Tampilkan postingan dengan label keraton. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keraton. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Juni 2026

Penjaga Kori Kamandungan di Keraton Solo, dan Candi Borobudur

Penjaga gerbang masuk Keraton Solo, dengan latar belakang sebuah cermin besar tempat orang berkaca diri sebelum masuk ke kediaman sultan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Candi Borobudur
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: ?
Tempat: Solo (atas), Magelang (bawah)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 04 November 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (7)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Ini adalah lukisan Hardouin tentang seorang penari perempuan di sebuah keraton Jawa. Hardouin cukup jeli untuk menampilkan banyak detail di pakaian si penari: mulai dari penutup kepala, anting-anting, ornamen di dada, hiasan di lengan atas, ikat pinggang, hingga ke motif kain batik yang dikenakan si penari.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Cukup mengagetkan bahwa AI bisa mereka ulang detail yang dijabarkan Hardouin di lukisannya, mulai dari penutup kepala hingga ke kain batik, dan instruksi ke AI sepenuhnya tanpa prompt khusus, hanya permintaan membuat lukisan menjadi semacam foto realistis.
(klik untuk memperbesar)
Ini adalah penjual unggas hidup yang tampaknya menjajakan dagangannya di sebuah kawasan pecinan. Dia memikul seekor kalkun, paling tidak dua ayam kampung dan satu bebek. Si pria ini berpakaian seperti lelaki kelas bawah biasa pada zamannya: telanjang dada dan nyeker, tetapi bertutup kepala, bercelana dan bersarung.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI cukup meyakinkan untuk menampilkan si penjual unggas. Si ayam kalkun bisa terdeteksi, begitu juga bilah bambu melengkung yang menjadi pikulan di pria. Hanya ayam yang di sebelah kiri tereduksi menjadi dua ekor dalam komposisi yang berbeda dari lukisan Hardouin.
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 07 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (3)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Perkampungan Dayak Long Wai dengan rumah panggung, babi piaraan, serta perahu
(klik untuk memperbesar)
Kemungkinan salah satu sudut Tenggarong, ibu kota Kesultanan Kutai, dengan rumah panggung di atas air dan perahu sebagai sarana transportasi utama
(klik untuk memperbesar)
Atas: Keraton Sultan Kutai; bawah: sebuah kompleks kuburan di tepi sungai yang dikawal seorang penjaga bersenjata lembing
sebuah (klik untuk memperbesar)
Seorang pria Dayak dalam pakaian perang lengkap dengan jubah dari kulit macan tutul
(klik untuk memperbesar)
Patung-patung dan hasil kerajinan tangan suku Dayak
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

UPDATE 14 Juli 2026: Edisi lain dari gambar pertama
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Jumat, 08 Maret 2024

Dari sebuah album foto tentang Keraton Solo di tahun 1910-an

Pakubuwono X bersama abdi dalem keraton dan para petinggi Belanda; berjalan di depan, kedua dari kanan, kemungkinan Patih Kasunanan Surakarta, Raden Adipati Sosrodiningrat IV
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Reruntuhan Candi Borobudur
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Rombongan para pangeran Keraton Solo
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Pendopo Keraton Solo dengan perangkat gamelan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Kemungkinan pembangunan jalan menembus lahan perkebunan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: 1910-an
Tempat: Surakarta
Tokoh: Pakubuwono X (Susuhunan Surakarta), Sosrodiningrat IV (Patih Keraton Surakarta)
Peristiwa:
Juru foto:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 24 Januari 2024

Hamengkubuwono VIII, kerabat keraton Yogyakarta bersama para pembesar Belanda

9 November 1937: Hamengkubuwono VIII bersama para pembesar Belanda; lihat catatan di bawah untuk detail
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1930-an (a.l. 1937)
Tempat: Yogyakarta
Tokoh: Hamengkubuwono VIII (Sultan Yogyakarta)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto pertama merupakan update gambar atas posting ini. Tokoh lain foto ini, dari Hamengkubuwono VIII ke arah kiri: W.H. van Helsdingen (ketua Volksraad), Louise Abbenhuis-Verschueren (istri asisten residen), berikutnya tidak di kenal; dari beliau ke arah kanan: Christiaan Abbenhuis (asisten residen), tidak dikenal, Ratu Pembayun (?), tidak dikenal, tidak dikenal, H.J. van Mook (Direktur Urusan Ekonomi, kelak Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda).

Senin, 22 Januari 2024

Pakubuwono X bersama para pembesar Belanda di acara pemutaran film

Pakubuwono X dan GKR Hemas mengapit Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (?) dalam sebuah acara pemutaran film
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: antara 1936 dan 1939
Tempat: Jawa
Tokoh: Pakubuwono X (Raja Kasunanan Surakarta); Jonkheer Alidius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (Gubernur Jenderal Hindia-Belanda 1936-1942)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 07 Juni 2023

Wajah masyarakat Jawa dalam jepretan Kassian Céphas di sekitar penghujung abad ke-19 (5)

~1880: Kemungkinan dua abdi dalem Keraton Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1880: Dua pria memeragakan postur tubuh sesuai aturan adat
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1885: Pertunjukan tari bertopeng di halaman Keraton Yogyakarta dalam rangka perayaan sekaten
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto lain terkait pertunjukan di perayaan sekaten
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Edisi lain dari foto di atas; foto tidak terlalu terpotong
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Edisi lain dari foto di atas; kemungkinan edisi awal yang belum terpotong
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1880, 1885
Tempat: Jawa (a.l. Yogyakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Kassian Céphas
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia | Universiteit Leiden
Catatan: Versi halaman buku dari tiga foto terakhir pernah dimuat di posting ini.

Senin, 06 Februari 2023

Para petinggi Jepang memasuki Hindia-Belanda, 1942/1943

Jakarta, 1943: Perdana Menteri Jepang, Jenderal Hideki Tojo (kiri), berkunjung ke Hindia-Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Surabaya: Penghormatan untuk seorang perwira Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Surakarta: Rombongan militer Jepang mengunjungi Keraton
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang perwira Jepang menerima penghormatan defile; di sebelah kiri tampak barisan lelaki dalam pakaian adat Jawa
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1942/1943
Tempat: Jakarta, Surabaya, Surakarta
Tokoh: Jenderal Hideki Tojo (Perdana Menteri Jepang)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 02 Agustus 2021

Dari album foto keluaran Topografische Dienst van Nederlands-Indië pada saat Perang Aceh (3), 1874

PENGANTAR

Topografische Dienst van Nederlands-Indië (Jawatan Topografi Hindia-Belanda) di tahun 1874 mengeluarkan sebuah buku yang berisi 30 foto tentang suasana di Aceh pada saat itu. Di bawah ini dua versi dari jilid buku, yang berisi nomor dan uraian dari foto-foto ini. Ini sangat memudahkan kita untuk mengetahui apa yang ditampilkan oleh foto-foto ini.

(klik untuk memperbesar | © NGA)

13. Gudang mesiu Belanda di bagian selatan Kutaraja
(klik untuk memperbesar | © NGA)
14. Satu sisi Keraton Kesultanan Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
15. Sisi barat Keraton Kesultanan Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
16. Satuan artileri meriam di bagian barat Kutaraja
(klik untuk memperbesar | © NGA)
17. Gudang mesiu (?) di markas KNIL
(klik untuk memperbesar | © NGA)
18. Benteng Belanda di Peunayong
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1874 (ada kemungkinan beberapa foto dibuat sebelum 1874)
Tempat: Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Topografische Dienst van Nederlands-Indië
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 27 Juli 2021

Jepretan Kassian Céphas tentang upacara, ampilan, dan sendratari di Kedaton Yogyakarta XIII-XVI, 1888

PENGANTAR

Sejarah fotografi Indonesia tidak lepas dari nama Kassian Céphas, lelaki Jawa pertama yang tercatat belajar menggunakan kamera dan mewariskan banyak foto yang mengabadikan suasana di Yogyakarta dan sekitarnya di zamannya, yang beberapa di antaranya sudah dimuat di blog ini. Buku foto pertama Kassian Céphas yang dikeluarkan untuk khalayak ramai berjudul In den Kedáton te Jogjåkártå: Oepåtjårå, ampílan en tooneldansen yang diterbitkan tahun 1888 bersama J. Groneman. National Gallery of Australia memiliki dua versi dari buku ini, yang berasal dari koleksi Leo Haks. Blog ini akan menampilkan keduanya secara simultan.

Jilid versi pertama
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Jilid versi kedua
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman judul
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Versi pertama

XIII
(klik untuk memperbesar | © NGA)
XIV
(klik untuk memperbesar | © NGA)
XV
(klik untuk memperbesar | © NGA)
XVI
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Versi kedua

XIII
(klik untuk memperbesar | © NGA)
XIV
(klik untuk memperbesar | © NGA)
XV
(klik untuk memperbesar | © NGA)
XVI
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1888
Tempat: Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Kassian Céphas
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: