Tampilkan postingan dengan label Ganyang Malaysia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ganyang Malaysia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 April 2016

Perusakan massa atas Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, 1964

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 18 September 1964
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Massa anti Barat, anti Inggris, dan anti Malaysia merusak gedung Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, memaksa para staff kedutaan harus mendapat perlindungan dari tentara.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 03 Januari 2016

Mural-mural bernuansa kiri di tahun 1965

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: (awal?) 1965
Tempat: Jakarta (?)
Tokoh: Beberapa mural dengan simbol-simbol kiri seperti ibu menghunus senjata, bendera negara-negara komunis (Tiongkok, Kamboja, Vietnam), buruh dan petani, anti Malaysia, atau Paman Sam yang dikalahkan.
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Sabtu, 13 Juni 2015

Pasukan Australia menahan "sukarelawan-sukarelawan" asal Indonesia di Kalimantan Utara (?)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1960-an
Tempat: Malaysia
Tokoh:
Peristiwa: Pasukan Australia menggiring beberapa lelaki yang tampaknya tertangkap setelah dikirim ke bagian utara Kalimantan sebagai "sukarelawan" dalam rangka aksi ganyang Malaysia.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 30 September 2014

Nasib beberapa "sukarelawan" Indonesia di wilayah Malaysia dan Singapura, di era Ganyang Malaysia 1964-1965

Januari 1965: Penahanan seorang "sukarelawan" Indonesia yang berlumuran darah.
(klik untuk memperbesar | © Russell Knight/BIPs/Getty Images)
9 Januari 1965: Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman berbicara dengan dua "sukarelawan" Indonesia yang tertangkap.
(klik untuk memperbesar | © Keystone/Getty Images)
10 November 1964: Aparat keamanan Malaysia bersiap menginterogasi seorang "sukarelawan" Indonesia yang tertangkap.
(klik untuk memperbesar | © Keystone/Getty Images)
4 Januari 1965: Seorang "sukarelawan" Indonesia tertangkap di perairan sekitar Singapura.
(klik untuk memperbesar | ©  Keystone-France/Gamma-Keystone/Getty Images)

Waktu: 1964, 1965
Tempat: Malaysia, Singapura
Tokoh: Tunku Abdul Rahman (PM Malaysia)
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Getty Images
Catatan: Presiden Soekarno ketika itu menentang pembentukan negara Malaysia, dan menyokong pemisahan Kalimantan Utara dari semenanjung. "Sukarelawan-sukarelawan" dari Indonesia disusupkan untuk mendukung kebijakan Soekarno.

Kamis, 10 April 2014

Soebandrio mencari dukungan Filipina untuk menentang Malaysia

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 21 September 1963
Tempat: Plaza Hotel, New York
Tokoh: Soebandrio (Menteri Luar Negeri Indonesia), Salvador Ponce Lopez (Menteri Luar Negeri Filipina)
Peristiwa: Soebandrio bertemu rekannya Salvador Lopez untuk menggalang dukungan menentang pembentukan negara Malaysia
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Bettmann / Corbis

Minggu, 24 Maret 2013

Nasib beberapa "sukarelawan" Indonesia di Kalimantan Utara, 1964

(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
Waktu: September 1964
Tempat: Kalimantan Utara
Tokoh:
Peristiwa: Pasukan Gurkha yang dipimpin oleh Mayor Inggris Chris Thomson (satu-satunya bule jangkung di foto-foto di atas) menyergap, menangkap, menahan, dan menginterogasi "sukarelawan" Indonesia yang "menyusup" ke Kalimantan Utara. Beberapa "sukarelawan" lain tampak tewas setelah kontak yang kemungkinan bersenjata.
Fotografer: Larry Burrows
Sumber / Hak cipta: Time Life
Catatan: Presiden Soekarno ketika itu menentang pembentukan negara Malaysia, dan menyokong pemisahan Kalimantan Utara dari semenanjung. "Sukarelawan-sukarelawan" dari Indonesia disusupkan untuk mendukung kebijakan Soekarno. Catatan asli foto-foto ini menamakan mereka "terrorists".