Tampilkan postingan dengan label 1958. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1958. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Februari 2021

Stasiun akhir repatriasi warga Belanda dan pengungsian warga Indonesia pro-Belanda, 1958

Bubarnya Republik Indonesia Serikat dan tidak berjalannya Uni Belanda-Indonesia, yang kemudian disusul oleh nasionalisasi aset-aset Belanda di Indonesia, membuat warga Belanda meninggalkan Indonesia dan berepatriasi ke negeri leluhurnya, dengan diikuti juga oleh sebagian warga lokal dan Indo-Belanda yang lebih memilih tinggal di Belanda daripada menetap di Indonesia.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Dua bocah berwajah Nusantara tampak turun dan dituntun dari kapal Willem Ruys yang mengangkut mereka dari Indonesia ke Rotterdam.

(klik untuk memperbesar | © Guust Hens / AVS)

Dua anak di foto pertama di atas mungkin menjadi inspirasi buat Guust Hens untuk membuat sketsa di atas, paling tidak dalam menggambarkan dua bocah lelaki dan perempuan di barisan paling depan dari antrian warga yang turun dari kapal Willem Ruys ini. Berbeda dengan foto sebelumnya yang memperlihatkan wajah yang ceria, wajah-wajah di sketsa ini, terutama di kalangan dewasa, cenderung lebih dingin.

(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Suasana lebih dingin ditampilkan oleh Leo Jordaan dalam karikatur di atas. Tampak satu keluarga yang melakukan repatriasi (si ibu tampaknya mengenakan bawahan kain batik) harus menghadapi bukan hanya cuaca yang dingin, pepohonan yang kering, rumah susun yang sepi dan gelap, tapi juga penghuni lama yang tampak apatis. Leo Jordaan tampaknya ingin memperlihatkan itulah sambutan dan tempat tinggal yang menanti mereka di Belanda.

Waktu: 1958
Tempat: Rotterdam
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Guust Hens | Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 06 Februari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1955-1958 & 1970

Het Parool, 19 April 1955
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Bagi Leo Jordaan yang membuat karikatur ini, Konferensi Asia Afrika di Bandung adalah ajang buat Zhou Enlai untuk menawarkan komunisme dan Jawaharlal Nehru untuk mengkampanyekan nasionalisme-sekuler di kalangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

(klik untuk memperbesar | © Menno van Meeteren / AVS)

Karikatur yang berjudul Het verloren paradijs ("surga yang lepas") ini disebut berasal dari tahun 1956, tapi mungkin dibuat di tahun 1950. Karya ini menggambarkan seorang Belanda dengan pakaian a la Gubernur Jenderal meninggalkan Indonesia dengan menahan malu, sementara Singa Belanda yang mendampinginya tampak cedera.

Vrij Nederland, 1 Maret 1958
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Perang saudara di Indonesia antara pemerintah pusat di Jakarta dengan pemberontak di Sumatera Barat digambarkan oleh Leo Jordaan sebagai peristiwa di mana pada ujungnya dunia komunisme (diwakili oleh Nikita Khrushchev dan Mao Zedong) adalah pihak yang akan mengambil keuntungan.

De Tijd - De Maasbode, 12 Agustus 1970
(klik untuk memperbesar | © Charles Boost / AVS)

Soekarno banyak berkunjung ke manca negara, dan berbagai negara di Eropa, tapi tidak pernah ke Belanda. Karenanya, kunjungan Soeharto ke Belanda di tahun 1970 merupakan tonggak penting dalam pemulihan persahabatan antara Belanda dan Indonesia. Namun, di Belanda sudah menunggu berbagai kalangan yang cenderung negatif terhadap Indonesia seperti diperlihatkan di karikatur di atas. Ini mulai dari Door de Eeuwen Trouw yang mendukung RMS, hingga ke kalangan yang menyebut Soeharto sebagai moordenaar (jagal), dan yang memperjuangkan hak-hak rakyat Papua.

Waktu: 1955, 1956, 1958, 1970
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa terkait Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Charles Boost | Leo Jordaan | Menno van Meeteren
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 13 Oktober 2020

Karikatur Belanda tentang Papua: Tema yang membesar

Vrij Nederland, Oktober 1958: Je kunt er mee sukkelen …
(Mereka bisa bergelut dengannya)
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Di tahun 1958, Belanda masih melihat dirinya senasib dengan Inggris dan Amerika dalam hal Papua. Inggris, digambarkan oleh Harold MacMillan harus menangani masalah Siprus, dilambangkan dengan kucing galak dalam karung. Sementara Amerika, digambarkan oleh John Foster Dulles harus berurusan dengan persoalan Taiwan yang dilambangkan dengan naga penyembur api. Belanda, digambarkan oleh Willem Drees, meski tampak harus menanggung beban berat, tetapi relatif tidak terganggu oleh beban Papua yang dilambangkan dengan babi hutan. Ketiganya digambarkan harus membawa "hewan peliharaan" mereka ke klinik hewan PBB.

Vrij Nederland, Juli 1961: "Luipaard op schoot"
(Macan tutul di pangkuan)
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

"Luipaard op schoot" adalah acara TV populer di Belanda tentang hewan liar. Karikatur ini menggambarkan bagaimana di tahun 1945 Belanda masih melihat Papua sebagai kucing kecil yang lucu. Tetapi di tahun 1961, kucing ini sudah membesar menjadi macan besar yang memberatkan.

Algemeen Dagblad, Oktober 1962: Einde tijdperk Nieuw Guinea
"Vaarwel mijn Nieuw Guinea, verwacht een andere Heer"
(Akhir dari Ginea Baru; "Selamat tinggal Ginea Baruku, nantikan tuan barumu")
(klik untuk memperbesar | © Fritz Behrendt / AVS)

Akhirnya  di tahun 1962, Belanda, digambarkan oleh Joseph Luns dan Jan de Quay dalam kapal layar berbentuk terompah tradisional Belanda, harus meninggalkan Papua. Di ufuk langit tampak matahari bermuka Soekarno terbit.

Waktu: 1958, 1961, 1962
Tempat: Papua (dilambangkan)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Fritz Behrendt
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 12 Agustus 2020

Ketika Rotterdamsche Lloyd mendominasi pelayaran dan perjalanan di Indonesia (2): Iklan pelayaran dari tahun 1892 & 1958

PENGANTAR

Ketika dunia penerbangan komersial secara masal belum muncul, pelayaran merupakan satu-satunya sarana perhubungan jarak jauh, terutama untuk transportasi antar pulau atau benua. Rotterdamsche Lloyd, yang didirikan tahun 1839, merupakan salah satu perusahaan pelayaran yang mendominasi transportasi antar Eropa dan kawasan Asia Tenggara. Perusahaan ini bahkan mengembangkan jalur pelayarannya hingga ke Tiongkok, Australia, dan kawasan Pasifik.

Perang Dunia II menghantam keras perusahaan ini. Direkturnya di Belanda, Willem Ruys, ditangkap Jerman Nazi dan dieksekusi. Sementara di kawasan Hindia-Belanda, armadanya dihancurkan angkatan udara Jepang, antara lain kapal SS Slamat, MS Baloeran, dan MS Dempo. Tenggelamnya SS Slamat merupakan salah satu tragedi besar dalam sejarah pelayaran karena membawa tewas 450 penumpang dan awak.

Brosur pelayaran dari Rotterdam ke Jawa melalui Southhampton dan Marseille dari tahun 1892. Tampak beberapa penumpang wanita mengenakan bawahan kain, salah satunya malah juga atasan kebaya.
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Brosur perjalanan dari tahun 1958 dengan rute yang sama, tetapi dengan kapal uap yang lebih besar dan modern. Kapal ini bernama Willem Ruys untuk mengenang direktur perusahaan yang dieksekusi Jerman Nazi semasa Perang Dunia II.
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1892 (atas), 1958 (bawah)
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 29 Juni 2020

Pengungsian warga Indonesia pro-Belanda ke Belanda, 1958

(klik untuk memperbesar | © AVS)

(klik untuk memperbesar | © AVS)

(klik untuk memperbesar | © AVS)

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu:  19 Januari 1958
Tempat:  Rotterdam
Tokoh:
Peristiwa:  Ketika Republik Indonesia Serikat bubar, dan Uni Belanda-Indonesia terkubur, kemudian Soekarno mencanangkan nasionalisasi aset-aset (warga) Belanda, serta Papua mulai menjadi bahan perseteruan Belanda-Indonesia, banyak warga Belanda kembali ke negeri nenek moyangnya, repatriasi. Selain warga Belanda, tidak sedikit warga lokal yang merasa lebih nyaman hidup bersama orang Belanda, dan rela meninggalkan tanah kelahirannya untuk mencoba hidup baru di Eropa.
Foto-foto di atas memperlihatkan kedatangan kapal Sibayak di Rotterdam, yang a.l. mengangkut pengungsi "kulit coklat" dari Indonesia ke Belanda.
Fotografer: Nationaal Foto Persbureau
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 14 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1958

(klik untuk memperbesar | © AVS)
9 Januari 1958: "Presiden melakukan lawatan"
Karikatur ini menggambarkan bagaimana Soekarno melakukan perjalanan ke luar negeri sementara dalam negeri sendiri sedang kebakaran.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
6 Februari 1958: "Liburan di Jepang; pengganggu acara"
Karikatur ini menggambarkan Soekarno berlibur ke Jepang, dan disanjung oleh dua warga Jepang yang ternyata berwajah Mao Zedong dan Nikita Khrushchev. Sementara itu, tangan tokoh Permesta Ventje Sumual memperingatkan Soekarno tentang tokoh-tokoh komunis di pemerintahan.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
13 Maret 1958: "Instruktor: 'Lebih ke kiri lagi!'"
Karikatur ini menggambarkan Soekarno belajar menyetir mobil di sekolah mengemudi "Bintang Merah" (komunisme). Soekarno sudah berada di pinggir jurang perang saudara, si instruktor menyuruh Soekarno untuk menyetir makin ke kiri.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
15 Maret 1958: "Menunggang harimau"
Karikatur ini menggambarkan Soekarno membawa harimau perang saudara dari Jawa menuju Sumatera, sementara wajahnya tampak tidak yakin apakah harimau ini bisa dikendalikan.

Waktu: 1957
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Leendert Jurriaan Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 20 September 2015

Unjuk rasa mendukung pembentukan Front Nasional Pembebasan Irian Barat, 1958

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 4 Januari 1958 (?)
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Pemuda dari berbagai kesatuan berunjuk rasa di Jakarta mendukung pembentukan Front Nasional Pembebasan Irian Barat.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Sabtu, 07 Februari 2015

Mahasiswa berunjuk rasa menentang SEATO, 1958

(klik untuk memperbesar | © Keystone/Getty Images)

Waktu: 1958
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Mahasiswa di Jakarta berunjuk rasa menentang pembentukan SEATO.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Getty Images
Catatan:

Sabtu, 25 Oktober 2014

Penumpasan pemberontakan PRRI di Sumatera, 1958

Pasukan pemerntah pusat membuat tanda untuk pendaratan pesawat.
(klik untuk memperbesar | © Keystone Features/Getty Images)

Pasukan pemerntah pusat mengarahkan meriam Howitzer ke posisi pasukan PRRI.
(klik untuk memperbesar | © Keystone Features/Getty Images)

Pasukan pemerntah pusat merebut mitraliur keluaran Amerika Serikat dari pasukan PRRI.
(klik untuk memperbesar | © Keystone Features/Getty Images)

Waktu: 1958
Tempat: Sumatera
Tokoh:
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Getty Images
Catatan:

Minggu, 25 Mei 2014

Soekarno dan Nobusuke Kishi di Tokyo, 1958

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 1958
Tempat: Tokyo
Tokoh: Soekarno (Presiden Indonesia), Nobusuke Kishi (Perdana Menteri Jepang)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Bettmann / Corbis

Minggu, 09 Februari 2014

Soekarno membaur dengan rakyat yang dipimpinnya (2)

Bert Hardy | Picture Post/Getty Images
Soekarno bercengkrama dengan warga dari negara muda yang dipimpinnya (16 April 1949?).
Popperfoto/Getty Images
Soekarno bersama para isteri dan anak dari tentara yang dikirim ke Sumatera untuk menumpas pemberontakan PRRI (1958).
Terrence Spencer//Time Life Pictures/Getty Images
Soekarno ikut memukul tambur dalam lawatannya ke Ambon, 1963, di saat Trikora digelorakan.
Waktu: l.d.a.
Tempat: l.d.a.
Tokoh: Soekarno (Presiden Indonesia)
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer: l.d.a.
Sumber / Hak cipta: l.d.a.

Kamis, 02 Januari 2014

Soekarno, Kaisar Hirohito, dan Pangeran Akihito di Tokyo, 1958

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 3 Februari 1958
Tempat: Istana Kaisar, Tokyo
Tokoh: Soekarno (Presiden RI), Hirohito (Kaisar Jepang), Akihito (pewaris tahta kekaisaran Jepang)
Peristiwa: Kaisar Hirohito dan Pangeran Akihito menyambut Soekarno di Tokyo dalam kunjungan Presiden RI ke Jepang.
Fotografer: Ichiro Fujimura
Sumber / Hak cipta: Bettmann / Corbis

Minggu, 10 November 2013

Pasukan yang dikirim Jakarta untuk menumpas PRRI, sekitar tahun 1958

(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
Waktu: sekitar tahun 1958
Tempat: Sumatera Utara
Tokoh:
Peristiwa: Pasukan yang dikirim Jakarta untuk menumpas pemberontakan PRRI tampak berada di sebuah desa Batak.
Fotografer: John Dominis
Sumber / Hak cipta: Time & Life Pictures / Getty Images

Kamis, 05 September 2013

Soekarno di sampul depan majalah Time

(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
Waktu: 1946 & 1958
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden RI)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Time
Catatan: Soekarno dua kali terpajang di sampul depan majalah Time, yaitu di edisi Desember 1946 (dengan gelar presiden masih menggunakan tanda kutip) di saat perang kemerdekaan bergejolak, dan di Maret 1958 ketika Jakarta harus menghadapi berbagai pemberontakan di daerah.

Kamis, 11 April 2013

Para pendukung PRRI, 1958

(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
Waktu: 1958
Tempat: Sumatera
Tokoh: Yazid Abidin (Pemimpin Komite Aksi Rakyat Sumatera Tengah; di foto atas)
Peristiwa: Yazid Abidin berorasi menentang pemerintahan Soekarno (foto perrtama); perekrutan para pemuda (foto kedua); unjuk rasa mendukung PRRI, menentang pemerintahan Soekarno (foto ketiga); persiapan pertahanan pasukan PRRI (foto keempat); dua ulama pendukung PRRI (foto kelima).
Fotografer: James Burke
Sumber / Hak cipta: Time Life
Catatan:

Senin, 08 April 2013

Pimpinan PRRI di Padang, 1958

(klik untuk memperbesar)
Waktu: Maret 1958
Tempat: Padang
Tokoh, berdiri di depan dari kiri ke kanan: Kolonel Dahlan Djambek (Menteri Pos dan Telekomunikasi ), Burhanuddin Harahap, Letnan Kolonel Ahmad Husein (Pimpinan Dewan Revolusi), Sjafruddin Prawiranegara (Perdana Menteri), Maludin Simbolon (Menteri Luar Negeri)
Peristiwa:Para pimpinan PRRI berkumpul di Padang.
Fotografer: James Burke
Sumber / Hak cipta: Time Life
Catatan: Lihat juga foto di bawah ini.

(klik untuk memperbesar)

Jumat, 01 Februari 2013

Kedatangan tim sepakbola Uni Sovyet 1958

(klik untuk memperbesar)
Waktu: Maret 1958
Tempat: Sumatera
Tokoh:
Peristiwa: Tim sepakbola Uni Sovyet mendarat di Sumatera menggunakan pesawat Garuda
Fotografer: James Burke
Sumber / Hak cipta: Time Life
Catatan:


Jumat, 11 Januari 2013

Letnan Kolonel Ahmad Husein, pimpinan PRRI

(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)

Waktu: Maret 1958
Tempat: Padang
Tokoh: Letnan Kolonel Ahmad Husein
Peristiwa: Ahmad Husein berbicara di unjuk rasa menentang pemerintah Jakarta (foto tengah); Ahmad Husein, duduk menghadap kamera, bersama para perwira pendukung PRRI (foto bawah).
Fotografer: James Burke
Sumber / Hak cipta: Time Life
Catatan: