Tampilkan postingan dengan label Perjanjian Linggarjati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjanjian Linggarjati. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1931-1947

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Ini mungkin karikatur terawal yang menampilkan Soekarno. Gambar ini dimuat di harian De Notenkraker terbitan 1 Augustus 1931. Setahun sebelumnya Soekarno mengeluarkan pledoi "Indonesia menggugat" yang ditulisnya di penjara. Menteri Urusan Jajahan, Simon de Graaff, menyangkal adanya tahanan politik, dan dikutip menyebut "Kami tidak memiliki tahanan politik, hanya keadilan yang kokoh tertanam di sanubari."

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Harian Metro terbitan 26 Oktober 1945 menampilkan karikatur Soekarno di halaman depan dengan judul "Soekarno membebaskan Hindia[-Belanda]". Soekarno digambarkan mencoba membebaskan seorang perempuan terikat, perlambang Hindia-Belanda ("Mbok Indonesia"), dengan langsung menebang pohonnya, bukan membuka tali pengikatnya.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Karikatur terbitan 16 November 1946 menampilkan pertandingan bola, antara Soekarno, bersama Muhammad Hatta dan Sutan Sjahrir, di satu tim, melawan tim politisi Belanda a.l. yang terdiri dari Schermerhorn, van Mook, van Roijen (?), van Verduynen, dan Lampson. Yang menjadi objek tendang dan permainan adalah mahkota Kerajaan Belanda.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
Karikatur keluaran 5 Juli 1947 ini menampilkan bagaimana Soekarno dan van Mook, yang sedang berdebat tentang (Perjanjian) Linggarjati, kaget ketika Amerika Serikat, dilambangkan dengan Paman Sam, datang bergabung dengan berkata "Hello boys! Aku datang untuk menengahi."

Waktu: 1931, 1945, 1946, 1947
Tempat:
Tokoh: Soekarno (pejuang kemerdekaan, kemudian Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Wybo Meyer, Marten Toonder, Eppo Doeve, Leendert Jurriaan Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 04 Desember 2019

Para tokoh Belanda penentang perundingan Linggarjati dalam karikatur, 1946

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Beberapa kalangan di Belanda menentang perjanjian Linggarjati. Bagi mereka, perjanjian ini merupakan kekalahan bagi Belanda karena Republik Indonesia diakui secara hukum. Salah seorang penentang adalah Laksamana Conrad Helfrich, yang namanya terkenal karena kesatuan kapal selamnya di minggu-minggu pertama perang melawan Jepang di perairan Hindia-Belanda berhasil menenggelamkan lebih banyak kapal perang Jepang daripada kesatuan laut Inggris dan Amerika semasa perang secara keseluruhan.

Laksamana kelahiran Semarang ini digambarkan berada di kapal selam dan berteriak "Tembakkan torpedo ke kapal itu!" untuk menghalangi sebuah kapal penumpang bernama Cheribon yang merupakan simbol dari perundingan Linggarjati.

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Tokoh lain penentang perundingan Linggarjati adalah mantan PM Belanda, Pieter Sjoerds Gerbrandy, dan politisi dari Partai Katolik, Charles Welter, yang kelak menjadi ketua parlemen Belanda. Di karikatur di atas, Gerbrandy dan Welter digambarkan mengendap-endap bersama seorang tokoh lain bernama Marchant, yang bersama-sama tampaknya akan menyabot sebuah tenda berbendera "Lingga[d]jati".

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Karikatur di atas berjudul "[Perjanjian] Linggarjati ditandatangani" dan ada sebuah jembatan yang menghubungkan Belanda dan Indonesia. Namun, di bawah tampak berang-berang berwajah Gerbrandy tampak berkeliaran dan siap atau malah sedang menggeregoti tiang-tiang jembatan ini. Tulisan di bawah berbunyi "Sekarang, hati-hati dengan hewan pengerat!" Gerbrandy memang sangat menentang adanya Indonesia yang terpisah dari Kerajaan Belanda. Belakangan, dia mendukung Republik Maluku Selatan.

Waktu: 1946
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer / juru gambar: Leo Jordaan (nomor 2 dan 3)
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

UPDATE 9 November 2020: Karikatur nomor 2 dan 3 dalam versi yang lain

Karikatur karya Leo Jordaan ini terbit di Het Parool edisi 23 April 1947
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur karya Leo Jordaan ini terbit di Het Parool edisi 25 Maret 1947
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Senin, 02 Desember 2019

Hasil perjanjian Linggarjati menurut karikatur Belanda, 1946

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
"Kesepakatan di Cirebon. Pas!" Menurut karikatur ini hasil perjanjian Linggarjati (yang berada di Kuningan, dan waktu itu termasuk Kresidenan Cirebon) menggembirakan semua pihak, baik yang pribumi maupun yang berkulit putih, baik yang melambaikan peci maupun yang mengacungkan topi kolonial. Hanya saja, karikatur ini termasuk pihak yang menafsirkan bahwa berdasarkan perjanjian Linggarjati semuanya tetap berada di naungan Kerajaan Belanda yang disimbolkan dengan mahkota.

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
"Waktu berlalu tanpa bisa ditahan!" Menurut karikatur ini Linggarjati merupakan usaha berat dari para pembesar Belanda, baik militer maupun sipil, untuk mencari kompromi di antara memberikan kemerdekaan (nationale vrijheid) kepada Indonesia dan menerapkan sanksi (poenale sanctie); sementara pilihan lain adalah hak yang sangat luas (exhorbitante rechten) atau eksploitasi penjajahan (koloniale uitbuiting).

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
"Prof. Romme melihat realitas Linggarjati". Karikatur ini memperlihatkan Carl Romme (anggota parlemen Belanda, pendiri Partai Rakyat Katolik) berdiri di pegunungan sekitar Linggarjati, sementara di sekelilingnya terlihat bagaimana Belanda menguasai Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya, sementara Soekarno bertahta di Yogyakarta, dengan pergerakan-pergerakan kelompok bersenjata di sekitarnya.

Waktu: 1946
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 23 Mei 2019

Soekarno dalam karikatur Belanda tahun 1940-an (4)

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa: Karikatur ini memperlihatkan pandangan si karikaturis bahwa Amerika menekan Belanda untuk menandatangani Perjanjian Linggarjati, dan di lain pihak menjanjikan Indonesia bantuan Dolar yang membuat Indonesia tidak mengacuhkan (Gulden-nya) Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 08 Agustus 2016

Acara penandatangan perjanjian Linggarjati dalam jepretan Cas Oorthuys (7): Acara makan-makan

Sutan Sjahrir, van Mook, dan Schermerhorn dalam acara prasmanan
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
? dan Lord Killearn di hadapan meja prasmanan
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Van Mook dan ?
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Juru masak istana mencicipi hidangan sebelum disajikan untuk para delegasi
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Para juru masak istana menyiapkan makanan untuk dihidangkan
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Waktu: 25 Maret 1947
Tempat: Paleis Rijswijk (sekarang Istana Negara, Jakarta)
Tokoh: Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda); Lord Killearn (Miles Wedderburn Lampson, diplomat Inggris); Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI); Willem Schermerhorn (politikus mantan Perdana Menteri Belanda)
Peristiwa: Para anggota delegasi Indonesia dan Belanda di acara makan-makan setelah penandatanganan naskah perjanjian Linggarjati.
Fotografer: Cas Oorthuys
Sumber / Hak cipta: Fotoleren
Catatan:

Minggu, 07 Agustus 2016

Acara penandatangan perjanjian Linggarjati dalam jepretan Cas Oorthuys (6): Obrolan berikutnya

Adnan Gani, Amir Sjarifuddin, dan seorang wanita Belanda (?)
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Sutan Sjahrir dan ?
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Sutan Sjahrir dan seorang uskup Belanda
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Waktu: 25 Maret 1947
Tempat: Paleis Rijswijk (sekarang Istana Negara, Jakarta)
Tokoh: Adnan Kapau Gani (pejuang kemerdekaan); Amir Syarifuddin Harahap (Menteri Pertahanan RI); Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI)
Peristiwa: Para politis Indonesia dalam percakapan dengan berbagai pihak di hari penadatanganan perjanjian Linggarjati.
Fotografer: Cas Oorthuys
Sumber / Hak cipta: Fotoleren
Catatan:

Sabtu, 06 Agustus 2016

Acara penandatangan perjanjian Linggarjati dalam jepretan Cas Oorthuys (5): Pemirsa

(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Waktu: 25 Maret 1947
Tempat: Paleis Rijswijk (sekarang Istana Negara, Jakarta)
Tokoh: 
Peristiwa: Para tamu, undangan, juru foto, hingga ke pegawai istana yang menyaksikan acara penandatanganan naskah perjanjian Linggarjati.
Fotografer: Cas Oorthuys
Sumber / Hak cipta: Fotoleren
Catatan:

Jumat, 05 Agustus 2016

Acara penandatangan perjanjian Linggarjati dalam jepretan Cas Oorthuys (4): Penandatanganan

(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Waktu: 25 Maret 1947
Tempat: Paleis Rijswijk (sekarang Istana Negara, Jakarta)
Tokoh: Adnan Kapau Gani (pejuang kemerdekaan); Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda); Maximus Josephus Maria van Poll (politikus Belanda; Mohammad Roem (Menteri Dalam Negeri RI); Soesanto Tirtoprodjo (Menteri Kehakiman RI); Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI); Willem Schermerhorn (politikus mantan Perdana Menteri Belanda)
Peristiwa: Acara sambutan dan penandatangan naskah perjanjian Linggarjati oleh anggota delegasi Indonesia dan Belanda.
Fotografer: Cas Oorthuys
Sumber / Hak cipta: Fotoleren
Catatan: Urutan duduk dari kiri ke kanan:
1. ?
2. Soesanto Tirtoprodjo
3. van Mook
4. Sutan Sjahrir
5. Schermerhorn
6. Mohammad Roem
7. Max van Poll
8. Adnan Gani
9. Ali Budiarjo

Kamis, 04 Agustus 2016

Acara penandatangan perjanjian Linggarjati dalam jepretan Cas Oorthuys (3): Penandatanganan

(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Waktu: 25 Maret 1947
Tempat: Paleis Rijswijk (sekarang Istana Negara, Jakarta)
Tokoh: Adnan Kapau Gani (pejuang kemerdekaan); Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda); Maximus Josephus Maria van Poll (politikus Belanda; Mohammad Roem (Menteri Dalam Negeri RI); Soesanto Tirtoprodjo (Menteri Kehakiman RI); Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI); Willem Schermerhorn (politikus mantan Perdana Menteri Belanda)
Peristiwa: Para anggota delegasi Indonesia dan Belanda di hadapan naskah perjanjian Linggarjati.
Fotografer: Cas Oorthuys
Sumber / Hak cipta: Fotoleren
Catatan: Urutan duduk dari kiri ke kanan:
1. ?
2. Soesanto Tirtoprodjo
3. van Mook
4. Sutan Sjahrir
5. Schermerhorn
6. Mohammad Roem
7. Max van Poll
8. Adnan Gani
9. Ali Budiarjo

Rabu, 03 Agustus 2016

Acara penandatangan perjanjian Linggarjati dalam jepretan Cas Oorthuys (2): Obrolan menjelang penandatanganan

Schermerhorn dan Sutan Sjahrir
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Schermerhorn dan Sutan Sjahrir
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
?, Schermerhorn, dan Sutan Sjahrir
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
?, Schermerhorn, dan Sutan Sjahrir
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Obrolan sebelum (?) acara penandatanganan perjanjian. Di latar belakang tampak Schermerhorn dan Sutan Sjahrir.
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Obrolan sebelum (?) acara penandatanganan perjanjian. Di latar belakang tampak Schermerhorn dan Sutan Sjahrir.
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
?, Schermerhorn, Sutan Sjahrir, dan van Mook
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
?, Schermerhorn, Sutan Sjahrir, dan van Mook
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
?, van Mook, ?
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Waktu: 25 Maret 1947
Tempat: Paleis Rijswijk (sekarang Istana Negara, Jakarta)
Tokoh: Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda); Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI); Willem Schermerhorn (politikus mantan Perdana Menteri Belanda)
Peristiwa: Obrolan anggota delegasi Belanda dan Indonesia menjelang (?) acara penandatanganan perjanjian Linggarjati.
Fotografer: Cas Oorthuys
Sumber / Hak cipta: Fotoleren
Catatan:

Selasa, 02 Agustus 2016

Acara penandatangan perjanjian Linggarjati dalam jepretan Cas Oorthuys (1): Kedatangan para delegasi

Pasukan KNIL yang berjaga di kawasan Paleis Rijswijk
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Van Mook memeriksa kesatuan KNIL yang berjaga di Paleis Rijswijk
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Schermerhorn bersama Sutan Sjahrir memasuki kawasan istana
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Amir Sjarifuddin dan Sutan Sjahrir di tangga istana
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Amir Sjarifuddin dan Sutan Sjahrir di tangga istana
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Schermerhorn dan Sutan Sjahrir di tangga istana
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Schermerhorn dan Sutan Sjahrir memasuki ruangan istana
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Waktu: 25 Maret 1947
Tempat: Paleis Rijswijk (sekarang Istana Negara, Jakarta)
Tokoh: Amir Sjarifuddin Harahap (Menteri Pertahanan RI);  Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda); Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI); Willem Schermerhorn (politikus mantan Perdana Menteri Belanda)
Peristiwa: Suasana sebelum (?) penandatanganan perjanjian Linggarjati ketika delegasi Indonesia dan Belanda bersiap memasuki Paleis Rijswijk.
Fotografer: Cas Oorthuys
Sumber / Hak cipta: Fotoleren
Catatan: