Selasa, 27 Oktober 2026

Fasisme di Hindia Belanda: Kunjungan Anton Mussert ke Nusantara (5)

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, termasuk kunjungan pucuk pimpinan NSB Anton Mussert dari Belanda ke Jawa bulan Juli/Agustus 1935.


Anton Mussert (ketiga dari kiri) bersama pentolan dan simpatisan NSB di Jawa Timur, a.l. Kruysbosch (paling kiri) dan Kapten K.L. Koppen (kedua dari kiri)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anton Mussert (paling kanan) di platform sebuah meriam penangkis serangan udara di sebuah tangsi KNIL di Jawa Timur
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Malang: Demonstrasi sebuah pesawat layang (karya Ir. Byvoet?) pada saat kujungan Anton Mussert ke kota ini
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Malang: Ir. Byvoet, yang kemungkinan merancang dan merakit pesawat layang ini, menunjukkan karya dirgantara ini kepada Anton Mussert
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jember: Para anggota dan pendukung NSB yang datang dengan bus dari Malang, sebagian dengan seragam gelap-gelap, menghadiri acara kedatangan Anton Mussert di Jember
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Juli/Agustus 1935
Tempat: Jember, Malang, Surabaya
Tokoh: Anton Adriaan Mussert (tokoh utama fasisme di Belanda)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting awal tentang kunjungan Anton Mussert ini, yang a.l. memuat edisi lain dari foto nomor 1.

Senin, 26 Oktober 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang pria dan wanita Jawa

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: ~1790
Tahun peristiwa: abad ke-18 atau sebelumnya
Tempat terbit: Inggris (?)
Tokoh:
Deskripsi: Lukisan di atas, meskipun menampilkan sepasang warga Jawa, sudah terlalu "dibaratkan", terutama di proporsi tubuh serta paras si perempuan. Meski demikian, lukisan ini bisa mengindikasikan beberapa kekhasan yang dilihat orang Eropa di perkampungan warga Jawa. Misalnya bahwa pria Jawa umumnya bertelanjang dada, serta hanya memakai kain bawahan; tetapi tutup kepala, yang kemungkinan harusnya berbentuk blangkon atau ikatan, merupakan sesuatu yang "wajib". Perempuannya lebih tertutup, dengan kemben, baju atasan serta kain bawahan, dilengkapi dengan sehelai selendang serta model rambut yang disanggul ke belakang. Rumah warga Jawa biasa terbuat dari kayu dan bambu, dengan pagar rumah dari bambu yang dalam aslinya tidak serapat seperti digambarkan di lukisan. Di halaman rumah boleh jadi ada juga "rumah" yang lebih kecil, kemungkinan merupakan lumbung padi atau kandang hewan. Hal lain yang dicatat orang Eropa: Warga Jawa merupakan pemelihara burung, dan membuat kandang burung tinggi di atas sebuah tiang pohon.
Juru foto/gambar: anonymous
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Minggu, 25 Oktober 2026

Fasisme di Hindia Belanda: Kunjungan Anton Mussert ke Nusantara (4)

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, termasuk kunjungan pucuk pimpinan NSB Anton Mussert dari Belanda ke Jawa bulan Juli/Agustus 1935.


Anton Mussert (paling kiri) mengunjungi sebuah fasilitas militer milik KNIL …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… di mana seorang perwira KNIL yang bersimpati pada NSB, Kapten K.L. Koppen, menemaninya …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dalam menginspeksi tangsi tentara KNIL ini.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kapten K.L. Koppen dan Anton Mussert
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kapten K.L. Koppen menerangkan cara kerja meriam anti serangan udara kepada Anton Mussert
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Juli/Agustus 1935
Tempat: Surabaya (menurut catatan foto, meskipun ada kemungkinan ini sebenarnya di Malang)
Tokoh: Anton Adriaan Mussert (tokoh utama fasisme di Belanda)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting awal tentang kunjungan Anton Mussert ini.

Sabtu, 24 Oktober 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Foto kuno tentang tandu kerajaan untuk mengangkut putri Kesultanan Gowa

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: ~1870
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Jakarta
Tokoh:
Deskripsi: Pada zaman dahulu para anggota keluarga kerajaan, terutama kaum wanita dan anak-anak, jika melakukan perjalanan akan ditandu oleh para lelaki yang memang khusus bertugas untuk memikul kotak berisi bangsawan ini. Ini merupakan kebiasaan yang ada di berbagai penjuru dunia, termasuk di Gowa, Sulawesi Selatan. Foto di atas memperlihatkan tanda kerajaan yang dihias dengan motif angsa. Bentuk angsa ini muncul di atap tandu, serta menghiasi sekeliling tandu dalam bentuk dua kepala, sayap, serta ekor. Seperti tradisi di belahan dunia lain, tandu ini tertutup, dan pengisinya harus membuka atau menyikap tirai apabila ingin melihat ke luar.
Juru foto/gambar: Woodbury & Page
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Jumat, 23 Oktober 2026

Fasisme di Hindia Belanda: Kunjungan Anton Mussert ke Nusantara (3)

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, termasuk kunjungan pucuk pimpinan NSB Anton Mussert dari Belanda ke Jawa bulan Juli/Agustus 1935.


Anton Mussert (paling kiri) memperhatikan demonstrasi penggunaan meriam anti serangan udara oleh kesatuan KNIL yang komandannya bersimpati pada NSB
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anton Mussert bersama para pendukungnya seperti Kapten A.L. Koppen (tengah) dan tokoh NSB di Jawa Timur, Kruysbosch (kanan)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kruysbosch (kiri) mengamati Mussert (tengah) yang sedang menyalami seorang pria, kemungkinan di sekitar Jalan Opak, Surabaya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kapten A.L. Koppen (kiri) mendampingi Mussert dan para petinggi NSB di Jawa yang mengunjungi fasilitas KNIL …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… a.l. sebuah meriam anti serangan udara
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Juli/Agustus 1935
Tempat: Surabaya (menurut catatan foto)
Tokoh: Anton Adriaan Mussert (tokoh utama fasisme di Belanda)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: 1) Lihat juga posting awal tentang kunjungan Anton Mussert ini. 2) Foto nomor 1, 2, 4, dan 5 ada kemungkinan juga berasal dari Malang.

Kamis, 22 Oktober 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Foto kuno tentang rumah gadang milik seorang rajo mangkuto di Minangkabau

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: ~1870
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Jakarta
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Woodbury & Page
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Rabu, 21 Oktober 2026

Fasisme di Hindia Belanda: Kunjungan Anton Mussert ke Nusantara (2)

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, termasuk kunjungan pucuk pimpinan NSB Anton Mussert dari Belanda ke Jawa bulan Juli/Agustus 1935.


1 Agustus 1935: Anton Mussert berorasi di podium dengan lambang NSB, diperhatikan oleh para aktivis NSB berseragam gelap
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anton Mussert berpose di sebuah rumah di Surabaya yang menjadi markas dan kantornya selama kunjungan ke Hindia-Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anton Mussert tiba di stasiun kereta Surabaya dan disambut para pengikutnya, termasuk seorang lelaki berwajah lokal (campuran?) di kiri depan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Rumah keluarga Logeman di Jalan Opak, Surabaya, yang menjadi markas Anton Mussert
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anton Mussert tiba di kediaman keluarga Logeman di Jalan Opak, Surabaya, yang menjadi markasnya selama kunjungan ke Hindia-Belanda (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Juli/Agustus 1935
Tempat: Surabaya
Tokoh: Anton Adriaan Mussert (tokoh utama fasisme di Belanda)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting awal tentang kunjungan Anton Mussert ini.