Tampilkan postingan dengan label 1896. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1896. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Oktober 2023

Hindia-Belanda dalam foto stereoskopi (9)

PENGANTAR
Di akhir abad ke-19 foto stereoskop cukup populer untuk melihat foto dengan kesan tiga dimensi. Teknik yang digunakan saat itu adalah dengan membuat dua foto dengan sudut pengambilan yang sedikit berbeda. Kemudian kedua foto ini disandingkan, dan dilihat dengan menggunakan alat bersekat yang memisahkan pandangan mata kiri dan kanan. Gambar di kiri memperlihatkan contoh alat ini.

Wilayah Hindia-Belanda pun tak luput dari mode fotografi ini. Seri berikut akan menampilkan beberapa motif foto dari Hindia-Belanda yang ada di koleksi penggemar stereoskopi.

1896 atau sebelumnya: Kaum pria berperahu di pesisir selatan Kalimantan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1902 atau sebelumnya: Sekaten di Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1902 atau sebelumnya: Pesawahan di Leles, Garut, dengan latar belakang Gunung Haruman (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1902 atau sebelumnya: Sekawanan sapi di Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1902 atau sebelumnya: Kebun Raya Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1896, 1902
Tempat: Jawa (a.l. Bogor, Garut, Yogyakarta), Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 05 November 2022

Dua foto dari sebuah album tentang Cirebon dari tahun 1896

Koleksi National Gallery of Australia juga memuat sebuah album foto dengan judul Souvenir Cheribon 6 April 1896. Sayangnya biarpun album ini berisi 22 halaman, hanya ada dua foto yang tersisa setelah tersimpan sekitar satu abad. Meski demikian, keduanya tetap akan dimunculkan di blog ini, karena memang foto dari abad ke-19 relatif sedikit, dan kita tetap berharap suatu saat bisa menemukan sisa foto lainnya dari album ini.

Jilid album
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kediaman Residen Cirebon, sekarang bernama Gedung Negara
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kemungkinan bagian belakang dari rumah seorang pembesar Belanda di Cirebon
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1896 atau sebelumnya
Tempat: Cirebon
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 02 Maret 2022

Wajah flora dan manusia Nusantara di publikasi Koloniaal Museum Haarlem, 1895-1901 (2)

PENGANTAR

Foto-foto berikut berasal dari publikasi yang dikeluarkan oleh Koloniaal Museum Haarlem, Belanda, dari tahun 1895 hingga 1901. Rangkaian publikasi ini umumnya menampilkan budaya manusia sehari-hari, dunia flora, serta budi daya manusia atas dunia botanika ini.

(klik untuk memperbesar)

Beberapa foto muncul di lebih dari satu publikasi; blog ini tetap akan menampilkan dublet seperti ini.


Jawa (?): Tiga wanita membuat periuk
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Bogor: Kebun Raya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jawa (?): Rumpun bambu raksasa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Daun, bunga, dan buah kopi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jakarta: Sebuah rumah bambu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Buah manggis
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1896
Tempat: Bogor, Jakarta, Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H. Kleinmann & Co.
Sumber / Hak cipta: Koloniaal Museum Haarlem / National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 28 Februari 2022

Wajah flora dan manusia Nusantara di publikasi Koloniaal Museum Haarlem, 1895-1901 (1)

PENGANTAR

Foto-foto berikut berasal dari publikasi yang dikeluarkan oleh Koloniaal Museum Haarlem, Belanda, dari tahun 1895 hingga 1901. Rangkaian publikasi ini umumnya menampilkan budaya manusia sehari-hari, dunia flora, serta budi daya manusia atas dunia botanika ini.

(klik untuk memperbesar)

Beberapa foto muncul di lebih dari satu publikasi; blog ini tetap akan menampilkan dublet seperti ini.


Warga Mentawai
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jawa (?): Penjual minuman keliling dan pelanggannya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jawa (?): Sekelompok pesakitan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jawa (?): Tukang cukur pinggir pohon
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jakarta (?): Penyiram jalan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jawa: Sekelompok wanita menumbuk gabah
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1896
Tempat: Mentawai, Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Christiaan Nieuwenhuis (foto pertama) | H. Kleinmann & Co. (foto lainnya)
Sumber / Hak cipta: Koloniaal Museum Haarlem / National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 05 November 2020

Jakarta tempo doeloe: Warga Jakarta dalam pelbagai aktivitas

Antara 1885 dan 1895: Penyiram jalan
(klik untuk memperbesar | © NGA)

1889: Para pejabat pemerintahan lokal
(klik untuk memperbesar | © NGA)

1889: Warga Belanda berpose dengan kereta roda empat
(klik untuk memperbesar | © NGA)

1896: Penyiram jalan
(klik untuk memperbesar | © H. Kleinmann & Co. / NGA)

Sekitar 1900: Penjual, pembeli, dan pengunjung Pasar Baru
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Sekitar 1930: Foto studio tentang penjual dan pembeli pisang
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Mencuci baju di kali
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1895, 1889, 1896, 1900, 1930
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H. Kleinmann & Co. (foto nomor 3)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 02 November 2020

Karikatur Belanda yang kritis atas Perang di Aceh, 1896-1935

Tidak semua pihak di Belanda setuju atau malah mendukung sepak terjang Belanda di Perang Aceh. Tiga karikatur di bawah ini adalah contoh dari suara kritis yang mengingatkan masyarakat Belanda bahwa perang di Aceh telah membawa banyak sekali korban, termasuk dari kalangan sipil.

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karya Johan Braakensiek yang diterbitkan tanggal 27 September 1896. Karikatur ini memperlihatkan Isaäc Dignus Fransen van de Putte, politisi Belanda yang sempat menjadi Perdana Menteri dan Menteri Urusan Jajahan; Van de Putte tampaknya turut terlibat dalam keputusan untuk melancarkan aksi militer di Aceh. Teks di bawah menyebutkan bagaimana Van de Putte berkata "Saya tidak sekejap pun mundur dari tanggung jawab yang saya pikul," dengan postur tubuh yang percaya diri tetapi dengan muka yang berpaling dari kekacauan dan penderitaan yang muncul dari Perang Aceh.

(klik untuk memperbesar | AVS)

Karya Albert Hahn dari tahun 1904. Karikatur ini menggambarkan langit memerah darah, rakyat Aceh bergelimpangan membasahi bumi dengan darah. PM Belanda, Abraham Kuyper, yang memang juga rohaniawan, berjalan di antara jasad warga Aceh sambil mengutip kitab suci, sementara seorang lain membagi-bagikan kitab suci ke mayat warga Aceh.
Teks puitis di bawah kartikatur berbunyi ("Bram" tampaknya dimaksudkan Abraham Kuyper):
Perang Aceh itu pada mulanya adalah ketidakadilan, begitu sabda Tuhan.
Bram berkata: "Ketidakadilan itu dilarang", maka jadilah dia bukan ketidakadilan.
Tewasnya orang Aceh, di persisaan Deli yang kaya,
- tapi kemudian bawakan dia rahmat Injil!

(klik untuk memperbesar | AVS)

Karya Chris Lebeau dari tahun 1935. Karikatur ini diarahkan ke pengagungan Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz sebagai pahlawan Perang Aceh. Karya ini menyindir bahwa apa yang dielu-elukan sebagai "Nederlands Pacificator" (pembawa perdamaian Belanda) dan "De vredestichter die men huldigt" (pembawa perdamaian yang diagungkan orang" sejatinya berdiri di atas penderitaan banyak orang dan dengan topangan meriam.
Gambar dua pesawat tampaknya (tempur) tampaknya ditambahkan untuk mengingatkan warga Belanda akan efek mengerikan kerusakan akibat Perang Dunia I beberapa tahun sebelumnya. Pada masa Perang Aceh belum ada penggunaan pesawat tempur di dunia.

Waktu: 1896, 1904, 1935
Tempat: tiga karikatur ini mengacu ke perang yang terjadi di Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek / Albert Hahn / Chris Lebeau
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk / Universiteit Leiden
Catatan:

Sabtu, 11 Juli 2020

Dari album foto perwira artileri Letnan H.A. Zeilmaker, 1900: Pos militer Belanda di Bilul dan Lambaro, Aceh

PENGANTAR

Letnan H.A. Zeilmaker adalah seorang perwira artileri Belanda yang bertugas di Hindia-Belanda paling tidak dari tahun 1894 hingga 1899. Dia diterjunkan di Perang Aceh, dan tampaknya kemudian tinggal di Surabaya. Dia membuat sebuah album album foto pada tahun 1900 dengan judul "1894 Souvenir 1899" yang kelihatannya ditujukan untuk kerabatnya di Belanda untuk memperlihatkan bagaimana itu Hindia-Belanda.

Selain foto-foto yang memang terkait dengan dia dan sejawatnya, album ini juga berisi foto-foto dari studio atau juru potret lain, yang juga bisa ditemukan di album atau kumpulan foto pihak lain. Ini menunjukkan bahwa pada saat itu peredaran dan jual-beli foto dengan motif tertentu bukan hal yang jarang.

Album foto ini pada akhirnya menjadi salah satu sumber berharga untuk menengok sejarah negeri kita di masa lampau beserta manusia-manusia yang hidup di saat itu.


Januari 1896: Letnan Zeilmaker (paling kanan) di Bilul bersama perwira lainnya di kesatuannya, yaitu Kapten van Epen (bersama anjing bernama "Bagus"), dr. Nauta, Letnan Aldewereld van Rozenburg, dan Letnan ten Seldam
(klik untuk memperbesar | © AVS)

12 April 1896: Pos militer Belanda di Bilul
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Pos militer Belanda di Lambaro
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Januari 1896: Pos militer Belanda di Bilul
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Waktu:  1896
Tempat:  Bilul dan Lambaro (Aceh)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Menarik untuk dicatat adanya wanita Belanda di foto nomor 2 (memakai kebaya!) dan 3 yang menunjukkan bahwa sebagian perwira tampaknya membawa istrinya tinggal di tangsi militer.

Rabu, 10 Juni 2020

Beberapa wajah budaya Tionghoa di akhir abad 19, awal abad 20 (3)

Sekitar 1895: Sekelompok pria Tionghoa dalam pakaian tradisional dan kepala plontos (taucang tidak terlihat)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jakarta, 1896: Perumahan Tionghoa (di Pintu Kecil?)
(klik untuk memperbesar | © H. Kleinmann & Co / NGA)
Sebuah kelenteng di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Tiga wanita baya Tionghoa dengan kebaya encim
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Semarang, sekitar 1920: Sepasang Tionghoa dengan kebaya encim
(klik untuk memperbesar | © Charls & Co / NGA)
Sebuah keluarga Tionghoa. Perempuan tertua masih mengenakan kebaya encim, yang lainnya sudah memakai pakaian a la Barat
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1895, 1896, 1920
Tempat: Jakarta, Semarang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Charls & Co / H. Kleinmann & Co
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 02 Oktober 2019

Dari album foto Mayor H.A.L. Wichers: Yogyakarta di sekitar Kali Code 1895/1896

PENGANTAR

H.A.L. Wichers adalah seorang perwira KNIL di penghujung abad ke-19 yang sempat terlibat Perang Aceh dengan pangkat mayor. Dia meninggalkan album foto yang menampilkan tempat, manusia, dan suasana di beberapa tempat di tanah air saat itu. Berikut beberapa foto di antaranya.

1895: Taman Sari
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1896: Alun-alun Utara Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © Kassian Céphas / Universiteit Leiden)
1896: Kali Code di antara Stasiun Lempuyangan dan Stasiun Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1896: Warga Yogyakarta di Kali Code
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1896: Bantaran Kali Code
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1896: Bocah-bocah Jogja di bawah jembatan rel kereta api di atas Kali Code
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: 1895/1896
Tempat: Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Kassian Céphas (foto kedua)
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: