Tampilkan postingan dengan label Agam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Juli 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (13)

Kuburan seorang Belanda bernama Antonius Johannes ten Velden di Surabaya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah toko pakaian lelaki dan peralatan olahraga bernama Java Stores
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Bandung, 1918: Batavia's Elftal, cikal bakal Persija, menjadi juara sepakbola se-Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1890: Seorang Belanda bersama warga Minangkabau; tulisan di foto menyebutkan nama "Datuk Bandara" yang disebut sebagai tetua di "Padang Tarok" (Agam)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Reruntuhan sebuah candi di Jawa yang belum teridentifikasi
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1890, 1918
Tempat: a.l. Bandung, Padang Tarok (Agam), Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 08 Juni 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Toeristenbond voor Nederland terbitan 1911: 73-79

PENGANTAR

Di rangkaian posting sebelumnya blog ini menampilkan foto-foto dari album keluaran penerbit Kleynenberg & Co. dari tahun 1912-1914. Album yang berisi 150 foto ini menyajikan wajah-wajah Nusantara dari berbagai pelosok. Sebelumnya, di tahun 1911, Toeristenbond voor Nederland juga mengeluarkan album yang mirip. Album keluaran jawatan pariwisata Belanda ini berisi 100 foto yang juga menampilkan berbagai wajah Nusantara.

Isi album ini didominasi oleh foto karya Jean Demmeni, seorang fotografer campuran Perancis-Madura yang lahir di Padang Panjang dan banyak aktif di wilayah Minangkabau. Tidak mengherankan apabila hampir setengah dari album ini berisi foto dari wilayah Sumatera Barat.

Berbeda dengan album foto Kleynenberg yang mencakup banyak wilayah, album Toeristenbond ini masih membatasi tambahan liputan ke Jawa dan sedikit Sumatera Utara, di samping Sumatera Barat. Meski demikian, album ini tetap menarik karena mengindikasikan aspek warga Nusantara yang, paling tidak menurut khalayak Belanda saat itu, menarik untuk dicermati dari sudut pandang pariwisata.

Blog ini akan menampilkan ke-100 foto ini berurut sesuai nomornya. Foto-foto yang pernah dimuat sebelumnya, dalam konteks lain, akan diberi catatan.


73. Warga Minangkabau memeras tebu
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
74. Perajin tembaga di Sungai Pua, Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
75. Pemandangan di lembah Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
76. Warga Minang di depan sebuah rumah gadang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
77. Pedati menyusuri sebuah celah di Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
78. Pesawahan dengan latar belakang Gunung Singgalang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
79. Pasar di Payakumbuh
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit tahun 1911, foto-fotonya tentunya dibuat sebelum itu
Tempat: Sumatera Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Jean Demmeni
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: Edisi lain dari foto no. 73 pernah dimuat sebelumnya di posting ini; no. 78 di posting ini.

Minggu, 06 Juni 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Toeristenbond voor Nederland terbitan 1911: 67-72

PENGANTAR

Di rangkaian posting sebelumnya blog ini menampilkan foto-foto dari album keluaran penerbit Kleynenberg & Co. dari tahun 1912-1914. Album yang berisi 150 foto ini menyajikan wajah-wajah Nusantara dari berbagai pelosok. Sebelumnya, di tahun 1911, Toeristenbond voor Nederland juga mengeluarkan album yang mirip. Album keluaran jawatan pariwisata Belanda ini berisi 100 foto yang juga menampilkan berbagai wajah Nusantara.

Isi album ini didominasi oleh foto karya Jean Demmeni, seorang fotografer campuran Perancis-Madura yang lahir di Padang Panjang dan banyak aktif di wilayah Minangkabau. Tidak mengherankan apabila hampir setengah dari album ini berisi foto dari wilayah Sumatera Barat.

Berbeda dengan album foto Kleynenberg yang mencakup banyak wilayah, album Toeristenbond ini masih membatasi tambahan liputan ke Jawa dan sedikit Sumatera Utara, di samping Sumatera Barat. Meski demikian, album ini tetap menarik karena mengindikasikan aspek warga Nusantara yang, paling tidak menurut khalayak Belanda saat itu, menarik untuk dicermati dari sudut pandang pariwisata.

Blog ini akan menampilkan ke-100 foto ini berurut sesuai nomornya. Foto-foto yang pernah dimuat sebelumnya, dalam konteks lain, akan diberi catatan.


67. Berburu babi hutan di Tilatang Kamang, Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
68. Gua yang dijuluki Ngalau Kamang, Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
69. Gua Pauh (?)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
70. Mesjid di Padang Lua, Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
71. Masjid Jami Taluk, Bukittinggi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
72. Kolam renang di Sungai Tanang, Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit tahun 1911, foto-fotonya tentunya dibuat sebelum itu
Tempat: Sumatera Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Jean Demmeni
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: Edisi lain dari foto no. 67 pernah dimuat sebelumnya di posting ini; no. 70 & 71 di posting ini.

Jumat, 04 Juni 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Toeristenbond voor Nederland terbitan 1911: 61-66

PENGANTAR

Di rangkaian posting sebelumnya blog ini menampilkan foto-foto dari album keluaran penerbit Kleynenberg & Co. dari tahun 1912-1914. Album yang berisi 150 foto ini menyajikan wajah-wajah Nusantara dari berbagai pelosok. Sebelumnya, di tahun 1911, Toeristenbond voor Nederland juga mengeluarkan album yang mirip. Album keluaran jawatan pariwisata Belanda ini berisi 100 foto yang juga menampilkan berbagai wajah Nusantara.

Isi album ini didominasi oleh foto karya Jean Demmeni, seorang fotografer campuran Perancis-Madura yang lahir di Padang Panjang dan banyak aktif di wilayah Minangkabau. Tidak mengherankan apabila hampir setengah dari album ini berisi foto dari wilayah Sumatera Barat.

Berbeda dengan album foto Kleynenberg yang mencakup banyak wilayah, album Toeristenbond ini masih membatasi tambahan liputan ke Jawa dan sedikit Sumatera Utara, di samping Sumatera Barat. Meski demikian, album ini tetap menarik karena mengindikasikan aspek warga Nusantara yang, paling tidak menurut khalayak Belanda saat itu, menarik untuk dicermati dari sudut pandang pariwisata.

Blog ini akan menampilkan ke-100 foto ini berurut sesuai nomornya. Foto-foto yang pernah dimuat sebelumnya, dalam konteks lain, akan diberi catatan.


61. Gunung Singgalang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
62. Keluarga Minang di depan rumah gadang di Koto Gadang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
63. Pesilat Minangkabau bersenjata kerambit
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
64. Sepasang pengantin Minangkabau bersama pendamping di Tilatang, Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
65. Pertemuan para penghulu Minang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
66. Sekolah warga Minang di Tilatang, Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit tahun 1911, foto-fotonya tentunya dibuat sebelum itu
Tempat: Sumatera Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Jean Demmeni
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: Edisi lain dari foto no. 63 pernah dimuat sebelumnya di posting ini; no. 64 di posting ini.

Senin, 19 April 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (26)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


124. Klinik lapangan kesatuan KNIL di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
126. Pakubuwono IX dan Residen W. de Vogel
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
127. Sultan Hamengkubuwono VII
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
129. Sultan Kutai, Aji Muhammad Sulaiman beserta para isteri dan selirnya
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
130. Seorang bangsawan Gianyar beserta pengiringnya
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
133. Sekolah pribumi di Pakan Kamis, Tilatang, Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Jawa, Surakarta, Yogyakarta, Kutai, Gianyar, Tilatang (Agam)
Tokoh: Aji Muhammad Sulaiman (Sultan Kutai ke-18), Hamengkubuwono VII (Sultan Yogyakarta), Pakubuwono IX (Susuhunan Surakarta)
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Universiteit Leiden
Catatan: Edisi lain dari foto no. #126 pernah dimuat di posting ini, no. 127 di posting ini dan ini, no. 129 di posting ini, serta no. 130 di posting ini.

Rabu, 07 April 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (20)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


81. Petani di Jawa membajak sawah
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
83. Kolam ikan di Cipanas, Garut
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
84. Warga Papua berburu ikan di Teluk Humboldt (kelak Teluk Yos Sudarso)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
85. Perahu layar di pesisir Jawa Tengah
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
86. Berburu babi hutan di Tilatang Kamang, Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
87. Berburu gajah di Deli Serdang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Jawa, Garut, Papua, Jawa Tengah, Agam, Deli Serdang
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Universiteit Leiden
Catatan: Edisi lain dari foto no. 87 pernah dimuat di posting ini.

Sabtu, 20 Maret 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (11)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


Tanpa nomor: Kawah Tangkuban Perahu
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1. Pantai utara Laut Jawa di Desa Bonang (Lasem, Rembang)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
2. Desa tertinggi di Jawa: Sembungan (Dieng, Wonosobo)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
3. Profil perbukitan di dataran tinggi Dieng
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
4. Dataran di Pulau Madura
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
5. Pesawahan dengan latar belakang Gunung Singgalang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
6. Ngarai Sianok, Bukittinggi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Bandung, Lasem (Rembang), Dieng, Dieng, Madura, Agam, Bukittinggi
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Universiteit Leiden
Catatan:

Kamis, 19 November 2020

Dari album foto C.B. Nieuwenhuis tentang Bogor dan Minangkabau: Sekitar Bukittinggi

PENGANTAR

Christiaan Benjamin Nieuwenhuis termasuk orang yang berjasa mengabadikan banyak wajah Nusantara zaman dulu dan mewariskannya ke dunia sepeninggalnya. Blog ini sudah memuat beberapa foto karya orang Belanda yang wafat di Padang ini.

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Salah satu kumpulan dari foto-foto jepretan dia adalah sebuah album berjilid merah di atas ini, yang berisi 30 foto, 6 di antaranya tentang Bogor dan sisanya mengenai Minangkabau. Blog ini akan menampilkannya di sini.


Sekitar 1880: Sekelompok orang jongkok berkerumun di bawah pohon beringin besar di Koto Gadang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekitar 1900: Jembatan bambu di atas Batang Masang di Palembayan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekitar 1900: Gua yang kelak dijuluki Lobang Jepang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekitar 1900: Pojok sebuah nagari di Bukittinggi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekitar 1910: Sociëteit Belvédère di Bukittinggi
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1880, 1900, 1910
Tempat: Bukittinggi, Koto Gadang (Agam), Palembayan (Agam)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: C.B. Nieuwenhuis
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 25 September 2020

Kartu pos kuno tentang Minangkabau

Padang Panjang, antara 1895 dan 1904: Memajang harimau hasil buruan
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Mengangkut harimau hasil buruan
(klik untuk memperbesar | © G. Kling / AVS)
Mesjid di Koto Baru dekat Bukittinggi
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Mesji di pesawahan kampung Tabu, Palembayan, Agam
(klik untuk memperbesar | © C. Nieuwenhuis / AVS)
Lembah Harau
(klik untuk memperbesar | © Tjan Djoe Sien / AVS)
Waktu:
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto: G. Kling / C. Nieuwenhuis / Tjan Djoe Sien
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: