Tampilkan postingan dengan label 1956. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1956. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 April 2026

Dari koleksi foto seorang warga Sekolah Guru B di Sambas di tahun 1956 (3)

Rangkaian foto berikut hanya memiliki sedikit catatan. Tetapi foto bisa teridentifikasi bahwa pemilik kumpulan foto ini merupakan warga dari Sekolah Guru B di Sambas di tahun 1956, kemungkinan salah satu tenaga pengajar.


Danau wisata Sebedang di Sambas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
25 Mei 1956: Foto bersama siswa dan guru KLP-SGB
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
10 Juli 1956: Foto bersama setelah kelulusan menyusul ujian akhir di SGB
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1956
Tempat: Sambas
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 06 April 2026

Dari koleksi foto seorang warga Sekolah Guru B di Sambas di tahun 1956 (2)

Rangkaian foto berikut hanya memiliki sedikit catatan. Tetapi foto bisa teridentifikasi bahwa pemilik kumpulan foto ini merupakan warga dari Sekolah Guru B di Sambas di tahun 1956, kemungkinan salah satu tenaga pengajar.


Ruang pameran sekolah yang selain berisi karya siswa dan poster, juga bola dunia dan model kerangka manusia
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kolam pemandian Puting/Poteng di Singkawang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kesebelasan SGB Sambas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pengurus PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) cabang Sambas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1956
Tempat: Sambas
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 04 April 2026

Dari koleksi foto seorang warga Sekolah Guru B di Sambas di tahun 1956 (1)

Rangkaian foto berikut hanya memiliki sedikit catatan. Tetapi foto bisa teridentifikasi bahwa pemilik kumpulan foto ini merupakan warga dari Sekolah Guru B di Sambas di tahun 1956, kemungkinan salah satu tenaga pengajar.


Latihan senam untuk para siswa SGB, yang menurut catatan foto dipimpin oleh orang bernama "M. Moestam"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bioskop di Sambas yang sedang menayangkan film berjudul Ratapan Ibu
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kedatangan inspektur pendidikan guru dari Banjarmasin ke SGB Sambas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Masjid Jami Sultan Muhammad Syafiudin yang merupakan warisan dari Kesultanan Sambas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1956
Tempat: Sambas
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 23 Februari 2026

Pelantikan Ali Sastroamidjojo sebagai perdana menteri untuk kedua kalinya, 2 April 1956

Ali Sastroamidjojo mengucapkan sumpah di bawah Al-Quran untuk memimpin Kabinet Ali Sastroamidjojo II
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 2 April 1956
Tempat: Jakarta
Tokoh: Ali Sastroamidjojo (salah satu pendiri Republik Indonesia)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 16 Januari 2026

Dua pucuk pimpinan Divisi Siliwangi di tahun 1956: Kol. Alex Kawilarang dan Kol. Achmad Kosasih

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1956
Tempat: Hotel Preanger, Bandung
Tokoh: Kol. Alex Kawilarang (kiri) bersama istrinya, Petronella Isabella van Emden; Kol. Raden Achmad Kosasih (ketiga dari kiri) bersama istri.
Peristiwa: Kemungkinan ini adalah acara perpisahan Kawilarang yang melepas jabatannya sebagai panglima Divisi Sliwangi untuk menempati tugas baru sebagai atase militer di KBRI New York. Kosasih mengambil alih jabatan panglima ini setelah diselingi sebentar oleh Kol. Dadang Suprayogi.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Kawilarang dan Kosasih merupakan para komadan Siliwangi yang tangguh semasa perang kemerdekaan, dan ini mengangkat mereka ke posisi tertinggi di Divisi Siliwangi. Kawilarang malah merupakan perintis terbentuknya kesatuan khusus TNI yang kelak menjadi Kopassus. Dua tahun setelah foto ini dibuat, Kawilarang yang kecewa dengan pemerintah pusat, memutuskan untuk bergabung dengan PRRI/Permesta dan menjadi panglima militernya, sementara Kosasih sebagai Panglima Siliwangi mengirim pasukan a.l. ke Sumatera Barat untuk menumpas pemberontakan ini.

Selasa, 18 Maret 2025

Perkebunan teh "Pangerango" di Sukabumi di sekitar awal tahun 1950-an - 4: Tampak dekat para pegawai dan perpisahan

Perkebunan teh "Pangerango" didirikan perusahaan "H.G.Th. Crone" di sekitar akhir abad ke-19/awal abad ke-20 di Pasir Datar, sebuah desa di kaki Gunung Pangrango, yang sekarang masuk Kecamatan Caringin, Sukabumi. "Henrich Gottfried Theodor Crone" sendiri merupakan sebuah usaha dagang di Amsterdam yang mengimpor hasil bumi dari Hindia-Belanda dan menjualnya di Eropa. Foto-foto berikut tidak mencantumkan tanggal, dan hanya berisi keterangan singkat. Jadi kemungkinan foto-foto ini berisi hal-hal ini:

  • Wajah area perkebunan setelah pemilik Belanda-nya kembali menyusul selesainya Perang Kemerdekaan dan adanya pengakuan kedaulatan dari Belanda terhadap Republik Indonesia.
  • Usaha membangun kembali bangunan pabrik yang tampaknya sebelumnya dibumihanguskan para pejuang kemerdekaan.
  • Wajah warga sekitar yang bekerja di pabrik teh.
  • Wajah para pegawai, termasuk bagian keamanan yang bersenjata api ketika suasana paska-pengakuan kedaulatan situasi masih dianggap belum stabil.
  • Foto perpisahan yang kemungkinan muncul setelah Soekarno menyerukan nasionalisasi aset-aset yang sebelumnya dikuasai dan dijalankan orang dan perusahaan Belanda.

Teh yang sudah dikemas dengan merek Pangerango dan Crone, dikelilingi pekerja dan pegawai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pegawai keuangan di mejanya yang diisi a.l. dengan mesin tik dan brankas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pos keamanan dengan pedang dan deretan senjata api
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Komandan jaga dan pegawai keuangan di dekat sebuah truk
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1956: Acara perpisahan di Hotel Preanger
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1950-an
Tempat: Bandung, Desa Pasir Datar (Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 10 Mei 2022

Kedatangan Soekarno di bandara Beijing, 1956

(klik untuk memperbesar | © nationaalarchief)

Waktu: 5 Oktober 1956
Tempat: Bandara Beijing
Tokoh: Mao Zedong (Pemimpin Republik Rakyat Tiongkok); Soekarno (Presiden RI); Zhou Enlai (Menteri Perdana RRT)
Peristiwa: Soekarno dan rombongannya disambut Mao Zedong dan Zhou Enlai serta dielu-elukan masyarakat Tiongkok ketika Soekarno tiba di bandara Beijing dalam lawatannya ke RRT.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: China Photo Service / Nationaal Archief
Catatan:

Sabtu, 06 Februari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1955-1958 & 1970

Het Parool, 19 April 1955
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Bagi Leo Jordaan yang membuat karikatur ini, Konferensi Asia Afrika di Bandung adalah ajang buat Zhou Enlai untuk menawarkan komunisme dan Jawaharlal Nehru untuk mengkampanyekan nasionalisme-sekuler di kalangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

(klik untuk memperbesar | © Menno van Meeteren / AVS)

Karikatur yang berjudul Het verloren paradijs ("surga yang lepas") ini disebut berasal dari tahun 1956, tapi mungkin dibuat di tahun 1950. Karya ini menggambarkan seorang Belanda dengan pakaian a la Gubernur Jenderal meninggalkan Indonesia dengan menahan malu, sementara Singa Belanda yang mendampinginya tampak cedera.

Vrij Nederland, 1 Maret 1958
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Perang saudara di Indonesia antara pemerintah pusat di Jakarta dengan pemberontak di Sumatera Barat digambarkan oleh Leo Jordaan sebagai peristiwa di mana pada ujungnya dunia komunisme (diwakili oleh Nikita Khrushchev dan Mao Zedong) adalah pihak yang akan mengambil keuntungan.

De Tijd - De Maasbode, 12 Agustus 1970
(klik untuk memperbesar | © Charles Boost / AVS)

Soekarno banyak berkunjung ke manca negara, dan berbagai negara di Eropa, tapi tidak pernah ke Belanda. Karenanya, kunjungan Soeharto ke Belanda di tahun 1970 merupakan tonggak penting dalam pemulihan persahabatan antara Belanda dan Indonesia. Namun, di Belanda sudah menunggu berbagai kalangan yang cenderung negatif terhadap Indonesia seperti diperlihatkan di karikatur di atas. Ini mulai dari Door de Eeuwen Trouw yang mendukung RMS, hingga ke kalangan yang menyebut Soeharto sebagai moordenaar (jagal), dan yang memperjuangkan hak-hak rakyat Papua.

Waktu: 1955, 1956, 1958, 1970
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa terkait Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Charles Boost | Leo Jordaan | Menno van Meeteren
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 10 Desember 2020

Karikatur Belanda tentang korupsi pejabat tinggi Indonesia di tahun 1955-1956

Het Parool, 16 Agustus 1955
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Djody Gondokusumo adalah Menteri Kehakiman di Kabinet Ali Sostroamidjojo I, tepatnya dari tahun 1953 hingga Agustus 1955. Djody tersandung kasus gratifikasi dari pengusaha Hong Kong bernama Bong Kim Chong demi kemudahan mendapatkan visa. Karikatur di atas mengacu ke berita Reuter/AP yang menyebut angka 200.000 strait dollar (mata uang yang digunakan di jajahan Inggris di Asia Tenggara). Tampak Djody digambarkan berada di balik jeruji dalam tahanan polisi militer, di area dengan latar belakang kawasan pecinan.

Het Parool, 16 Agustus 1956
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Entah kebetulan atau tidak, persis di tanggal yang sama setahun kemudian, media yang sama dengan karikaturis yang sama memuat kasus korupsi yang menyeret Menteri Luar Negeri Ruslan Abdulgani, terkait dengan warga Tionghoa bernama Lie Hok Thay. Putusan pengadilan di bulan April 1957 memvonis Ruslan denda sebesar Rp. 5.000 karena membawa uang titipan dari Lie Hok Thay ke Amerika Serikat untuk Letkol Prayogo. Di sidang bulan September 1957, Lie Hok Thay mengaku juga memberi uang sebesar Rp. 930.000 kepada Ruslan (di samping Rp 1.117.000 untuk Menteri Penerangan saat itu Sutan Makmur).

Karikatur di atas menggambarkan Ruslan berada di London dalam Konferensi Suez, diapit Menlu Belanda Joseph Luns dan Menlu AS John Foster Dulles. Tampak Luns berbisik ke Ruslan: "Rindu pulang kampung?" sementara Ruslan memikirkan polisi militer yang sudah siap dengan borgol.

Waktu: 1955, 1956
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Indonesia dan Inggris
Tokoh: Djody Gondokusumo (Menteri Kehakiman), Ruslan Abdulgani (Menteri Luar Negeri)
Peristiwa: l.d.a.
Juru foto/gambar: Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 30 November 2020

Karikatur Belanda tentang kasus pengadilan Leon Jungschläger, 1956

Blog ini sudah menampilkan beberapa posting terkait proses pengadilan atas . Kali ini ada tambahan karikatur karya Leo Jordaan yang merekam peristiwa yang turut memperburuk hubungan Belanda-Indonesia ini.

Vrij Nederland, 3 Maret 1956
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Dakwaan dengan hukuman mati atas Jungschläger adalah hal yang sangat memukul masyarakat Belanda. Teks di karikatur berbunyi "Mau ke mana, hai budaya?" yang tampaknya menyindir bahwa masyarakat Indonesia menunjukkan peradaban kelam masa lampau dengan dakwaan ini.

Vrij Nederland, September 1956
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur ini lebih keras lagi. Sikap Indonesia di kasus Jungschläger dianggap sebagai penistaan atas Dewi Keadilan, sama dengan sikap rasis warga putih Amerika Serikat saat itu atas warga kulit hitam.

Waktu: 1956
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke proses peradilan di Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 12 November 2020

Karikatur Belanda tentang pertemuan Menlu Belanda dan Indonesia, Joseph Luns dan Anak Agung, di tahun 1955-1956

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Het Parool, terbitan 13 Desember 1955
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Anak Agung bertemu Joseph Luns untuk membahas hubungan Indonesia dan Belanda, tapi pertemuan ini dibayang-bayangi oleh de derde man (orang ketiga), yaitu Leon Jungschläger yang kasus hukumnya memperburuk hubungan kedua negara.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Vrij Nederlands, terbitan 17 Desember 1955
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Anak Agung bertemu Joseph Luns untuk membahas perbaikan hubungan Indonesia dan Belanda. Luns tapi tampak tidak begitu bahagia karena Anak Agung tampak yang mendikte pembicaraan. Istilah menu à la carte diplesetkan oleh Jordaan menjadi menu à la (Dja-)carte.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: ?, terbitan akhir 1955 atau awal 1956
Juru gambar: Charles Boost
Isi: Karikatur ini berjudul Daar zijn we weer (kita bertemu lagi), yang memperlihatkan keengganan Joseph Luns bertemu dengan Anak Agung. Menariknya, Joseph Luns jutsru tampak didorong oleh orang-orang berpeci, atau pihak Indonesia.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Vrij Nederlands, terbitan 21 Januari 1956
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Anak Agung bertemu Joseph Luns di Jenewa dengan dibayang-bayangi kekhawatiran pecahnya hoop (harapan), begrip (pengertian), dan vertrowen (kepercayaan) antara kedua negara yang diwakili.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Vrij Nederlands, terbitan 24 Februari1956
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Pertemuan antara Anak Agung dan Joseph Luns di Swiss pada musim dingin benar-benar membuat pembicaraan antara keduanya membeku.

Waktu: 1955, 1956
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke pertemuan Anak Agung dan Joseph Luns di Jenewa, Swiss
Tokoh: Ida Anak Agung Gde Agung (Menteri Luar Negeri Indonesia), Joseph Luns (Menteri Luar Negeri Belanda)
Peristiwa: Di akhir tahun 1955 dan awal 1956 berlangsung Konferensi Belanda-Indonesia dengan tujuan memperbaiki hubungan kedua negara, yang delegasinya dipimpin oleh menteri luar negeri masing-masing.
Juru foto/gambar: Charles Boost / Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 08 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1954-1956

(klik untuk memperbesar | © AVS)
30 Januari 1954. Kasus persidangan Leon Jungschläger pernah menjadi kontoversi sengit antara Belanda dan Indonesia. Belanda merasa bahwa Indonesia tidak sepenuhnya jujur dalam hal ini. Karikatur ini menggambarkan bagaimana ketika Soekarno bicara tentang kasus ini, di depan a.l. Dwight Eisenhower dan John Foster Dulles, detektor kebohongan ditawarkan, tetapi Amerika (diwakili Richard Nixon) menolaknya.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
15 November 1955. Soekarno berkata di Bandung bahwa "Hanya ada tiga pemimpin besar dalam sejarah yang mampu menarik jutaan orang untuk berkumpul: Hitler, Gandhi, dan Soekarno!" Ucapan penuh percaya diri ini disambar karikaturis Leendert Jordaan dengan menggambarkan Soekarno bersama pecinya, diberi kacamata dan jubah Gandhi, serta rambut, seragam, dan ayunan tangan Hitler. Jordaan memberi judul karikatur ini "three in one".
(klik untuk memperbesar | © AVS)
24 Mei 1956. Soekarno mendapat gelar doktor kehormatan dari Columbia University, dan langsung merobek pengakuan bersalah terhadap Belanda.

Waktu: 1955, 1955, 1956
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Charles Boost (nomor 1 dan 3), Leendert Jurriaan Jordaan (nomor 2)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 03 Juni 2019

Soekarno shalat di sebuah mesjid di Amerika (4), 1956

(klik untuk memperbesar | © Time-Life)
(klik untuk memperbesar | © Time-Life)
(klik untuk memperbesar | © Time-Life)
(klik untuk memperbesar | © Time-Life)

Waktu: 1956
Tempat: New York (?)
Tokoh: Soekarno (Presiden RI)
Peristiwa: Soekarno melakukan shalat di sebuah mesjid dalam kunjungannya ke Amerika Serikat
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Time-Life
Catatan:

Sabtu, 01 Juni 2019

Soekarno shalat di sebuah mesjid di Amerika (3), 1956

(klik untuk memperbesar | © Time-Life)
(klik untuk memperbesar | © Time-Life)
(klik untuk memperbesar | © Time-Life)

Waktu: 1956
Tempat: New York (?)
Tokoh: Soekarno (Presiden RI)
Peristiwa: Soekarno melakukan shalat di sebuah mesjid dalam kunjungannya ke Amerika Serikat
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Time-Life
Catatan:

Kamis, 30 Mei 2019

Soekarno shalat di sebuah mesjid di Amerika (2), 1956

(klik untuk memperbesar | © Time-Life)
(klik untuk memperbesar | © Time-Life)
(klik untuk memperbesar | © Time-Life)
(klik untuk memperbesar | © Time-Life)

Waktu: 1956
Tempat: New York (?)
Tokoh: Soekarno (Presiden RI)
Peristiwa: Soekarno melakukan shalat di sebuah mesjid dalam kunjungannya ke Amerika Serikat
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Time-Life
Catatan:

Selasa, 28 Mei 2019

Soekarno shalat di sebuah mesjid di Amerika (1), 1956

(klik untuk memperbesar | © Time-Life)
(klik untuk memperbesar | © Time-Life)
(klik untuk memperbesar | © Time-Life)
(klik untuk memperbesar | © Time-Life)

Waktu: 1956
Tempat: New York (?)
Tokoh: Soekarno (Presiden RI)
Peristiwa: Soekarno melakukan shalat di sebuah mesjid dalam kunjungannya ke Amerika Serikat
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Time-Life
Catatan: