Tampilkan postingan dengan label prasasti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prasasti. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Januari 2020

Monumen Pieter Erberverd, si Pangeran Pecah Kulit, 1910-1936

PENGANTAR

Di awal abad ke-18 hidup seorang pria campuran Jerman-Siam bernama Pieter di Jakarta. Ayahnya kemungkinan berasal dari kota Elberfeld, Jerman, sehingga pria Indo ini dikenal sebagai Pieter Elberfeldt, atau variasinya Pieter Erberverd. Pieter dikabarkan merencanakan perlawanan terhadap VOC, dengan bantuan beberapa masyarakat Banten.

Pihak Belanda, yang kemudian mengendus rencana ini, tidak kenal ampun. Pieter bersama kelompok perlawanannya dijatuhi hukuman mati dengan cara yang mengerikan. Kedua tangan dan kedua kaki Pieter masing-masing diikat ke seekor kuda. Kemudian, keempat kuda ini dipacu berlari ke empat arah yang berbeda. Hancurnya jasad Pieter dengan hukuman brutal seperti itu membuatnya dijuluki "Pangeran Pecah Kulit" oleh warga Jakarta.

Pihak VOC mendirikan monumen peringatan bertanggal 14 April 1722, dalam bahasa Belanda, dan bahasa Jawa dalam huruf Hanacaraka, yang bertujuan mengingatkan orang untuk tidak mengikuti jejak Pieter. Di atasnya, tengkorak kepala Pieter ditancapkan dengan tombak besi.

Monumen ini tampaknya populer, dan bahkan menjadi semacam objek wisata. Ini terlihat dari banyaknya kartu pos dan foto tentang monumen yang berada di dekat stasiun Jayakarta sekarang ini. Hingga tahun 1936, lebih dari 200 tahun setelah Pieter dieksekusi, masih ada foto tentang tempat peringatan ini.

Ketika Jepang datang, mereka membongkar monumen ini. Sekarang, prasastinya berada di Taman Museum Prasasti, Jakarta.

1910
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1920
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1925
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1928
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1930
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1930
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1936
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1910, 1920, 1925, 1928, 1930, 1936
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Senin, 13 Januari 2020

Monumen Pieter Erberverd, si Pangeran Pecah Kulit, 1875-1910

PENGANTAR

Di awal abad ke-18 hidup seorang pria campuran Jerman-Siam bernama Pieter di Jakarta. Ayahnya kemungkinan berasal dari kota Elberfeld, Jerman, sehingga pria Indo ini dikenal sebagai Pieter Elberfeldt, atau variasinya Pieter Erberverd. Pieter dikabarkan merencanakan perlawanan terhadap VOC, dengan bantuan beberapa masyarakat Banten.

Pihak Belanda, yang kemudian mengendus rencana ini, tidak kenal ampun. Pieter bersama kelompok perlawanannya dijatuhi hukuman mati dengan cara yang mengerikan. Kedua tangan dan kedua kaki Pieter masing-masing diikat ke seekor kuda. Kemudian, keempat kuda ini dipacu berlari ke empat arah yang berbeda. Hancurnya jasad Pieter dengan hukuman brutal seperti itu membuatnya dijuluki "Pangeran Pecah Kulit" oleh warga Jakarta.

Pihak VOC mendirikan monumen peringatan bertanggal 14 April 1722, dalam bahasa Belanda, dan bahasa Jawa dalam huruf Hanacaraka, yang bertujuan mengingatkan orang untuk tidak mengikuti jejak Pieter. Di atasnya, tengkorak kepala Pieter ditancapkan dengan tombak besi.

Monumen ini tampaknya populer, dan bahkan menjadi semacam objek wisata. Ini terlihat dari banyaknya kartu pos dan foto tentang monumen yang berada di dekat stasiun Jayakarta sekarang ini. Hingga tahun 1936, lebih dari 200 tahun setelah Pieter dieksekusi, masih ada foto tentang tempat peringatan ini.

Ketika Jepang datang, mereka membongkar monumen ini. Sekarang, prasastinya berada di Taman Museum Prasasti, Jakarta.

1875
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1890
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1900
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1900
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1905
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1910
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1910
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1875, 1890, 1900, 1905, 1910
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Selasa, 31 Desember 2019

Peninggalan purbakala di sekitar Bogor: Prasasti-prasasti di Bogor

PENGANTAR

Pada tahun 1863-1864 Isidore van Kinsbergen menerbitkan sebuah album berjudul Oudheden van Java, op last der Ned. Indische regering, onder toezigt van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang berisi foto-foto peninggalan purbakala di Jawa, dari wilayah Banten hingga ke Jawa Timur.


Candi, arca, dan situs purbakala dari bagian tengah dan timur pulau Jawa umumnya sudah sangat terkena, banyak dibahas, dan menjadi objek wisata hingga sekarang. Berbeda dengan peninggalan purbakala di bagian barat, yang tampaknya tidak mendapat perhatian sebesar di bagian tengah dan timur.

Seri foto berikut akan mencoba untuk memperlihatkan apa yang sudah didokumentasikan oleh van Kinsbergen lebih dari 100 tahun lalu, dengan harapan mudah-mudahan tidak membuat kita lupa akan peninggalan nenek moyang ini.


Peta di bawah memperlihatkan situs-situs tempat ditemukannya benda-benda purbakala di sekitar Bogor.
(klik untuk memperbesar)

Prasasti Ciaruteun dengan dua tapak kaki Purnawarman
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Prasasti Jambu di Pasir Gintung
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Prasati Kebonkopi I di Kampung Muara dengan dua tapak kaki gajah
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Prasasti Batutulis
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)

Waktu: 1864
Tempat: Ciampea (Bogor)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan: