Tampilkan postingan dengan label kolaborator. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kolaborator. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juni 2026

Operasi pasukan Belanda di Bali, 1946 (3)

Belanda, bersama raja yang pro-Belanda, mengumpulkan warga desa untuk menggalang dukungan atas kekuasan Belanda di Bali
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebelum foto ini dibuat, para pejuang kemerdekaan meledakkan sebuah jembatan. Belanda menyebut aksi ini sebagai "terorisme". Pasukan Belanda mendatangkan truk militer ke lokasi kejadian untuk membuat bendungan darurat untuk mengatur arus air sungai.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Di sebelah kanan tampak jembatan yang rusak diledakkan para pejuang kemerdekaan. Belanda mendatangkan sebuah bulldozer untuk membersihkan sisa dan dampak ledakan.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pihak Belanda, bersama raja yang pro-Belanda, di latar belakang mengamati warga desa dalam sembahyang bersama dalam acara penggalangan dukungan atas Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Antosari (Tabanan): Belanda mendirikan sebuah pos dan markas militer di Antosari yang sebelumnya merupakan salah satu pusat berkumpulnya para pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:


UPDATE 28 Juli 2026: Edisi lain dari foto nomor
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Senin, 17 Juni 2019

Prajurit dan perwira KNIL dalam gambar dari akhir abad ke-19

Prajurit dan perwira KNIL kulit putih
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Pasukan KNIL dengan tenaga bantuan warga lokal
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Prajurit KNIL lokal (kiri) dan dari Afrika (kanan)
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Pasukan KNIL dari Afrika berlatih dalam pengawasan perwira Belanda. Pasukan "londo item" seperti ini dikerahkan a.l. oleh Belanda dalam perang Diponegoro.
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)

Waktu: antara 1890-1900, kecuali gambar no. 3 dari 1874
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Sabtu, 15 Juni 2019

Beberapa foto dari album seorang tentara Belanda, 1948/1949

Ini adalah 4 halaman dari album foto dari seorang tentara Belanda yang tampaknya aktif di Indonesia di masa sekitar Aksi Polisionil 2.

Halaman ini menunjukkan Soekarno, Hatta, dan Sjahrir setelah ditangkap Belanda, dengan judul "Gevangen!" (tertangkap); Soekarno dan Hatta di Maguwo, menunggu diasingkan ke Bangka; serta Gedung Kegubernuran di Jogjakarta yang diberi judul "Paleis van Soekarno" (Istana  Soekarno) setelah diduduki Belanda.
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Halaman ini diberi judul "Op weg naar Bangka" (menuju Bangka) yang memperlihatkan Soekarno, Hatta, dan Sjahrir digiring pasukan Belanda ke Maguwo untuk diterbangkan ke pengasingan di Bangka.
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Halaman ini menunjukkan barisan tentara NICA yang oleh pemilik album disebut "anjing" (mungkin ironis); seorang prajurit KNIL mengasah kelewang; dan parade panser Belanda.
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Halaman ini berisi foto ranjau yang kemungkinan dipasang TNI; kesatuan "Peloppors" sedang makan, yang tampaknya adalah milisi bentukan Belanda yang memerangi bangsanya sendiri; beberapa prajurit Belanda menyeberang sungai; dan foto Ungaran, kemungkinan tempat si tentara pernah bertugas.
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)

Waktu: 1948/1949
Tempat: Jogjakarta, Ungaran
Tokoh: Soekarno (Presiden RI), Muhammad Hatta (Wakil Presiden RI), Sutan Sjahrir (pejuang kemerdekaan di jalur perundingan dan diplomasi)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Jumat, 27 Juli 2018

Manusia di Jawa dan sekitarnya dalam lukisan warna Ernest Hardouin: Para pria

PENGANTAR

Foto-foto hitam-putih dari zaman dulu tidak mengabarkan warna sebenarnya di balik skala abu-abu yang ditampilkan. Warna langit, daun, atau rumput tentu mudah ditebak; tetapi warna pakaian tidak semudah itu untuk diterka. Untung ada gambar warna-warni dari para pelukis zaman dulu. Tentu saja selalu ada kemungkinan bahwa si pelukis menampilkan warna pilihan dia yang berbeda dari yang sebenarnya, tapi paling tidak gambar seperti ini bisa memberikan bayangan tentang seperti apa zaman kelihatannya.

Salah satu pelukis itu adalah Ernest Hardouin yang mewariskan beberapa gambar dari sekitar tahun 1850-an. Hardouin tampak sudah menggambarkan proporsi manusia di Nusantara yang mendekati kenyataan, alias pendek; tidak seperti pelukis Eropa sebelumnya yang cenderung menampilkan manusia Nusantara jangkung seperti orang Eropa. Namun Hardouin kelihatannya menggambarkan orang di Jawa sehat-sehat atau cukup gizi; tidak kurus, ceking, atau tidak berisi. Boleh jadi Hardouin ingin menampilkan manusia yang estetis; bagaimanapun juga badan kurus kerontang bukanlah hal yang indah dipandang.

Selamat menikmati lukisan Hardouin!

Ulama
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Kelasi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
"Jayeng sekar", pasukan kavaleri pribumi di bawah komando Belanda
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Kelasi, dengan latar belakang hitam putih
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: 1850-an
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer/Pelukis: Ernest Hardouin
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Senin, 12 Maret 2018

Aksi Polisionil 1 di Jawa Timur, 1947

Gempuran artileri satuan marinir Belanda ke arah posisi TNI
(klik untuk memperbesar | © Hugo Wilmar / gahetna)
21 Juli 1947: Pasukan Belanda bersama milisi Madura pro-Belanda menggeladah barang milik warga
(klik untuk memperbesar | ©Hugo Wilmat / spaarnestad)
2 Agustus 1947: Seorang prajurit Belanda yang terluka (di Pasirputih?)
(klik untuk memperbesar | © Hugo Wilmar / spaarnestad)
Agustus/September 1947: Tank berat Belanda beroperasi
(klik untuk memperbesar | © Hugo Wilmar / spaarnestad)

Waktu: Juli/Agustus/September 1947
Tempat: Jawa Timur (Madura, Pasirputih)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Hugo Wilmar
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief / Spaarnestad Photo
Catatan:

UPDATE 3 Januari 2020

Tambahan foto tentang pergerakan pasukan Belanda di pantai utara Jawa Timur, September 1947:

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaanerstad)
Foto nomor 2 dan 4 dalam ukuran yang lebih besar:

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaanerstad)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaanerstad)

Senin, 19 Desember 2016

Letnan Kolonel Abdul Rivai, perwira TNI yang membelot ke pihak Belanda di Jawa Timur

Letnan Kolonel Abdul Rivai adalah komandan Brigade III/Damar Wulan di Jawa Timur. Di dalam sebuah pertempuran di Banyuwangi pihak Belanda menangkap Abdul Rivai. Perwira ini kemudian ditahan di Ambulu, Jember. Di dalam tahanan, militer Belanda berhasil mempengaruhi Abdul Rivai untuk memihak Belanda. Dikabarkan bahwa Belanda menjanjikan jabatan komandan Barisan Pengawal Negara Indonesia Timur dengan pangkat komisaris besar polisi sebagai balasan atas pembelotan ini.

Foto-foto di bawah memperlihatkan Abdul Rivai di dalam kendaraan militer Belanda, berbicara kepada masyarakat Bondowoso. Abdul Rivai antara lain mengumumkan bahwa para pejuang TNI di wilayah Jawa Timur harus menghentikan pertempuran dan melapor paling lambat tanggal 15 Juli 1949; yang tidak melapor selepas itu akan dianggap sebagai gerombolan liar di wilayah Negara Jawa Timur.

Abdul Rivai di kendaraan militer Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Masyarakat yang mendengarkan seruan Abdul Rivai
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Sebagian masyarakat yang hadir
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 30 Juni 1949
Tempat: Bondowoso
Tokoh: Abdul Rivai (letnan kolonel TNI yang membelot ke pihak Belanda di Jawa Timur)
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Sabtu, 17 Desember 2016

Warga lokal yang tidak bersahabat dengan para pejuang kemerdekaan 12: mantan pejuang yang kemudian berpihak pada Belanda

Tidak semua rakyat Hindia Belanda menginginkan kemerdekaan. Dengan berbagai alasan beberapa pihak malah lebih senang hidup di bawah kekuasaan Belanda atau malah memusuhi para pejuang kemerdekaan. Generalisasi tentu tidak bisa disimpulkan terhadap kelompok atau suku tertentu. Tapi foto-foto berikut mudah-mudahan bisa menambah bahan masukan untuk diskusi tentang hal ini.

12. Yang termasuk kelompok berbahaya adalah para pejuang yang tertangkap Belanda, kemudian berhasil dipengaruhi Belanda  untuk membelot dan berbalik arah untuk memihak Belanda dan memusuhi para mantan teman seperjuangan. Foto-foto di bawah memperlihatkan kesatuan seperti ini di Kediri, Jawa Timur.

Kesatuan mantan pejuang yang kemudian memihak Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kesatuan mantan pejuang mendapat latihan gerak badan dari militer Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kopral van Wageningen melatih kesatuan mantan pejuang dalam hal baris berbaris
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kopral van der Horst menyuapkan pil kina kepada seorang anggota kesatuan pemihak Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: masa perang kemerdekaan
Tempat: Kediri
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 15 Desember 2016

Mayor Achmad Sachdi, perwira Siliwangi yang membelot ke pihak Belanda (4)

PENGANTAR

Mayor Achmad Sachdi adalah komandan Batalyon V Brigade 13 Divisi Siliwangi dengan wilayah operasi di pegunungan dan hutan-hutan Purwakarta dan Karawang di tahun 1948. Pada saat itu Divisi Siliwangi resminya sedang hijrah ke Jawa Tengah/Yogyakarta.

Di akhir tahun 1948 Achmad Sachdi memutuskan untuk menghentikan perjuangan. Bukan hanya itu, dia malah menyerahkan diri ke pihak Belanda. Dan bahkan lebih jauh lagi, dia bersedia untuk menjadi mesin propaganda militer Belanda untuk mengajak rakyat Pasundan untuk mendukung Belanda.

Maka di awal 1949, ketika Belanda melakukan agresi militer ke Yogyakarta, Achmad Sachdi berkeliling di sekitar Purwakarta untuk menyeru rakyat agar berpihak kepada Belanda. Dengan dikawal, didampingi, dan disopiri militer Belanda, Achmad Sachdi dengan seragam TNI-nya berbicara kepada masyarakat sekitar Purwakarta tentang bagaimana enaknya tetap berada di bawah kekuasaan Belanda.

Pada tahun itu juga ternyata Achmad Sachdi harus melihat bahwa Belanda pada akhirnya harus mengakui kemerdekaan Indonesia. Tetapi Achmad Sachdi tampaknya memang orang yang pandai menyintas. Dikabarkan hingga akhir hayatnya di tahun 1970-an dia dikenal sebagai politisi yang aktif di Golongan Karya.

Achmad Sachdi berbincang dengan masyarakat yang menjadi sasaran propagandanya
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Achmad Sachdi berbincang dengan masyarakat yang menjadi sasaran propagandanya
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Achmad Sachdi juga berbicara ke kelompok ibu-ibu yang ikut hadir tapi harus berada di luar ruangan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 25 Januari 1949
Tempat: Purwakarta
Tokoh: Mayor Achmad Sachdi (komandan Siliwangi yang membelot ke pihak Belanda)
Peristiwa: Achmad Sachdi didampingi militer Belanda melakukan propaganda ke masyarakat Purwakarta untuk mendukung Belanda
Fotografer: H. Wakker
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 13 Desember 2016

Mayor Achmad Sachdi, perwira Siliwangi yang membelot ke pihak Belanda (3)

PENGANTAR

Mayor Achmad Sachdi adalah komandan Batalyon V Brigade 13 Divisi Siliwangi dengan wilayah operasi di pegunungan dan hutan-hutan Purwakarta dan Karawang di tahun 1948. Pada saat itu Divisi Siliwangi resminya sedang hijrah ke Jawa Tengah/Yogyakarta.

Di akhir tahun 1948 Achmad Sachdi memutuskan untuk menghentikan perjuangan. Bukan hanya itu, dia malah menyerahkan diri ke pihak Belanda. Dan bahkan lebih jauh lagi, dia bersedia untuk menjadi mesin propaganda militer Belanda untuk mengajak rakyat Pasundan untuk mendukung Belanda.

Maka di awal 1949, ketika Belanda melakukan agresi militer ke Yogyakarta, Achmad Sachdi berkeliling di sekitar Purwakarta untuk menyeru rakyat agar berpihak kepada Belanda. Dengan dikawal, didampingi, dan disopiri militer Belanda, Achmad Sachdi dengan seragam TNI-nya berbicara kepada masyarakat sekitar Purwakarta tentang bagaimana enaknya tetap berada di bawah kekuasaan Belanda.

Pada tahun itu juga ternyata Achmad Sachdi harus melihat bahwa Belanda pada akhirnya harus mengakui kemerdekaan Indonesia. Tetapi Achmad Sachdi tampaknya memang orang yang pandai menyintas. Dikabarkan hingga akhir hayatnya di tahun 1970-an dia dikenal sebagai politisi yang aktif di Golongan Karya.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 25 Januari 1949Tempat: Purwakarta
Tokoh: Mayor Achmad Sachdi (komandan Siliwangi yang membelot ke pihak Belanda)
Peristiwa: Achmad Sachdi didampingi militer Belanda melakukan propaganda ke masyarakat Purwakarta untuk mendukung Belanda
Fotografer: H. Wakker
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 11 Desember 2016

Mayor Achmad Sachdi, perwira Siliwangi yang membelot ke pihak Belanda (2)

PENGANTAR

Mayor Achmad Sachdi adalah komandan Batalyon V Brigade 13 Divisi Siliwangi dengan wilayah operasi di pegunungan dan hutan-hutan Purwakarta dan Karawang di tahun 1948. Pada saat itu Divisi Siliwangi resminya sedang hijrah ke Jawa Tengah/Yogyakarta.

Di akhir tahun 1948 Achmad Sachdi memutuskan untuk menghentikan perjuangan. Bukan hanya itu, dia malah menyerahkan diri ke pihak Belanda. Dan bahkan lebih jauh lagi, dia bersedia untuk menjadi mesin propaganda militer Belanda untuk mengajak rakyat Pasundan untuk mendukung Belanda.

Maka di awal 1949, ketika Belanda melakukan agresi militer ke Yogyakarta, Achmad Sachdi berkeliling di sekitar Purwakarta untuk menyeru rakyat agar berpihak kepada Belanda. Dengan dikawal, didampingi, dan disopiri militer Belanda, Achmad Sachdi dengan seragam TNI-nya berbicara kepada masyarakat sekitar Purwakarta tentang bagaimana enaknya tetap berada di bawah kekuasaan Belanda.

Pada tahun itu juga ternyata Achmad Sachdi harus melihat bahwa Belanda pada akhirnya harus mengakui kemerdekaan Indonesia. Tetapi Achmad Sachdi tampaknya memang orang yang pandai menyintas. Dikabarkan hingga akhir hayatnya di tahun 1970-an dia dikenal sebagai politisi yang aktif di Golongan Karya.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 25 Januari 1949
Tempat: Purwakarta
Tokoh: Mayor Achmad Sachdi (komandan Siliwangi yang membelot ke pihak Belanda)
Peristiwa: Achmad Sachdi didampingi militer Belanda melakukan propaganda ke masyarakat Purwakarta dengan menggunakan pengeras suara untuk mendukung Belanda
Fotografer: H. Wakker
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Jumat, 09 Desember 2016

Mayor Achmad Sachdi, perwira Siliwangi yang membelot ke pihak Belanda (1)

PENGANTAR

Mayor Achmad Sachdi adalah komandan Batalyon V Brigade 13 Divisi Siliwangi dengan wilayah operasi di pegunungan dan hutan-hutan Purwakarta dan Karawang di tahun 1948. Pada saat itu Divisi Siliwangi resminya sedang hijrah ke Jawa Tengah/Yogyakarta.

Di akhir tahun 1948 Achmad Sachdi memutuskan untuk menghentikan perjuangan. Bukan hanya itu, dia malah menyerahkan diri ke pihak Belanda. Dan bahkan lebih jauh lagi, dia bersedia untuk menjadi mesin propaganda militer Belanda untuk mengajak rakyat Pasundan untuk mendukung Belanda.

Maka di awal 1949, ketika Belanda melakukan agresi militer ke Yogyakarta, Achmad Sachdi berkeliling di sekitar Purwakarta untuk menyeru rakyat agar berpihak kepada Belanda. Dengan dikawal, didampingi, dan disopiri militer Belanda, Achmad Sachdi dengan seragam TNI-nya berbicara kepada masyarakat sekitar Purwakarta tentang bagaimana enaknya tetap berada di bawah kekuasaan Belanda.

Pada tahun itu juga ternyata Achmad Sachdi harus melihat bahwa Belanda pada akhirnya harus mengakui kemerdekaan Indonesia. Tetapi Achmad Sachdi tampaknya memang orang yang pandai menyintas. Dikabarkan hingga akhir hayatnya di tahun 1970-an dia dikenal sebagai politisi yang aktif di Golongan Karya.

Achmad Sachdi yang sengaja tetap dibiarkan memakai seragam TNI untuk menunjukkan bahwa dia adalah contoh dari perwira yang "insyaf"
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Achmad Sachdi didampingi, dikawal, dan disopiri tentara Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Achmad Sachdi menjadi "kesayangan" Belanda karena menunjukkan adanya perwira TNI yang "sadar akan sia-sianya berperang melawan Belanda"
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 25 Januari 1949
Tempat: Purwakarta
Tokoh: Mayor Achmad Sachdi (komandan Siliwangi yang membelot ke pihak Belanda)
Peristiwa: Achmad Sachdi didampingi militer Belanda melakukan propaganda ke masyarakat Purwakarta untuk mendukung Belanda
Fotografer: H. Wakker
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Jumat, 22 Juli 2016

Warga lokal yang tidak bersahabat dengan para pejuang kemerdekaan 11: mantan pejuang yang kemudian berpihak pada Belanda

Tidak semua rakyat Hindia Belanda menginginkan kemerdekaan. Dengan berbagai alasan beberapa pihak malah lebih senang hidup di bawah kekuasaan Belanda atau malah memusuhi para pejuang kemerdekaan. Generalisasi tentu tidak bisa disimpulkan terhadap kelompok atau suku tertentu. Tapi foto-foto berikut mudah-mudahan bisa menambah bahan masukan untuk diskusi tentang hal ini.

11. Yang termasuk kelompok berbahaya adalah para pejuang yang tertangkap Belanda, kemudian berhasil dipengaruhi Belanda  untuk membelot dan berbalik arah untuk memihak Belanda dan memusuhi para mantan teman seperjuangan.
Foto di bawah memperlihatkan seorang perwira Belanda (Kolonel J.R. Kraan) memberikan arahan kepada para serdadu baru mantan pejuang yang sekarang berpihak pada Belanda.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: masa perang kemerdekaan
Tempat: Ambulu (Jember)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Ambulu kemudian, di masa Republik Indonesia Serikat, juga menjadi tempat di mana mantan KNIL melatih para mantan pejuang kemerdekaan di teknik kemiliteran.

Selasa, 29 Maret 2016

Pasukan infantri lokal bentukan Belanda di Cimahi, 1948 (2)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 27 November 1948
Tempat: Cimahi (Bandung)
Tokoh:
Peristiwa: Kolonel H.J. de Vries, komandan Batalyon 33 (tidak terlihat di foto), menghadiri pelantikan kesatuan militer lokal didikan Belanda di Cimahi. Pasukan ini dikabarkan terdiri dari warga Madura dan Sumatera (kemungkinan Sumatera Utara karena catatan foto menyebut a.l. nama Jan Panggabean, Siregar).
Fotografer: D. Hendrikse
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Ketika Republik Indonesia Serikat dibentuk, Negara Sumatera Timur mengirim beberapa tentaranya ke Cimahi untuk pendidikan. Negara Madura sementara itu memiliki pula tentara sendiri bernama Barisan Cakra.