Tampilkan postingan dengan label Uni Belanda-Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uni Belanda-Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 November 2024

Para pejabat Uni Belanda-Indonesia, 1950 (2)

Prof. L.J.C. Beaufort bersama Kusumah Atmaja
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Melawan arah jalur jam dari pojok kanan: M.J.C. Reyers, Wirjono Prodjodikoro, M.J. Prinsen, A.A. Maramis, J. Donner, Kusumah Atmaja, L.J.C. Beaufort, Schuurman, Kusomo Utoyo
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan 1950
Tempat: Sebuah kafe di bandara Kemayoran, Jakarta
Tokoh: Delegasi Indonesia terdiri dari a.l. Alexander Andries Maramis, Kusumo Utoyo (utusan Kementrian Luar Negeri), Kusumah Atmaja (Ketua Delegasi), Subekti (Pengadilan Arbitrase UBI), dan Wirjono Prodjodikoro. Pihak Belanda diwakili oleh a.l. A.J. Prinsen, J. Donner (Wakil Ketua Delegasi), L.J.C. Beaufort (Pengadilan Arbitrase UBI), M.J.C. Reyers (Pengadilan Arbitrase UBI), serta Schuurman (Komisi Tinggi Belanda di Indonesia)
Peristiwa: Republik Indonesia pernah menjadi negara bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS), dan RIS pernah menjadi negara serikat dari Uni Belanda-Indonesia (UBI). UBI merupakan hasil dari Konferensi Meja Bundar, semacam persemakmuran yang beranggotakan Kerajaan Belanda dan mantan serta masih tanah jajahannya. Foto di atas memperlihatkan kedatangan delegasi UBI dari Belanda ke Jakarta yang disambut rekanannya dari Indonesia.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting sebelum ini dengan para tokoh yang sama.

Sabtu, 09 Januari 2021

Karikatur karya Leo Jordaan tentang lahirnya Uni Belanda-Indonesia, 1946/1949

Buat sebagian pihak, ide untuk membentuk Uni Belanda-Indonesia merupakan gagasan yang menarik. Di satu sisi Indonesia mendapatkan kemerdekannya, di lain pihak Belanda tetap memiliki pengaruh kuat di Nusantara. Serikat dari dua negara ini dipandang kompromi yang bisa menghindari konflik berkepanjangan yang memakan banyak korban. Sejarah tapi memperlihatkan bahwa konsep ini, meskipun tercantum di perjanjian Konferensi Meja Bundar, akhirnya tidak berjalan.

De Groene Amsterdammer 21 Desember 1946
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Sudah sejak tahun 1946 sudah ada gagasan untuk membentuk serikat dua negara ini, sebagai hal yang baru yang lahir dari puing-puing sisa perang dan pertikaian. Uni ini digambarkan sebagai burung phoenix yang lahir dari abu api. Menarik untuk dicatat adanya kemiripan dengan lambang yang kemudian menjadi Garuda Pancasila.

Vrij Nederland 31 Desember 1949
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Di akhir tahun 1949, Leo Jordaan mengulangi lagi motif karikaturnya. Kali ini nama Uni Belanda-Indonesia sudah resmi, dan burung phoenix ini digambarkan terlahir baru dari abu penjajahan.

Waktu: 1946, 1949
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke konflik Belanda-Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 16 Desember 2019

Para pejabat Uni Belanda-Indonesia, 1950 (1)

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan 1950
Tempat: lapangan terbang Kemayoran, Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Uni Belanda-Indonesia (UBI) merupakan hasil dari Konferensi Meja Bundar, di mana Belanda dan Indonesia sepakat membentuk semacam persemakmuran yang beranggotakan Kerajaan Belanda beserta mantan dan masih tanah jajahannya. Foto di atas memperlihatkan kedatangan delegasi UBI dari Belanda ke Jakarta yang disambut rekanannya dari Indonesia.
Dari kiri ke kanan:
* Kusumo Utoyo (utusan Kementrian Luar Negeri)
* Subekti (Pengadilan Arbitrase UBI)
* M.J.C. Reyers (Pengadilan Arbitrase UBI)
* L.J.C. Beaufort (Pengadilan Arbitrase UBI)
* J. Donner (Wakil Ketua Delegasi Belanda)
* A.J. Prinsen (anggota delegasi Belanda)
* Schuurman (Komisi Tinggi Belanda di Indonesia)
* Kusumah Atmaja (Ketua Delegasi Indonesia)
* Alexander Andries Maramis (anggota delegasi Indonesia)
* Wirjono Prodjodikoro (anggota delegasi Indonesia)
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: