Tampilkan postingan dengan label Halmahera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Halmahera. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 April 2026

Peta militer Sekutu yang memperlihatkan landasan pacu militer Jepang di sekitar Halmahera, 1944

Peta militer Sekutu yang memperlihatkan landasan pacu militer Jepang di Halmahera dan sekitarnya, yaitu 1. Galela, 2. Pulau Miti, 3. Jailolo, 4. Oba, 5. Pitu di Morotai, 6. Lolobata dan Hatetabako, 7. Kau, serta 8. Labuha di Pulau Bacan. 
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 15 Agustus 1944
Tempat: Maluku Utara
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 05 Agustus 2024

Peta kuno dari tahun 1640: Ternate, Tidore, dan sekitarnya

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1640
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini menampilkan pulau-pulau penghasil rempah-rempah di sebelah barat Halmahera (di sini disebut pulau Gilolo, Jailolo). Peta ini menampilkan utara di sebelah kanan, sehingga pulau-pulau ini berderet mendatar di bagian tengah: Makian (Machian), Moti (Motir yang tampaknya keliru disebut juga Timor), Mare (Potterackers), Tidore (Tidoro), dan Ternate. Pulau Bacan (Bachian) yang seharusnya berada di sebelah kiri Makian, ditampilkan tersendiri di bagian atas.
Juru kartografi: Willem and Joan Blaeu
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 20 Juni 2024

Peta kuno dari tahun 1750: Ternate, Tidore, dan sekitarnya

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1750
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Maluku, sebagai wilayah yang menjadi rebutan bangsa-bangsa Eropa sebelum sepenuhnya dikuasai VOC/Belanda, merupakan daerah yang sudah dipetakan dengan relatif cermat, seperti yang ditampilkan di peta keluaran Paris ini. Kita bisa melihat pesisir barat Halmahera (di peta disebut pulau Gilolo, mengacu ke Jailolo), dengan beberapa pulau di sebelah kirinya: Ternate, Tidor(e), Mare (Potterackers), Moti (Mothir), Makian (Machian), Bacan (Bachian), serta Kasiruta (Manen).
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 30 Oktober 2023

Hindia-Belanda dalam foto stereoskopi (15)

PENGANTAR
Di akhir abad ke-19 foto stereoskop cukup populer untuk melihat foto dengan kesan tiga dimensi. Teknik yang digunakan saat itu adalah dengan membuat dua foto dengan sudut pengambilan yang sedikit berbeda. Kemudian kedua foto ini disandingkan, dan dilihat dengan menggunakan alat bersekat yang memisahkan pandangan mata kiri dan kanan. Gambar di kiri memperlihatkan contoh alat ini.

Wilayah Hindia-Belanda pun tak luput dari mode fotografi ini. Seri berikut akan menampilkan beberapa motif foto dari Hindia-Belanda yang ada di koleksi penggemar stereoskopi.

Warga Sangir di Tagulandang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gerbang Amsterdam di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Bocah-bocah Papua mandi di laut
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Warga Sangir menangkap ikan hiu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Desa Buli di Maba, Halmahera Timur
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pasar di Jawa Tengah
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: tidak ada keterangan
Tempat: Halmahera, Jakarta, Jawa Tengah, Papua, Sulawesi Utara
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 11 Agustus 2021

Peta Maluku karya Cornelis van Baarsel dan putranya, 1818 (2)

Peta Pulau Banda Api, Banda Neira, dan Banda Besar, dengan pemandangan ke arah benteng Belanda di Banda
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Peta Halmahera, diapit oleh Sulawesi dan Papua, dengan pemandangan ke arah Ternate
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1818
Tempat: Banda, Halmahera
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Cornelis van Baarsel dan putranya
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 11 Mei 2021

1544: Ketika peta dunia memuat nama Jailolo di Halmahera, tetapi belum mengenal Tokyo, New York, atau Sydney

Battista Agnese adalah seorang pembuat peta yang hidup di abad ke-16 di wilayah yang sekarang merupakan negeri Italia. Di sekitar tahun 1544 Battista membuat peta dunia yang turut menjadi dasar dari kartografi modern: utara ditempatkan di atas, adanya garis lintang yang mendatar dan garis bujur yang melengkung, serta penempatan garis khatulistiwa di tengah peta. Meski proporsi beberapa daerah belum pas dan Australia belum dikenal, peta ini bisa menampilkan kontur dunia secara lumayan. Gambar di bawah menampilkan salah satu salinan dari peta ini.

(klik untuk memperbesar)

Peta di atas juga menampilkan rute perjalanan dari orang pertama yang mengelilingi dunia: Fernão de Magalhães (Ferdinand Magellan). Berdasarkan catatan perjalanan ini Battista menapilkan Maluche (Maluku) dengan banyak pulau-pulau kecil. Battista menggambarkan sebuah pulau terbesar tanpa nama, tapi bisa dipastikan itu adalah Halmahera, dengan sebuah tempat bernama Gillolo (Jailolo), sebagaimana terlihat di potongan di bawah ini.

Dengan demikian, Jailolo mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu dari sedikit nama tempat yang ditempatkan di peta dunia. Sebagai perbandingan, potongan di bawah ini memperlihatkan Eropa dan Timur Tengah dengan beberapa nama besarnya a.l.: Meclja (Mekkah), Alevo (Aleppo), Taletum (Toledo), Paris, Colonia (Köln), Praga (Praha), Ciacony (Sachsen), Viena (Wina), Buda, Belgrad, serta Moscovia (Moskow).



Waktu: 1544
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Juru Gambar / Fotografer: Battista Agnese
Sumber / Hak cipta:
Catatan:

Jumat, 18 November 2016

Ilustrasi dari buku The Malay Archipelago karya Alfred Wallace (12): peta Aru, sebagian Maluku, Halmahera, dan sekitarnya

PENGANTAR

Bagi dunia ilmu pengetahuan nama Alfred Russel Wallace disejajarkan dengan Charles Robert Darwin, yang bukan hanya hidup senegeri dan sezaman, tapi juga menggeluti bidang ilmu yang sama. Namun tidak dapat disangkal bahwa Darwin jauh lebih dikenal dan diperdebatkan. Padahal karya utama Wallace, yaitu The Malay Archipelago berisi terobosan-terobosan ilmiah yang kemudian menelurkan istilah garis Wallace dan efek Wallace. Buku yang pertama kali terbit tahun 1869 ini (dan masih diterbitkan hingga sekarang!) merupakan hasil perjalanan dan penelitian Wallace tujuh tahun di wilayah Nusantara dari tahun 1856 hingga 1862.

Berikut beberapa peta dari buku ini.

(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
Waktu: 1856-1862
Tempat: Maluku
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: The Malay Archipelago
Catatan:

Senin, 08 Juni 2015

Peta Maluku Utara dari tahun 1724

(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1724
Tempat: Maluku
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Oud en nieuw Oost-Indiën (1724) karya François Valentijn
Catatan:

Kamis, 29 Agustus 2013

Peta Sulawesi, Maluku, dan sekitarnya dari tahun 1700


Waktu: 1700
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Luca Tettoni
Sumber / Hak cipta: Corbis
Catatan: Peta ini dikeluarkan oleh Pieter Vander Aa; gambar dengan ukuran 1243x900 bisa diunduh dari laman Barry Lawrence Ruderman Antique Maps Inc.

Kamis, 20 Juni 2013

Peta Kepulauan Maluku karya Jan Jansson dari tahun 1636

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 1636
Tempat: Maluku
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Library of Australia
Catatan: Peta ini dibuat di Belanda oleh Jan Jansson di tahun 1636 dan memperlihatkan pulau-pulau Halmahera (Gilolo/Jailolo), Hiri (Harrij), Ternate, Maitara (Miterra), Tidore, Mare (Pottebackers Eylandt), Moti (Timor/Motir), Makian (Machian), dan Bacan (Bachian).
Gambar dengan ukuran lebih besar (1890x1485), kualitas warna lebih bagus, dan sudah diluruskan, bisa dilihat di laman Barry Lawrence Ruderman Antique Maps Inc.


UPDATE: Dua edisi lain dari peta ini, keluaran 1638, dalam ukuran yang lebih besar dimuat di posting ini.