Tampilkan postingan dengan label bendera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bendera. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juli 2026

Berbagai foto semasa Perang Kemerdekaan dari koleksi tentara Belanda bernama Bob van Dijk (11)

PENGANTAR

Bob van Dijk adalah seorang tentara Belanda dari kesatuan zeni yang diterjunkan ke Nusantara, terutama di wilayah Jawa Timur, semasa Perang Kemerdekaan. Bob tampaknya menggemari fotografi, dan kamera fotonya banyak mengabadikan suasana sejak di berangkat dari Belanda melalui berbagai tempat dan pelabuhan sebelum akhirnya tiba di Hindia-Belanda. Blog ini akan mencoba untuk memperlihatkan karya-karya Bob ini yang a.l. banyak didominasi oleh suasana sehari-hari seorang tentara Belanda ketika bertugas di Indonesia.

Bob juga banyak membuat jepretan ketika dia bertugas di lapangan. Koleksi dia juga berisi beberapa foto dari medan pertempuran yang tampaknya merupakan karya jurnalis perang profesional seperti Hugo Wilmar. Secara keseluruhan, koleksi ini lumayan menarik karena memperlihatkan suasana sehari-hari semasa Perang Kemerdekaan dari sudut pandang seorang tentara Belanda.


Bocah-bocah di sebuah kampung dengan penampilan yang hampir seragam: telanjang dada, celana goni dengan sabuk seadanya, memegang arit, sebagian memakai semacam peci, dan perut busung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tiga lelaki memikul keranjang berpapasan dengan truk Angkatan Laut Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
5 Desember 1946: Tank yang disulap menjadi kapal Marbrig yang membawa rombongan Sinterklaas dan Zwarte Piet …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… yang tampaknya berkeliling Surabaya hingga malam
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kunjungan seorang politisi Belanda yang sempat difoto oleh Bob
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat: Surabaya dan/atau sekitarnya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Bob J. van Dijk
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 18 Juli 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang kantor Gubernur Jawa Timur di abad ke-19

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1835
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Perancis
Tokoh:
Deskripsi: Lukisan di atas memperlihatkan kantor Gubernur Jawa Timur, dengan pos penjagaan, tiang bendera, lapangan luas di halamannya, serta pagar pembatas yang tampaknya menjadi tempat orang berkumpul, bercengkerama, dan berjualan.
Juru foto/gambar: Sigismond Himely
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Sabtu, 20 Juni 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno berbahasa Jerman tentang Kastil Batavia dan sekitarnya di abad ke-18

Lukisan tentang Kastil Batavia dengan lapangan dan jalur air di sekelilingnya. Legenda di kanan atas menyebut Kali Besar (a), lapangan berlatih (b), tiga sudut kastil (c, d, e), kediaman Gubernur Jenderal (f) dan pejabat tinggi lainnya (g), gereja (h), barak perwira (i), bendera Belanda (k), pelabuhan (l), rumah pemberi makan ayam (m), lapangan (n)
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1744
Tahun peristiwa: abad ke-18
Tempat terbit: Jerman (?)
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Johann Wolfgang Heydt
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Kamis, 18 Juni 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno berbahasa Jerman tentang Jakarta di abad ke-18

Lukisan berbahasa Jerman ini menampilkan Jakarta dilihat dari perairan Sunda Kelapa dengan latar belakang Gunung Gede dan Gunung Salak. Bagian tengah dengan nama Stadt merupakan wilayah kota, sementara bagian kanan dengan nama Schlos adalah Kastil Batavia. Keterangan lainnya dengan mengikuti nomor: 1) gerbang ke kastil; 2) pinggiran kota; kemudian sudut-sudut kastil dengan nama batu-batu mulia yaitu 3) Schantz, 4) Diamant, dan 5) Rubin; 6) pelabuhan; 7) jembatan; 8) gereja
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: ~1750
Tahun peristiwa: abad ke-18
Tempat terbit: Jerman
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Rabu, 17 Juni 2026

Persiapan Belanda di Australia untuk merebut kembali Indonesia: Defile pasukan KNIL gabungan kulit putih dan coklat (6)

Di penghujung 1944 dan awal 1945, ketika Jerman makin terdesak di Eropa, dan Jepang makin terpukul di kawasan Asia-Pasifik, Belanda makin menggiatkan usaha-usaha untuk merebut kembali Hindia-Belanda. Usaha-usaha ini terpusat di Australia, yang secara geografis dekat dengan Indonesia, dan secara politis dan militer berada bersama Belanda di pihak yang melawan negara-negara Poros. Seri berikut akan mencoba menampilkan dokumentasi foto tentang aktivitas Belanda di wilayah Australia ini.


Barisan KNIL dengan bayonet panjang terhunus
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Oktober 1945
Tempat: Melbourne (Australia)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat bagian lain dari defile ini yang dimulai di posting ini.

Minggu, 31 Mei 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang kesibukan di sekitar Kastil Batavia

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1810
Tahun peristiwa: abad ke-18
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: aslinya kemungkinan oleh Hendrik Kobell (lihat versi berbahasa Belanda di posting ini); versi berbahasa Perancis di atas diterbitkan oleh A. Bertrand
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Jumat, 29 Mei 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang pelabuhan Sunda Kelapa

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1779
Tahun peristiwa: abad ke-18
Tempat terbit: kemungkinan Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: aslinya Hendrik Kobell, gambar di atas salinan karya Mathias de Sallieth 
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Kamis, 21 Mei 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang Kastil Batavia dan lalu lintas air di sekitarnya

Kastil Batavia yang tampak dinding bentengnya dikelilingi oleh jalur kapal dan perahu, serta dilengkapi dengan konstruksi jembatan yang kelak menjadi contoh untuk Jembatan Kota Intan
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Edisi lain dari gambar di atas
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1782
Tahun peristiwa: abad ke-18
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Mathias de Sallieth
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Salah satu versi dari gambar ini pernah dimuat di posting ini.

Sabtu, 16 Mei 2026

Armada kapal selam KNIL Laut sebelum Perang Dunia II pecah

Kapal selam K-14. K merupakan kepanjangan dari Koloniën, untuk menunjukkan bahwa kapal ini dioperasikan di wilayah jajahan. Kode "K" biasanya dicantumkan di bagian lambung (tampak samar terlihat "K XVIII"), sementara di bagian menara hanya tercantum nomernya.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tiga kapal selam di latar belakang, dalam proses turun ke bawah permukaan air
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
15 Januari 2021: Sebuah kapal selam merapat di sebuah pelabuhan di Indonesia Timur(?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
28 Januari 1922: Kapal selam ("K IV"?) berlabuh di perairan Ambon(?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: a.l. 1921, 1922
Tempat: a.l. wilayah timur Nusantara
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 30 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (8)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Kumpulan para bocah dengan bendera Belanda mengelilingi seorang ibu bernama Ankie Herdes
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Foto bersama para bocah lelaki yang belum masuk kategori pemuda ketika Jepang masuk ke Hindia-Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sketsa buatan tangan yang memperlihatkan peta kamp kampili
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak mengepalkan tangan sementara kaum dewasa mengacungkan gelas berisi minuman untuk mengelukan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Suster Lutgarda mengasuh bocah-bocah di lapangan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Edidi lain dari dua foto terakhir pernah dimuat di posting ini sebelumnya.

Selasa, 28 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (7)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Kumpulan anak-anak di lapangan dalam asuhan ibu-ibu atau biarawati. Catatan foto menyebut nama Annelies Goedbloed untuk anak yang tersenyum ke arah kamera.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Suster Van Goor memberikan sambutan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kumpulan para penghuni kamp yang memang mayoritas ibu-ibu, mendengarkan sambutan Suster Van Goor dan Pastor Beltjens
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Foto bersama dari sebagian dari sekitar 1.670 penghuni kamp
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sudut lain dari Kumpulan para penghuni kamp dalam acara perayaan ulang tahun Ratu Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 26 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (6)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Perlombaan estafet balok
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Perlombaan lintas aneka rintang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bocah-bocah kecil menonton kakak-kakaknya berlomba, ditemani tiga perempuan bernama Barendien, Ans de Jong, dan Weintré; dua anak dengan rambut dan kulit lebih gelap boleh jadi merupakan bocah campuran.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak sekolah di kamp Kampili didampingi Ny. Mobach (berkaca mata) dan Suster Willemien
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua lelaki dewasa penghuni kamp yang semuanya rohaniwan: Pendeta Spreeuwenberg dan Pastoor Beltjens, didampingi Suster Van Goor dan Grechten van Veen
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 24 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (5)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Salah seorang pemuka kamp, Ny. Jans Luyendijk bersama anaknya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bocah laki-laki di ruangan yang difungsikan menjadi sekolah
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Foto bersama para gadis dan anak perempuan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Foto bersama para bocah laki-laki dan yang tiga tahun kemudian sudah menjadi remaja
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak mengerumuni mobil komandan kamp yang masih memakai pelat nomor AL Kekaisaran Jepang dengan lambang jangkar dan bunga serunai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Edisi lain dari foto nomor dua pernah dimuat sebelumnya di posting ini.

Kamis, 16 April 2026

Pasukan Sekutu dan Belanda di Papua 1944/1945 (12)

Sebuah kemah pasukan NICA di antara pepohonan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Februari 1944: Patroli pasukan Belanda di antara Merauke dan Tanah Merah
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Februari 1944: Seorang tentara Belanda menyembelih seekor babi hutan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Februari 1944: Sebuah kesatuan Belanda dengan wajah bule, Melayu, dan Melanesia dengan tangkapan dua ekor babi huta
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1944/1945
Tempat: Papua
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Edisi lain dari foto nomor 2 dan 4 pernah dimuat di posting ini sebelumnya.

Selasa, 17 Februari 2026

Empat tentara Australia di landasan pacu Kemayoran, 1948

Empat tentara Australia di depan sebuah pesawat militer Australia. Di latar belakang tampak sebuah pesawat militer berbendera Belanda.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)


Waktu: 1948
Tempat: Kemayoran (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 20 November 2025

Pertempuran laut antara Belanda dan Portugis dalam memperebutkan Banten, 1601 (2)

Di penghujung tahun 1601 Belanda mencatat tonggak penting dalam sejarah penjajahannya. Satuan kapal perang Belanda yang hanya terdiri dari 5 kapal utama, berhasil mengalahkan armada Portugis yang terdiri dari 30 kapal. Inilah momentum yang membuat Belanda mulai menggeser posisi Portugis, yang sampai saat itu masih mendominasi perairan Nusantara, hingga akhirnya menjadi penjajah yang hampir tunggal di kawasan Nusantara.

Lukisan di bawah merupakan salah satu usaha Belanda mengilustrasikan peristiwa ini. Versi berwarna dari gambar ini pernah dimuat di posting ini sebelumnya. 

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1644 (tentang peristiwa di 1601)
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 11 November 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (3)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:Bij de bevrijding van Medan door de Politionele actie kwamen ook ondergedoken Britsch Indiërs voor de dag voor een loyaliteitsdemonstratie.
  • Terjemahan:Ketika Medan dibebaskan melalui Aksi Polisi, warga India-Inggris yang bersembunyi juga maju menunjukkan kesetiaan [terhadap pemerintahan Belanda].
  • Bahasan:Foto dibuat pada tanggal 27 Agustus 1947 di Pematang Siantar, jadi bukan di Medan. Warga di foto ini berburus mendukung Negara Sumatera Timur, jadi bukan yang tadi bersembunyi kemudian keluar menyambut kembalinya Belanda. Dan yang disebut "warga India-Inggris" sejatinya adalah para pendatang dari Jazirah Hindia dan/atau keturunannya yang mengadu untung dengan berusaha di sekitar pantai timur Sumatera.
  • Catatan: Lihat juga posting sebelum ini.
Waktu: 27 Agustus 1947
Tempat: Pematang Siantar
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 07 November 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (1)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto: Loyaliteits-demonstratie te Medan na de bevrijding. De rood-witte vlag is vervangen door rood-wit-blauwe
  • Terjemahan: Demonstrasi loyalitas [masyarakat] di Medan paska-pembebasan [dari kekuasaan Republik]. Bendera merah-putih telah diganti oleh bendera merah-putih-biru.
  • Bahasan: Foto ini dibuat pada tanggal 30 April 1946, dan menggambarkan warga Jakarta yang merayakan ulang tahun ke-37 dari Putri Juliana. Jadi bukan di Medan, dan bukan pula menunjukkan dukungan masyarakat Medan atas datangnya kembali Belanda.
  • Catatan: Lihat juga posting sebelum ini.
Waktu: 30 April 1946
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 17 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (20)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Sungai Kapuas di Sintang, dengan sebuah rakit bergubuk di latar depan, sebuah kapal uap di latar tengah, dan benteng dan gedung pemerintahan Belanda di latar belakang. Lukisan ini memiliki beberapa kemiripan dengan sebuah foto yang terbit sekitar tahun 1880 (lihat posting ini) yang mengindikasikan bahwa Rappard mengambil inspirasi (menjiplak dengan variasi?) dari foto tua ini.
 (klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Pendulangan intan tradisional di Kalimantan, kemungkinan di sekitar Banjarmasin. Tampak seorang pria menyerahkan seayak bebatuan ke seorang pria lain, sementara seorang lelaki lain berjalan menuju sungai dengan membawa seayak kerikil. Di sungai, tiga lelaki mencoba memilah batuan intan dari kumpulan tanah dan kerikil.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rumah lanting, atau rumah terapung di atas rakit, di Sungai Barito. Rumah ini kemungkinan besar milik seorang pemuka warga Banjar. Ini terlihat dari panjangnya rakit, ukuran dan jumlah rumah di atasnya, kemudian dua kelompok pendayung di bagian depan dan belakang, serta tentu saja pemasangan bendera Belanda di tengah-tengahnya.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah pemandangan khas Kalimantan: badan air yang besar dan relatif tenang (sungai atau danau), pepohonan yang tumbuh menembus permukaan air, serta gelondong kayu yang mengapung di permukaan air.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 16 Oktober 2025

Beberapa foto dari perundingan Renville, Januari 1948 dan sesudahnya (7)

17 Januari 1948: Abdulkadir Widjojoatmodjo menandatangani naskah perjanjian atas nama delegasi Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Raymond Herremans, perwakilan dari Belgia berbicara. Di sisi kanan dia tampak tokoh India dan perwakilan dari Australia. Di sisi kiri dia kemungkinan kapten USS Renville, yaitu William W. renville William W. Ball, dan perwakilan Amerika Serikat Frank Graham.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Yogyakarta, 12 April 1948: Warga menyambut riuh kedatangan delegasi Indonesia yang kembali ke Yogkarta. Tampak di tengah-tengah, Ali Sostroamijoyo (berjanggut hitam), sementara anak-anak dan pemuda menjulurkan tangan gembira di halaman stasiun kereta.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Yogyakarta, 12 April 1948: Sudut lain yang memperlihatkan kemeriahan sambutan warga Yogyakarta dalam menyambut kedatangan delegasi Indonesia setelah perundingan di kapal USS Renville
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1948
Tempat: Kapal USS Renville di perairan Tanjung Priuk, Yogyakarta
Tokoh:
  • Kolonel Raden Abdulkadir Widjojoatmodjo (perwira KNIL yang anti kemerdekaan Indonesia)
  • Ali Sostroamjioyo (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan)
  • Frank Porter Graham (Ketua Komisi Jasa-jasa Baik PBB)
Peristiwa: perundingan Renville dan sesudahnya
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: