Tampilkan postingan dengan label Hamengkubuwono VII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hamengkubuwono VII. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Februari 2023

Kumpulan foto hasil jepretan Kassian Céphas: Yogyakarta dan sekitarnya

Dunia fotografi Indonesia tidak akan lepas dari nama Kassian Céphas. Orang Yogya ini merupakan warga pribumi Hindia-Belanda pertama yang menggeluti dunia fotografi secara profesional; dan umumnya autodidak. Karya-karyanya telah berjasa memperlihatkan kepada generasi setelahnya bagaimana wajah budaya Jawa pada masanya. Tak ketinggalan pula foto-fotonya tentang situs-situs purbakala di bagian tengah Jawa saat itu.

Beberapa karyanya telah tersebar di blog ini. Kali ini blog ini mencoba mengumpulkan foto-foto lainnya dalam beberapa seri. Sebagian di antaranya pernah dimuat sebelum ini, dan akan merupakan pengulangan.


~1894: Sultan Hamengkubuwono VII bersama Residen C.M. Ketting Olivier
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1894: Kediaman Residen Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1897: Kassian Céphas di Macingan, Parangtritis
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1895: Rongkop, Gunung Kidul
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1890: Gerbang Keraton Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1895: Tebing sarang burung walet di Rongkop, Gunung Kidul
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1890, 1894, 1895, 1897
Tempat: Yogyakarta
Tokoh: Sultan Hamengkubuwono VII
Peristiwa:
Fotografer: Kassian Céphas
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 19 April 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (26)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


124. Klinik lapangan kesatuan KNIL di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
126. Pakubuwono IX dan Residen W. de Vogel
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
127. Sultan Hamengkubuwono VII
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
129. Sultan Kutai, Aji Muhammad Sulaiman beserta para isteri dan selirnya
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
130. Seorang bangsawan Gianyar beserta pengiringnya
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
133. Sekolah pribumi di Pakan Kamis, Tilatang, Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Jawa, Surakarta, Yogyakarta, Kutai, Gianyar, Tilatang (Agam)
Tokoh: Aji Muhammad Sulaiman (Sultan Kutai ke-18), Hamengkubuwono VII (Sultan Yogyakarta), Pakubuwono IX (Susuhunan Surakarta)
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Universiteit Leiden
Catatan: Edisi lain dari foto no. #126 pernah dimuat di posting ini, no. 127 di posting ini dan ini, no. 129 di posting ini, serta no. 130 di posting ini.

Senin, 12 Oktober 2020

Grebeg Maulud di tahun Jawa 1814 (1884 M) dalam jepretan Kassian Cephas (2)

Perhiasan kencana
(klik untuk memperbesar)

Ampilan keraton
(klik untuk memperbesar)

Beragam ujung tombak
(klik untuk memperbesar)

Prajurit Miji Sama Atmaja
(klik untuk memperbesar)

Rombongan Sultan denga didahului abdi dalem dan ponggawa
(klik untuk memperbesar)

Rombongan Sultan Hamnegkubuwono VII dan kerabat keraton beserta pembesar Belanda
(klik untuk memperbesar)

Bonus: Berbagai lambang dan jenis ujung tombak dari kesatuan prajurit keraton
(klik untuk memperbesar)

Waktu: Mulud 1814 (Desember 1884 M)
Tempat: Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Kassian Cephas
Sumber / Hak cipta: Isaac Groeneman / Martinus Nijhoff
Catatan: Dari buku De Garĕbĕg's the Ngajogyåkartå karya Isaac Groeneman yang terbit tahun 1895

Selasa, 10 September 2019

Bangsawan Jawa dalam jepretan S.W. Camerik, 1860: GRM Murtejo, putera tertua Hamengkubuwono VI, kelak menjadi Hamengkubuwono VII

Gusti Raden Mas Murtejo dalam pakaian kebesaran Jawa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Gusti Raden Mas Murtejo dalam seragam perwira KNIL
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1860
Tempat: Yogyakarta
Tokoh: Gusti Raden Mas Murtejo (putera tertua Hamengkubuwono VI, kelak menjadi Hamengkubuwono VII)
Peristiwa:
Fotografer: S.W. Camerik
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Rabu, 05 September 2018

Rabu, 24 Agustus 2016

Hamengkubuwono VII, Pakubuwono X, dan Gubernur Jenderal Bonifacius Cornelis de Jonge, 1932

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: 1932
Tempat: Semarang
Tokoh: Bonifacius Cornelis de Jonge (Gubernur Jenderal Hindia Belanda; duduk di depan tengah didampingi isterinya), Pakubuwono X (Sultan Surakarta; di sebelah de Jonge), Hamengkubuwono VII (Sultan Yogyakartal di sebelah isteri de Jonge)
Peristiwa: Pakubuwono X dan Hamengkubuwono VII di dalam sebuah konferensi dengan Bonifacius Cornelis de Jonge yang saat itu baru memulai jabatan sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Fotografer: A.R. Wagschal
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: Deskripsi foto memuat juga nama-nama pria berikut yang berdiri di belakang:
P.J. Gerke, Helsdingen, Mayor Jenderal J. Beumer, Kapten Infantri Cramwinkel, Gubernur Yogyakarta Gesseler Verschuur, Gubernur Jawa Tengah Neys

Kamis, 27 November 2014

Hamengkubuwono VII

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Yogyakarta
Tokoh: Hamengkubuwono VII (Sultan Yogyakarta)
Peristiwa:
Fotografer: Jean Demmeni (?)
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 14 Agustus 2014

Hamengkubuwono VII, Pakubuwono X, Hamengkubuwono IX, dan Paku Alam VIII

(klik untuk memperbesar)
Waktu: Sekitar 1930 (?)
Tempat: Solo
Tokoh (dari kiri ke kanan): BRM Dorodjatun (kelak menjadi Hamengkubuwono IX), Hamengkubuwono VII (Sultan Yogyakarta), Pakubuwono X (Raja Kasunanan Surakarta), 2 wanita yang belum teridentifikasi, BRMH Sularso Kunto Suratno (Paku Alam VIII)
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Sebelumnya ada kesalahan penulisan, tertulis "Hamengkubuwono X" padahal seharusnya "Hamengkubuwono VII".


UPDATE 11 Juni 2020: Foto yang sama dalam ukuran yang lebih besar

(klik untuk memperbesar | © NGA)