Tampilkan postingan dengan label VOC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label VOC. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang warga Maluku

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1646
Tahun peristiwa: akhir abad ke-16
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi: Gambar di atas dibuat berdasarkan catatan perjalanan VOC dari Belanda menuju Maluku di tahun 1598. Lukisan ini sejatinya berjudul "pendekar pedang Maluku", meskipun juga menampilkan dua wanita Maluku di latar tengah. Semua warga ini digambarkan telanjang kaki, tetapi berpakaian yang cukup tertutup, selain celana para pendekar yang tingginya selutut. Cukup menarik bahwa dua lelaki Maluku ini mengenakan topi baja yang tampaknya merupakan peninggalan Portugis yang sudah berlayar ke Maluku sebelum VOC datang.
Juru foto/gambar: Isaac Commelin
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Jumat, 18 September 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang keramaian perairan antara Ternate dan Tidore

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1646
Tahun peristiwa: akhir abad ke-16
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi: Gambar di atas dibuat berdasarkan catatan perjalanan VOC dari Belanda menuju Maluku di tahun 1598. Lukisan ini menunjukkan keramaian pelayaran di perairan antara Ternate (C, dengan sungai yang) menjadi sumber air tawar), Tidore (A), dan Maitara (C, waktu itu masih tak berpenghuni dan oleh VOC disebut pulau tak bernama). Dua kapal layar VOC tampak dikelilingi oleh armada kora-kora milik Kesultanan Ternate.
Juru foto/gambar: Isaac Commelin
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Rabu, 16 September 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang Ambon dan penduduknya

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1646
Tahun peristiwa: akhir abad ke-16
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi: Gambar di atas dibuat berdasarkan catatan perjalanan VOC dari Belanda menuju Maluku di tahun 1598. Lukisan ini menunjukkan pulau Ambon yang oleh VOC disebut "Anabona". Tampaknya utara digambarkan di bawah, sehingga selatan menghadap ke atas. Perairan dengan armada VOC  dan dua kora-kora (E) adalah Teluk Ambon. Tiga pulau di pojok kanan atas adalah Nusa Laut, Saparua, dan Haruku. Bagian bawah dari lukisan memperlihatkan seorang warga Ambon menghunuskan parang tradisional (A), seorang pria bertombak (B), seorang wanita membawa barang dagangan (C), dan panglima laut warga Ambon (D) yang dipayungi dan diiringi dua prajurit bersenjata.
Juru foto/gambar: Isaac Commelin
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Senin, 14 September 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang kenduri di Maluku (Ternate?)

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1646
Tahun peristiwa: akhir abad ke-16
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi: Gambar di atas dibuat berdasarkan catatan perjalanan VOC dari Belanda menuju Maluku di tahun 1598. Lukisan ini menunjukkan rombongan VOC (di kanan tengah) diundang ke sebuah acara pertarungan antara dua lelaki bersenjata tameng dan pedang, dengan dikelilingi khalayak yang duduk sambil menyantap makanan. Makanan dibawa dari pojok kiri atas, dan kemudian diedarkan dengan dialasi daun (pisang?) ke para penonton. Tiga orang mengiringi pertandingan dengan musik yang muncul dari sebuah genderang dan dua pasang simbal. Pakaian yang dikenakan para pria, yaitu ikat kepala, baju kurung, dan semacam sarung bawahan mengindikasikan ini adalah peristiwa di Ternate.
Juru foto/gambar: Isaac Commelin
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Sabtu, 12 September 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang pertemuan VOC dengan penguasa Ambon

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1646
Tahun peristiwa: akhir abad ke-16
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi: Gambar di atas dibuat berdasarkan catatan perjalanan VOC dari Belanda menuju Maluku di tahun 1598. Lukisan ini menunjukkan pertemuan VOC dengan penguasa di Ambon, di bawah naungan kain yang diikat ke empat pohon. Warga Ambon tampak mengerumuni dengan posisi yang lazim bagi masyarakat Nusantara: jongkok; sementara orang Eropa (H) harus mengambil sebuah gelondongan kayu untuk duduk, karena tidak biasa jongkok. Pertemuan tampaknya berjalan damai karena tombak dan tameng tampak digambarkan disandarkan agak jauh dari area pertempuran. Legenda lain: A) penguasa Ambon (duduk di tengah, memakai baju gamis dan ikat kepala; B) saudara dari Sultan Ternata (duduk di kursi); C) Wakil laksamana VOC, dengan penerjemah berdiri di belakangnya; D) tetua warga Ambon; E) Laksamana dari armada VOC; F) kediaman petinggi Ambon; G) warga biasa.
Juru foto/gambar: Isaac Commelin
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Kamis, 10 September 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang armada VOC di perairan Ternate

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1646
Tahun peristiwa: akhir abad ke-16
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi: Gambar di atas dibuat berdasarkan catatan perjalanan VOC dari Belanda menuju Maluku di tahun 1598. Kita kembali melihat mesjid di Kesultanan Ternate (F) dan sebuah area yang ditulisi Gamme lamme yang mengindikasikan nama (Gunung) Gamalama. Lukisan ini pada utamanya memperlihatkan dua kapal besar VOC (A), yang disambut oleh perahu kora-kora warga Ternate (B). Armada pertahanan Ternate dimotori oleh sebuah kora-kora (C) yang berada di perairan yang dilindungi oleh lingkaran karang. Menarik untuk dicatat adanya sebuah tiang (D) yang digantungi dengan kepala seorang musuh, yang tampaknya menjadi alat untuk menakut-nakuti pihak yang mau meyerbu ke pantai. Rentetan tempat dan bangunan di pulau: E) pasar; G) istana Sultan Ternate; H) ruang pengadilan kesultanan; I) rumah di mana orang Belanda boleh menetap; K) bangunan yang diizinkan untuk digunakan sebagai gudang (rempah-rempah?) bagi orang Belanda; L) kemungkinan rumah ibadah peninggalan orang Portugis; M) bangunan sisa kediaman orang Portugis; N) kediaman penerjemah kesultanan; O) menara yang dipersenjatai dengan meriam besi.
Juru foto/gambar: Isaac Commelin
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Selasa, 18 November 2025

Lukisan Belanda tentang Geger Pacinan, konflik bersenjata antara VOC dan warga Tionghoa Batavia, 1740 (2)

Selama hampir dua pekan, tepatnya dari tanggal 9 hingga 22 Oktober 1740, terjadi konflik bersenjata antara VOC dengan warga Tionghoa di Batavia. Diperkirakan pergolakan ini memakan korban sekitar 500 serdadu VOC anak-anak, dan orang jompo.

Dahulu, orang Belanda menyebut kejadian ini sebagai "schrikkelijke slagting der Chinezen, na de ontdekking van hun verraad" (pertempuran mengerikan orang Tionghoa setelah pengkhianatan mereka terbongkar), dan orang Jerman memberi istilah "Rebellion der Chinesen" (pemberontakan orang Tionghoa) yang senada dengan istilah Belanda "Opstand der Chinezen te Batavia", yang memberi konotasi pelaku atas warga Tionghoa. Sekarang orang lebih memilih istilah "Chinezenmoord" (pembunuhan atas warga Tionghoa) atau "Batavia Massacre" (pembantaian Batavia) yang memberi konotasi korban kepada warga Tionghoa. Sejarawan Indonesia menggunakan istilah "Geger Pacinan" yang lebih tidak memihak.

Berikut ini adalah lukisan yang pernah dimuat di posting ini sebelumnya; kali ini dalam ukuran yang dua kali lebih besar, dan tampaknya berasal dari edisi lain. Edisi ini hanya berisi keterangan dua baris di bawah gambar, tidak sebanyak yang sebelumnya. Gambarnya tetapi tetap sama, yaitu a.l. memperlihatkan bagaimana meriam VOC menembaki perkampungan warga Tionghoa (yang atap rumahnya memiliki bulan sabit) sementara api sudah membara di wilayah pecinan ini. Adegan yang mengerikan tentunya bagian di mana VOC mengepung dan membantai warga Tionghoa, atau menggiringnya ke sungai untuk kemudian ditenggelamkan.

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: sekitar 1740
Tempat terbit: Belanda 
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Adolf van der Laan 
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 07 April 2024

Senin, 20 September 2021

Dua lukisan tua tentang usaha VOC merebut Jakarta dari kekuasaan Pangeran Jayakarta pada tahun 1618

(klik untuk memperbesar | © Jacob Smies / AVS)

Lukisan di atas dibuat tahun 1828 dan menggambarkan bagaimana salah seorang pemuka VOC, Pieter van den Broecke, dirantai dan digiring ke arah benteng pertahanan VOC. Dikabarkan bahwa Pieter sebelumnya diundang makan oleh Pangeran Jayawikarta (Jayakarta?), tetapi kemudian malah ditangkap dan dijadikan sandera dalam pengajuan tuntutan kepada pihak Belanda. Pihak penangkap Pieter digambarkan mengenakan pakaian Portugis, seolah mengindikasikan bahwa Portugis berada di pihak Jayakarta.

(klik untuk memperbesar | © H.J. Eichmann / Hendrik Altmann / AVS)

Lukisan di atas dibuat sekitar tahun 1855-1862 dan menggambarkan bagaimana pasukan VOC bergerak maju dari pos mereka di sekitar muara Kali Ciliwung dan akhirnya menguasai wilayah pelabuhan.

Waktu: 1618 (atau 1619; lukisan dibuat di tahun 1828 dan 1855-1862)
Tempat: Jakarta
Tokoh: Pieter van den Broecke
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Jacob Smies | H.J. Eichmann / Hendrik Altmann
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 31 Agustus 2021

Armada laut VOC di Ambon dan Tidore, menurut lukisan Willem Luytsz van Kittensteyn dari tahun 1613

Perseteruan antara Belanda dan Portugis dalam memperebutkan Tidore, 1605
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Armada VOC mengepung Tidore, 5 Mei 1605
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Armada VOC di Ambon, 1608; bangunan di tengah kemungkinan adalah benteng Victoria
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: lukisan dibuat/diterbitkan tahun 1613, menggambarkan peristiwa di tahun 1605 dan 1608
Tempat: Ambon, Tidore
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Willem Luytsz van Kittensteyn
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 05 Mei 2021

Lukisan Belanda tentang Geger Pacinan, konflik bersenjata antara VOC dan warga Tionghoa Batavia, 1740 (1)

Selama hampir dua pekan, tepatnya dari tanggal 9 hingga 22 Oktober 1740, terjadi konflik bersenjata antara VOC dengan warga Tionghoa di Batavia. Diperkirakan pergolakan ini memakan korban sekitar 500 serdadu VOC dan menewaskan lebih dari 10.000 warga Tionghoa termasuk wanita, anak-anak, dan orang jompo.

Dahulu, orang Belanda menyebut kejadian ini sebagai "schrikkelijke slagting der Chinezen, na de ontdekking van hun verraad" (pertempuran mengerikan orang Tionghoa setelah pengkhianatan mereka terbongkar), dan orang Jerman memberi istilah "Rebellion der Chinesen" (pemberontakan orang Tionghoa) yang senada dengan istilah Belanda "Opstand der Chinezen te Batavia", yang memberi konotasi pelaku atas warga Tionghoa. Sekarang orang lebih memilih istilah "Chinezenmoord" (pembunuhan atas warga Tionghoa) atau "Batavia Massacre" (pembantaian Batavia) yang memberi konotasi korban kepada warga Tionghoa. Sejarawan Indonesia menggunakan istilah "Geger Pacinan" yang lebih tidak memihak.

Di bawah ini beberapa gambar kuno buatan Belanda, juga Perancis, yang melukiskan peristiwa ini.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Gambar di atas berasal dari buku untuk anak-anak terbitan tahun 1817 dengan judul "Tafereelen uit de Vaderlandsche Geschiedenis; tot nut en vermaak voor de Nederlandsche Jeugd" yang melukiskan bagaimana warga Tionghoa ditangkapi dan dibantai sementara rumah mereka dibakar. Di latar belakang tampak sebuah jembatan gantung yang menunjukkan lokasi kejadian.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Gambar di atas juga berasal dari buku anak dengan judul "De leidsman der jeugd" yang terbit sekitar tahun 1835-1841. Gambar karya Johannes Steyn ini melukiskan bagaimana sekelompok warga Tionghoa bersenjata bergerak ke arah sebuah pertempuran yang sudah bergejolak, sementara jasad seorang serdadu VOC tersungkur di depan mereka.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Peta di atas dibuat pada tahun 1741, jadi hanya beberapa bulan setelah Geger Pacinan. Peta ini, dengan utara mengarah ke kiri, menggambarkan detail posisi VOC dan warga Tionghoa, serta pergerakan dan pertempuran kedua belah pihak. Untuk patokan dari sudut pandang sekarang: sungai yang melintang di tengah adalah "Groote Rivier" (Kali Besar), sementara bangunan dengan nomor 30 adalah Gereja Portugis (sekarang Gereja Sion).

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Lukisan di atas memiliki deskripsi dalam bahasa Perancis, dan menyebut peristiwa ini sebagai "la grande Conspiration" (persekongkolan besar). Gambar dari tahun 1740 (?) ini di sebelah kiri memperlihatkan bagaimana pada awalnya warga Tionghoa, yang digambarkan memakai semacam rok dan topi bulu, menyerang warga kulit putih. Bagian kanan menunjukkan akhir dari peristiwa ini di mana warga Tionghoa ditangkapi dan dihukum penggal kepala.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Lukisan di atas merupakan karya Adolf van der Laan dan kemungkinan dibuat sekitar 1740 juga (Van der Laan meninggal di tahun 1742). Gambar ini memperlihatkan bagaimana meriam VOC menembaki perkampungan warga Tionghoa (yang atap rumahnya memiliki bulan sabit) sementara api sudah membara di wilayah pecinan ini. Adegan yang mengerikan tentunya bagian di mana VOC mengepung dan membantai warga Tionghoa, atau menggiringnya ke sungai untuk kemudian ditenggelamkan. Gambar ini memiliki beberapa keterangan nama tempat; Kali Besar adalah sungai kedua dari bawah di lukisan ini.

Waktu: 1740 (dengan dua gambar pertama dibuat di abad ke-19)
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Geger Pacinan
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 03 Mei 2021

Perebutan Makassar dari kekuasaan Gowa oleh kekuatan VOC dan Bone, 1669

Lukisan di bawah menggambarkan perebutan Makassar oleh VOC bersama sekutunya, yang merupakan babak akhir dari perang antara Kesultanan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin melawan VOC yang dikomandoi oleh Laksamana Cornelis Speelman, yang berlangsung di tahun 1666 hingga 1669.

Cornelis Speelman ditampilkan di pojok kiri atas gambar, sementara sekutunya di perang ini, Sultan Bone Arung Palakka, digambarkan di pojok kanan atas.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1669
Tempat: Makassar
Tokoh: Cornelis Speelman (Panglima VOC, kelak menjadi Gubernur-Jenderal), Arung Palakka (Sultan Bone, sekutu Speelman)
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Romeijn de Hooghe
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 04 Agustus 2019

Empat sketsa perairan Maluku dari abad ke-18

Sketsa benteng Victoria di Ambon, aslinya dari sekitar tahun 1700
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Sketsa Seram, aslinya dari tahun 1775
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Sketsa Ternate, aslinya dari tahun 1775
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Lukisan Ternate
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Waktu: 1700, 1775
Tempat: Ambon, Seram, Ternate
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Rabu, 08 Maret 2017

Kapal-kapal VOC di abad ke-17 (lukisan)

Kapal Amsterdam dan Gouda menyerang kapal-kapal Portugis di Tidore, 1601.
(klik untuk memperbesar)
Kapal Grote Maan, Grote Zon, Morgenster, De Grote (Zeeuwsche Aelosu), dan de Jager di Selat Magelhaen tahun 1615 dalam perjalanan menuju Ternate di mana para kapal itu sampai di tahun 1616 dan tidak pernah meninggalkan Maluku lagi.
(klik untuk memperbesar)
Kapal Sas-van-Gent, Zaandijk, Edam, Zeehaan, dan Cochin dalam serangan VOC ke Seram, 1654.
(klik untuk memperbesar)
Waktu: abad ke-17
Tempat: Seram, Tidore, Selat Magelhaen
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Buku Dutch Ships in Tropical Waters - The Development of the Dutch East India Company (VOC) Shipping Network in Asia 1595-1660 karya Robert Parthesius.
Catatan: