Tampilkan postingan dengan label Komisi Tiga Negara (KTN). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komisi Tiga Negara (KTN). Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 September 2025

Frank Graham, Ketua Ketua Komisi Jasa-jasa Baik PBB 1947/1948

Ketika PBB membentuk Komisi Tiga Negara atau Ketua Komisi Jasa-jasa Baik untuk menengahi pertikaian Belanda dan Indonesia, Presiden AS Harry Truman menunjuk seorang guru besar sejarah bernama Frank Graham untuk menjadi perwakilan Amerika Serikat di komisi ini. Frank Graham, bersama perwakilan dari Australia dan Belgia, dianggap berhasil menyelesaikan misi yang pada awalnya dipenuhi oleh keraguan banyak pihak mengingat tampak sulitnya posisi Belanda dan Indonesia untuk dijembatani. Setelah dipandang "sukses" di Indonesia, Frank Graham kemudian dipercayai untuk ikut menyelesaikan konflik Kashmir antara India dan Pakistan, sebuah tugas yang tampaknya tidak bisa diselesaikannya seperti di Indonesia.
Frank Graham berbicara …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… di hadapan publik yang sebagian di antaranya kemungkinan adalah pegawai dari Komisi Tiga Negara
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Desember 1947 atau Januari 1948
Tempat: Jawa (Jakarta?)
Tokoh: Frank Porter Graham (Ketua Komisi Jasa-Jasa Baik PBB)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 07 November 2021

Ali Sastroamidjojo dan Mohammad Roem di pertemuan Kaliurang, 1948

PENGANTAR

Pertemuan Kaliurang di tahun 1948 merupakan satu dari beberapa usaha penyelesaian konflik Belanda-Indonesia melalui jalur perundingan. Blog ini pernah menampilkan beberapa foto dari acara ini (lihat di sini). Berikut tambahan foto-foto berikutnya.


(klik untuk memperbesar | © AVS)

Mohammad Roem (depan) dan Ali Sastroamidjojo (belakang) bersama dua anggota delegasi Indonesia di pertemuan Kaliurang.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Delegasi Belanda di sebelah kiri, sementara Indonesia di sebelah kanan bersama Ali Sastroamidjojo dan Mohammad Roem. Di bagian tengah adalah mediator dari Komisi Tiga Negara yang terdiri dari Australia, Amerika Serikat, dan Belgia.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Mohammad Roem (berdasi kupu-kupu) berbincang bersama wakil Amerika Serikat, Court Dubois (kiri), dan wakil Australia, Tom Critchley (kanan).

Waktu: 20 April 1948
Tempat: Kaliurang (Sleman)
Tokoh: Ali Sastroamidjojo dan Mohammad Roem (pejuang kemerdekaan di jalur diplomasi)
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 11 April 2020

Jepretan Charles Breijer 1947-1953: Korban cacat perang menyambut Komisi Jasa-jasa Baik di Yogyakarta, 1948

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
Waktu: 1948
Tempat: Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Charles Breijer
Sumber / Hak cipta: Het Geheugen van Nederland / Nederlands Fotomuseum
Catatan:

Jumat, 03 April 2020

Jepretan Charles Breijer 1947-1953: Pentas dan pertemuan menyambut Komisi Jasa-jasa Baik di Solo, 1948

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
Waktu: 1948
Tempat: Solo
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Charles Breijer
Sumber / Hak cipta: Het Geheugen van Nederland / Nederlands Fotomuseum
Catatan:

Kamis, 03 Januari 2019

Beberapa foto dari masa perang kemerdekaan, 1948

Surabaya, 26 Januari 1948: Acara tabur bunga di pemakaman para tentara Belanda di Kembang Kuning
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Semarang, Maret 1948: Kapal angkut militer Belanda berlabuh
(klik untuk memperbesar | © J.C. Taillie / gahetna)
Cimahi, 1 September 1948: Berbagai senjata buatan Amerika, Belanda, Inggris, dan Jepang yang diperagakan di sekolah perwira infantri Belanda (SROI = School Reserve Officieren Infanterie)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pati: Komisi Tiga Negara memeriksa insiden di mana 4 anggota KNIL ditangkap TNI dan seorang di antaranya dikabarkan disiksa. Militer Belanda kemudian menahan 30 prajurit TNI, kemungkinan sebagai tindakan balasan. Setelah itu dikabarkan bahwa penangkapan anggota KNIL tidak dilandasi motif politik atau militer, melainkan karena perselisihan pribadi.
(klik untuk memperbesar | © Henri Cartier-Bresson / gahetna)

Waktu: 1948
Tempat: Cimahi, Pati, Semarang, Surabaya
Tokoh:
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer: l.d.a.
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief / Spaarnestad Photo
Catatan:

Selasa, 02 Oktober 2018

Serah terima kota Solo dari pihak Belanda ke Republik Indonesia, 1949: Kehadiran Pakubuwono XII

Pakubuwono XII (berkacamata gelap) di antara para perwira TNI
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pakubuwono XII di belakang para pengamat militer dari Komisi Tiga Negara
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kolonel Ohl, Letkol Slamet Riyadi, dan para perwira KTN di depan Pakubuwono XII
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Defile pasukan Belanda disaksikan Pakubuwono XII
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pakubuwono XII di luar tribun di antara para perwira
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 12 November 1949
Tempat: Stadion Solo
Tokoh: Pakubuwono XII (raja Kasunanan Surakarta), Ignatius Slamet Riyadi (komandan pasukan TNI di sebagian wilayah Jawa Tengah), Kolonel J.H.M.U.L.E. Ohl (komandan pasukan Belanda untuk wilayah Solo dan sekitarnya),
Peristiwa: Pakubuwono XII di acara serah terima kota Solo dari pihak Belanda ke Republik Indonesia
Fotografer: Th. van de Burgt
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Jumat, 28 September 2018

Serah terima kota Solo dari pihak Belanda ke Republik Indonesia, 1949: Pengibaran bendera merah-putih

Penurunan bendera Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pelipatan bendera Belanda. Di barisan depan menghadap bendera tampak Kolonel J.H.M.U.L.E. Ohl, Mayjen F. Mollinger, dan Letkol Slamet Riyadi; sementara pengamat militer dari Komisi Tiga Negara berada di depan tribun membelakangi lambang Olimpiade. Di tribun paling depan, keempat dari kanan, tampak Pakubuwono XII memberikan penghormatan.
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pengibaran bendera merah putih
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Sebagian warga undangan yang menghadiri acara serah terima
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 12 November 1949
Tempat: Stadion Solo
Tokoh: Ignatius Slamet Riyadi (komandan pasukan TNI di sebagian wilayah Jawa Tengah), Pakubuwono XII (raja Kasunanan Surakarta), Kolonel J.H.M.U.L.E. Ohl (komandan pasukan Belanda untuk wilayah Solo dan sekitarnya), Mayor Jenderal F. Mollinger (perwira tinggi Belanda)
Peristiwa:
Fotografer: Th. van de Burgt
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

UPDATE 26 Desember 2019

Sebelumnya di posting ini ditampilkan foto yang memperlihatkan beberapa tokoh berdiri di tribun stadion, a.l. Wikana yang saat itu adalah Menteri Pemuda di kabinet Amir Syarifudin II. Pengamatan lebih lanjut memperlihatkan bahwa foto ini bukan dari acara serah terima kota Solo di stadion Sriwedari, tetapi kemungkinan besar dari acara Pekan Olahraga Nasional I. Beberapa foto dari acara bersejarah ini akan ditampilkan mulai Januari 2020.

Sabtu, 14 Juli 2018

Pertemuan antara TNI dan militer Belanda di sekitar Salatiga: 8 Oktober 1948

PENGANTAR

Menjelang pengakuan kedaulatan oleh pihak Belanda, yang menandai berakhirnya perang kemerdekaan, banyak terjadi pertemuan antara militer Belanda dengan TNI, yang umumnya diperantarai oleh KTN (Komisi Tiga Negara). Pertemuan bisa merundingkan gencatan senjata atau, jika di penghujung 1949, proses serah terima kekuasaan dari militer Belanda ke pihak TNI dan Republik.

Desa Klero (sekarang bagian dari kecamatan Tengaran, Semarang) menjadi tempat penting, karena beberapa kali menjadi lokasi pertemuan antara TNI dengan militer Belanda. Kemungkinan desa ini dipilih karena menjadi batas demarkasi antara Belanda dan Republik Indonesia, di mana Belanda mendapat banyak kesulitan untuk merengsek lebih jauh lagi.

Rangkaian foto berikut akan menunjukkan peristiwa-peristiwa pertemuan ini.

Garis di Klero yang membatasi wilayah kekuasaan Belanda dengan daerah yang dipegang TNI
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Perwira Belanda melintasi jembatan bambu menuju tempat pertemuan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Seorang perwira TNI di antara militer Belanda dan KTN
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Perwira TNI siap menyalami Kapten Gerard de Corvet setelah perundingan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Rombongan KTN kembali ke wilayah kekuasaan Belanda diantar seorang prajurit TNI yang membawa bendera putih
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 8 Oktober 1948
Tempat: Klero (Tengaran, Semarang), Salatiga
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Th. van de Burgt
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 10 Juli 2018

Pertemuan antara TNI dan militer Belanda di sekitar Salatiga: 21 Februari 1948

PENGANTAR

Menjelang pengakuan kedaulatan oleh pihak Belanda, yang menandai berakhirnya perang kemerdekaan, banyak terjadi pertemuan antara militer Belanda dengan TNI, yang umumnya diperantarai oleh KTN (Komisi Tiga Negara). Pertemuan bisa merundingkan gencatan senjata atau, jika di penghujung 1949, proses serah terima kekuasaan dari militer Belanda ke pihak TNI dan Republik.

Desa Klero (sekarang bagian dari kecamatan Tengaran, Semarang) menjadi tempat penting, karena beberapa kali menjadi lokasi pertemuan antara TNI dengan militer Belanda. Kemungkinan desa ini dipilih karena menjadi batas demarkasi antara Belanda dan Republik Indonesia, di mana Belanda mendapat banyak kesulitan untuk merengsek lebih jauh lagi.

Rangkaian foto berikut akan menunjukkan peristiwa-peristiwa pertemuan ini.

Rombongan militer Belanda dan KTN melintasi jembatan bambu dipandu polisi militer dan ditonton warga desa di latar belakang
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Rombongan militer Belanda dan KTN melintasi jembatan bambu
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Rombongan militer Belanda bersama KTN melintasi batang pohon besar
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pihak TNI menjemput delegasi Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Perbincangan antara TNI dengan militer Belanda dengan KTN sebagai perantara
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Foto bersama antara TNI, pihak Belanda, dan KTN
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 21 Februari 1948
Tempat: sekitar Salatiga, kemungkinan di Klero (Tengaran, Semarang)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Th. van de Burgt
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 08 Juli 2018

Pertemuan antara TNI dan militer Belanda di sekitar Salatiga: 2 Februari 1948

PENGANTAR

Menjelang pengakuan kedaulatan oleh pihak Belanda, yang menandai berakhirnya perang kemerdekaan, banyak terjadi pertemuan antara militer Belanda dengan TNI, yang umumnya diperantarai oleh KTN (Komisi Tiga Negara). Pertemuan bisa merundingkan gencatan senjata atau, jika di penghujung 1949, proses serah terima kekuasaan dari militer Belanda ke pihak TNI dan Republik.

Desa Klero (sekarang bagian dari kecamatan Tengaran, Semarang) menjadi tempat penting, karena beberapa kali menjadi lokasi pertemuan antara TNI dengan militer Belanda. Kemungkinan desa ini dipilih karena menjadi batas demarkasi antara Belanda dan Republik Indonesia, di mana Belanda mendapat banyak kesulitan untuk merengsek lebih jauh lagi.

Rangkaian foto berikut akan menunjukkan peristiwa-peristiwa pertemuan ini.

Kedatangan perwakilan TNI di Klero
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Perwakilan TNI dan militer Belanda di meja pertemuan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Mayor Mackin di jendela rumah warga yang menjadi tempat pertemuan; sementara penduduk Klero duduk-duduk di luar
(klik untuk memperbesar | © van Krieken / gahetna)
Waktu: 2 Februari 1948
Tempat: Klero (Tengaran, Semarang)
Tokoh:
Peristiwa: Pertemuan antara TNI dengan pihak Belanda di Klero. TNI a.l. diwakili oleh Letkol Mursito, pihak Belanda oleh Letkol. Brummer, sementara Komisi Jasa Baik oleh Kolonel Servais (Belgia) dan Mayor Mackin (AS).
Fotografer: van Krieken (foto bawah)
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Sabtu, 30 Juni 2018

Kolonel Sungkono di perundingan gencatan senjata dengan pihak Belanda di Trowulan, 1949

Kolonel Sungkono diantar jip PBB
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kol. Sungkono (tengah) didampingi pengamat militer dari Australia A.E. Knights
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kol. Sungkono dan Kapten Moh. Iwan di meja perundingan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pasukan TNI bersama prajurit Belanda di sela-sela perundingan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 13 Agustus 1949
Tempat: Trowulan
Tokoh: Kolonel Sungkono (Gubernur Militer Jawa Timur)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 29 April 2018

Pertemuan antara TNI dan militer Belanda di Purworejo, 1949

PENGANTAR

Menjelang pengakuan kedaulatan oleh pihak Belanda, yang menandai berakhirnya perang kemerdekaan, banyak terjadi pertemuan antara militer Belanda dengan TNI, yang umumnya diperantarai oleh KTN (Komisi Tiga Negara). Pertemuan bisa merundingkan gencatan senjata atau, jika di penghujung 1949, proses serah terima kekuasaan dari militer Belanda ke pihak TNI dan Republik. Rangkaian foto berikut akan menunjukkan peristiwa ini di berbagai tempat.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 21 Oktober 1949
Tempat: Purworejo
Tokoh: Ahmad Yani (? Komandan Wehrkreis II?)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: