilayah jajahan Indonesia dan Vietnam.

Vrij Nederland, 14 Mei 1949
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Seminggu kemudian, Willem Drees sudah bisa mencapai beberapa kesepakatan dengan Mbok Indonesia. Namun ini bukan tanpa tantangan: PM Belanda sebelumnya, Louis Beel, tanpa menghindar dan tidak mau tahu tentang pendekatan Belanda-Indonesia ini. Perlu dicatat bahwa ketika kemudian Drees turun sebagai perdana menteri di tahun 1958, dia digantikan oleh Beel.

Waktu: 7 dan 14 Mei 1949
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke konflik Belanda-Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 16 November 2020

Karikatur tentang silang pendapat Belanda menghadapi kemerdekaan Indonesia

Dalam menarasikan perjuangan kemerdekaan, buku pelajaran sejarah di Indonesia, begitu juga blog ini, umumnya menggunakan istilah "Belanda" seolah-olah sebagai satu blok yang menyatu. Sejatinya, ada banyak pandangan di Belanda dalam menyikapi kemerdekaan Indonesia; mulai dari yang mendukung penuh (mis. kelompok komunis), hingga ke yang menentang mati-matian (mis. kelompok konservativ), dan tentunya posisi di antara keduanya dengan kadar kebebasan untuk Indonesia yang berbeda-beda mulai dari yang seminimal mungkin hingga ke yang relatif luas. Beberapa karikatur di bawah ini menyiratkan perbedaan-perbedaan ini.

Het Parool, 21 Mei 1947
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini memperlihatkan kendaraan pemerintah Belanda yang sudah sesak dengan Louis Beel, Willem Drees, dan Jan Jonkman dengan beban perjanjian Linggarjati, dicoba dihentikan oleh Carl Romme dan Jo Meynen yang ingin ikut menumpang.

De Groene Amsterdammer, 23 Agustus 1947
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini memperlihatkan ketersesatan para politisi Belanda di labirin Indonesia. Mereka bukan hanya tidak menjalani langkah dan posisi yang sama, tapi sebagian tampak bingung harus ke mana. Tokoh-tokoh yang ditampilkan a.l.: Max van Poll, Van Mook, Willem Drees, Koos Vorrink, Jan Jonkman, Willem Schermerhorn, Pieter Sjoerds Gerbrandy, Louis Beel, Carl Romme, dan Eelco van Kleffens.

Elsevier, 13 Agustus 1949
(klik untuk memperbesar | © Eppo Doeve / AVS)

Silang langkah para politisi Belanda dalam menghadapi kemerdekaan Indonesia diperlihatkan dalam sebuah karikatur yang menggambarkan perosotan yang meliuk-liuk, memiliki banyak putaran, meninggalkan banyak tahap seperti perjanjian Linggarjati dan Renville, keputusan Dewan Keamanan PBB, serta perjanjian Roem-Royen, sebelum menuju putaran final di Konferensi Meja Bundar dengan hasil akhir yang masih menjadi tanda tanya. Beberapa tokoh tampak terlempar atau tertinggal, seperti Willem Schermerhorn, Jan Jonkman, Van Mook, dan Louis Beel. Tokoh-tokoh lain tampak masih bertahan, seperti Carl Romme, Willem Drees, Eelco van Kleffens, Herman van Roijen, dan Van Maarseveen, tetapi mahkota Kerajaan Belanda tampak akhirnya terlempar juga.

Waktu: 1947, 1949
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke
Tokoh:

  • Carl Romme (anggota parlemen, pendiri Partai Rakyat Katolik)
  • Eelco van Kleffens (diplomat Belanda di PBB)
  • Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda)
  • Jan Anne Jonkman (Menteri Urusan Jajahan)
  • Jan Herman van Roijen (diplomat)
  • Johannes Henricus van Maarseveen (Menteri Urusan Jajahan)
  • Johannes Meynen (politisi)
  • Koos Vorrink (pemuka kelompok sosialis) 
  • Louis Joseph Maria Beel (PM Belanda)
  • Maximus Josephus Maria van Poll (politisi)
  • Pieter Sjoerds Gerbrandy (politisi penentang kemerdekaan Indonesia)
  • Willem Drees (Wakil PM Belanda)
  • Willem Schermerhorn (mantan PM Belanda)
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Eppo Doeve
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 16 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1959

(klik untuk memperbesar | © AVS)
12 Februari 1959: "Baik-baik ya, tapi jangan lempar ke topi si bapak!"
Karikatur ini menggambarkan bagaimana Amerika (diwakili oleh Dwight Eisenhower) dan Inggris (diwakili Harold Macmillan) bukan hanya membiarkan Soekarno melecehkan Belanda (diwakili Louise Beel) tapi memberinya amunisi, selama Soekarno tidak mengganggu topi Irian.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
4 Juni 1959: "Tetes terakhir"
Karikatur ini menggambarkan Soekarno menghabiskan tetes terakhir dari Demokrasi Terpimpin.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
11 Juli 1959: "Bapak-bapak, sidang kabinet dibuka"
Karikatur ini menyambut berita bahwa Soekarno membubarkan Kabinet Juanda dan menggantinya dengan kabinet baru yang terdiri dari 4 bagian. Bagi si karikaturis, isi kabinet ini hanyalah Soekarno semua.

Waktu: 1959
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Leendert Jurriaan Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 06 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1948-1952

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Januari 1948. Karikatur ini menggambarkan tokoh sosialis Belanda, Koss Vorrink, merobek mahkota Kerajaan Belanda di tengah kehancuran setelah Perang Dunia II. Di latar belakang tampak Soekarno digambarkan bersiap memegang mahkota baru yang terbuat dari tulang belulang.
(klik untuk memperbesar | © AVS)
10 Januari 1948. Karikatur ini diberi judul "Silakan duduk di sini!", menggambarkan bagaimana Soekarno merasa keki karena diberi tempat perundingan kecil bersama wilayah-wilayah federasi buatan Belanda, sementara meja perundingan besar diisi penuh olah para politisi Belanda, Belgia, Australia, dan Amerika (Louis Beel, van Mook, Paul van Zeeland, Richard Kirby, Frank Graham).

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Februari 1949. Karikatur ini menggambarkan Komisaris Tinggi untuk Urusan Hindia-Belanda, Louis Beel, tampak sendirian berteriak-teriak "Halo! Halo!" semantara bayangan besar Soekarno-Hatta ada di latar belakang. Saat itu Soekarno-Hatta dan para pemimpin sipil lain diasingkan di Bangka oleh Belanda setelah Aksi Polisionil 2.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
18 November 1952. Soekarno berbicara di Tanjung Karang bahwa dulu orang menyalahkan Belanda atas hal-hal yang buruk, sekarang (ketika banyak ketidakpuasan dilontarkan daerah ... yang kemudian berujung ke pemberontakan), orang menyalahkan pemerintah pusat di Jakarta atas semua hal yang salah. Karikaturis Leendert Jordaan menggambarkan Soekarno menjadi "kambing hitam baru" yang disambut beberapa politisi Belanda yang juga pernah dikambinghitamkan dalam urusan Hindia-Belanda: van Mook, Louis Beel, dan Willem Drees. Ketiganya menyambut Soekarno "Silakan masuk, selamat datang."


Waktu: 1948, 1949, 1952
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Karel Thole (#1), Leendert Jurriaan Jordaan (#2,4,5), Wim van Wieringen (#3)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 24 Juli 2019

Pertemuan Wilopo dengan PM Belanda, Louis Beel, 1948

Louis Beel berbicang dengan Wilopo
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Louis Beel dan Wilopo melepas sepatu ...
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
... kemungkinan karena akan memasuki area yang dianggap sakral (mesjid?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Louis Beel bersebelahan dengan Wilopo disambut Tari Tanggai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Waktu: 1948 (atau 1947?)
Tempat: kemungkinan besar Palembang (karena disambut Tari Tanggai)
Tokoh: Wilopo (Mentri Muda Perburuhan; kelak menjadi perdana menteri yang dikenang karena nama Kabinet Wilopo), Louis Joseph Maria Beel (Perdana Menteri Belanda)
Peristiwa: Salah satu pertemuan antara pemerintah Belanda dan pihak Republik Indonesia yang masing-masing diwakili oleh PM Louise Beel dan Wilopo.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 02 Juli 2019

Pertemuan Sutan Sjahrir dengan PM Belanda, Louis Beel, 1947

Louis Beel, Jan Jonkman, dan Sutan Sjahrir
(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2 / NIOD)

Waktu: sekitar Mei 1947
Tempat: kemnungkinan Jakarta
Tokoh: Sutan Sjahrir (diplomat perunding Indonesia), Louis Joseph Maria Beel (Perdana Menteri Belanda), Jan Anne Jonkman (Menteri Urusan Jajahan)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting sebelum ini.

Minggu, 04 Juni 2017

Kedatangan para pembesar Belanda ke Indonesia semasa perang kemerdekaan, 1947-1948

Kemayoran 14 September 1946: Wim Schermerhorn (berdasi) dan van Mook (berkaca mata)
(klik untuk memperbesar | © ANP)
Kemayoran 14 September 1946 (d.ki.k.ka.): Max van Poll, F. de Boer, van Mook, Wim Schermerhorn
(klik untuk memperbesar | © ANP)
Kemayoran 14 September 1946: Max van Poll (berdasi belakang), Wim Schermerhorn (berdasi depan)
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kemayoran 14 September 1946 (d.ki.k.ka.): Max van Poll, van Mook, Wim Schermerhorn, F. de Boer
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Jakarta 7 Mei 1947 (d.ki.k.ka.): Jonkman, van Mook, Wim Schermerhorn, Max van Poll, Louis Beel. Pria berpeci di latar belakang adalah Muhammad Natsir.
(klik untuk memperbesar | © ANP)
Kemayoran 1 November 1948: Louis Beel dan van Mook
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: 1947, 1948
Tempat: Kemayoran (Jakarta)
Tokoh:

  • Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda)
  • F. de Boer (politisi liberal Belanda)
  • Jan Anne Jonkman (Menteri Urusan Jajahan)
  • Louis Joseph Maria Beel (Perdana Menteri Belanda)
  • Maximus Josephus Maria van Poll (politikus Belanda, anggota delegasi Belanda di dalam perundingan Linggarjati)
  • Muhammad Natsir (Menteri Penerangan) 
  • Willem Schermerhorn (politikus mantan Perdana Menteri Belanda)

  • Peristiwa:
    Fotografer: Hugo Wilmar
    Sumber / Hak cipta: ANP / Spaarnestad Photo
    Catatan:


    UPDATE 9 Oktober 2021
    Foto nomor 2 dalam saat pemotretan yang sedikit berbeda:
    (klik untuk memperbesar | © AVS)

    Selasa, 14 Maret 2017

    Kedatangan PM Belanda Louis Beel dan Menteri Jan Jonkman di Jakarta, 1947

    (klik untuk memperbesar | © gahetna/spaarnestad)
    Waktu: 11 Mei 1947
    Tempat: Jakarta
    Tokoh: Louis Joseph Maria Beel (Perdana Menteri Belanda; kanan), Jan Anne Jonkman (Menteri Urusan Jajahan; kiri)
    Peristiwa:
    Fotografer:
    Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo / Het Nationaal Archief
    Catatan: Lihat juga posting tanggal 4 Juni 2017.

    Rabu, 14 Mei 2014

    PM Belanda Louis Beel tiba di Kemayoran, 1948

    (klik untuk memperbesar)
    Waktu: Januari 1948
    Tempat: Kemayoran, Jakarta
    Tokoh:
    Peristiwa: Rombongan PM Belanda, Louis Beel, tiba di Kemayoran, dikawal pasukan bermotor menuju pusat kota.
    Fotografer: Hugo Wilmar
    Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief


    UPDATE 14 Februari 2022
    Foto yang sama dalam ukuran yang lebih besar:
    (klik untuk memperbesar | © spaarnestad)