Tampilkan postingan dengan label Cikampek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cikampek. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juni 2018

Berbagai jenis jembatan bambu di zaman Belanda

1930: Model sederhana, jembatan gantung (dan goyang) tanpa pegangan yang kokoh
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Sekitar 1900, aliran Cisadane di Batutulis (Bogor): Jembatan melengkung dengan tumpuan di bentangan (dan sambungan) bambu di antara dua tepian sungai
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1893 Cipait/Citarum, Karawang: Konstruksi yang lebih rumit dengan menggabungkan bentangan dan lengkungan, dilengkapi dengan atap bertingkat
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1905 Cikampek: Penyelesaian jembatan bambu yang rumit bisa membanggakan. Pembukaan dan peresmiannya menjadi kesempatan buat warga Belanda mengadakan pesta, di atas jembatannya.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Perayaan yang sama, difoto dari luar. Wedana wilayah Cikampek berdiri dipayungi sebelah kanan; isterinya berkebaya di tengah, di sebelah insinyur Belanda, B.M. Biljdenstein. Di latar belakang tampak kerumunan warga di tepi seberang sungai.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1893, 1900, 1905, 1930
Tempat: Jawa Barat (a.l. Bogor, Cikampek, dan Karawang)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Senin, 09 April 2018

Aksi Polisionil 1: Beberapa foto dari Jawa Barat

25 Juli 1947: Pasukan Belanda menghilangkan haus di kantin berjalan
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
September 1947: Tentara Belanda mencopoti plakat yang disebarkan TNI di pasar Cilimus, Kuningan
(klik untuk memperbesar | © H. Wakker / gahetna)
Oktober 1947: Pasukan bermotor Belanda berparade di Cikampek
(klik untuk memperbesar | © Th. van de Burgt / gahetna)

Waktu: Juli/September/Oktober 1947
Tempat: Bandung, Cikampek, Cilimus (Kuningan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H. Wakker / Th. van de Burgt
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo / Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 08 Februari 2018

Serangan pejuang kemerdekaan atas jalur kereta api: Cikampek, 23 Juni 1948

(klik untuk memperbesar | © R.G. Jonkman / gahetna)
(klik untuk memperbesar | © R.G. Jonkman / gahetna)
(klik untuk memperbesar | © H. Wakker / gahetna)
Waktu: 24 & 25 Juni 1948
Tempat: Cikampek
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 23 Juni 1948 para pejuang kemerdekaan menyabot jalur kereta Jakarta-Bandung di posisi sekitar 3 km setelah Cikampek. Setelah gerbong terlempar keluar rel, para pejuang menembaki rangakaian kereta ini. Dikabarkan ada korban cedera bahkan tewas, a.l. seorang perwira Angkatan Udara Belanda bernama Kapten B. Wetters. Foto diambil sehari sesudahnya pada tanggal 24 Juni 1948 (dua foto pertama) dan 25 Juni 1948 (foto terakhir).
Fotografer: R.G. Jonkman & H. Wakker
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 12 Juli 2016

Tentara Belanda membeli rokok di kaki lima, 1947

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 11 Oktober 1947
Tempat: Cikampek
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Th. van de Burgt
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Sabtu, 19 Maret 2016

Warga lokal yang tidak bersahabat dengan para pejuang kemerdekaan 8: Milisi bersenjata di Cikampek dan Indramayu

Tidak semua rakyat Hindia Belanda menginginkan kemerdekaan. Dengan berbagai alasan beberapa pihak malah lebih senang hidup di bawah kekuasaan Belanda atau malah memusuhi para pejuang kemerdekaan. Generalisasi tentu tidak bisa disimpulkan terhadap kelompok atau suku tertentu. Tapi foto-foto berikut mudah-mudahan bisa menambah bahan masukan untuk diskusi tentang hal ini.

8. Di beberapa wilayah yang dikuasinya Belanda mendirikan milisi-milisi bersenjata yang berpihak kepada Kerajaan Belanda dan memusuhi para pejuang kemerdekaan. Foto di bawah memperlihatkan milis bentukan Belanda ini di Cikampek (2 foto teratas), dan Indramayu (2 foto terbawah).

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 11 Oktober 1947 (2 teratas)
Tempat: Cikampek (2 teratas), Indramayu (2 terbawah)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Th. van de Burgt
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 20 Desember 2015

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (2): Cikampek & Purwakarta

Sebuah rumah milik Belanda di Cikampek
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pembakaran beras di Purwakarta
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pembakaran beras di Purwakarta
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 23 Juli 1947
Tempat: Cikampek, Purwakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Sabtu, 05 Juli 2014

Warga lokal yang tidak bersahabat dengan para pejuang kemerdekaan 4

Tidak semua rakyat Hindia Belanda menginginkan kemerdekaan. Dengan berbagai alasan beberapa pihak malah lebih senang hidup di bawah kekuasaan Belanda atau malah memusuhi para pejuang kemerdekaan. Generalisasi tentu tidak bisa disimpulkan terhadap kelompok atau suku tertentu. Tapi foto-foto berikut mudah-mudahan bisa menambah bahan masukan untuk diskusi tentang hal ini.


4. Keempat adalah milisi bersenjata yang dibina oleh pihak Belanda. Mereka adalah bagian dari strategi Belanda untuk melemahkan kekuatan para pejuang kemerdekaan baik secara moral maupun fisik.

Gambar di bawah ini memperlihatkan beberapa pemuda yang disebut Belanda sebagai laskar "oorlogsvrijwilligers" (sukarelawan perang) di wilayah Pamanukan, Subang.
© gahetna
 Dua gambar berikut menunjukkan laskar "sukarelawan" pembantu Belanda di wilayah Cikampek.
© gahetna
© legermuseum
 Tiga foto berikutnya memperlihatkan "Barisan Cakra" binaan Belanda di Madura.
© gahetna
© gahetna
© gahetna
[bersambung]

Waktu: antara 1946 dan 1949
Tempat: Cikampek, Subang, Madura
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief & Leger Museum


Rabu, 11 Juni 2014

Perusakan harta benda warga Tionghoa semasa perang kemerdekaan 4 - Jawa Barat

Pengantar: Pemberian nama "John Lie" kepada salah satu kapal perang TNI Angkatan Laut, mengingatkan kembali akan sumbangsih warga Tionghoa semasa perang kemerdekaan. Mudah-mudahan langkah ini bisa memulai diskusi terbuka dan tanpa prasangka tentang situasi yang dihadapi warga Tionghoa semasa perang kemerdekaan.

Harus diakui tema ini cenderung tidak dibicarakan orang, barangkali karena masalahnya dianggap sensitif. Tetapi menutup-nutupi bukanlah solusi yang bijak, paling tidak untuk jangka panjang, karena a.l. hanya akan menyuburkan gosip, praduga, generalisasi, kabar burung, dan kecurigaan. Hanya dengan keterbukaan kita bisa melihat sejarah dengan jernih dan mengambil pelajaran berharga darinya.

Sejak era reformasi sudah terlihat banyak kemajuan di dalam hal yang menyangkut warga Tionghoa. Barangkali ini saatnya untuk menggali kembali apa yang dialami bangsa ini ketika republiknya baru berusia sangat muda.

Gambar-gambar berikut memperlihatkan kerusakan yang dialami warga Tionghoa di berbagai tempat akibat tindakan para pejuang kemerdekaan. Kita serahkan kepada para pakar sejarah untuk melihat duduk permasalahannya. Mudah-mudahan gambar-gambar ini bisa berkontribusi di dalamnya.

Linggarjati (© gahetna)
Bandung, April 1946 (© gahetna)
Sumedang, 25 Juli 1947 (© gahetna)
Cikampek, Juli 1947 (© gahetna)
Cirebon, November 1947 (© gahetna)
Waktu: di antara 1946-1949
Tempat: l.d.a.
Tokoh:
Peristiwa: Perusakan pemukiman warga Tionghoa di beberapa tempat di Jawa Barat oleh para pejuang kemerdekaan semasa perang kemerdekaan melawan Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: klik foto untuk memperbesar.


Kamis, 15 Mei 2014

Infrastruktur yang dirusak para pejuang semasa perang kemerdekaan

PLTA Cijambe, Subang
gahetna)
Sebuah pabrik tekstil di Bandung
gahetna)
Sebuah pabrik di Cikampek
gahetna)
Waktu: antara 1946 dan 1949
Tempat: l.d.a.
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief
Catatan: klik foto untuk memperbesar.