![]() |
| (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
Waktu: April 1948
Tempat: Surakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:
Sebuah usaha untuk mengumpulkan foto/gambar tentang Indonesia zaman dulu yang tersebar di dunia maya. Setelah 13 tahun (hampir) tiap hari mengudara blog ini mohon izin untuk mulai mengurangi frekwensi siarannya. Anda tetap diminta untuk menambahkan/membetulkan informasi di setiap foto/gambar ini. Urun rembug Anda akan membantu pemirsa yang lain.
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Tiga anggota delegasi Belanda (Mulder, Stuyt, Van Oven) berbincang di ruangan yang menjadi tempat pihak Belanda berkumpul. Pertemuan Kaliurang diprakarsai oleh Komisi Tiga Negara dengan membawa pihak Republik Indonesia dan Belanda untuk duduk bersama mencari penyelesaian atas konflik yang sudah berlangsung hampir tiga tahun. (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Kolonel Abdulkadir Widjojoatmodjo (kiri) dalam upacara pelantikan Pemerintah Federal Sementara yang dibentuk Belanda untuk menandingi Republik Indonesia (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Johannes Leimena (menatap kamera) di atas jembatan kereta yang memisahkan wilayah yang dikontrol Belanda dan area yang dikuasai para pejuang. Leimena kemungkinan besar sedang mengawal, memantau, dan menjalankan proses pertukaran warga militer antara kedua pihak yang bertikai. (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Empat tentara Australia di depan sebuah pesawat militer Australia. Di latar belakang tampak sebuah pesawat militer berbendera Belanda. (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| 1 Januari 1948 di acara resepsi tahun baru yang diadakan Van Mook: Wakil Belgia di perundingan Renville, Paul van Zeeland, menyalami Amir Syarifuddin yang merupakan ketua delegasi Indonesia di perundingan yang sama (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Acara yang sama: Salah satu anggota delegasi Belanda di perundingan Renville, yang juga merupakan Menteri Keuangan Negara Indonesia Timur, J. Hamelink (menghadap kamera) berdiskusi sambil menikmati minuman (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Jakarta, November 1948: Frank Graham (Ketua Komisi Jasa-Jasa Baik PBB, tengah) dan Menteri Luar Negeri Belanda, Dirk Stikker (kanan), kemungkinan di acara perpisahan Van Mook sebagai Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| 1 Januari 1948: Menteri Urusan Jajahan, Jan Jonkman, berbicara dengan beberapa perwakilan warga Indonesia (bagian timur?) di acara resepsi tahun baru yang diadakan Van Mook (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Dua tamu Van Mook pada saat resepsi tahun baru 1 Januari 1948 (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| November 1948, di gedung yang kelak menjadi Istana Negara: Amir Syarifuddin, ketua delegasi Indonesia di perundingan Renville, berdiskusi dengan Frank Graham, perwakilan Amerika Serikat (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| November 1948 di acara perpisahan Van Mook sebagai Letnan Gubernur-Jenderal (?): Haji Agus Salim berbicang dengan seorang Belanda yang sama-sama perokok (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
Lambertus Neher adalah seorang politisi Belanda dari Partai Buruh. Ketika Belanda diduduki Jerman, Neher merupakan salah satu tokoh kunci dari barisan warga Belanda yang melawan Jerman. Setelah Jerman kalah perang, Neher ditunjuk menjadi pucuk pimpinan dari bidang yang memang dia kuasai, komunikasi: yaitu pos, telepon, dan telegraf. Ketika Perang Kemerdekaan bergolak di Hindia-Belanda, Neher merupakan salah satu politisi yang ditunjuk untuk mencari jalan keluar.
![]() |
| November 1947, kemungkinan di kapal USS Renville di perairan Tanjung Priuk: Acara makan menjelang perundingan Renville yang a.l. dihadiri d.ki.k.ka Lambertus Neher, Jan Jonkman, Frank Graham, dan Willem Drees (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Jakarta, 1 Januari 1948: Neher (kanan) berbincang dengan dua orang tokoh Belanda lain dalam acara resepsi tahun baru yang diadakan oleh Letnan Gubernur Jenderal Van Mook (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Jakarta, 1 Januari 1948: Neher (kiri) berbincang dengan dua orang tokoh Belanda, salah satunya berseragam angkatan laut, dalam acara resepsi yang sama yang disebut di atas (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| November 1948, kemungkinan di Jakarta: Lambertus Neher berdiskusi dengan Hussein Jayadiningrat (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Kemungkinan di Kemayoran, 1947: Jan Jonkman (kiri) bersama Louis Beel (tengah) dan Van Mook (kanan berkacamata) (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Kemungkinan di gedung yang kelak menjadi Istana Merdeka, 1948: Politisi Belanda, Lambertus Neher (kanan), dengan didampingi Louis Beel (berjas putih), menyalami perwakilan warga Sulawesi Selatan yang berpakain seperti warga Arab (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| November 1947, kemungkinan di kapal USS Renville di perairan Tanjung Priuk: Kapten kapal USS Renville, William W. Ball (kanan) menjamu Willem Drees (kanan) dan Louis Beel (tengah) menjelang persiapan perundingan Renville. (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Jakarta, 1948: Louis Beel (kanan) berbicara dengan perwakilan warga bagian timur Nusantara di sebuah acara di gedung yang kelak menjadi Istana Merdeka. Kedua dari kiri berkumis kemungkinan adalah Don J. Thomas Ximenes da Silva dari Sikka (Flores), sementara di sebelah kirinya, berkacamata dan berjas terang, adalah Cokorda Gde Raka Sukawati dari Bali. (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Jakarta, November 1948: Louis Beel (kiri) berbicara dengan Wakil PM Belanda, Willem Drees (kanan) menjelang penyelenggaraan perundingan Renville (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Kemayoran, 7 Mei 1947: Menteri Penerangan Mohammad Natsir (kiri), menyambut kedatangan Menteri Urusan Jajahan Belanda, Jan Jonkman (membelakangi), dengan disaksikan oleh Van Mook (bertopi) dan Louis Beel (kanan) (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Suasana di sebuah sidang parlemen Negara Pasundan yang tampak dihadiri seorang Belanda berseragam militer (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Sebagian dari peserta sidang yang tampil dalam berbagai jenis pakaian termasuk seragam ketentaraan (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| 17 Januari 1948: Abdulkadir Widjojoatmodjo menandatangani naskah perjanjian atas nama delegasi Belanda (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Raymond Herremans, perwakilan dari Belgia berbicara. Di sisi kanan dia tampak tokoh India dan perwakilan dari Australia. Di sisi kiri dia kemungkinan kapten USS Renville, yaitu William W. renville William W. Ball, dan perwakilan Amerika Serikat Frank Graham. (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Yogyakarta, 12 April 1948: Warga menyambut riuh kedatangan delegasi Indonesia yang kembali ke Yogkarta. Tampak di tengah-tengah, Ali Sostroamijoyo (berjanggut hitam), sementara anak-anak dan pemuda menjulurkan tangan gembira di halaman stasiun kereta. (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Yogyakarta, 12 April 1948: Sudut lain yang memperlihatkan kemeriahan sambutan warga Yogyakarta dalam menyambut kedatangan delegasi Indonesia setelah perundingan di kapal USS Renville (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Delegasi Indonesia, d.ki.k.ka.: Ali Sostroamjoyo, dr. Tjoa Tik Len (?), Haji Agus Salim, ?, Johannes Leimena, Nasrun (?), ?, Adnan Kapau Gani (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Perbincangan di delegasi Belanda yang a.l. diikuti M. Hamelink (di tengah, berdasi, bertolak pinggang), orang Belanda yang menjadi Menteri Keuangan Negara Indonesia Timur (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Haji Agus Salim mencoba mengatur mikrofon ketika Amir Syarifuddin berpidato atas nama delegasi Indonesia (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Amir Syarifuddin membacakan pernyataan delegasi Indonesia dengan a.l. ditemani oleh Haji Agus Salim dan Johennes Leimena (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Richard Kirby dari Australia (kiri) tampak mempelajari naskah perjanjian, sementar Frank Graham dari Amerika Serikat (tengah) berdiskusi dengan Abdulkadir Widjojoatmodjo. Di meja tampak gunting yang berperan penting dalam penyusunan naskah final perjanjian Renville. (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| D.ki.k.ka.: Tokoh India, Sir Richard Clarence Kirby (diplomat Australia), kemungkinan kapten kapal USS Renville William W. Ball (berbicara, di depan gunting bersejarah), Frank Potter Graham (Amerika Serikat), dan Abdulkadir Widjojoatmodjo (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Frank Graham memeriksa naskah perjanjian sementara Abdulkadir menandatangani sebuah salinannya (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Senyum dan tawa dari para peserta tampaknya menjadi bagian dari tahap akhir perundingan; sementara sang gunting diam tenang di atas meja. Paling kanan, di barisan delegasi Belanda, kemungkinan adalah Christiaan Robbert Steven Soumokil, pendiri Republika Maluku Selatan (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Duduk di depan, d.ki.k.ka.Sir Richard Clarence Kirby (diplomat Australia anggota KTN), Frank Potter Graham (Ketua KTN asal Amerika Serikat), dan Abdulkadir Widjojoatmodjo (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Paul van Zeeland (anggota KTN asal Belgia) berbicara, diamati oleh delegasi Indonesia yang a.l. terdiri dari d.ki.k.ka. Johannes Latuharhary (paling kiri), Ali Sastroamidjojo (berjanggut hitam), Haji Agus Salim (berpeci), Johannes Leimena, Nasrun (? berdasi), Adnan Kapau Gani (bertopi TNI) (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Amir Syarifuddin sebagai ketua delegasi Indonesia menandatangani dokumen perjanjian. Di foto ini tampak anggota delegasi Indonesia Kolonel Tahi Bonar Simatupang (berkumis dan berjanggut di belakang Amir), dan kemungkinan dr. Tjoa Tik Len (berkacamata di belakang Haji Agus Salim). (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| D.ki.k.ka.: Paul van Zeeland (Belgia), tokoh India, Sir Richard Clarence Kirby (diplomat Australia), Frank Potter Graham (Amerika Serikat) (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Sebuah gambar yang mengindikasikan bahwa perundingan Renville diarahkan menuju terbetuknya Republik Indonesia Serikat (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| D.ki.k.ka.: Paul van Zeeland (Belgia), tokoh India, Sir Richard Clarence
Kirby (diplomat Australia, menyerahkan dokumen), Frank Potter Graham (Amerika Serikat), dan
Abdulkadir Widjojoatmodjo (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Obrolan di belakang meja perundingan (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Richard Kirby tertawa, sementara Frank Graham memeriksa sebuah naskah dengan bantuan gunting, di samping seorang awak perempuan dari USS Renville (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Seorang pembicara membacakan naskahnya, dengan latar depan Amir Syarifuddin (berpeci) dan latar belakang wartawan dengan kamera foto dan kamera film>(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Ketua delegasi Indonesia, Amir Syarifuddin, berbicara di perundingan. Paling kiri adalah Haji Agus Salim (hanya kelihatan tangannya memegang janggut) dan Johannes Leimena. Di sisi lain Amir Syarifuddin: Paul van Zeeland, Mantan Perdana Menteri Belgia yang menjadi perwakilan negaranya di Komisi Tiga Negara. (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Yang berbicara kemungkinan adalah kapten dari USS Renville, William W. Ball. Tokoh lainnya d.ki.k.ka.: Paul van Zeeland (Belgia), tokoh India, Sir Richard Clarence Kirby (diplomat Australia), Frank Potter Graham (Amerika Serikat), dan Abdulkadir Widjojoatmodjo (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| D.ki.k.ka.: Amir Syarifuddin, Paul van Zeeland (berbicara), tokoh India, Richard Kirby, Frank Graham (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Proses penandatanganan sebuah dokumen, dilakukan oleh Amir Syarifuddin dan Paul van Zeeland (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Amir Syarifuddin berpidato (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |