Tampilkan postingan dengan label komunisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunisme. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 September 2024

Kelompok kiri merayakan Hari Buruh di Jakarta, 1 Mei 1947 (2)

Berbagai slogan dan nama organisasi diusung, seperti "SBM (Sarikat Boeroeh Moebil", "Kokohkan Barisanmu", "Sarekat Boeroeh Djawatan Oeroesan Laoet T[andjoen]g Prioek", "1 Mei", "Djakarta 1 Mei", "Sarekat Buruh ... Pertjetakan ... Indonesia", dll.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang tokoh kiri Belanda (?) berorasi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tokoh kiri asal Belanda yang aktif di Asia, Brend Blokzijl
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Orasi dari tokoh kiri lokal
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1 Mei 1947
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting ini.

Sabtu, 21 September 2024

Atribut komunisme yang ditemukan pasukan Belanda pada masa perang kemerdekaan (1)

Pekalongan, Agustus 1947: Pasukan Belanda menemukan atribut komunisme di pabrik teh yang dibumihanguskan pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah bendera dengan lambang yang sama dengan yang ada di foto di atas, juga ditemukan militer Belenda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jember, kemungkinan juga 1947: Pasukan Belanda menurunkan papan PKI
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Edisi lain dari foto pertama
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947
Tempat: Jember, Pekalongan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Foto pertama, dan keempat, pernah dimuat di posting ini.

Rabu, 03 November 2021

Kunjungan rombongan wartawan Amerika untuk meliput Indonesia, 1949 (2)

PENGANTAR

Di salah satu posting sebelum ini, blog ini menampilkan foto bagaimana Ki Hajar Dewantara memperlihatkan dan menerangkan pamflet PKI ke rombongan wartawan Amerika Serikat yang berkunjung ke Yogyakarta. Berikut ini tambahan dan update dari kegiatan para jurnalis ini.

Awalnya tampaknya para wartawan ini menemui Soekarno di pengasingannya di Bangka. Setelah itu mereka pergi ke Yogyakarta untuk bertemu dengan para tokoh Republik. Seterusnya, para wartawan ini berkunjung ke Jakarta untuk berbicara dengan tokoh-tokoh Serikat. Kemudian perjalanan mereka dilanjutkan ke Medan untuk berbicara dengan tokoh anti-republik.

Seperti disebutkan sebelumnya, ketika mereka meneruskan penerbangan ke India, kecelekaan pesawat menewaskan semua peserta rombongan ini. Foto-foto kegiatan mereka selama di Indonesia tapi tetap terwariskan ke kita.


Para wartawan AS mencatat pamflet PKI yang ditempel di sebuah pohon
(klik untuk memperbesar | Theo van Pinxteren / © AVS)
Para wartawan AS mewawancara Sultan Hamengkubuwono IX
(klik untuk memperbesar | Theo van Pinxteren / © AVS)

Waktu: 23 Juni 1949
Tempat: Yogyakarta
Tokoh: Hamengkubuwono IX (Sultan Yogyakarta)
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Theo van Pinxteren
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 16 Oktober 2021

Karikatur tentang penyebaran faham komunisme di Indonesia oleh kelompok kiri Belanda, 1930

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 14 Juni 1930
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa: Wilhelm Middendorp adalah mantan anggota parlemen Belanda yang dikirim ke Indonesia untuk menjadi asisten-residen. Middendorp berpaham kiri, dan karikatur di atas memperlihatkan bagaimana dia mencoba menyebarkan ideologinya di kalangan masyarakat Indonesia. Lambang Kerajaan Belanda tampak tak terurus, semantara foto Lenin malah terpasang rapi. Bendera palu arit tampak berada di kursi rumah dinasnya sebagai asisten-residen, dan juga menyebar ke masyarakat Indonesia yang mendengarkannya.
Juru foto/gambar: Wam Heskes
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 14 Februari 2021

Poster partai politik Belanda yang mendukung dan menolak kemerdekaan Indonesia, 1929/1933/1948

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster di atas diterbitkan oleh Partai Komunis Belanda dalam kampanye pemilihan umum parlemen Belanda di tahun 1929. Poster ini menyatakan bahwa 50 juta rakyat Indonesia mulutnya dibungkam, dengan bendera Belanda, dan oleh tangan dengan tera Singa Belanda; dan bahwa hanya Partai Komunis Belanda yang berjuang untuk mereka, dan karenanya menyeru rakyat Belanda agar memilih Louis de Visser, Ketua Partai Komunis Belanda saat itu.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Pemberontakan kapal perang De Zeven Provinciƫn di perairan Hindia-Belanda di bulan Februari 1933 menggoncang dunia politik Belanda yang tidak menyangkan akan adanya pembangkangan dari kalangan bersenjata di wilayah Hindia-Belanda terhadap pemerintah Belanda. Dalam pemilihan umum parlemen Belanda tahun 1933 kalangan komunis Belanda menggunakan peristiwa ini untuk menyerukan lepasnya Indonesia dari (kekuasaan) Belanda, dan mengutip ucapan Karl Marx (tapi dengan menampilkan siluet Lenin) bahwa "Suatu bangsa tidak akan bebas selama ia menindas bangsa lain".

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Posisi yang berbeda dipegang oleh Partai Anti-Revolusioner. Dalam pemilihan umum Belanda tahun 1948, di tengah konflik bersenjata di Indonesia, partai Protestan konservativ yang a.l. dimotor oleh ini menyatakan bahwa yang harus ditegakan di Hindia-Belanda adalah hukum (Belanda) dan bukan kekacauan yang ditimbulkan oleh Republik (Indonesia).

Waktu: 1929, 1933, 1948
Tempat: poster di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke hal terkait Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 27 Januari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1925-1929

De Groene Amsterdammer, 1925
(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / AVS)

Perkembangan faham komunis di Hindia-Belanda di tahun 1920-an membuat gusar beberapa pihak di Belanda. Pertemuan PKI pada tahun 1925 (di Jakarta?), yang a.l. menyerukan penumbangan pemerintahan penjajahan Belanda, menjadi catatan buat beberapa kalangan Belanda. Karikatur di atas menyuarakan bahwa apa yang ditabur oleh kaum komunis akan diikuti oleh kematian.

Januari/Februari 1925
(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Pulau Jawa di abad ke-19 dan awal abad ke-20 merupakan salah satu wilayah penyebaran candu. Karikatur di atas mengkritik pemerintah Belanda yang membiarkan kerusakan akibat ganja meraja lela demi keuntungan 40 juta Gulden per tahun.

De Telegraaf, 19 September 1929
(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Para pemilik perkebunan di Hindia-Belanda, sejak tahun 1880, memiliki hak untuk menjatuhkan poenale sanctie (sanksi hukuman) kepada para pekerja atau kulinya jika dianggap malas, melakukan penghinaan, atau berusaha kabur dari perkebunan. Hukuman dera merupakan sanksi yang banyak diterapkan. Di tahun 1929 tampaknya ada pekerja yang tewas gara-gara hukuman ini, dan memicu perdebatan tentang perlakuan terhadap para kuli. Karikatur di atas menggambarkan bahwa di atas kepala pemilik perkebunan sekarang bergantung pedang Damokles, yang suatu saat bisa tiba-tiba lepas dari tali tipisnya dan jatuh mengenai si pemilik perkebunan.

De Telegraaf, 31 Oktober 1929
(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Pemerintah penjajahan Hindia-Belanda akhirnya mengeluarkan aturan yang lebih melindungi para kuli. Sekitar sebulan setelah kematian seorang kuli akibat poenale sanctie, sanksi hukuman seperti ini dilarang, tapi sementara hanya untuk pekerja yang sudah usai masa kontraknya dan kemudian memperpanjangnya.

Waktu: 1925, 1929
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Hindia-Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek | Louis Raemaekers
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 09 Oktober 2019

Kelompok kiri merayakan Hari Buruh di Jakarta, 1 Mei 1947 (1)

Barisan Laskar Buruh
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Orasi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Trem hias (dengan barisan lelaki berpakaian wanita?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1 Mei 1947
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 27 April 2019

Kelompok kiri mengusung potret Soekarno dan juga Lenin serta Stalin, 1947

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1 Mei 1947
Tempat: Jakarta (?)
Tokoh:
Peristiwa: Kelompok kiri memperingati tanggal 1 Mei dengan mengusung potret Stalin serta Lenin, dan juga Soekarno.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 16 Juni 2018

Jenderal Sudirman di sebuah acara yang diorganisir kelompok komunis, 1946

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1 Mei 1946 (?)
Tempat: Jawa (?)
Tokoh:  Jenderal Sudirman (panglima besar TNI; kiri), Musso (pimpinan PKI; kanan)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Catatan foto menyebutkan acara ini terjadi tanggal 1 Mei 1947 di Jakarta; ini kemungkinan besar salah karena pada saat itu Jakarta dikuasai oleh Belanda. Yang lebih mungkin adalah 1946, di wilayah yang dikuasai Republik dan memiliki basis kuat kelompok kiri (Jawa Tengah atau Jawa Timur?).

Senin, 20 Maret 2017

Senjata dan bahan propaganda yang direbut Belanda dari pejuang kiri di Surabaya, 1947

Gambar Karl Marx, Friedrich Engels, Lenin, dan Josef Stalin sebagai "Bapak Proletaar" di markas Lasykar Merah
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Pamflet perjuangan yang direbut Belanda
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Senjata dan pamflet perjuangan yang jatuh ke tangan Belanda
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: Juli 1947
Tempat: Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Hugo Wilmar
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:


UPDATE 2 Januari 2020
Foto yang sama dalam ukuran yang lebih besar:

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaanerstad)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaanerstad)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaanerstad)


Sabtu, 10 Desember 2016

Kamis, 28 Juli 2016

Aksi Polisionil 1: Pasukan Belanda menemukan atribut komunisme di Pekalongan, 1947

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: Agustus 1947
Tempat: Pekalongan
Tokoh:
Peristiwa: Pasukan Belanda menemukan atribut komunisme di pabrik teh yang dibumihanguskan.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Rabu, 04 Mei 2016

Sisa-sisa kantor Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) di Purwokerto, 1947

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 27 Juli 1947
Tempat: Purwokerto
Tokoh:
Peristiwa: Sisa-sisa kantor Pesindo yang tampaknya dihancurkan semasa Aksi Polisionil 1.
Fotografer: Hugo Wilmar
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: 1. Pesindo merupakan cikal bakal organisasi Pemuda Rakyat bawahan PKI. 2. Kantor ini rupanya tempat redaksi Kedaulatan Rakyat di Purwokerto.


UPDATE 2 Januari 2020
Foto yang sama dalam ukuran yang lebih besar:

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaanerstad)

Minggu, 03 Januari 2016

Mural-mural bernuansa kiri di tahun 1965

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: (awal?) 1965
Tempat: Jakarta (?)
Tokoh: Beberapa mural dengan simbol-simbol kiri seperti ibu menghunus senjata, bendera negara-negara komunis (Tiongkok, Kamboja, Vietnam), buruh dan petani, anti Malaysia, atau Paman Sam yang dikalahkan.
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Jumat, 01 Januari 2016

Unjuk rasa kelompok kiri di tahun 1964/1965 (2)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 1960-an (1964 dan awal 1965)
Tempat: Jakarta (?)
Tokoh:
Peristiwa: Unjuk rasa kelompok kiri yang antara lain dimotori KBKI (Kesatuan Buruk Kerakyatan Indonesia) menentang Amerika, Shell, kapitalisme, kolonialisme, modal dan wartawan Amerika, serta feodalisme.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Senin, 28 Desember 2015

Unjuk rasa kelompok kiri di tahun 1964/1965 (1)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 1960-an (1964 dan/atau awal 1965)
Tempat: Jakarta (?)
Tokoh:
Peristiwa: Kelompok kiri turun ke jalan berunjuk rasa mengecam apa yang diistlilahkan sebagai "kabir" (kapitalis birokrat), "koruptor agung", "spekulan", "menteri gagal", dan "setan kota".
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 08 Desember 2015

Rapat serikat buruh kiri/komunis di Surabaya, 1964

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 1964
Tempat: Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief / ANP
Catatan: Bisa terlihat spanduk SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia, salah satu organ PKI), dan SBKB (Serikat Buruh Kendaraan Bermotor).

Sabtu, 30 Agustus 2014

Para pimpinan pemberontakan komunis di Ciamis, 1927

Sastra Tabai, dihukum seumur hidup.
(klik untuk memperbesar, © gahetna)
Dirja (kiri) dan Egom (kanan), keduanya dihukum mati.
(klik untuk memperbesar, © gahetna)
Hasan Baki, dihukum mati.
(klik untuk memperbesar, © gahetna)
Waktu: 1927
Tempat: Ciamis (?)
Tokoh: Sastra Tabai, Dirja, Egom, Hasan Baki (para pimpinan pemberontakan komunis di Ciamis tahun 1926, yang kemudian divonis oleh Belanda dengan hukuman mati atau seumur hidup).
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 28 Agustus 2014

Alimin Prawirodirjo, pimpinan PKI, 1947

(klik untuk memperbesar, © gahetna)
Waktu: 1947
Tempat: ?
Tokoh: Alimin Prawirodirjo (pimpinan PKI yang banyak ditempa gerakan komunisme internasional, termasuk di Rusia dan Tiongkok)
Peristiwa: Alimin tampak berbicara di sebuah acara yang belum teridentifikasi.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Foto ini jelas di-retouche negatifnya. Di sekeliling Alimin diberi bingkai, latar belakangnya dibuat abu-abu; bahkan potongan mikrofon di sebelah kiri juga dihilangkan meski masih terlihat sisanya.


UPDATE 30 Oktober 2015:
Foto di atas diambil di saat  sidang BP-KNIP di Malang, Februari/Maret 1947. Alimin berbicara mewakili PKI. Beberapa foto lain dari Alimin di acara ini akan menyusul.