 |
Peta dengan penomoran di beberapa daerah, beserta wajah penduduk daerah tsb. (Lampung, Palembang, Djakarta, Sunda, Solo, Djokja, Madura, Bali, Flores, Sumba, Timur, Makasar, Bugis, Buton, Dajak, Sangir, Menado, Donggala, Napoe-Toradja, Bada-Toradja, Moena) (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
Waktu: ?
Tempat: Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta:
Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Peta ini sejatinya memunculkan beberapa pertanyaan. Di tahun 1930an penduduk Hindia-Belanda sudah mencapai 60 juta, yang memberi dugaan bahwa peta ini berasal dari era ini. Tetapi peta ini tidak menggunakan bahasa Belanda, serta menggunakan kata "Indonsia" atau "bangsa Indonesia" yang menyiratkan bahwa ini dibuat setelah Indonesia merdeka. Tetapi berikutnya, peta ini menyebut "Borneo" bukan "Kalimantan", serta "Papoea" bukan "Irian" yang kembali membawa kita ke masa sebelum proklamasi. Tambah membingungkan: Penulisan bunyi "u" terkadang "oe" (
oekoeran, djoemlah pendoedoek, dsb.), terkadang juga "u" (Lampung, Sunda, Madura, dsb.). Pertanyaan tambahan: Tidak ada wajah dari suku lain yang juga dominan seperti Aceh, Batak, atau Minangkabau.