Tampilkan postingan dengan label Sumedang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumedang. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2026

Adu domba di alun-alun Sumedang

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: ?
Tempat: Sumedang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 14 Januari 2026

Kendaraan lapis baja Belanda bersembunyi di jalur Sumedang-Cirebon

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: masa Perang Kemerdekaan
Tempat: jalur jalan antara Sumedang dan Cirebon
Tokoh:
Peristiwa: Jalanan antara Sumedang dan Cirebon, yang sekarang tersaingi oleh jalan tol Cipali dan Cisumdawu, merupakan jalur yang rawan penyergapan dan usaha pemboman jembatan oleh para pejuang semasa Perang Kemerdekaan. Militer Belanda banyak mengerahkan pasukan bersenjata berat ke rute yang melintasi Tomo, Kadipaten, hingga ke arah Jatiwangi ini.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 01 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (12)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda di kawasan Puncak, yang sekarang menjadi Istana Cipanas, dengan latar belakang Gunung Pangrango di kejauhan
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah pertunjukan perburuan rusa di kawasan sekitar Bogor yang disaksikan warga Belanda (?) dari sebuah saung, serta masyarakat di kejauhan. Dua rusa tampak dikepung oleh empat pemburu lokal berkuda bertopi, dua di antaranya menghunuskan senjata tajam
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rumah Asisten Residen Sumedang yang dibangun dengan gaya khas kolonial di masanya, yaitu dengan pilar-pilar bundar yang menopang atap luas bergenting, tembok putih, serta deretan pintu bercelah yang diwarnai hijau, dan tentunya bendera Belanda. Asisten Residen Sumedang saat itu melapor ke Residen Priangan yang berdiam di Bandung.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Dua perwira KNIL mengunjungi Talaga Bodas di Garut, seorang di antaranya dipayungi opas lokal yang mengindikasikan tingginya pangkat yang bersangkutan. Dua warga lokal lain tampak di sebelah kanan, kemungkinan bertanggung jawab atas akomodasi atau konsumsi perjalanan perwira ini.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Masjid Agung Banten, Serang, yang selesai dibangun di tahun 1566 dan ditambahi menara di sekitar tahun 1632. Mesjid ini menunjukkan banyak perpaduan budaya: atap yang khas Pulau Jawa, sebagian tembok yang meminjam gaya Eropa, serta menara yang dipengaruhi arsitektur Tionghoa.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 05 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Abraham Salm tentang berbagai tempat di Jawa (6)

Ini merupakan pelengkap dan tayang ulang (reload) dalam ukurang yang lebih besar dari beberapa lukisan karya Abraham Salm yang pernah dimuat sebelumnya. Lihat tautan di bagian "Catatan" di bawah.


Jawa Timur: Perkampungan warga Tengger dengan latar belakang pegunungan di kawasan Bromo-Tengger-Semeru
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Jalanan yang menghubungkan Bogor dengan Cisarua, di sekitar wilayah Megamendung. Kelak perlintasan ini manjadi jalan beraspal yang dikenal dengan nama "jalur Puncak".
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sumedang: Jalanan yang memotong batu-batu cadas dengan jurung dan lembah yang dalam serta curam. Jalur ini kemudian dikenal dengan nama "Cadas Pangeran".
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Pasuruan: Sebuah jembatan kayu yang menjadi tumpuan warga untuk menyeberangi Kali Brantas yang tampak mengalir deras
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: sekitar 1872
Tempat terbit:
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Abraham Salm
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Tautan dari posting sebelumnya tentang Banten, Bogor, Gunung Semeru, Malang/Tegal, dan Sumedang.

Rabu, 03 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Abraham Salm tentang berbagai tempat di Jawa (5)

Ini merupakan pelengkap dan tayang ulang (reload) dalam ukurang yang lebih besar dari beberapa lukisan karya Abraham Salm yang pernah dimuat sebelumnya. Lihat tautan di bagian "Catatan" di bawah.


Jawa Timur: Pertunjukan tarian di lapangan terbuka di sebuah desa dengan latar belakang Gunung Arjuno
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sumedang: Sebuah pemandangan tentang sebuah kampung di waktu malam. Tampak empat orang mengelilingi sebuah ungun untuk menghangatkan badan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Jawa Timur: Seekor macan tutul minum di sebuah telaga di dekat sebuah sungai yang mengalir deras
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Malang: Aktivitas warga di Wendit yang berkisar di kegiatan air seperti mandi, cuci, atau sekedar bersantai dan bercengkerama. Lokasi ini sekarang menjadi tempat wisata air.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: sekitar 1872
Tempat terbit:
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Abraham Salm
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Tautan dari posting sebelumnya tentang Banten, Bogor, Gunung Semeru, Malang/Tegal, dan Sumedang.

Selasa, 16 Mei 2023

Dari sebuah seri foto tentang tujuan wisata di Jawa-Bali pada awal abad ke-20 (2)

Empat belas foto berikut ini berasal dari sebuah seri yang menampilkan tujuan-tujuan wisata di Jawa dan Bali. Tampaknya yang mengumpulkan foto-foto ini bertujuan menyimpan kenang-kenangan dari tempat-tempat yang sempat dia kunjungi. Foto-foto ini berasal dari para juru foto yang namanya sudah banyak bermunculan di blog ini. Salah satu foto kemungkinan malah menampilkan sosok Thilly Weissenborn, fotografer profesional perempuan pertama di Hindia-Belanda.


~1920: Beberapa pura desa dengan latar belakang Gunung Batur
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1916: Hotel Sindanglaya di Cipanas, Cianjur
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Satu keluarga Belanda berfoto di Tosari
(klik untuk memperbesar | © Studio Onnes Kurkdjian / NGA)
~1930: Cibodas, Bogor
(klik untuk memperbesar | © Thilly Weissenborn / NGA)
~1920: Cadas Pangeran, Sumedang?
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1916, 1920, 1930
Tempat: Bali, Cibodas (Bogor), Sindanglaya (Cipanas, Cianjur), Sumedang (?), Tosari
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Studio Onnes Kurkdjian, Thilly Weissenborn
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 02 Januari 2023

Dari album foto seorang anggota Keraton Kanoman Cirebon (7)

PENGANTAR

Di antara album foto yang dibeli National Gallery of Australia dari koleksi Leo Haks, ada sebuah buku foto yang oleh NGA diberikan keterangan singkat "Samsoedin Indonesian family album 1930 - 1933". Sepintas isi album ini memang foto-foto keluarga Indonesia, yang berisi gambar dari anak kecil hingga dewasa, ketika di rumah atau sedang bepergian. Si keluarga tampaknya lumayan berada. Mereka memiliki mobil dengan plat nomor D, memiliki anjing ras, dan Samsoedin ini memiliki kamera yang tampaknya dia gunakan untuk mengambil banyak foto yang ada di album ini. Kemudian keluarga ini banyak berpergian, keliling Jawa, ke Bali, ke Palembang, bahkan sampai ke Singapura.

Si penyusun foto memberikan beberapa catatan, sehingga kita masih bisa mengetahui tentang apa foto-foto ini. Di salah satu foto ada keterangan De Koninklijke familie Kanoman, atau "Keluarga Kerajaan Kanoman". Ini menimbulkan dugaan bahwa keluarga yang ditampilkan di album ini adalah keluarga Keraton Kanoman, Cirebon. Dugaan ini diperkuat dengan catatan Samsoedin di foto dia bersama kerabat lelakinya yang diberi catatan 't Kanoman-trio and little brothers. Akhirnya catatan dia di awal album yang menyebutkan namanya, dan nama tempat "Soerabaja", "Bandoeng", "Java", dan "Kanoman" makin mengukuhkan dugaan ini.

Album ini menjadi menarik karena menampilkan golongan berada Indonesia di tahun 1930-an: pakaiannya, pendidikannya, bahasa yang digunakan, kegiatannya, serta pertemanannya. Album ini juga ikut memperlihatkan tempat mana saja yang menjadi tujuan perjalanan atau wisata saat itu. Dari album ini kita juga melihat bahwa Samsoedin ini sangat senang memfoto anak kecil terutama keponakannya, dan dalam beberapa foto juga kaum perempuan termasuk ibu dan saudara-saudara wanitanya. Ada juga foto yang memperlihatkan kunjungan Dr. Khalid Sheldrake ke Bandung. Khalid, yang nama aslinya Bertram William, adalah filantrop Inggris yang masuk Islam dan sempat dinobatkan menjadi Raja Islamestan di wilayah Xinjiang, RRT, sekarang.


Halaman yang banyak menunjukkan foto saudara perempuan dan keponakan Samsoedin, serta suasana Ramadhan di tahun 1932
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Samsoedin sebegai pemain bola, dia menyebut posisinya center voor (depan tengah)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman yang banyak menunjukkan tim sepakbola serta kunjungan wisata ke tempat yang tidak disebutkan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Wisata ke Borobudur, teman-teman sekolah, dan tambahan foto keluarga dari saudara dan keponakan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman yang dipenuhi para keponakan; Samsoedin malah muncul memangku dua di antaranya, sementara di foto lain dia menyebutkan nama-namanya: Atikah, Elly, Farida, dan tentu saja Ontje
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman yang sekali lagi menampilkan ayah dan ibu Samosoedin, para saudaranya, teman-teman sekolahnya, dan kunjungan a.l. ke Sangkanhurip (Kuningan), serta Sumedang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
 
Waktu: di sekitar tahun 1930
Tempat: a.l. Kuningan, Sumedang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Samsudin
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 27 Desember 2022

Dari album foto seorang anggota Keraton Kanoman Cirebon (4)

PENGANTAR

Di antara album foto yang dibeli National Gallery of Australia dari koleksi Leo Haks, ada sebuah buku foto yang oleh NGA diberikan keterangan singkat "Samsoedin Indonesian family album 1930 - 1933". Sepintas isi album ini memang foto-foto keluarga Indonesia, yang berisi gambar dari anak kecil hingga dewasa, ketika di rumah atau sedang bepergian. Si keluarga tampaknya lumayan berada. Mereka memiliki mobil dengan plat nomor D, memiliki anjing ras, dan Samsoedin ini memiliki kamera yang tampaknya dia gunakan untuk mengambil banyak foto yang ada di album ini. Kemudian keluarga ini banyak berpergian, keliling Jawa, ke Bali, ke Palembang, bahkan sampai ke Singapura.

Si penyusun foto memberikan beberapa catatan, sehingga kita masih bisa mengetahui tentang apa foto-foto ini. Di salah satu foto ada keterangan De Koninklijke familie Kanoman, atau "Keluarga Kerajaan Kanoman". Ini menimbulkan dugaan bahwa keluarga yang ditampilkan di album ini adalah keluarga Keraton Kanoman, Cirebon. Dugaan ini diperkuat dengan catatan Samsoedin di foto dia bersama kerabat lelakinya yang diberi catatan 't Kanoman-trio and little brothers. Akhirnya catatan dia di awal album yang menyebutkan namanya, dan nama tempat "Soerabaja", "Bandoeng", "Java", dan "Kanoman" makin mengukuhkan dugaan ini.

Album ini menjadi menarik karena menampilkan golongan berada Indonesia di tahun 1930-an: pakaiannya, pendidikannya, bahasa yang digunakan, kegiatannya, serta pertemanannya. Album ini juga ikut memperlihatkan tempat mana saja yang menjadi tujuan perjalanan atau wisata saat itu. Dari album ini kita juga melihat bahwa Samsoedin ini sangat senang memfoto anak kecil terutama keponakannya, dan dalam beberapa foto juga kaum perempuan termasuk ibu dan saudara-saudara wanitanya. Ada juga foto yang memperlihatkan kunjungan Dr. Khalid Sheldrake ke Bandung. Khalid, yang nama aslinya Bertram William, adalah filantrop Inggris yang masuk Islam dan sempat dinobatkan menjadi Raja Islamestan di wilayah Xinjiang, RRT, sekarang.


Penjelajahan bersama teman-teman sekolah a.l. ke Subang, Gunung Tangkuban Perahu dan Gua (?) Pawon di Bandung, serta Situ Empang di Purwakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kunjungan ke Palembang dan Bali
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kenang-kenangan dari kunjungan ke Bangkalan, Cicalengka, Lamongan, dan menyebarangi Bengawan Solo melalui jembatan Babat-Widang di Tuban
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto keluarga a.l. di Jubileumspark Bandung dan Singapura
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kebun binatang Darmo di Surabaya dan berburu banteng di Tomo/Buahdua, Sumedang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Samsoedin dalam pakaian Bali, ayah-ibunya, serta sanak saudaranya, serta foto dari kunjungan ke Malang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
 
Waktu: di sekitar tahun 1930
Tempat: Bali, Bandung, Bangkalan, Cirebon, Lamongan, Malang, Palembang, Purwakarta, Singapura, Subang, Sumedang, Surabaya, Tuban
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Samsudin
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 24 Januari 2022

Aneka wajah Nusantara dalam lukisan Josias Rappard, 1888 (14)

Kediaman Asisten Residen Sumedang
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Talaga Bodas (atau Kawah Putih, Bandung?)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Masjid Agung Banten, Serang
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Socialiteit warga Belanda di Jawa
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1888
Tempat: Bandung, Serang, Sumedang
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Josias Rappard
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 10 Februari 2020

Beberapa sarana transportasi zaman dulu

Sarana yang selama ratusan tahun telah terbukti cepat, lincah, dan fleksibel adalah berkuda, seperti yang dilakukan oleh pejabat muda Belanda ini, ketika menginspeksi wilayah Priangan di abad ke-19, dengan dikawal oleh rombongan kuda warga lokal.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Untuk pejabat yang lebih tinggi, kereta berkuda seperti yang terlihat di Cisokan (Cianjur, sebelum 1874) ini akan memberikan lebih banyak kenyamanan dalam perjalanan.
(klik untuk memperbesar | © Woodbury & Page / Universiteit Leiden)
Para pembesar yang sangat tinggi tentunya memiliki kereta kencana seperti milik Susuhunan Solo ini (sebelum 1874).
(klik untuk memperbesar | © Woodbury & Page / Universiteit Leiden)
Jika daya angkut lebih penting daripada kecepatan, maka pedati sapi merupakan pilihan yang telah teruji berabad-abad, seperti pengangkut air di Medan tahun 1900 ini.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pedati sapi juga sangat fleksibel dalam hal jenis beban yang bisa angkut. Pedati di Semarang pada tahun 1901/1902 ini misalnya mengangkut kaleng minyak.
(klik untuk memperbesar | © A.E.F. Muntz / Universiteit Leiden)
Penemuan dan produksi massal kendaraan bermotor di awal abad ke-20 perlahan-lahan menyingkirkan transportasi bertenaga hewan. Ketika mobil mulai populer, pemerintah Hindia-Belanda mulai membangun jembatan berbasis besi untuk menyeberangi sungai, seperti jembatan Sungai Cimanuk di Tomo (Sumedang) pada tahun 1915 ini.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: abad ke-19, 1874, 1900, 1901/1902, 1915
Tempat: Cianjur, Jawa Barat, Medan, Semarang, Sumedang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: A.E.F. Muntz / Woodbury & Page (Batavia)
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Selasa, 14 Agustus 2018

Lukisan karya Abraham Salm dari sekitar tahun 1872: Sumedang

Cadas Pangeran
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1872
Tempat: Sumedang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer/Pelukis: Abraham Salm
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Sabtu, 31 Maret 2018

Dewan pemerintahan daerah (regentschapsraad) di zaman Belanda: Sumedang, 1926

PENGANTAR

Dimulai di pertengahan tahun 1920-an pemerintah Hindia-Belanda membentuk regentschapsraad (dewan pemerintahan daerah) di beberapa wilayah. Meski kewenangannya tidak besar, dan juga keanggotaannya tidak ditentukan rakyat, ini termasuk langkah maju di dalam menampung aspirasi warga jajahan, sebagaimana halnya pembentukan Volksraad beberapa tahun sebelumnya. Berdasarkan foto-foto yang tersedia, dewan pemerintahan daerah ini kelihatannya hanya dibentuk di wilayah Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian kecil Jawa Tengah.

Yang menarik dari foto-foto ini adalah keanggotaan dewan dan bagaimana pakaian yang dikenakan menunjukkan latar belakangnya. Warga Belanda tentunya berpakaian a la Barat; dan tanpa tutup kepala. Jumlah warga Belanda ini umumnya sedikit, kecuali di daerah yang menjadi tempat favorit mereka tinggal, seperti Jakarta, Bandung, atau Garut.

Warga lokal memiliki keanekaragaman dalam hal berpakaian. Kelompok priyayi umumnya mengenakan blangkon, baju adat, serta kain batik untuk bawahannya. Warga yang mendapat pendidikan Barat sudah mengenakan pakaian a la Barat, misalnya bercelana panjang, berjas, berdasi, dan tanpa tutup kepala. Kaum bangsawan yang mengenyam pendidikan modern berada di tengah-tengah: tetap mengenakan blangkon dan baju adat, tetapi menambahinya dengan dasi, baik yang panjang maupun kupu-kupu; bawahannya bisa celana atau kain tradisional. Di samping itu ada juga kelompok ulama atau saudagar Muslim yang mengenakan serban atau peci, baju jas tertutup atau jubah panjang, dengan bawahan kain sarung atau celana panjang.

Hampir semua yang muncul di foto adalah laki-laki. Ada beberapa wanita kulit putih, serta perempuan berkebaya di foto tertentu; tapi tidak jelas apakah mereka anggota dewan juga, atau istri dari salah satu anggota dewan.

Dewan pemerintahan daerah Sumedang, 1926
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: antara 1926-1929
Tempat: Sumedang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Senin, 29 Mei 2017

Aksi Polisionil 1: Warga Sumedang mengungsi, Juli 1947

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: 23 Juli 1947
Tempat: antara Sumedang dan Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Hugo Wilmar
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:


UPDATE 2 Januari 2020
Foto yang sama dalam ukuran yang lebih besar:

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaanerstad)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaanerstad)