Tampilkan postingan dengan label 1860. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1860. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Juni 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang rumah kediaman Panglima KNIL di Jakarta

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1860
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Charles Theodore Deeleman
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Gambar di atas merupakan versi berwarna dari lukisan yang sebelumnya dimuat di posting ini.

Senin, 03 Maret 2025

Peta Nusantara dari tahun 1860: Ketika di selatan Fak Fak ada pulau bernama "Van den Bosch" yang sekarang hilang

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1860
Tempat terbit: London
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini merupakan kompilasi dari berbagai peta, yang berasal dari berbagai sumber seperti Amerika, Belanda, Inggris, dan Spanyol. Dalam skala yang ditampilkan, peta ini lumayan mendetail. Pulau-pulau kecil yang berserakan sepanjang Nusantara diberi nama. Beberapa tempat memiliki nama hingga ke jenjang kecamatan. Peta ini juga sudah sangat akurat untuk wilayah dari Aceh hingga ke Maluku. Di sekitar Papau peta ini cukup jujur untuk mengatakan bahwa beberapa kontur pantai masih belum terpetakan dengan benar. Ini terlihat dari garis putus-putus atau tanpa garis di sekitar Teluk Yos Sudarso, Kepulauan Aru, dan Kepulauan Tanimbar. Yang menarik, di selatan Fak Fak tampak garis putus-putus, kemudian kosong di bawahnya, dan muncul pulau dengan nama "Van den Bosch". Sekarang kita sudah tahu bahwa itu semua merupakan bagian utuh dari pulau Papua, dengan kata lain garis putus-putus, wilayah kosong, dan pulau itu seharusnya menyatu ke Papua.
Yang menarik lainnya: Garis-garis pantai diberi warna sesuai dengan siapa yang menguasainya: oranye untuk Spanyol dan Portugis, orange pucat untuk Belanda, pink untuk Inggris, serta abu-abu untuk wilayah yang masih dikuasai penduduk setempat. Jadi menurut peta ini, masih banyak wilayah di Nusantara yang saat itu tidak atau belum dikuasai Belanda:Aceh, pesisir timur Sumatera, pedalaman Kalimantan, Bali, Lombok, bagian barat Flores, serta Papua.
Juru kartografi: J. Bartholomew
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 03 Mei 2024

Lima foto tentang Jakarta di pertengahan kedua abad ke-19

Sebuah kawasan pecinan
(klik untuk memperbesar | © Woodbury and Page / Indies Gallery)
1870: Kawasan Kali Besar
(klik untuk memperbesar | © Woodbury and Page / Indies Gallery)
1880: Weltevreden, di kawasan Sawah Besar sekarang
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
1860: Gedung Gubernur Jenderal yang sekarang menjadi Istana Merdeka
(klik untuk memperbesar | © Woodbury and Page / Indies Gallery)
Kawasan Meester Cornelis, sekarang disebut Jatinegara
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: menjelang akhir abad ke-19 (a.l. 1860, 1870, 1880)
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto: a.l. Woodbury and Page
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 04 April 2023

Dari serakan foto-foto karya Woodbury & Page (1)

Walter Bentley Woodbury dan James Page adalah dua orang Inggris yang menjadi salah dua perintis dunia fotografi profesional di Hindia-Belanda. Studio foto yang mereka dirikan di Batavia menjadi teladan bagi fotografer lain untuk mendirikan hal yang sama di Padang, Semarang, Surabaya, dan kota-kota lain di Nusantara. Blog ini sudah menampilkan banyak karya keluaran dari studio ini. Kali ini kita akan mencoba mengumpulkan foto-foto karya Woodbury dan Page yang berserakan.


1858: Empat penari serimpi dari Batutulis, Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1860: Patung penjaga Candi Singasari (Arca Dwarpala)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1865: Kebun Raya Bogor, a.l. dengan pohon-pohon beringinnya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1870: Keris dan aneka tumbak dan senjata tajam yang dipajang di (sekarang) Museum Gajah, Jakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875: Kerami, gerabah, dan barang-barang antik lainnya di Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1858, 1860, 1865, 1870, 1875
Tempat: Bogor, Jakarta, Malang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Woodbury & Page
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Edisi lain dari foto nomor 2 pernah dimuat di posting ini.

Sabtu, 07 Agustus 2021

Jakarta dalam lukisan Charles Theodore Deeleman, 1859-1860 (3)

PENGANTAR

Charles Theodore Deeleman adalah seorang insinyur Belanda yang memiliki bengkel besi di Batavia. Deeleman lahir di Amsterdam pada tahun 1823, dan wafat di Batavia di tahun 1884. Selain sebagai insinyur, Deeleman juga dikenal sebagai pakar irigasi, dan pelukis. Blog ini akan menampilkan beberapa karyanya.
Dan kalau nama Deeleman sangat mirip dengan kata delman, ini tidak mengherankan. Model atau konstruksi dokar/sado/bendi yang ada di Jakarta dan sekitarnya merupakan kreasi sang insinyur ini.


Kuburan Belanda (di kawasan Tanah Abang?)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Akademi tentara di Jatinegara
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Kanalisasi di kawasan Gunung Sahari
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: lukisan dibuat antara tahun 1859 dan 1860
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Charles Theodore Deeleman
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 05 Agustus 2021

Jakarta dalam lukisan Charles Theodore Deeleman, 1859-1860 (2)

PENGANTAR

Charles Theodore Deeleman adalah seorang insinyur Belanda yang memiliki bengkel besi di Batavia. Deeleman lahir di Amsterdam pada tahun 1823, dan wafat di Batavia di tahun 1884. Selain sebagai insinyur, Deeleman juga dikenal sebagai pakar irigasi, dan pelukis. Blog ini akan menampilkan beberapa karyanya.
Dan kalau nama Deeleman sangat mirip dengan kata delman, ini tidak mengherankan. Model atau konstruksi dokar/sado/bendi yang ada di Jakarta dan sekitarnya merupakan kreasi sang insinyur ini.


Gedung pos
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Waterlooplein, sekarang Lapangan Banteng
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Kediaman Panglima KNIL
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: lukisan dibuat antara tahun 1859 dan 1860
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Charles Theodore Deeleman
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Tambahan: Lukisan Deeleman tentang Tugu Michiels yang menjadi bagian dari Waterlooplein, dibuat sebelumnya di tahun 1855.
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Selasa, 03 Agustus 2021

Jakarta dalam lukisan Charles Theodore Deeleman, 1859-1860 (1)

PENGANTAR

Charles Theodore Deeleman adalah seorang insinyur Belanda yang memiliki bengkel besi di Batavia. Deeleman lahir di Amsterdam pada tahun 1823, dan wafat di Batavia di tahun 1884. Selain sebagai insinyur, Deeleman juga dikenal sebagai pakar irigasi, dan pelukis. Blog ini akan menampilkan beberapa karyanya.
Dan kalau nama Deeleman sangat mirip dengan kata delman, ini tidak mengherankan. Model atau konstruksi dokar/sado/bendi yang ada di Jakarta dan sekitarnya merupakan kreasi sang insinyur ini.


De Uitkijk Post, sekarang bernama Menara Syahbandar di kawasan Sunda Kelapa
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Gerbang dari area kastil/benteng Batavia, dekat Jalan Tongkol sekarang
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Kawasan pecinan di Pintu Kecil
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Perempatan yang kemudian dijuluki Harmoni, dengan Gedung Harmonie di sebelah kiri dan lapak penjahit masyhur milik orang Perancis, Oger Frères di sebelah kanan tengah
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: lukisan dibuat antara tahun 1859 dan 1860
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Charles Theodore Deeleman
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 15 Agustus 2020

Peninggalan purbakala di Jawa dalam jepretan pelbagai juru foto

Kemungkinan besar Candi Jedong, Mojokerto
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Salah satu patung Buddha dari Borobudur
(klik untuk memperbesar | © NGA)

1860: Patung raksasa penjaga Candi Singhasari (Arca Dwarpala)
(klik untuk memperbesar | © Walter Woodbury / NGA)

1873: Patung singa di Borobudur
(klik untuk memperbesar | © Isidore van Kinsbergen / NGA)

1875: Patung Gaprang, Blitar
(klik untuk memperbesar | © Herman Salzwedel / NGA)

Antara 1900 dan 1913: Patung/relief dari Prambanan
(klik untuk memperbesar | © NGA)

1930an: Gubernur Jenderal Bonifacius Cornelis de Jonge beserta istri di Mendut
(klik untuk memperbesar | © Hisgen / NGA)

Sekitar 1930: Candi Penataran, Blitar
(klik untuk memperbesar | © K. Satake / NGA)

Waktu: 1860, 1873, 1875, 1913, 1930, 1930an
Tempat: Blitar, Magelang, Malang, Mojokerto, Yogyakarta
Tokoh: Bonifacius Cornelis de Jonge (Gubernur Jenderal Hindia-Belanda 1931-1936)
Peristiwa:
Fotografer: Herman Salzwedel, Hisgen, Isidore van Kinsbergen, K. Satake, Walter Woodbury
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Minggu, 19 Januari 2020

Candi Singhasari di penghujung abad ke-19, awal abad ke-20

1860: Patung Ganesha dari Candi Singhasari
(klik untuk memperbesar | © Woodbury & Page / Universiteit Leiden)
1860: Patung raksasa penjaga candi (Arca Dwarpala)
(klik untuk memperbesar | © Woodbury & Page / Universiteit Leiden)
Sebelum 1880: Patung raksasa penjaga candi (Arca Dwarpala)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Sebelum 1880: Reruntuhan candi dengan dua patung Ganesha di depannya
(klik untuk memperbesar | © H. Salzwedel / Universiteit Leiden)
Sebelum 1880: Patung-patung di Candi Singhasari
(klik untuk memperbesar | © H. Salzwedel / Universiteit Leiden)
1901/1902: Reruntuhan candi dengan dua patung Ganesha di depannya
(klik untuk memperbesar | © A.E.F. Muntz / Universiteit Leiden)
1901/1902: Keluarga Belanda berpose di patung raksasa penjaga candi (Arca Dwarpala)
(klik untuk memperbesar | © A.E.F. Muntz / Universiteit Leiden)

Waktu: 1860, 1880, 1901/1902
Tempat: Malang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: A.E.F. Muntz / H. Salzwedel / Woodbury & Page (Batavia)
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: Foto nomor 4 dimuat di posting ini sebelumnya dalam ukuran yang lebih kecil dan dari sumber lain.


UPDATE 3 Juli 2020: Gambar nomor 3 dan 4 akan dimuat ulang pada tanggal 13 Agustus 2020 dalam foto yang berasal dari sumber lain.

Minggu, 22 September 2019

Bangsawan Jawa dalam jepretan S.W. Camerik, 1860: Bupati Magelang, Raden Tumenggung Danukusumo dan keluarga

Bupati Magelang, Raden Tumenggung Danukusumo (atau Danuningrat)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Istri dari R.T. Danukusumo
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Anak laki-laki dari R.T. Danukusumo
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1860
Tempat: kemungkinan di Surakarta (bukan di Magelang)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: S.W. Camerik
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Jumat, 20 September 2019

Bangsawan Jawa dalam jepretan S.W. Camerik, 1860: Mangkunegoro IV dan istri

Mangkunegoro IV
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Kemungkinan Bendoro Raden Ajeng Dunuk
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: 1860
Tempat: Surakarta
Tokoh: Mangkunegoro IV (Pangeran Praja Mangkunegaraan 1853-1881); Bendoro Raden Ajeng Dunuk (istri Mangkunegoro IV)
Peristiwa:
Fotografer: S.W. Camerik
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Rabu, 18 September 2019

Bangsawan Jawa dalam jepretan S.W. Camerik, 1860: Pakubuwono IX dan kerabat Keraton Surakarta

Susuhunan Pakubuwono IX
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pangeran Suryoadmojo
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pangeran Suryo Sosrodiningrat (Raden Adipati Sosrodiningrat IV)
klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Salah seorang anak kerabat keraton
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1860
Tempat: Surakarta
Tokoh: Raden Mas Duksino (Sri Susuhunan Pakubuwono IX, Raja Kasunanan Surakarta 1861-1893); Pangeran Suryoadmojo (saudara Pakubuwono IX); Pangeran Suryo Sosrodiningrat (Patih Surakarta, dikenal juga sebagai Raden Adipati Sosrodiningrat IV)
Peristiwa:
Fotografer: S.W. Camerik
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Senin, 16 September 2019

Bangsawan Jawa dalam jepretan S.W. Camerik, 1860: Kerabat keraton penting di masa Hamengkubuwono VI

Raden Adipati Danurejo IV
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Tumenggung Sostronegoro
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1860
Tempat: Yogyakarta
Tokoh: Raden Adipati Dhanurejo IV (patih di masa Hamengkubuwono VI); Tumenggung Sostronegoro (suami dari Raden Ayu Anger, menantu Hamengkubuwono VI)
Peristiwa:
Fotografer: S.W. Camerik
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Sabtu, 14 September 2019

Bangsawan Jawa dalam jepretan S.W. Camerik, 1860: Puteri-puteri Hamengkubuwono VI

Raden Ayu Anger
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Raden Ajeng Mursila
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Raden Ajeng Saripa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Raden Ajeng Mustokina
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Raden Ajeng Supia
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1860
Tempat: Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: S.W. Camerik
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: