Tampilkan postingan dengan label poster. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poster. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2024

Poster iklan Hotel Bali, Denpasar, dari tahun 1948 (2)

Sfeer & bekoring (suasana dan pesona)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Edisi lain dari iklan yang sama
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: 1948
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar: Willem Gerard Hofker
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: "Hotel Bali" sekarang bernama "Hotel Inna" dan sudah ditetapkan menjadi cagar budaya.

Minggu, 25 Februari 2024

Poster iklan Hotel Bali, Denpasar, dari tahun 1948 (1)

Versi berbahasa Inggris
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Versi berbahasa Belanda
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: 1948
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar: Willem Gerard Hofker
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: "Hotel Bali" sekarang bernama "Hotel Inna" dan sudah ditetapkan menjadi cagar budaya.

Jumat, 23 Februari 2024

Poster iklan penerbangan KLM rute Amsterdam-Jakarta dari tahun 1934

Satu tahun setelah pesawat Pelikan bisa menempuh penerbangan dari Belanda menuju Hindia-Belanda hanya dalam waktu empat hari –sebuah rekor dunia pada saat itu– KLM dengan bangga mulai membuka penerbangan untuk umum. Saat itu waktu tempuhnya adalah lima setengah hari; suatu yang mencengangkan mengingat perjalanan tercepat sebelumnya, melalui laut, membutuhkan waktu 6 minggu atau lebih dari 40 hari.

Poster ini memperlihatkan kota-kota ternama saat itu yang disinggahi; dan juga membandingkan rute penerbangan terjauh bangsa lain seperti Inggris (London-Kapstadt dan London-Madras) serta Perancis (Marseille-Saigon) yang masih lebih pendek daripada rute Amsterdam-Jakarta-Bandung. Poster ini juga menjadi menarik karena menunjukkan rute pelayaran laut internasional pada saat itu, yang menggambarkan jalur transportasi mana yang sangat penting di dunia, selain Amerika, menjelang pertengahan abad ke-20.

Iklan yang menyebutkan penerbangan mingguan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Iklan yang menyebutkan dua penerbangan seminggu
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: 1934
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 21 Februari 2024

Poster propaganda Belanda: Ajakan ke masyarakat untuk mempertahankan Hindia-Belanda, 1944/1945

1944: Ajakan untuk menjadi sukarelawan darat, laut, dan udara untuk mempertahankan Hindia-Belanda
(klik untuk memperbesar | © Pat Keely / Indies Gallery)
1945: "Hindia-Belanda mengandalkanmu", "(Kenali) hak dan kewajiban(mu)"
(klik untuk memperbesar | © Hendrik Paulides / Indies Gallery)

Waktu: 1944, 1945
Tempat: Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar: Pat Keely (gambar pertama) / Hendrik Paulides (gambar kedua)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 27 Februari 2022

Poster rekrutmen prajurit KNIL

"Perkuat barisan kita!"
(klik untuk memperbesar | © collectiegelderland)

Waktu: masa penjajahan Belanda
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Collectie Gelderland
Catatan:

Kamis, 24 Juni 2021

Poster menyambut seperempat abad penobatan Ratu Wilhelmina, 1923

(klik untuk memperbesar | © Johan Isings / AVS)

Waktu: 1923
Tempat: lukisan dibuat di Belanda
Tokoh: Wilhelmina Helena Pauline Maria (Ratu Belanda, digambarkan di batu marmer di lukisan di atas)
Peristiwa: Poster di atas menyambut 25 tahun bertahtanya Wilhelmina sebagai Ratu Belanda, dan memuat banyak perlambang. Nona Belanda kali ini ditampilkan ada dua. Yang di sebelah kanan menyambut masyarakat Belanda yang a.l diwakili oleh kalangan bangsawan, militer, cendekiawan, masyarakat pedesaan, pekerja, pelaut, dll. dengan persembahan karya kebanggaan Belanda a.l. kapal laut dan lukisan. Yang di sebelah kanan, dengan latar belakang pepohonan, menyambut warga Nusantara seperti orang Jawa, Aceh, Minang, Bali, dan Dayak dengan didampingi (atau dijaga?) tentara KNIL dan pejabat kolonial Belanda. Persembahan dari arah kanan bentuknya adalah gamelan, kerajinan tangan, tenunan, dan buah-buahan.
Juru foto/gambar: Johan Isings
Sumber / Hak cipta: C.C. Callenbach | Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 26 Februari 2021

Poster propaganda anti-Belanda dari para pemuda Situbondo, 1947

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster ini tampaknya beredar di sekitar Aksi Polisionil I, dan menggambarkan bahwa persatuan warga Indonesia bisa merupakan senjata tangguh untuk mengungguli kekuatan militer Belanda. Poster ini bertera "BAD(AN KON)GRES PEMOEDA" serta cap "DEWAN PIMPINAN PEMOEDA SITOEBONDO ...". Poster ini cukup menarik karena dicetak berwarna, berbeda dengan poster perjuangan lain yang umumnya dua warna.

Waktu: 1947
Tempat: Situbondo
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 14 Februari 2021

Poster partai politik Belanda yang mendukung dan menolak kemerdekaan Indonesia, 1929/1933/1948

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster di atas diterbitkan oleh Partai Komunis Belanda dalam kampanye pemilihan umum parlemen Belanda di tahun 1929. Poster ini menyatakan bahwa 50 juta rakyat Indonesia mulutnya dibungkam, dengan bendera Belanda, dan oleh tangan dengan tera Singa Belanda; dan bahwa hanya Partai Komunis Belanda yang berjuang untuk mereka, dan karenanya menyeru rakyat Belanda agar memilih Louis de Visser, Ketua Partai Komunis Belanda saat itu.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Pemberontakan kapal perang De Zeven Provinciën di perairan Hindia-Belanda di bulan Februari 1933 menggoncang dunia politik Belanda yang tidak menyangkan akan adanya pembangkangan dari kalangan bersenjata di wilayah Hindia-Belanda terhadap pemerintah Belanda. Dalam pemilihan umum parlemen Belanda tahun 1933 kalangan komunis Belanda menggunakan peristiwa ini untuk menyerukan lepasnya Indonesia dari (kekuasaan) Belanda, dan mengutip ucapan Karl Marx (tapi dengan menampilkan siluet Lenin) bahwa "Suatu bangsa tidak akan bebas selama ia menindas bangsa lain".

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Posisi yang berbeda dipegang oleh Partai Anti-Revolusioner. Dalam pemilihan umum Belanda tahun 1948, di tengah konflik bersenjata di Indonesia, partai Protestan konservativ yang a.l. dimotor oleh ini menyatakan bahwa yang harus ditegakan di Hindia-Belanda adalah hukum (Belanda) dan bukan kekacauan yang ditimbulkan oleh Republik (Indonesia).

Waktu: 1929, 1933, 1948
Tempat: poster di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke hal terkait Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 12 Februari 2021

Sambutan atas penerbangan cepat dari Belanda ke Indonesia, 1933-1934

Setelah berhasil melakukan penerbangan langsung dari Belanda ke Indonesia di tahun 1924, para perintis penerbangan Belanda membuat rekor baru di bulan Desember tahun 1933: penerbangan Belanda-Indonesia dalam waktu 4 hari, sebuah prestasi yang mencengangkan di saat itu (lihat posting tentang ini).

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Di bulan November 1933, sudah keluar perangko yang menggambarkan akan adanya penerbangan pos cepat pertama antara Amsterdam dan Jakarta. Gambar yang ditampilkan pesawat berbaling-baling tiga, yang sedikit banyak mirip dengan pesawat Fokker F18 "Pelikan" yang sebulan kemudian melakukan penerbangan yang sebenarnya.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster ini keluar tahun 1934 untuk mengenang pesawat "Pelikan" dan empat awaknya yang menempuh rute penerbangan terpanjang di dunia saat itu sejauh 14.350 km. Sebagai perbandingan, poster ini menunjukkan rute penerbangan terjauh negara lain seperti Inggris (London-Kapstadt dan London-Madras), serta Perancis (Marseille-Saigon) yang masih lebih pendek daripada Amsterdam-Jakarta-Bandung.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Kalau sebelumnya pabrik biskuit Elder membuat permainan papan untuk mengenang penerbangan H-NACC di tahun 1924, maka kali ini giliran pabrik semir sepatu Erdal untuk membuat permainan yang mirip untuk mengenang penerbangan Pelikan PH-AIP. Permainan ini memperlihatkan rute mulai dari Amsterdam dengan tujuan Jakarta, dilanjutkan ke Bandung, dan kembali ke Amsterdam.

Waktu: 1933, 1934
Tempat: 
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 13 Januari 2021

Poster dan gambar tentang pameran budaya Nusantara di berbagai ajang eksebisi, 1873-1951

Paviliun Hindia-Belanda di Pameran Dunia di Wina, Austria, 1873
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster pameran kolonial di Semarang, 1914
(klik untuk memperbesar | © Albert Hahn sr. / AVS)

Poster pameran budaya Hindia Barat dan Timur di Arnheim, Belanda, 1928
(klik untuk memperbesar | © Nicolaas de Koo / AVS)

Rumah batak di Pameran Kolonial Internasional di Paris, Perancis, 1931
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster pameran budaya Antilles, Indonesia, dan Suriname di Haarlem, Belanda, 1950/1951
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1873, 1914, 1928, 1931, 1951
Tempat: Arnheim dan Haarlem, Paris (Perancis), Semarang, Wina (Austria)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Albert Hahn sr. (nomor 2) | Nicolaas de Koo (nomor 3)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 11 Januari 2021

Poster komunikasi radio/telepon antara Belanda dan Nusantara, 1932/1934

Antara tahun 1929 dan 1932
(klik untuk memperbesar | © Han Harloff / AVS)

Pembangunan stasiun radio Malabar merupakan kebanggaan teknologi bagi Belanda. Dengan sarana tercanggih di bagian selatan dunia saat ini ini, komunikasi langsung tanpa kabel bisa terjalin antara dua tenpat dengan jarak sekitar 15000 km. Catatan di poster di atas menyebutkan bahwa tarif bicara dari Belanda ke Nusantara saat itu adalah 30 gulden untuk 3 menit pertama; ini lebih tinggi daripada penghasilan seorang pekerja rata-rata di Belanda dalam satu minggu.

Antara tahun 1930 dan 1934
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster ini lebih baru daripada yang di atas, dan tampaknya ditujukan ke warga Belanda di Nusantara. Judulnya "Bicaralah dengan tanah air", dengan penggambaran keluarga muda di Hindia-Belanda dengan orang tua di Belanda. Pesawat teleponnya pun sudah digambarkan dengan model rumah tangga.

Waktu: 1932, 1934
Tempat: Belanda & Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Han Harloff (atas)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 05 Januari 2021

Poster iklan pariwisata Hindia-Belanda, 1925-1937

Come and see Netherland India
Iklan keluaran Jawatan Pariwisata Batavia, antara 1925 dan 1929
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Iklan keluaran Persatuan Pariwisata Batavia, antara 1925 dan 1934
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Visit Java Bali
Iklan keluaran Jawatan Penerangan Pariwisata Batavia, 1937
(klik untuk memperbesar | © AVS)


Waktu: 1929, 1934, 1937
Tempat: 
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 20 Desember 2020

Poster propaganda Belanda untuk pembebasan Hindia-Belanda dari pendudukan Jepang, 1945

Hindia-Belanda harus bebas! Kerjakan dan perjuangkan itu!
(klik untuk memperbesar | © Pat Keely / AVS)

Enyah kau! Hindia-Belanda harus dibebaskan …
(klik untuk memperbesar | © Nico Broekman / AVS)

Dan sekarang Hindia-Belanda! Daftarkan diri sebagai sukarelawan
(klik untuk memperbesar | © Salverda / AVS)

The Flying Dutchman membantu pembebasan Hindia-Belanda; daftarkan diri di Angkatan Udara
(klik untuk memperbesar | © P. Brand / AVS)

Hindia-Belanda harus dibebaskan
(klik untuk memperbesar | © Nico Broekman / AVS)

Waktu: 1945
Tempat: poster di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Hindia-Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Nico Broekman; P. Brand; Pat Keely; Salverda
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 16 Desember 2020

Poster organisasi Katolik dan Protestan Belanda di masa perang kemerdekaan, 1946-1949

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster ini dikeluarkan oleh Katholiek Thuisfront (Front Tanah-Air Katolik) di sekitar tahun 1946/1947. Bagian bawah memperlihatkan aksi militer Belanda di darat, laut, dan udara di Indonesia (dilambangkan dengan dua pohon kelapa); sementara bagian atas memperlihatkan Belanda dengan kincir angin dan siluet bangunan. Setan mencoba merobek pita penghubung kedua bagian ini, tetapi tidak berhasil, sebagaimana tertulis di atas: onverbreekbaar (tak terpecahkan).

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster ini juga keluaran Katholiek Thuisfront (Front Tanah-Air Katolik) antara tahun 1946 dan 1949, dan berbunyi Achter elk soldaat 'n burger (di belakang tiap prajurit ada warga sipil) yang tampaknya bermakna bahwa penerjunan tentara Belanda di Indonesia didukung oleh khalayak sipil Belanda.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster yang ini dikeluarkan oleh Protestants Interkerkelijk Thuisfront (Front Tanah-Air Lintas Gereja Protestan) di sekitar tahun 1947, dan tidak bertema militer, malah menggambarkan burung perdamaian, dan mengajak Doe mee aan de boekenactie (Ayo ikutan dalam aksi buku) yang tampaknya menyeru warga Belanda untuk menyumbang buku ke Indonesia.

Waktu: antara 1946 dan 1949
Tempat: poster di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:


UPDATE 7 Februari 2021
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster yang lebih netral beredar di Belanda di bulan Januari 1946 dan menyerukan masyarakat Belanda untuk menyumbang demi Hindia-Belanda.

Rabu, 04 November 2020

Door de Eeuwen Trouw, organisasi anti RI pendukung RMS: Pamflet semasa konflik bersenjata dengan TNI, 1950

Door de Eeuwen Trouw ("setia sepanjang masa") adalah sebuah organisasi yang didirikan di tahun 1950 oleh sekelompok warga Belanda yang tidak bersimpati pada Republik Indonesia. Mereka menyokong pembatasan pengaruh Indonesia atas wilayah seperti Maluku, Papua, dan pulau-pulau lain yang jauh dari Jawa. Mereka secara resmi mendukung pembentukan Republik Maluku Selatan. Ketika TNI diterjunkan ke wilayah Maluku untuk menumpas gerakan separatis ini, Door de Eeuwen Trouw melancarkan kampanye dukungan atas RMS seperti poster-poster di bawah ini.

Lembaran musik dukungan atas RMS
(klik untuk memperbesar | © Ary Halsema / AVS)

Poster yang menggambarkan Ambon terancam kelaparan karena blokade TNI
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Seruan pengumpulan sumbangan untuk Ambon
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1950
Tempat: Pamflet di atas beredar di Belanda, mengacu ke konflik di Maluku
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 05 September 2020

Poster rekrutmen prajurit Belanda untuk diterjunkan melawan pejuang kemerdekaan Indonesia, 1945/1946

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: antara 1945 dan 1946
Tempat: poster ini diedarkan di Belanda
Tokoh:
Peristiwa: Ketika Belanda mencoba kembali ke Indonesia setelah Perang Dunia II, dan menghadapi perlawanan rakyat Indonesia, iklan rekrutmen untuk posisi tentara yang akan diterjunkan di Indonesia gencar disuarakan. Berbeda dengan dua poster rekrutmen sebelum ini, kali tidak ada keterangan tentang berapa uang dan penghasilan yang akan diperoleh oleh si tentara. Kali ini yang ditampilkan adalah simbol "singa oranye" yang mengarah ke kartun, bukan ke gambaran tentara dengan seragam dan senjata. Dan seruannya pun adalah "Zie de weereld" (lihatlah dunia), seolah-olah penugasan ini adalah sebuah perjalanan melihat bagian lain dari dunia.
Juru gambar/foto: De La Mar / Frits van Bemmel
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 03 September 2020

Poster rekrutmen tentara marinir Belanda a.l. untuk diterjunkan di Hindia-Belanda, awal abad ke-20

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: antara 1895 dan 1904
Tempat: poster ini diedarkan di Belanda
Tokoh:
Peristiwa: Poster iklan rekrutmen tentara ini diedarkan di Belanda ketika Perang Aceh sedang berkecamuk. Berbeda dengan poster yang dimuat di blog ini dua hari lalu, iklan rekrutmen tentara ini khusus untuk kesatuan marinir, dan penugasan selain di Hindia-Belanda, juga bisa di Belanda sendiri, atau di Suriname.
Juru gambar/foto:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 01 September 2020

Poster rekrutmen prajurit Belanda untuk diterjunkan di negeri jajahan, akhir abad ke-19

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: antara 1891 dan 1895
Tempat: poster ini diedarkan di Belanda
Tokoh:
Peristiwa: Abad ke-19 termasuk masa yang bergolak bagi pemerintahan jajahan Hindia-Belanda. Perang Diponegoro, Perang Aceh, Ekspedisi Lombok, dll. merupakan contoh di mana Belanda memerlukan banyak tentara untuk menghadapi perlawanan rakyat di Nusantara. Poster di atas dengan jelas menunjukkan motif alam Indonesia untuk menegaskan di mana para prajurit ini nantinya ditugaskan.
Juru gambar/foto:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 21 Juni 2020

Iklan perekrutan tentara marinir Belanda untuk diterjunkan di Indonesia, 1945

Di awal tahun 1945, Jepang dan Jerman sudah berada di posisi mundur, defensif, dan banyak kehilangan wilayah. Pemerintah Belanda tampaknya sudah merasa yakin bahwa Jerman bukan lagi ancaman di Belanda, dan bahwa kekuatan militer sudah perlu diterjunkan di wilayah Indonesia dengan slogan Bevrijdt Indie! (bebaskan Hindia-Belanda dari kekuasaan Jepang).

Poster untuk menarik para pemuda untuk digembleng menjadi prajurit marinir, dengan tujuan nan jauh Indonesia, diedarkan di Belanda. Tampaknya tujuan dari perekrutan ini adalah untuk menghadapi pasukan Jepang. Dalam kenyataannya, pasukan marinir Belanda ini kemudian harus bertempur melawan para pemuda Indonesia.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster ini mengiklankan penggemblengan menjadi marinir di Amerika dalam 50 latihan.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Penggemblengan bukan hanya ditujukan untuk pelatihan perang semata, tetapi juga bidang penunjang lainnya seperti juru komunikasi, ahli bangunan, tukang masak, pakar kendaraan, juru mesin, hingga ke pakar sepatu.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster ini mencantumkan syarat-syarat perekrutan terkait usia, kemampuan bahasa, serta ketentuan lain.

Waktu:  1945
Tempat:  Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 26 Mei 2020

Peringatan untuk tentara Belanda akan kemungkinan penyadapan surat dan telepon

Semasa perang kemerdekaan, pihak Belanda khawatir bahwa komunikasi telepon atau surat yang dibuat tentara Belanda bisa disadap pihak Indonesia. Poster-poster ini mengingatkan mereka untuk berhati-hati.

Awas! Informasi bisa merengut nyawa. Hancurkan catatanmu. Jangan menulis tentang aktifitas militer di suratmu.
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Hati-hati memilih kata. Informasi bisa merengut nyawa.
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: semasa perang kemerdekaan
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: