Tampilkan postingan dengan label Rotterdam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rotterdam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Februari 2022

Dari arsip Atlas Van Stolk: Wajah beberapa warga dan tokoh Belanda

7 Januari 1927: Pembukaan komunikasi jarak jauh Belanda-Nusantara melalui signal radio
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1927: Ratu Wilhelmina menyampaikan pesan radio dari Belanda ke Hindia-Belanda
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Antara 1900 dan 1920: Berpose di atas dan depan mobil
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Medan, 1929: Sebuah jamuan makan warga Belanda dengan dua pelayan lokal
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Antara 1930 dan 1939: Rumah sakit Angkatan Laut di Surabaya
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Rotterdam, 1939: Pangeran Bernhard van Lippe-Biesterfeld mengamati maket Mesjid Demak
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1972: Sukmawati Soekarnoputri di Belanda
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1920, 1927, 1929, 1939, 1972
Tempat: Belanda, Medan, Surabaya
Tokoh: Wilhelmina Helena Pauline Maria (Ratu Belanda); Bernhard van Lippe-Biesterfeld (suami Ratu Juliana); Sukmawati Soekarnoputri (anak Soekarno)
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 08 Agustus 2020

Ketika Pos Indonesia hanya memiliki perangko dengan nominal kecil, 1949

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1949
Tempat:  Jakarta dan Rotterdam
Tokoh:
Peristiwa: Amplop di atas yang dikirim dari Jakarta ke Rotterdam adalah salah satu hal yang menarik dalam sejarah. Saat itu tampaknya Pos Indonesia hanya siap dengan perangko dengan nominal kecil, dalam hal ini 12½ sen (rupiah). Karena pengiriman ke luar negeri, dan tampaknya juga berisi foto dengan berat yang lumayan, perangkonya harus ditambah dengan yang nominalnya besar. Tampaknya saat itu yang tersedia hanya perangko "kolonial" bergambar Ratu Wilhelmina. Maka yang dilakukan Pos Indonesia adalah mencoret semua kata "Ned-IndiĆ«" dan menambahkan cap kata "Indonesia". Nilainya dalam gulden tidak diubah. Perangko bernilai 60 cent (gulden) tampaknya tidak sempat terkena aksi darurat ini.
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 29 Juni 2020

Pengungsian warga Indonesia pro-Belanda ke Belanda, 1958

(klik untuk memperbesar | © AVS)

(klik untuk memperbesar | © AVS)

(klik untuk memperbesar | © AVS)

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu:  19 Januari 1958
Tempat:  Rotterdam
Tokoh:
Peristiwa:  Ketika Republik Indonesia Serikat bubar, dan Uni Belanda-Indonesia terkubur, kemudian Soekarno mencanangkan nasionalisasi aset-aset (warga) Belanda, serta Papua mulai menjadi bahan perseteruan Belanda-Indonesia, banyak warga Belanda kembali ke negeri nenek moyangnya, repatriasi. Selain warga Belanda, tidak sedikit warga lokal yang merasa lebih nyaman hidup bersama orang Belanda, dan rela meninggalkan tanah kelahirannya untuk mencoba hidup baru di Eropa.
Foto-foto di atas memperlihatkan kedatangan kapal Sibayak di Rotterdam, yang a.l. mengangkut pengungsi "kulit coklat" dari Indonesia ke Belanda.
Fotografer: Nationaal Foto Persbureau
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: