Rabu, 04 November 2026

Fasisme di Hindia Belanda: Kunjungan Anton Mussert ke Nusantara (9)

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, termasuk kunjungan pucuk pimpinan NSB Anton Mussert dari Belanda ke Jawa bulan Juli/Agustus 1935.


Anton Mussert tiba di landasan pacu Darmo dan disambut para pendukung NSB yang akan melepasnya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anton Mussert berbincang dengan para simpatisan beratnya …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dan tidak berhenti untuk menyahut salam para pendukungnya dengan balasan salam khas Hitler
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anton Mussert bersama salah satu tokoh utama NSB di Hindia-Belanda: Kruysbosch
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Salam perpisahan terakhir dari Anton Mussert sebelum meninggalkan Surabaya selama-lamanya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Agustus 1935
Tempat: Surabaya
Tokoh: Anton Adriaan Mussert (tokoh utama fasisme di Belanda)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting awal tentang kunjungan Anton Mussert ini.

Selasa, 03 November 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang rumah jagal di Jakarta di akhir abad ke-17

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: ~1700
Tahun peristiwa: pertengahan abad ke-17
Tempat terbit: Inggris atau Belanda
Tokoh:
Deskripsi: Gambar di atas memperlihatkan rumah pejagalan di Jakarta di pertengahan abad ke-17. Rumah ini terdiri dari dua bagian yang dihubungkan oleh sebuah jembatan dengan kolong melengkung yang bisa dilalui perahu. Di kiri kanan tampak perahu membawa ternak sapi, ada yang tercebur ke air dan dicoba ditarik oleh awak perahu. Di pintu kiri rumah jagal tampak seekor kuda (?) akan dimasukkan, sementara di pintu kanan sekawanan domba dan sapi. Berdasarkan lukisan ini dan yang sezaman memang banyak terlihat bahwa Jakarta saat itu banyak memiliki fasilitas di tepi saluran air, dan lalu lintas antar bagian kota itu dilakukan melalui jalur air/kali; sesuatu yang membuat kota seperti Venezia menjadi masyhur. Gambar ini sendiri merupakan versi  yang diwarnai dan diberi judul berbahasa Inggris dari karya hitam-putih dalam bahasa Belanda (lihat posting ini).
Juru foto/gambar: aslinya oleh Johan Nieuhof yang menggambarkan berdasarkan karya orang lain tanpa nama
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Senin, 02 November 2026

Fasisme di Hindia Belanda: Kunjungan Anton Mussert ke Nusantara (8)

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, termasuk kunjungan pucuk pimpinan NSB Anton Mussert dari Belanda ke Jawa bulan Juli/Agustus 1935.


Anton Mussert memasuki sebuah mobil, meninggalkan sebuah bangunan berlambang NSB di Surabaya dan dijaga pria berseragam gelap NSB
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jalan Opak, Surabaya, yang menjadi markas sementara Anton Mussert, tampaknya di hari terakhir dia berada di Hindia Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anton Mussert keluar rumah disambut "salam Hitler" (rentangan tinggi tangan kanan dengan telapak tangan terbuka ke depan) dan dia menyahut dengan cara Hitler membalas salam para pendukungnya (mengangkat tangan kanan setinggi kepala dengan telapak tangan terbuka dan sedikit ditekuk ke belakang)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anton Mussert menatap balik rumah di Jalan Opak no. 21 yang menjadi markasnya selama di Hindia-Belanda, sebelum pulang ke Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para pendukung dan simpatisan NSB berkumpul di landasan pacu Darmo untuk melepas kepulangan Anton Mussert ke Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Agustus 1935
Tempat: Surabaya
Tokoh: Anton Adriaan Mussert (tokoh utama fasisme di Belanda)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting awal tentang kunjungan Anton Mussert ini.

Minggu, 01 November 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang rumah Residen Besuki, Situbondo

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: ~1835
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Perancis
Tokoh:
Deskripsi: Gambar di atas berasal dari buku berbahasa Perancis dengan judul panjang Voyage autour du monde par les mers de l’Inde et de la Chine de la corvette de sa Majeste La Favorite execute pendant les annees 1830, 1831, 1832 sous le commandement de M. Laplace, yang mengisahkan pelayaran kapal La Favorite menjelajah dari Perancis ke Tiongkok dan wilayah Nusantara di tahun 1830-1832. Tim ekspedia a.l. berlabuh di Besuki dan mengunjungi rumah kediaman residen Belanda seperti yang tergambar di atas. Jembatan yang berada di latar tengah kemungkinan merupakan sarana untuk menyebarangi Sungai Jumain.
Juru foto/gambar: Sigismond Himely
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Sabtu, 31 Oktober 2026

Fasisme di Hindia Belanda: Kunjungan Anton Mussert ke Nusantara (7)

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, termasuk kunjungan pucuk pimpinan NSB Anton Mussert dari Belanda ke Jawa bulan Juli/Agustus 1935.


Anton Mussert (paling kanan) pamit dari pendukung NSB di Jember, yaitu keluarga Brinkman (tengah), yang tinggal di dekat Stasiun Kotok
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anton Mussert di Jalan Opak, Surabaya, bersama seorang bangsawan Jawa yang oleh catatan foto disebut sebagai "Patih Solo"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anton Mussert bersama beberapa tokoh lokal, yang oleh catatan foto disebut "Patih Solo" (apling kiri), "Jayadiningrat" (kedua dari kiri), dan "Noto Suroto" (kedua atau ketiga dari kanan)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anton Mussert (tengah) di teras sebuah rumah di Jalan Opak, Surabaya, yang dijadikan markas sementara NSB
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anton Mussert bersama petinggi NSB di Jawa, yaitu Kruysbosch yang merupakan mantan kapten artileri
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Juli/Agustus 1935
Tempat: Surabaya
Tokoh: Anton Adriaan Mussert (tokoh utama fasisme di Belanda)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting awal tentang kunjungan Anton Mussert ini yang juga memuat edisi lain dari foto nomor 4.

Jumat, 30 Oktober 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang Bogor untuk mengenang Thomas Stamford Raffles dan kekuasaan Inggris di Jawa

Istana Gubernur Jenderal, sekarang Istana Bogor, dilihat dari seberang Sungai Cisadane dengan latar belakang Gunung Gede
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Pemandangan ke arah Gunung Gede dari Istana Gubernur Jenderal, dengan Sungai Ciliwung di sisi kiri serta perkampungan di sisi kanan
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1835
Tahun peristiwa: awal abad ke19
Tempat terbit: London
Tokoh:
Deskripsi: Versi tidak berwarna dari kedua lukisan di atas pernah dimuat di posting ini yang bersandar pada edisi gambar keluaran 1830. Lukisan-lukisan ini diambil dari buku karya istri Raffles, Sophia, yang berjudul Memoir of the life and public services of Sir Thomas Stamford Raffles: particularly in the government of Java, 1811-1816, and of Bencoolen and its dependencies, 1817-1824: with details of the commerce and resources of the Eastern archipelago, and selections from his correspondence. Ini merupakan karya yang mengenang masa kekuasaan Kerajaan Inggris di Jawa.
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Kamis, 29 Oktober 2026

Fasisme di Hindia Belanda: Kunjungan Anton Mussert ke Nusantara (6)

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, termasuk kunjungan pucuk pimpinan NSB Anton Mussert dari Belanda ke Jawa bulan Juli/Agustus 1935.


23 anggota dan pendukung NSB dari Malang, sebagian berseragam gelap-gelap …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… datang ke Jember dengan bus untuk mengikuti pertemuan NSB
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pertemuan NSB di Jember
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pertemuan akbar NSB di Surabaya. Anton Mussert berjalan paling depan penuh percaya diri, diikuti barisan para pendukung dekatnya. Hadirin menyambut kedatangan Anton dengan berdiri dan banyak di antara mereka mengacungkan salam fasis yang juga dikenal dengan nama Hitlergruß.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Orasi Anton Mussert di pertemuan NSB di Surabaya. Slogan het fascisme verafschuwt egoïsten en kritikasters di kanan belakang bermakna "fasisme membenci para egois dan kritikus", sebuah pandangan kaum fasis terhadap lawan mereka yang dianggap hanya memikirkan diri sendiri dan mencela.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Juli/Agustus 1935
Tempat: Jember, Surabaya
Tokoh: Anton Adriaan Mussert (tokoh utama fasisme di Belanda)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting awal tentang kunjungan Anton Mussert ini.