Tampilkan postingan dengan label peta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (8)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Kumpulan para bocah dengan bendera Belanda mengelilingi seorang ibu bernama Ankie Herdes
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Foto bersama para bocah lelaki yang belum masuk kategori pemuda ketika Jepang masuk ke Hindia-Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sketsa buatan tangan yang memperlihatkan peta kamp kampili
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak mengepalkan tangan sementara kaum dewasa mengacungkan gelas berisi minuman untuk mengelukan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Suster Lutgarda mengasuh bocah-bocah di lapangan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Edidi lain dari dua foto terakhir pernah dimuat di posting ini sebelumnya.

Kamis, 02 April 2026

Peta militer Sekutu yang memperlihatkan landasan pacu militer Jepang di sekitar Halmahera, 1944

Peta militer Sekutu yang memperlihatkan landasan pacu militer Jepang di Halmahera dan sekitarnya, yaitu 1. Galela, 2. Pulau Miti, 3. Jailolo, 4. Oba, 5. Pitu di Morotai, 6. Lolobata dan Hatetabako, 7. Kau, serta 8. Labuha di Pulau Bacan. 
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 15 Agustus 1944
Tempat: Maluku Utara
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 15 Maret 2026

Peta Indonesia ketika jumlah penduduknya masih 59 juta

Peta dengan penomoran di beberapa daerah, beserta wajah penduduk daerah tsb. (Lampung, Palembang, Djakarta, Sunda, Solo, Djokja, Madura, Bali, Flores, Sumba, Timur, Makasar, Bugis, Buton, Dajak, Sangir, Menado, Donggala, Napoe-Toradja, Bada-Toradja, Moena)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: ?
Tempat: Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Peta ini sejatinya memunculkan beberapa pertanyaan. Di tahun 1930an penduduk Hindia-Belanda sudah mencapai 60 juta, yang memberi dugaan bahwa peta ini berasal dari era ini. Tetapi peta ini tidak menggunakan bahasa Belanda, serta menggunakan kata "Indonesia" atau "bangsa Indonesia" yang menyiratkan bahwa ini dibuat setelah Indonesia merdeka. Tetapi berikutnya, peta ini menyebut "Borneo" bukan "Kalimantan", serta "Papoea" bukan "Irian" yang kembali membawa kita ke masa sebelum proklamasi. Tambah membingungkan: Penulisan bunyi "u" terkadang "oe" (oekoeran, djoemlah pendoedoek, dsb.), terkadang juga "u" (Lampung, Sunda, Madura, dsb.). Pertanyaan tambahan: Tidak ada wajah dari suku lain yang juga dominan seperti Aceh, Batak, atau Minangkabau.

Selasa, 03 Februari 2026

Pasukan Sekutu dan Belanda di Papua 1944/1945 (11)

Seorang tentara Belanda di luar barak
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua tentara Belanda menikmati  rokok
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah pertemuan di barak yang melibatkan para perwira
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Ruangan seorang perwira Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang perwira Belanda di depan sebuah peta Papua dan petas Asia Tenggara dalam ukuran yang lebih kecil
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan 1945
Tempat: kemungkinan Papua
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 22 November 2025

Peta kuno keluaran Jerman tentang Asia dan Nusantara dari tahun 1624

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)


Tahun terbit: 1624
Tempat terbit: Jerman
Tokoh:
Deskripsi: Ini merupakan peta berbahasa Latin karya orang Jerman bernama Philipp Clüver yang sekarang dikenang sebagai salah satu perintis geografi sejarah (historical geography). Terkait Nusantara, berikut nama pulau/kepulauan dan tempat yang sudah dikenal di kalangan masyarakat berpendidikan di Eropa pada saat itu:

  • Aru
  • Baly (Bali)
  • Banca (Bangka)
  • Banda
  • Borneo (Kalimantan)
  • Bouro (Buru)
  • Cambava (Sumbawa)
  • Carimon Iava (Karimun Jawa)
  • Celebes (Sulawesi)
  • Ceram (Seram)
  • Flores
  • Gilolo (Halmahera)
  • Iava Maior (Jawa)
  • Madura
  • Mintaon (Mentawai)
  • Moretay (Morotai)
  • Nyas (Nias)
  • Pars Nova Guinea
  • Sumatra
  • Timor

  • Achem (Aceh)
  • Amboina (Ambon)
  • Bancalis (Bengkalis)
  • Bandarmassin (Banjarmasin)
  • Bantam (Banten)
  • Batavia / Iacatra (Jakarta)
  • Iamby (Jambi)
  • Macasser (Makassar)
  • Manado
  • Mataran (Mataram)
  • Palimbam (Palembang)
  • Sambas
  • Sampit
  • Succadano (Sukadana)
  • Tetolli (Toli Toli)

Juru kartografi: Philipp Clüver (berdasarkan karya Willem Blaeu)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 16 November 2025

Peta kuno dari tahun 1750: Jakarta ketika masih dikelilingi pesawahan dan kebun (3)

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)


Tahun terbit: 1750
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini merupakan versi yang tidak diwarnai dari dokumen yang pernah ditampilkan di posting sebelum ini. Peta ini memperlihatkan kawasan dari Angke di barat hingga Ancol di timur, yang saat itu hampir sepenuhnya merupakan pesawahan dan perkebunan terutama tebu. Kawasan kota yang disebut Batavia sendiri hanya terdiri dari beberapa kompleks bangunan di selatan pelabuhan Sunda Kelapa, ditambah beberapa bangunan kecil di sepanjang Kali Besar. Pada saat itu Belanda menempatkan beberapa benteng dan pos pertahanan yang tampak jelas di peta ini, yaitu Ancol di timur, Jacatra di tenggara, Noordwyck di selatan, Anke di barat daya, serta Corps de Garde di Untung Jawa di barat laut.
Juru kartografi: Jacques-Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 21 Oktober 2025

Peta Sir Stanford Raffles tentang Nusantara dari tahun 1830

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1830
Tempat terbit: London
Tokoh: 
Deskripsi: Peta ini diterbitkan tahun 1830 di London untuk mengenang Sir Stanford Raffles yang meninggal empat tahun sebelumnya. Raffles pernah menjadi orang Inggris nomor satu di Bengkulu dan juga Jawa, sebelum akhirnya mengambil posisi puncak di Singapura. Peta ini dibuat a.l. berdasarkan catatan dan penelitian yang dilakukan di zaman Raffles dan tentunya juga dengan menggunakan bahan yang sudah tersediua sebelumnya. Peta ini cukup komprehensif memperlihatkan pulau-pulau dari Sabang hingga ke Merauke, dengan banyak pembubuhan nama kota, pulau, selat, teluk, laut, bahkan hingga informasi tentang kapan wilayah di Papua "ditemukan" atau kapan Belanda menyelidiki sebuah sungai di Kalimantan.
Selain wilayah Nusantara, peta ini juga memperlihatkan Jepang, Korea, Tiongkok, dsb. meskiu informasi yang ditampilkan tidak seramai seperti yang dibubuhkan di Nusantara.
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 07 September 2025

Peta kuno tentang Jakarta dari sekitar tahun 1700 keluaran Venezia

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: sekitar 1700
Tempat terbit: Venezia
Tokoh:
Deskripsi: Pembuat peta ini, Vincenzo Coronelli, adalah seorang biarawan dari Ordo Fransiskan yang memang seorang pakar dalam hal kartografi. Blog ini sebelumnya sudah menampilkan peta Sumatera karya Coronelli yang terbit di tahun 1687, serta peta Nusantara karya Coronelli pula yang terbit di tahun 1690. Peta kali ini menampilkan wilayah yang lebih sempit, yaitu kota Jakarta di penghujung abad ke-18. Sayangnya di peta ini tidak ada keterangan yang langsung ditampilkan dalam bentuk legenda. Tetapi kita bisa tahu bahwa di sini utara menghadap ke kiri, dengan pelabuhan Sunda Kelapa di kiri tengah. Bangunan dengan empat sudut seperti anak panah adalah Kastil Batavia. Sementara itu, di tengah peta mengalir Kali Besar, dengan bagian kota Jakarta berada di kedua tepinya, yang terdiri dari wilayah pemukiman umumnya warga Eropa, balai kota, rumah sakit, pasar, serta rumah ibadah.
Juru kartografi: Vincenzo Maria Coronelli
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 24 Agustus 2025

Sebuah peta dari tahun 1910 yang membandingkan Belanda dengan Kepulauan Nusantara

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1910
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Peta keluaran Belanda ini tidak hanya menampilkan wilayah Hindia-Belanda, tetapi juga kawasan yang sekarang merupakan bagian dari Filipina, Malaysia (di utara Kalimantan), Papua Nugini (di timur Papua), serta Timor Leste (di timur Timor). Dalam skala yang sama, yaitu 1:10 juta, disandingkan pula wilayah Belanda yang tampak hanya mengisi sebagian dari kotak yang dibatasi garis lintang dan garis bujur, sementara wilayah Hindia-Belanda sendiri berada di tidak kurang dari 27 kotak penuh.
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 20 Agustus 2025

Sebuah peta berbahasa Inggris tentang Jakarta dari tahun 1747

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1747
Tempat terbit: London
Tokoh:
Deskripsi: Biasanya peta tentang Jakarta di sebelum abad ke-19 berasal dari Belanda, dan jarang dari Inggris. Karenanya peta ini menjadi sesuatu yang langka, meskipun informasi dan perincian di dalamnya tampaknya memang disadur dari sumber-sumber Belanda, dengan penerjemahan ke bahasa Inggris. "Kali Besar" misalnya menjadi "The Great River", begitu juga legenda yang berada di pojok kanan bawah, yang sedikit banyak lebih bisa dipahami masyarakat Indonesia sekarang.
Juru kartografi: Emanuel Bowen
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 31 Juli 2025

Peta dari abad ke-18 tentang Asia ketika benua ini dibagi dalam empat wilayah: India, Tiongkok, Sumatera dan pulau-pulau sekitarnya, serta Jawa

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: abad ke-18
Tempat terbit: ?
Tokoh:
Deskripsi: Henri Abraham Chatelain, pembuat peta ini, adalah seorang pastor dari kelompok Huguenot, sebuah aliran Protestan di Perancis, yang sempat mengalami penindasan hebat dari mayoritas warga Katolik di negeri ini. Chatelain sendiri orang Belanda, yang pernah tinggal di Paris, London, Den Haag, serta Amsterdam; jadi peta ini bisa dibuat di salah satu dari kota-kota itu. Yang menarik, tampaknya bagi Chatelain benua Asia yang besar dan luas ini dibagi dalam empat wilayah: India, Tiongkok, Sumatera dan pulau-pulau di sekitarnya, serta Jawa. Peta ini menyebut nama-nama lain seperti Filipina, Jepang, Korea, Mongolia, Siam, dsb., tetapi empat nama di atas yang menjadi judul tentang benua Asia. Dan jika kita baca kotak naskah yang ditempatkan di bawah kanan dari peta ini, memang nama-nama dari wilayah Nusantara yang diketengahkan. Kita a.l. bisa baca nama Mataram, Jepara, Cirebon, dan Batavia. Ini tampaknya menunjukkan pentingnya kawasan ini saat itu. 
Juru kartografi: Henri Abraham Chatelain (1684-1743)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 29 Juni 2025

Peta kuno dari tahun 1750: Denah kota Jakarta

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)


Tahun terbit: 1750
Tempat terbit: ?
Tokoh:
Deskripsi: Peta berbahasa Belanda dan Perancis ini menempatkan barat di atas, sehingga Laut Jawa berada di sebelah kiri dari Jakarta. Peta ini menampilkan denah kota Jakarta di pertengahan abad ke-18, yang saat itu hanya mencakup secuil dari wilayah Jakarta Utara sekarang. Peta ini diberi legenda A hingga H, serta nomor 1 sampai 31 untuk menunjukkan bangunan serta kawasan Jakarta saat itu.

  • A: Kastil Batavia
  • B: kanal yang menuju kastil
  • C: kawasan pecinan
  • D: kawasan pasar
  • E: gerbang baru menuju kastil
  • F: gereja Lutheran
  • G: pergudangan
  • H: jalur masuk dari laut
Kemungkinan peta ini merupakan pembaruan dari peta sebelumnya seperti yang pernah ditampilkan di posting ini yang terbit tahun 1725. Terlepas dari perbedaan penempatan mata angin, kedua ini skemanya mirip; dan peta ini juga memuat kesalahan yang sama, yaitu bahwa Gereja Portugis (nomor 10 di peta) ditulis sebagai l'Eglise des aMalais/Maleitsche Kerk (Gereja Melayu). Dan memang peta ini juga menulis jelas tentang Veranderingen Zedert 1731 to 1750, yaitu tentang apa saja yang berubah di Jakarta dari tahun 1731 hingga 1750.

Juru kartografi: J. van Schley
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 11 Juni 2025

Peta kuno dari tahun 1561: Ketika Halmahera lebih besar daripada Jawa bahkan Kalimantan

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1561
Tempat terbit: Venezia
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini luar biasa banyak salahnya; tetapi justru ini membuatnya sangat berharga karena menunjukkan bagaimana pandangan awal bangsa Eropa terhadap wilayah Nusantara ketika mereka belum banyak menjelajahi dunia. Dari sudut posisi, mereka sudah benar menempatkan Nusantara dengan bingkai di utara dari mulai India (Bengala), Myanmar (Burma), Kamboja (Camboia), serta Tiongkok (Lachina). Ketika peta bergerak ke selatan, kita menemukan beberapa nama yang tampaknya sudah sangat dikenal di Eropa: Malaka (Malaca), Camatra (Sumatra), Bireuen (Biraem), Pidie (Pedir), Kampar (Campar), Palembang (Paliban), Bangka (Banca), Funda (Selat Sunda), Jepara (Iapara), Tuban, Brunei (Burna), Timor, Malaka (Malaca), Ambon, Malaka (Malaca), Tidore (Tidora), Makian (Machian), Bacan, Jailolo (Gilolo), Ternate (Tereneta), dll. Hanya saja, bentuk dan ukuran pulau-pulau di Nusantara ini masih jauh dari akurat, meskipun posisi relatif dari satu pulau ke pulau lain sudah terlihat lumayan. Kita lihat misalnya Sumatera membengkak ke arah barat daya. Jawa (Iava Mazor) sudah benar membentang searah garis khatulistiwa, tetapi konturnya masih dipengaruhi oleh perkiraan. Kalimantan (Iava Menor) terlihat hanya secuwil di utara khatulistiwa dengan ukuran tidak terlalu jauh dari Timor. Sementara itu, pulau paling terkenal saat itu, yaitu Halmahera (Gilolo), tampak berukuran sangat besar, dan kemungkinan dilukis hanya bagian pesisir baratnya saja. Bali, Flores, Lombok, Sulawesi, dan tentunya Papua, saat itu tampaknya belum dikenal bangsa Eropa.
Juru kartografi: Girolamo Ruscelli
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 26 Mei 2025

Peta kuno dari tahun 1725 tentang Kastil Batavia dan sekitarnya

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1725
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi: Meskipun berbahasa Perancis, peta ini sepenuhnya dibuat orang Belanda dan dikeluarkan di Belanda. Di peta ini utara berada di kanan, sehingga kita lihat Laut Jawa dan pelabuhan Sunda Kelapa berada di sisi ini. Kastil Batavia berada di tengah peta ini, dan memang ini satu-satunya bangunan dengan relatif banyak keterangan, sementara objek lain tampak digambar sekedarnya. Kali Besar mendapat nomor 32, sementara pasar ikan nomor 38. Nomor 35 seharusnya Gereja Portugis, tapi diberi label salah Eglise des Maleyis (gereja pribumi). Nomor 36 sudah benar, Eglise de Hollandoise (Gereja Belanda), tapi nomor 37 keliru karena di sana bukan gereja.
Juru kartografi: Pieter van der Aa
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 28 April 2025

Peta keluaran Inggris dari tahun 1844 tentang Nusantara dan sekitarnya

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: ~1844
Tempat terbit: London
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini memperlihatkan wilayah Asia Tenggara dan sekitarnya, yaitu hingga ke Myanmar dan malah Kalkutta di barat, serta Taiwan di utara, dengan fokus utama di kawasan Nusantara. Karena ini peta keluaran Inggris, perhatian khusus diberikan ke Singapura dan Pulau Pinang (Penang) yang saat itu merupakan jajahan Inggris. Peta memberikan warna-warna khusus untuk menunjukkan siapa menjajah wilayah mana: Inggris merah, Belanda oranye, Spanyol hijau, Portugis ungu, dan Denmark (!) coklat yang saat itu memiliki jajahan kecil di sekitar India. Tetapi tampaknya kode warna ini, yang memang dioleskan secara manual, tidak akurat, karena tidak mencerminkan situasi sesungguhnya
Juru kartografi: Edward Stanford & A.K. Johnston
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 18 April 2025

Peta kuno tentang Jakarta karya Jacques Nicolas Bellin dari tahun 1750

Edisi 1
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Edisi 2
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1750
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini merupakan karya berikutnya dari pakar ilmu bumi Perancis, Jacques-Nicolas Bellin. Bellin merujuk pada peta-peta Belanda sebelumnya yang menampilkan Jakarta dalam komposisi dan tampilan yang sama atau mirip. Bellin mengeluarkan ini untuk khalayak berbahasa Perancis. Dari keterangan yang dipajang di pojok kiri atas kita a.l. bisa tahu bahwa empat sudut Kastil Batavia diberi nama dengan batu-batu mulia yaitu Diamant, Rubin, Saphir, dan Perle. Kemudian juga adanya area yang dihuni orang India (Malabar), Maluku (Banda), serta Tionghoa (Chinois). Keterangan lainnya menunjukkan fasilitas-fasilitas umum seperti gereja, rumah sakit, jalanan, serta jalur saluran air yang saat itu ramai dilalui oleh perahu dan kapal.
Juru kartografi: Jacques-Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 12 April 2025

Peta untuk umum tentang Nusantara keluaran Inggris dari tahun 1798


Tahun terbit: 1798
Tempat terbit: Inggris    
Tokoh:
Deskripsi: Peta di zaman dahulu umumnya disusun untuk para pelaut, penjelajah, pihak yang berkecimpung dalam dunia perjalanan, ahli ilmu bumi, militer, dan semacamnya. Peta ini, yang dicetak di ujung abad ke-18, merupakan salah satu pertama yang dipublikasikan untuk khalayak umum, tidak eksklusif hanya untuk kalangan tertentu saja. Peta Inggris ini kelihatannya kurang updated, dibandingkan misalnya dengan apa yang sudah diketahui oleh orang Belanda, Perancis, atau Portugis saat itu. Selat Makassar, misalnya, tampak terlalu "lebar"; sementara wilayah Sulawesi Selatan tampak "bengkak". Pulau Halmahera, yang konturnya sudah dikenal baik orang-orang lain, di peta Inggris ini tampak tidak akurat. Begitu juga kontur pulau Timor, yang entah disalin dari mana sehingga bentuknya sama sekali jauh dari mirip. Peta ini juga cukup berani membagi pulau Papua menjadi dua dengan menempatkan sebuah selat yang menembus Teluk Yos Sudarso ke Laut Aru.
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 11 Maret 2025

Peta Jakarta dari abad ke-17/18: Satu basis tiga versi (2)

Ini merupakan lanjutan dari posting sebelumnya yang menampilkan bagaimana sebuiah peta tentang Jakarta yang dibuat di sekitar tahun 1650 menjadi dasar dari munculnya beberapa variasi dari tahun-tahun sesudahnya.

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Ini adalah versi keluaran sejarawan Italia, Gregorio Leti di tahun 1690 di Amsterdam, yang tampak jelas merupakan sadura dari peta keluaran Frederik de Wit (lihat posting sebelumnya). Leti kelihatannya hanya menghapus kata "F de Witt …" setelah "Anno 1681" di spanduk judul. Perlu dicatat, bahwa kotretan di dekat ujung kanan bawah spanduk, di dekat tameng sang singa, bukanlah coretan biasa, tetapi menunjukkan tempat orang dihukum gantung, dengan lokasi di sekitar Ancol sekarang.

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Ini merupakan versi tidak berwarna dari peta keluaran Gregorio Leti.

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Ini versi yang lebih "muda", yaitu keluaran tahun 1725 di Leiden dari tangan juru kartografi Pieter van der Aa. Versi ini mengubah gambar pelabuhan di tengah bawah, kemudian mengubah legenda di pinggir kanan dari bahasa Belanda ke bahasa Perancis, mengubah judul yang ada di spanduk, dan memasang kembali legenda berbahasa Belanda ke pinggir kiri.

Tahun terbit: 1690, 1725
Tempat terbit: Amsterdam, Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 07 Maret 2025

Sketsa tentang Solor dan Timor dari tahun 1811 hasil penjelajahan Perancis di bawah pimpinan Thomas Baudin

Teluk Kupang dengan dua kapal layar besar serta beberapa kapal dan perahu kecil di sekelilingnya
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Seorang wanita Timor memikul air dengan perangkat tradisional
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Naba Leba, Raja Solor
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kelelawar ladam di Timor
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Peta Teluk Kupang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1811
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Perancis mengirimkan sebuah tim ekspedisi laut di tahun 1800-1803 di bawah pimpinan kapten Thomas Baudin dengan tujuan mendirikan wilayah jajahan di Australia. Dalam perjalanan menuju Australia, mereka singgah di Kupang, dan mewariskan gambar, peta, dan sketsa di atas. Karya-karya ini diterbitkan pada tahun 1811, delapan tahun setelah ekspedisi selesai.
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery dan Internet Archive.
Catatan: Edisi lain dari peta Teluk Kupang pernah dimuat di posting ini.

Senin, 03 Maret 2025

Peta Nusantara dari tahun 1860: Ketika di selatan Fak Fak ada pulau bernama "Van den Bosch" yang sekarang hilang

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1860
Tempat terbit: London
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini merupakan kompilasi dari berbagai peta, yang berasal dari berbagai sumber seperti Amerika, Belanda, Inggris, dan Spanyol. Dalam skala yang ditampilkan, peta ini lumayan mendetail. Pulau-pulau kecil yang berserakan sepanjang Nusantara diberi nama. Beberapa tempat memiliki nama hingga ke jenjang kecamatan. Peta ini juga sudah sangat akurat untuk wilayah dari Aceh hingga ke Maluku. Di sekitar Papau peta ini cukup jujur untuk mengatakan bahwa beberapa kontur pantai masih belum terpetakan dengan benar. Ini terlihat dari garis putus-putus atau tanpa garis di sekitar Teluk Yos Sudarso, Kepulauan Aru, dan Kepulauan Tanimbar. Yang menarik, di selatan Fak Fak tampak garis putus-putus, kemudian kosong di bawahnya, dan muncul pulau dengan nama "Van den Bosch". Sekarang kita sudah tahu bahwa itu semua merupakan bagian utuh dari pulau Papua, dengan kata lain garis putus-putus, wilayah kosong, dan pulau itu seharusnya menyatu ke Papua.
Yang menarik lainnya: Garis-garis pantai diberi warna sesuai dengan siapa yang menguasainya: oranye untuk Spanyol dan Portugis, orange pucat untuk Belanda, pink untuk Inggris, serta abu-abu untuk wilayah yang masih dikuasai penduduk setempat. Jadi menurut peta ini, masih banyak wilayah di Nusantara yang saat itu tidak atau belum dikuasai Belanda:Aceh, pesisir timur Sumatera, pedalaman Kalimantan, Bali, Lombok, bagian barat Flores, serta Papua.
Juru kartografi: J. Bartholomew
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: