Tampilkan postingan dengan label 1932. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1932. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Maret 2025

Wajah anggota milisi "Landstorm" dan "Stadswacht" bernama P. F. de Rochemont, 1932-1941

Bandung, 1932: P. F. de Rochemont (tengah belakang) bersama para anggota KNIL
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Jakarta, 1940: Sebuah kesatuan milisi Landstorm dengan P. F. de Rochemont berada di nomor 6 dari kanan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Jakarta, 1940: Kesatuan Landstorm di markas mereka di Kramat; P. F. de Rochemont berdiri nomor 2 dari kanan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Semarang, 1941: P. F. de Rochemont dalam seragam Stadswacht bersama anak dan istri di
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Semarang, 1941: Sersan P. F. de Rochemont bersama istri
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)


Waktu: 1932, 1940, 1941
Tempat: Bandung, Jakarta, Semarang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 02 Januari 2023

Dari album foto seorang anggota Keraton Kanoman Cirebon (7)

PENGANTAR

Di antara album foto yang dibeli National Gallery of Australia dari koleksi Leo Haks, ada sebuah buku foto yang oleh NGA diberikan keterangan singkat "Samsoedin Indonesian family album 1930 - 1933". Sepintas isi album ini memang foto-foto keluarga Indonesia, yang berisi gambar dari anak kecil hingga dewasa, ketika di rumah atau sedang bepergian. Si keluarga tampaknya lumayan berada. Mereka memiliki mobil dengan plat nomor D, memiliki anjing ras, dan Samsoedin ini memiliki kamera yang tampaknya dia gunakan untuk mengambil banyak foto yang ada di album ini. Kemudian keluarga ini banyak berpergian, keliling Jawa, ke Bali, ke Palembang, bahkan sampai ke Singapura.

Si penyusun foto memberikan beberapa catatan, sehingga kita masih bisa mengetahui tentang apa foto-foto ini. Di salah satu foto ada keterangan De Koninklijke familie Kanoman, atau "Keluarga Kerajaan Kanoman". Ini menimbulkan dugaan bahwa keluarga yang ditampilkan di album ini adalah keluarga Keraton Kanoman, Cirebon. Dugaan ini diperkuat dengan catatan Samsoedin di foto dia bersama kerabat lelakinya yang diberi catatan 't Kanoman-trio and little brothers. Akhirnya catatan dia di awal album yang menyebutkan namanya, dan nama tempat "Soerabaja", "Bandoeng", "Java", dan "Kanoman" makin mengukuhkan dugaan ini.

Album ini menjadi menarik karena menampilkan golongan berada Indonesia di tahun 1930-an: pakaiannya, pendidikannya, bahasa yang digunakan, kegiatannya, serta pertemanannya. Album ini juga ikut memperlihatkan tempat mana saja yang menjadi tujuan perjalanan atau wisata saat itu. Dari album ini kita juga melihat bahwa Samsoedin ini sangat senang memfoto anak kecil terutama keponakannya, dan dalam beberapa foto juga kaum perempuan termasuk ibu dan saudara-saudara wanitanya. Ada juga foto yang memperlihatkan kunjungan Dr. Khalid Sheldrake ke Bandung. Khalid, yang nama aslinya Bertram William, adalah filantrop Inggris yang masuk Islam dan sempat dinobatkan menjadi Raja Islamestan di wilayah Xinjiang, RRT, sekarang.


Halaman yang banyak menunjukkan foto saudara perempuan dan keponakan Samsoedin, serta suasana Ramadhan di tahun 1932
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Samsoedin sebegai pemain bola, dia menyebut posisinya center voor (depan tengah)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman yang banyak menunjukkan tim sepakbola serta kunjungan wisata ke tempat yang tidak disebutkan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Wisata ke Borobudur, teman-teman sekolah, dan tambahan foto keluarga dari saudara dan keponakan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman yang dipenuhi para keponakan; Samsoedin malah muncul memangku dua di antaranya, sementara di foto lain dia menyebutkan nama-namanya: Atikah, Elly, Farida, dan tentu saja Ontje
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman yang sekali lagi menampilkan ayah dan ibu Samosoedin, para saudaranya, teman-teman sekolahnya, dan kunjungan a.l. ke Sangkanhurip (Kuningan), serta Sumedang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
 
Waktu: di sekitar tahun 1930
Tempat: a.l. Kuningan, Sumedang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Samsudin
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 11 Desember 2021

Surabaya 1932 (3/3)

Kawasan pelabuhan
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Kusir delman beserta penumpangnya
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Sebuah kelenteng
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1931/1932
Tempat: Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 09 Desember 2021

Surabaya 1932 (2/3)

Kawasan pelabuhan
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Perahu nelayan dengan latar belakang kapal uap
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Pedati milik pemerintah kota
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Kawasan pelabuhan
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1931/1932
Tempat: Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 07 Desember 2021

Surabaya 1932 (1/3)

Nangka dan jagung di sebuah pasar
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Masjid Kemayoran
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Pemukiman di pinggir kali
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Pedati
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1931/1932
Tempat: Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 03 Desember 2021

Medan dan Langkat 1932 (3/3)

Kediaman Gubernur
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Kawasan niaga Kesawan
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Balaikota Medan
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1932
Tempat: Medan
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 01 Desember 2021

Medan dan Langkat 1932 (2/3)

Masjid Azizi di Langkat
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Grand Hotel di Medan
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Kantor Nederlandsche Handelsmaatschappij di Medan
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1932
Tempat: Langkat, Medan
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 29 November 2021

Medan dan Langkat 1932 (1/3)

Istana Maimun
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Kantor pos
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Arena renang Medansche Zwemvereeniging
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Hotel De Boer
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1932
Tempat: Medan
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 27 November 2021

Jakarta 1932: Hotel Des Indes dan Hotel Grand Java

Hotel des Indes, kelak menjadi pertokoan Duta Merlin
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Hotel di Grand Java, di Jalan Veteran sekarang
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1931/1932
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Bandingkan foto Hotel Grand Java tahun 1890 di posting ini.

Senin, 11 Januari 2021

Poster komunikasi radio/telepon antara Belanda dan Nusantara, 1932/1934

Antara tahun 1929 dan 1932
(klik untuk memperbesar | © Han Harloff / AVS)

Pembangunan stasiun radio Malabar merupakan kebanggaan teknologi bagi Belanda. Dengan sarana tercanggih di bagian selatan dunia saat ini ini, komunikasi langsung tanpa kabel bisa terjalin antara dua tenpat dengan jarak sekitar 15000 km. Catatan di poster di atas menyebutkan bahwa tarif bicara dari Belanda ke Nusantara saat itu adalah 30 gulden untuk 3 menit pertama; ini lebih tinggi daripada penghasilan seorang pekerja rata-rata di Belanda dalam satu minggu.

Antara tahun 1930 dan 1934
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster ini lebih baru daripada yang di atas, dan tampaknya ditujukan ke warga Belanda di Nusantara. Judulnya "Bicaralah dengan tanah air", dengan penggambaran keluarga muda di Hindia-Belanda dengan orang tua di Belanda. Pesawat teleponnya pun sudah digambarkan dengan model rumah tangga.

Waktu: 1932, 1934
Tempat: Belanda & Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Han Harloff (atas)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 14 November 2020

Karikatur tentang perasaan Belanda bahwa Amerika Serikat dan Jepang mengincar Hindia-Belanda

Ada beberapa karikatur Belanda yang menunjukkan bahwa Belanda merasa wilayah jajahan mereka di Nusantara ini diam-diam diincar oleh Amerika Serikat dan Jepang, dua kekuatan adi daya di Pasifik saat itu. Perasaan terhadap Jepang memang beralasan, karena Jepang sejak akhir abad ke-19 sudah menduduki Formosa, kemudian semenanjung Korea, dan Manchuria. Menarik bahwa Belanda juga merasa Amerika melirik wilayah Nusantara; boleh jadi ada alasan Belanda untuk itu yang sekarang kita tidak tahu.Yang jelas, sangkaan terhadap Jepang terbukti benar ketika di tahun 1942 Jepang berhasil mengusir Belanda dari wilayah Nusantara.

(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur di atas terbit bulan Oktober 1932. Kemungkinan ada peristiwa di Portugal atau Timor Timur yang sempat membuat ada semacam kevakuman kekuasaan di Timor Timur. Tampak Paman Sam, dan militer Jepang menghampiri sambil bertanya kepada Nona Belanda: "Tempat ini kosong?". Si Nona yang duduk di Timor Barat ini menjawab: "Tidak tahu, tapi apakah Tuan-tuan merasa tempat ini pas?"

(klik untuk memperbesar | © Piet van der Hem / AVS)

Karikatur ini terbit sekitar tahun 1939, memperlihatkan Paman Sam dan seorang samurai, tampaknya sama-sama berpura-pura, saling mempersilakan untuk memberikan jalan kepada Srikandi Indonesia.

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Di tahun 1941 ancaman Jepang menjadi realitas. Karikatur di atas berkomentar bagaimana Belanda (singa) memiliki keberanian untuk melawan Jepang (naga), tapi menyayangkan bahwa si singa tidak bisa terbang. Ini tampaknya sudah menyiratkan bahwa Jepang akan lebih unggul.

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Karikatur tahun 1941 ini memperlihatkan bagaimana akhirnya militer Jepang mendarat di Hindia-Belanda. Tetapi dia kaget melihat bagaimana Paman Sam sudah duduk di samping Mbok Indonesia. Jepang-san berteriak: "Aku pikir dia sendirian di sini."

(klik untuk memperbesar | © Charles Boost / AVS)

Ketika Jepang sudah kalah perang, tampaknya Belanda masih merasa bahwa Amerika tetap melirik Indonesia. Karikatur yang terbit tahun 1954 di atas memperlihatkan dua sikap Paman Sam terhadap Belanda: Tersenyum melihat Belanda bergabung di Uni Eropa Barat, tetapi berang melihat Belanda ada di Indonesia.

Waktu: 1932, 1939, 1941, 1954
Tempat: 
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Piet van der Hem | Louis Raemaekers | Charles Boost
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 26 Juli 2020

Beberapa foto lama dari Jawa Tengah

Tegal Arum (Tegal), sekitar 1890: Makam Amangkurat I
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Pasar di Slawi (Tegal), sekitar 1890
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Kassian Cephas di Kawah Candradimuka, Banjarnegara, sekitar tahun 1895
(klik untuk memperbesar | © Kassian Cephas / NGA)

Semarang, 1930: Pertemuan Gubernur Jenderal Andries Cornelis Dirk de Graeff (duduk kelima dari kiri) dengan para bupati sekawasan Jawa Tengah
(klik untuk memperbesar | © NGA)

11 September 1932: Kunjungan Gubernur Jenderal Bonifacius Cornelis de Jonge ke Magelang
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Limpung (Batang), 27 Oktober 1932: Foto bersama di sebuah pameran agraria
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu:  1890, 1895, 1930, 1932
Tempat:  Banjarnegara, Batang, Magelang, Semarang, Tegal
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 24 Agustus 2016

Hamengkubuwono VII, Pakubuwono X, dan Gubernur Jenderal Bonifacius Cornelis de Jonge, 1932

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: 1932
Tempat: Semarang
Tokoh: Bonifacius Cornelis de Jonge (Gubernur Jenderal Hindia Belanda; duduk di depan tengah didampingi isterinya), Pakubuwono X (Sultan Surakarta; di sebelah de Jonge), Hamengkubuwono VII (Sultan Yogyakartal di sebelah isteri de Jonge)
Peristiwa: Pakubuwono X dan Hamengkubuwono VII di dalam sebuah konferensi dengan Bonifacius Cornelis de Jonge yang saat itu baru memulai jabatan sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Fotografer: A.R. Wagschal
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: Deskripsi foto memuat juga nama-nama pria berikut yang berdiri di belakang:
P.J. Gerke, Helsdingen, Mayor Jenderal J. Beumer, Kapten Infantri Cramwinkel, Gubernur Yogyakarta Gesseler Verschuur, Gubernur Jawa Tengah Neys

Jumat, 29 Juli 2016

Stasiun Radio Malabar Bandung (1): 1927-1932

Kompleks stasiun Malabar di tahun 1927
(klik untuk memperbesar | © fotoleren/spaarnestad)
Bagian dari teknologi komunikasi yang digunakan di stasiun Malabar, 1927
(klik untuk memperbesar | © fotoleren/spaarnestad)
Bagian dari jaringan antene Malabarm 1932
(klik untuk memperbesar | © fotoleren/spaarnestad)
Jaringan antene yang menghubungkan stasiun Malabar dengan tempat lain di Jawa, 1934
(klik untuk memperbesar | © fotoleren/spaarnestad)
Waktu: 1927, 1934, 1932
Tempat: Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo / Fotoleren
Catatan: Pada saat itu Stasiun Radio Malabar merupakan sebuah sensasi teknologi karena merupakan stasiun komunikas tercanggih dan terkuat di belahan bumi bagian Selatan. Belanda memerlukan sarana ini agar bisa berkomunikasi langsung tanpa kabel dengan Hindia-Belanda. Tidak mengherankan, Jepang menjadikan stasiun ini sebagai target serangan utama di saat Perang Dunia II. Perang kemerdekaan membawa kerusakan berikutnya kepada stasiun ini; yang hingga sekarang hanya tinggal nama dan kenangan.


UPDATE 24 Mei 2018

Foto yang diwarnai dari kompleks stasiun Malabar:
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)