Tampilkan postingan dengan label 1950. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1950. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Oktober 2025

Peleburan sebuah kesatuan KNIL ke dalam APRIS, 1950

Barisan kesatuan KNIL yang dilebur ke dalam Angkata Perang Republik Indonesia Serikat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Barisan para perwira, baik dari KNIL maupun TNI, yang menghadiri acara peleburan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kemungkinan acara pengambilan sumpah yang dipimpin seorang perwira TNI dan diikuti anggota kesatuan KNIL yang sepenuhnya terdiri dari warga lokal
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang Belanda perwira KNIL memberikan sambutan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Lapangan tempat acara peleburan yang dihadiri banyak khalayak ramai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan 1950
Tempat: ?
Tokoh:
Peristiwa: Dengan terbentuknya Republik Indonesia Serikat setelah Konferensi Meja Bundar 1949, semua kekuatan bersenjata yang tadinya berseteru, yaitu KNIL dan TNI, melebur ke dalam APRIS. Acara peleburan ini terjadi di mana-mana, seperti Bandung, Banjarmasin, Jakarta, Malang, Muara Enim, dsb.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 18 September 2025

KNIL Laut kembali menguasai penuh Vliegkamp Morokrembangan, 1948/1950 (5)

3 November 1948: Komandan Vliegkamp Morokrembangan, R. Vroon (kanan), memberikan penghargaan kepada W.H. Tetenburg, yang ditemani istrinya, dalam bentuk bendera komando perak. W.H. Tetenburg kemungkinan saat itu akan pensiun dari jabatannya sebagai Panglima KNIL Laut Hindia-Belanda untuk wilayah timur. Di latar belakang tampak pesawat Catalina sumbagan warga Australia James Fleming untuk Republik Indonesia. Pesawat yang dijuluki "kucing penyelundup" ini tertangkap Belanda dan dikabarkan memuat senjata senilai $350.000 yang ditujukan untuk para pejuang kemerdekaan.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
W.H. Tetenburg (depan kiri), memeriksa barisan awak lokal Vliegkamp Morokrembangan, ditemani R. Vroon (kanan depan), kemungkinan masih dalam rangkaian acara pelepasan Tetenburg dari jabatan Panglima KNIL Laut Hindia-Belanda untuk wilayah timur.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kemungkinan 9 Februari 1950, setelah pengakuan kedaulatan: Laksamana Hendricus Cornelis Willem Moorman (berjas), yang saat itu menjabat Sekretaris Negara Kerajaan Belanda untuk urusan Angkatan Laut, mengunjungi Vliegkamp Morokrembangan, ditemani para petinggi KNIL Laut. Moorman kemudian menjadi politisi sayap kanan dari Parta Katolik (Belanda) yang a.l. menentang masuknya wilayah Papua ke Republik Indonesia. Moorman sendiri pernah aktif bertugas di Hindia-Belanda sebagai perwira KNIL Laut.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1948, 1950
Tempat: Pangkalan udara Morokrembangan (Surabaya)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 10 November 2024

Para pejabat Uni Belanda-Indonesia, 1950 (2)

Prof. L.J.C. Beaufort bersama Kusumah Atmaja
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Melawan arah jalur jam dari pojok kanan: M.J.C. Reyers, Wirjono Prodjodikoro, M.J. Prinsen, A.A. Maramis, J. Donner, Kusumah Atmaja, L.J.C. Beaufort, Schuurman, Kusomo Utoyo
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan 1950
Tempat: Sebuah kafe di bandara Kemayoran, Jakarta
Tokoh: Delegasi Indonesia terdiri dari a.l. Alexander Andries Maramis, Kusumo Utoyo (utusan Kementrian Luar Negeri), Kusumah Atmaja (Ketua Delegasi), Subekti (Pengadilan Arbitrase UBI), dan Wirjono Prodjodikoro. Pihak Belanda diwakili oleh a.l. A.J. Prinsen, J. Donner (Wakil Ketua Delegasi), L.J.C. Beaufort (Pengadilan Arbitrase UBI), M.J.C. Reyers (Pengadilan Arbitrase UBI), serta Schuurman (Komisi Tinggi Belanda di Indonesia)
Peristiwa: Republik Indonesia pernah menjadi negara bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS), dan RIS pernah menjadi negara serikat dari Uni Belanda-Indonesia (UBI). UBI merupakan hasil dari Konferensi Meja Bundar, semacam persemakmuran yang beranggotakan Kerajaan Belanda dan mantan serta masih tanah jajahannya. Foto di atas memperlihatkan kedatangan delegasi UBI dari Belanda ke Jakarta yang disambut rekanannya dari Indonesia.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting sebelum ini dengan para tokoh yang sama.

Senin, 07 Maret 2022

Unjuk rasa pendukung RMS di Jakarta, 1950 (4)

Beberapa warga kesatuan militer asal Maluku yang mendukung RMS mengadakan konferensi pers setelah unjuk rasa
(klik untuk memperbesar | © MHM)
Johannes Leimena, pendukung Republik Indonesia, menemui para pengunjuk rasa
(klik untuk memperbesar | © MHM)
Spanduk paling depan dimulai dengan kata "BUKAN Leimena ..."
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)

Waktu: 7 November 1950
Tempat: Jakarta
Tokoh: Johannes Leimena (Menteri Kesehatan, pahlawan nasional)
Peristiwa: Para pendukung Republik Maluku Selatan berunjuk rasa di Jakarta menuntut kemerdekaan.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: P.W. Lokollo / Stichting Moluks Historisch Museum
Catatan:

Sabtu, 05 Maret 2022

Unjuk rasa pendukung RMS di Jakarta, 1950 (3)

(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)

Waktu: 7 November 1950
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Para pendukung Republik Maluku Selatan berunjuk rasa di Jakarta menuntut kemerdekaan.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: P.W. Lokollo / Stichting Moluks Historisch Museum
Catatan:

Kamis, 03 Maret 2022

Unjuk rasa pendukung RMS di Jakarta, 1950 (2)

(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)

Waktu: 7 November 1950
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Para pendukung Republik Maluku Selatan berunjuk rasa di Jakarta menuntut kemerdekaan.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: P.W. Lokollo / Stichting Moluks Historisch Museum
Catatan:

Selasa, 01 Maret 2022

Unjuk rasa pendukung RMS di Jakarta, 1950 (1)

(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)
(klik untuk memperbesar | © MHM)

Waktu: 7 November 1950
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Para pendukung Republik Maluku Selatan berunjuk rasa di Jakarta menuntut kemerdekaan.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: P.W. Lokollo / Stichting Moluks Historisch Museum
Catatan:

Kamis, 04 Februari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1949-1952

De Vlam, 26 Maret 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Salah satu saat paling kelam dalam sejarah Belanda adalah era pendudukan Jerman Nazi di masa Perang Dunia II. Karenanya, membandingkan petinggi sipil dan militer Belanda dengan tokoh Nazi merupakan sindiran yang sangat pedas. Dan ini dilakukan oleh karikaturis Wim van Wieringen.

Pemicunya adalah sanggahan dari para pejabat Belanda atas adanya kekerasan atau malah kejahatan perang yang dilakukan KNIL dan/atau militer Belanda di Indonesia; padahal, laporan tentang itu paling tidak terdengar dari Sulawesi Selatan, Pakishaji, Bondowoso, Karawang, dan Bangka. Wim membandingkan sanggahan ini dengan penyangkalan para tokoh Nazi bahwa mereka tahu adanya pengiriman kaum Yahudi ke kamp pemusnahan.

Wim menggambarkan Komisioner Tinggi untuk Hindia-Belanda, Louis Beel (kelak menjadi PM Belanda), dan Panglima Belanda Jenderal Simon Spoor, berbaris seirama dengan Panglima SS, Heinrich Himmler, dan Menteri Propaganda Jerman, Joseph Goebbels, dan semuanya berteriak dalam bahasa Jerman "Es ist nicht wahr" (Itu tidak benar).

De Vlam, 5 November 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Penghujung 1949 adalah masa ketika Belanda harus mengakui kedaulatan Indonesia. Karikatur di atas menggambarkan burung garuda yang menjadi terbang bebas meninggalkan sebagian kalangan Belanda yang tampaknya selama ini memiliki beberapa rencana yang terpaksa menjadi batal dan berantakan. Rencana yang terbaca a.l. penangkapan atas ibunda Soekarno, pergerakan tentara, serta rencana atas Papua.

Vrij Nederland, 28 Januari 1950
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Buku sejarah di Indonesia umumnya menyebut pemberontakan APRA sebagai ulah Westerling. Tetapi karikatur di atas menggambarkan bahwa Westerling hanyalah sebagai bidak catur yang dimainkan orang lain. Karikatur ini bertanya: "Wie is de speler?" (Siapa pemainnya/dalangnya?).

Vrij Nederland, 31 Maret 1952
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Pada tanggal 22 Mei 1952, atasa militer Indonesia di Belanda, Kolonel Mas Tirtodarmo Haryono, dikepung dan ditodong dengan pistol oleh 2 orang tak dikenal. Sempat terjadi pergulatan dan tembakan, namun Haryono selamat meskipun kepalanya berdarah terpukul gagang pistol. Karikatur di atas memperlihatkan bagaimana PM Belanda, Willem Drees, bersama Nona (Nyonya?) Belanda harus kaget melihat bahwa di kasur mereka (artinya di negeri mereka) banyak sekali kutu busuk. Menurut catatan atas karikatur ini, pelaku kekerasan atas Haryono bukanlah perorangan, melainkan bagian dari kelompok anti-Indonesia yang terorganisir.

Waktu: 1949, 1950, 1952
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Belanda dan Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 26 November 2020

Karikatur Belanda tentang Pieter Gerbrandy, mantan PM Belanda penentang Republik Indonesia, pendukung RMS

Pieter Sjoerds Gerbrandy adalah Perdana Menteri Belanda di pengasingan ketika Jerman Nazi menduduki Belanda semasa Perang Dunia II. Pengalaman dikuasai bangsa lain ini rupanya tidak berbekas di Pieter Gerbrandy; ketika Jerman kalah perang, kemudian Ratu dan pemerintah Belanda kembali ke tanah air mereka dari pengasingan, dan rakyat Indonesia menyatakan diri merdeka, Gerbrandy adalah tokoh yang sangat gigih menentang kemerdekaan Indonesia. Ketika penghujung 1949 sudah memperlihatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak dapat dibendung, Gerbrandy di tahun 1950 menyatakan dukungan atas pembentukan Republik Maluku Selatan.

Satu posting sebelum ini sudah menunjukkan sikap politisi Belanda ini dalam karikatur. Kali ini ada tambahan empat karikatur lagi tentang mantan Menteri Urusan Jajahan ini; semuanya karya dari karikaturis Leo Jordaan.

Het Parool, 18 Juni 1947
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur ini menyebut Gerbrandy salah mengambil cerutu, yang meledak di mulutnya, dan mengeluarkan asap berbunyi "Resolusi Partai Buruh: Jangan ada kekerasan di Indonesia". Tampaknya ada usaha Gerbrandy di parlemen Belanda yang justru malah menggolkan sikap Partai Buruh yang memang relatif lebih bersahabat dengan Indonesia.

De Groene Amsterdammer, 24 Januari 1948
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Tahun 1948 adalah masa kepopuleran Mahatma Gandhi dengan gerakan damainya, serta jubah putih sederhana, serta kambing. Karikatur di atas memperlihatkan bagaimana para tokoh dunia ingin dianggap pecinta damai seperti Gandhi, termasuk Harry Truman, Joseph Stalin, Winston Churchill, dan Charles de Gaulle. Gerbrandy pun ingin dianggap sama; hanya saja mukanya tidak bersahabat, malah kambingnya pun berwajah garang, dan tulisan yang dia usung memang keinginannya: "Pokoknya ke (=merebut) Jogja!".

Het Parool, 5 Mei 1948
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Ketidakpuasan Gerbrandy atas politik Belanda mengenai suasana di Indonesia membuat dia menggugat hal ini sebagai pelanggaran atas konstitusi. Sikap ini dikarikaturkan oleh Leo Jordaan dengan menggambarkan Gerbrandy sebagai Don Quichot yang akan memerangi kincir angin, dengan ditemani oleh politikus dari Partai Katolik, Charles Welter, yang mengambil posisi Sancho Panza.

Vrij Nederland, 14 Oktober 1950
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Ketika Republik Maluku Selatan dikumandangkan, Gerbrandy adalah tokoh yang menyerukan bantuan bersenjata untuk RMS. Karikatur di atas menggambarkan Gerbrandy sebagai sukarelawan pertama yang siap membantu RMS, dengan pakaian militer model kuno (kemungkinan menggambarkan bahwa dia masih memimpikan masa lalu), gombrang (kemungkinan menyimbolkan bahwa dia membesar-besarkan realita), dan bertumpu pada bantal (kemungkinan bahwa dia perlu penopang semu untuk kelihatan layak dilihat).

Waktu: 1947, 1948, 1950
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 04 November 2020

Door de Eeuwen Trouw, organisasi anti RI pendukung RMS: Pamflet semasa konflik bersenjata dengan TNI, 1950

Door de Eeuwen Trouw ("setia sepanjang masa") adalah sebuah organisasi yang didirikan di tahun 1950 oleh sekelompok warga Belanda yang tidak bersimpati pada Republik Indonesia. Mereka menyokong pembatasan pengaruh Indonesia atas wilayah seperti Maluku, Papua, dan pulau-pulau lain yang jauh dari Jawa. Mereka secara resmi mendukung pembentukan Republik Maluku Selatan. Ketika TNI diterjunkan ke wilayah Maluku untuk menumpas gerakan separatis ini, Door de Eeuwen Trouw melancarkan kampanye dukungan atas RMS seperti poster-poster di bawah ini.

Lembaran musik dukungan atas RMS
(klik untuk memperbesar | © Ary Halsema / AVS)

Poster yang menggambarkan Ambon terancam kelaparan karena blokade TNI
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Seruan pengumpulan sumbangan untuk Ambon
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1950
Tempat: Pamflet di atas beredar di Belanda, mengacu ke konflik di Maluku
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 16 Desember 2019

Para pejabat Uni Belanda-Indonesia, 1950 (1)

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan 1950
Tempat: lapangan terbang Kemayoran, Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Uni Belanda-Indonesia (UBI) merupakan hasil dari Konferensi Meja Bundar, di mana Belanda dan Indonesia sepakat membentuk semacam persemakmuran yang beranggotakan Kerajaan Belanda beserta mantan dan masih tanah jajahannya. Foto di atas memperlihatkan kedatangan delegasi UBI dari Belanda ke Jakarta yang disambut rekanannya dari Indonesia.
Dari kiri ke kanan:
* Kusumo Utoyo (utusan Kementrian Luar Negeri)
* Subekti (Pengadilan Arbitrase UBI)
* M.J.C. Reyers (Pengadilan Arbitrase UBI)
* L.J.C. Beaufort (Pengadilan Arbitrase UBI)
* J. Donner (Wakil Ketua Delegasi Belanda)
* A.J. Prinsen (anggota delegasi Belanda)
* Schuurman (Komisi Tinggi Belanda di Indonesia)
* Kusumah Atmaja (Ketua Delegasi Indonesia)
* Alexander Andries Maramis (anggota delegasi Indonesia)
* Wirjono Prodjodikoro (anggota delegasi Indonesia)
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 15 April 2019

Soekarno di Istana Merdeka, 1950

(klik untuk memperbesar | © Ipphos / KITLV)
(klik untuk memperbesar | © Ipphos / KITLV)
(klik untuk memperbesar | © Ipphos / KITLV)
(klik untuk memperbesar | © Charles Breyer / KITLV)

Waktu: 1950
Tempat: Istana Merdeka (Jakarta)
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia), Muhammad Hatta (Wakil Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Charles Breyer / Ipphos / Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan:

Sabtu, 13 April 2019

Fatmawati di tahun 1950

(klik untuk memperbesar | © Ipphos / KITLV)
(klik untuk memperbesar | © Ipphos / KITLV)
Waktu: 1950
Tempat: Jakarta (kemungkinan di Istana Merdeka)
Tokoh: Fatmawati (istri Presiden Republik Indonesia Soekarno)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Ipphos / Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan:

Kamis, 11 April 2019

Soekarno, Fatmawati, Guntur, dan Megawati di Istana Merdeka, 1950

(klik untuk memperbesar | © Ipphos / KITLV)
(klik untuk memperbesar | © Ipphos / KITLV)

Waktu: sekitar 1950
Tempat: Istana Merdeka Jakarta
Tokoh: Soekarno (Presiden Indonesia), Fatmawati (isteri Soekarno), Guntur Soekarnoputra (anak Soekarno), Megawati Soekarnoputri (anak Soekarno)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan:

Selasa, 09 April 2019

Jumat, 05 April 2019

Soekarno dan penari Bali Ni Pollok, 1950

(klik untuk memperbesar | © KITLV)

Waktu: 1950
Tempat: Bali
Tokoh: Soekarno (Presiden RI), Ni Pollok (penari Bali, istri seniman Belgia Adrien-Jean Le Mayeur de Merpres)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan:

Rabu, 03 April 2019

Soekarno dan Hamengkubuwono IX di sekitar Yogyakarta, 1950

(klik untuk memperbesar | © KITLV)

Waktu: 1950
Tempat: sekitar Yogyakarta
Tokoh: Hamengkubuwono IX (Sultan Yogyakarta, kiri); Soekarno (Presiden RI)
Peristiwa:
Fotografer: Theo van Kempen
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan: Kelihatannya Soekarno tidak memakai alas kaki.

Kamis, 20 September 2018

Serah-terima kendaraan militer Belanda ke pihak TNI di Surabaya, 24 Maret 1950

PENGANTAR

Sebagai bagian dari pengakuan kedaulatan oleh pihak Belanda dan pembentukan APRIS, di penghujung 1949 dan awal 1950 militer Belanda menyerahkan beberapa kendaraan militer yang tidak bersifat taktis, seperti truk, ke pihak TNI/APRIS. Peristiwa ini terjadi di beberapa tempat, seperti di Surabaya.

Mayjen J.A. Scheffelaar berbicara dengan Kapten Sriamin
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Mayjen J.A. Scheffelaar berbicara dengan Kol. Sungkono (berpeci)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Truk-truk yang diserahkan Belanda ke pihak TNI
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Truk-truk yang diserahkan Belanda ke pihak TNI
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 24 Maret 1950
Tempat: Kalimas (Surabaya)
Tokoh: Kolonel Sungkono (Panglima TNI untuk wilayah Jawa Timur), Mayjen J.A. Scheffelaar (Komandan militer Belanda untuk wilayah Jawa Timur)
Peristiwa: Serah-terima kendaraan militer Belanda ke pihak TNI di Surabaya
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: