Tampilkan postingan dengan label Sumba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumba. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Juni 2024

Peta dari tahun 1910: Bali dan Nusa Tenggara

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1910
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Peta menjelang era modern ini memperlihatkan pulau-pulau yang dikelompokkan sebagai Kleine Soenda-Eilanden (Kepulauan Sunda Kecil), yang sekarang meliputi tiga provinsi, yaitu Bali, NTB, dan NTT. Peta ini memperlihatkan juga detail dari Bali dan Lombok, bagian tengah Flores, ujung barat Timor serta Pulau Rote, dan Kepulauan Solor.
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 23 Mei 2024

Peta kuno dari tahun 1724/1726: Sumbawa dan Nusa Tenggara Timur

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1724-1726
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Sebuah peta yang memperlihatkan Pulau Sumbawa dan pulau-pulau di Nusa Tenggara Timur termasuk Alor (saat itu disebut Pulau Ombo), Flores (saat itu disebut Floris of Ende), Lembata, Pantar, Rote, Solor, Sumba (saat itu disebut Pulau Cendana),dan Timor.
Juru kartografi: François Valentyn
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Pulau Timor tampak belum lengkap tergambar, terutama bagian timurnya. Pulau Rote dan Semau tampak tertukar. Pulau Sawu (Sauvo) tergambar terlalu dekat dengan Pulau Sumba.

Selasa, 13 April 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (23)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


102. Bagian hulu Sungai Pematang di Sumatera Selatan
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
103. Sungai Kapuas, Kalimantan
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
104. Info di foto ini harus diperiksa lebih lanjut karena nama Liang Karing ada di Sumatera Utara, bukan di sekitar Sungai Mahakam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
105. Pemandangan di Sumba
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
106. Salah satu kali yang melintasi Palembang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
107. Sebuah jalan yang diapit pohon-pohon asam di Makassar, di sebelah kanan kemungkinan adalah gereja yang sekarang menjadi GPIB Immanuel
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Sumatera Selatan, Kalimantan, ?, Sumba, Palembang, Makassar
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Universiteit Leiden
Catatan:

Sabtu, 04 April 2020

Empat foto dari Sumba dan Timor di awal abad ke-20

Timor, antara 1905-1910: Para pembesar Belanda, dan lokal, setelah pentas anak-anak Timor
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gadis Timor
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Lelaki Sumba, sekitar 1930
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Tarian warga Sumba (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: l.d.a.
Tempat: Sumba, Timor
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 02 Mei 2018

Para raja Sumba bersama administrator Belanda, L.C. Heyting, 1933

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1933
Tempat: Waingapu (Sumba)
Tokoh:
Peristiwa: Para raja Sumba berkumpul mengucapkan selamat jalan kepada administrator L.C. Heyting yang pulang ke Belanda.
Fotografer: Wa Tjioe
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan foto menyebutkan nama-nama raja sbb.: Taku Geli (Laura), Umbu Pati (Wewewa/Waijewa), Dera Wula (Kodi), David Bulan (Kodibengeto-Kodibelager), Koki Daha (Lauli), Umbu Mohamad (Memboro), Umbu Mbili Ngemunasa (Umbu Ratu Nggay), Umbu Sapi Pateuku (Anakalang), Guling Manyoba (Wanokaka), Eda Bora (Lamboya)

Rabu, 31 Desember 2014

Para pemain pasola di Sumba sekitar tahun 1910

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: sekitar tahun 1910
Tempat: Sumba (Barat)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Franz Otto Koch
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: