Sabtu, 21 Maret 2026

Lima rangkaian wajah-wajah penduduk Nusantara di sekitar tahun 1941

Senyum pemetik teh di Jawa Barat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga Tionghoa pengolah timah di Belitung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua petani membajak sawah di Jawa Barat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang Dayak di selatan Kalimantan menggunakan sipet ketika berburu 
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang perempuan Jawa menggunakan canting dalam membatik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: sekitar 1941
Tempat: Belitung, Jawa, Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 20 Maret 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Perang Aceh (1)

Sebuah kesatuan Belanda bersenjatakan meriam bergerak kaliber 12 cm
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Sebuah kesatuan Belanda dengan penembak mortir statis
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1874
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Haarlem (Belanda)
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Emrik & Binger
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Lukisan-lukisan di atas tampaknya merupakan reproduksi tangan atas foto-foto keluaran Topografische Dienst van Nederlands-Indiƫ (lihat posting di sini dan sini).

Kamis, 19 Maret 2026

Alun-alun Keraton Solo di tahun 1948

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: April 1948
Tempat: Surakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 18 Maret 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Serangan armada VOC atas Kesultanan Palembang

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: sekitar 1725
Tahun peristiwa: kemungkinan 1659
Tempat terbit: Leyden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Pieter van der Aa
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Selasa, 17 Maret 2026

Residen Semarang, Pieter Sijthoff, beserta pengiringnya, 1904

Residen Semarang, Pieter Sijthoff, beserta pengiringnya yang membawa payung kebesaran dan tanpa alas kaki
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1904
Tempat: Semarang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 15 Maret 2026

Peta Indonesia ketika jumlah penduduknya masih 59 juta

Peta dengan penomoran di beberapa daerah, beserta wajah penduduk daerah tsb. (Lampung, Palembang, Djakarta, Sunda, Solo, Djokja, Madura, Bali, Flores, Sumba, Timur, Makasar, Bugis, Buton, Dajak, Sangir, Menado, Donggala, Napoe-Toradja, Bada-Toradja, Moena)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: ?
Tempat: Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Peta ini sejatinya memunculkan beberapa pertanyaan. Di tahun 1930an penduduk Hindia-Belanda sudah mencapai 60 juta, yang memberi dugaan bahwa peta ini berasal dari era ini. Tetapi peta ini tidak menggunakan bahasa Belanda, serta menggunakan kata "Indonsia" atau "bangsa Indonesia" yang menyiratkan bahwa ini dibuat setelah Indonesia merdeka. Tetapi berikutnya, peta ini menyebut "Borneo" bukan "Kalimantan", serta "Papoea" bukan "Irian" yang kembali membawa kita ke masa sebelum proklamasi. Tambah membingungkan: Penulisan bunyi "u" terkadang "oe" (oekoeran, djoemlah pendoedoek, dsb.), terkadang juga "u" (Lampung, Sunda, Madura, dsb.). Pertanyaan tambahan: Tidak ada wajah dari suku lain yang juga dominan seperti Aceh, Batak, atau Minangkabau.