Tampilkan postingan dengan label 1949. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1949. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 November 2025

Menteri Luar Negeri Belanda, Dirk Stikker, di Indonesia, 1949

Perwakilan Tinggi Tahta Belanda, H.V.K. Lamping (kanan) menyambut kedatangan Dirk Stikker (kiri) di gedung yang kelak menjadi Istana Merdeka
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
H.V.K. Lamping (kiri) berbincang dengan Dirk Stikker (kanan)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 30 November 1949
Tempat: Jakarta
Tokoh:
  • Dirk Stikker (banker, diplomat, pengusaha, dan politikus Belanda, kelak menjadi Sekretaris Jenderal NATO; saat itu Menteri Luar Negeri Belanda)
  • H.V.K. Lamping (Perwakilan Tinggi Tahta Belanda di Hindia-Belanda) 
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 30 Oktober 2025

Wakil PM Belanda, Josef van Schaik, di Indonesia, 1949

Josef van Schaik (kanan) datang di gedung yang kelak menjadi Istana Merdeka, disambut oleh Perwakilan Tinggi Tahta Belanda, H.V.K. Lamping (kiri)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Josef van Schaik disambut oleh para tamu lain yang berdatangan ke Istana Gubernur Jenderal Hindia-Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Josef van Schaik (tengah) berbincang dengan Nyonya Lovink (kanan), istri dari Tony Lovink yang merupakan perwakilan terakhir Kerajaan Belanda di Indonesia
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Acara yang sama dari sudut foto yang berbeda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 30 November 1949
Tempat: Istana Merdeka (Jakarta)
Tokoh: Josephus Robertus Hendricus van Schaik (Wakil Perdana Menteri Belanda)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 20 Oktober 2025

Sidang Majelis Permusyawaratan Federal (Bijeenkomst voor Federaal Overleg), 1949 (2)

Mohammad Roem dan Anak Agung Gde Agung memimpin sidang BFO yang tampak terbuka dan dihadiri khalayak hingga ke anak-anak
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Muhammad Hatta menghampiri kursi ketua sidang dan bercengkerama dengan Mohammad Roem dan Anak Agung Gde Agung dengan latar belakang anak-anak dan warga yang menyaksikan sidang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Beberapa peserta sidang BFO, a.l. di kanan adalah Johannes Leimena dan Sultan Hamengkubuwono IX
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Januari 1949
Tempat: Jakarta (di gedung bekas Volksraad, Chuo Sangi In, sekarang Gedung Pancasila di Pejambon)
Tokoh: Anak Agung Gde Agung (bangsawan Bali, bakal Menteri Dalam Negeri NIT, kelak Menteri Luar Negeri RI), Johannes Leimena (Menteri Kesehatan), Mohammad Roem (Menteri Dalam Negeri RI), Muhammad Hatta (Wakil Presiden RI), Hamengkubuwono IX (Sultan Yogyakarta)
Peristiwa: Sidang Majelis Permusyawaratan Federal (Bijeenkomst voor Federale Overleg atau BFO), sebuah lembaga yang dikonsepkan sebagai majelis perwakilan dari negara-negara federal yang akan membentuk Republik Indonesia Serikat.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga posting terkait sebelum ini.

Selasa, 13 Februari 2024

AI-Colorizing: Haji Agus Salim, 1949

(klik untuk memperbesar)

Pewarnaan foto hitam putih dengan bantuan kecerdasan buatan. Foto asli bisa dilihat di posting ini.

Waktu: 16 April 1949
Tempat: kemungkinan Jakarta
Tokoh: Haji Agus Salim (salah satu pendiri Republik Indonesia, Menteri Luar Negeri pertama)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta:
Catatan:

Jumat, 06 Mei 2022

Soekarno dan Haji Agus Salim di pengasingan di Parapat, 1949 (updated)

Soekarno dan Agus Salim berjalan-jalan di tepi Danau Toba …
(klik untuk memperbesar | © nationaalarchief)
… duduk-duduk di tangga menikmati udara luar …
(klik untuk memperbesar | © nationaalarchief)
… berpose di depan Villa Marihat yang kemungkinan menjadi kediaman mereka selama pengasingan
(klik untuk memperbesar | © nationaalarchief)


Waktu: Januari/Februari 1949
Tempat: Parapat (Simalungun, Sumatera Utara)
Tokoh: Soekarno (Presiden RI), Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri RI)
Peristiwa: Dalam Aksi Polisionil 2 Belanda menyerbu Yogyakarta dan menangkapi para petinggi Republik Indonesia, serta mengasingkannya ke Parapat serta Bangka.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief
Catatan: Foto di atas merupakan tambahan dan update (lebih besar dan/atau lebih tajam) dari foto-foto yang ada di posting ini sebelumnya.

Senin, 02 Mei 2022

Mural di Sidikalang menyambut ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, 1949

(klik untuk memperbesar | © nationaalarchief)
(klik untuk memperbesar | © nationaalarchief)
(klik untuk memperbesar | © nationaalarchief)


Waktu: 14 Januari 1949
Tempat: Sidikalang (Dairi, Sumatera Utara)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: A.J.M. Loomans
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief
Catatan: Hiasan di atas sudah menempel sekitar lima bulan ketika pihak Belanda memotretnya.

Kamis, 25 November 2021

Pertemuan-pertemuan politik antara pihak Indonesia Republik, Indonesia Federal, dan Belanda di tahun 1949

Jakarta, 31 Januari 1949: Sidang Majelis Permusyawaratan Federal (Bijeenkomst voor Federaal Overleg) di gedung bekas Volksraad, sekarang Gedung Pancasila
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Bangka, 2 Maret 1949: Pertemuan antara pihak Republik yang saat itu dalam pembuangan (a.l. Soekarno, Hatta, dan Mohammad Roem di sebelah kiri), dan pihak Federal (a.l. Anak Agung Gde Agung dan Sultan Hamid II di sebelah kanan)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Bandara Kemayoran, 12 April 1949: Kedatangan diplomat Van Roijen (paling kiri) yang akan memimpin pembicaraan antara Belanda dengan Indonesia
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Jakarta, 14 April 1949: Pembicaraan antara Belanda dan Indonesia; yang berjas gelap di tengah kemungkinan adalah Van Roijen
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1949
Tempat: Jakarta
Tokoh:
  • Anak Agung Gde Agung (bangsawan Bali, saat itu tokoh federal, kelak menjadi Menteri Luar Negeri RI dan pahlawan nasional)
  • Jan Herman van Roijen (diplomat Belanda)
  • Mohammad Roem (Menteri Dalam Negeri RI)
  • Muhammad Hatta (Wakil Presiden RI)
  • Soekarno (Presiden RI)
  • Sultan Hamid II (Sultan Pontianak, tokoh federal)
Peristiwa: l.d.a.
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Untuk foto pertama lihat juga posting ini yang menampilkan peristiwa yang sama.

Jumat, 05 November 2021

Kunjungan rombongan wartawan Amerika untuk meliput Indonesia, 1949 (3)

PENGANTAR

Di salah satu posting sebelum ini, blog ini menampilkan foto bagaimana Ki Hajar Dewantara memperlihatkan dan menerangkan pamflet PKI ke rombongan wartawan Amerika Serikat yang berkunjung ke Yogyakarta. Berikut ini tambahan dan update dari kegiatan para jurnalis ini.

Awalnya tampaknya para wartawan ini menemui Soekarno di pengasingannya di Bangka. Setelah itu mereka pergi ke Yogyakarta untuk bertemu dengan para tokoh Republik. Seterusnya, para wartawan ini berkunjung ke Jakarta untuk berbicara dengan tokoh-tokoh Serikat. Kemudian perjalanan mereka dilanjutkan ke Medan untuk berbicara dengan tokoh anti-republik.

Seperti disebutkan sebelumnya, ketika mereka meneruskan penerbangan ke India, kecelekaan pesawat menewaskan semua peserta rombongan ini. Foto-foto kegiatan mereka selama di Indonesia tapi tetap terwariskan ke kita.


Jakarta, 24 Juni 1949: Wawancara dengan Anak Agung Gde Agung dan Sultan Hamid II
(klik untuk memperbesar | © Theo van Pinxteren / AVS)
Medan, 6 Juli 1949: Wawancara dengan Tengku Mansyur
(klik untuk memperbesar | © Theo van Pinxteren / AVS)

Waktu: 24 Juni 1949; 6 Juli 1949
Tempat: Jakarta; Medan
Tokoh: Anak Agung Gde Agung (bangsawan Bali, bakal Menteri Dalam Negeri NIT, kelak Menteri Luar Negeri RI); Hamid II (Sultan Pontianak); Tengku Mansyur (Wali Negara Sumatera Timur)
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Theo van Pinxteren
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 03 November 2021

Kunjungan rombongan wartawan Amerika untuk meliput Indonesia, 1949 (2)

PENGANTAR

Di salah satu posting sebelum ini, blog ini menampilkan foto bagaimana Ki Hajar Dewantara memperlihatkan dan menerangkan pamflet PKI ke rombongan wartawan Amerika Serikat yang berkunjung ke Yogyakarta. Berikut ini tambahan dan update dari kegiatan para jurnalis ini.

Awalnya tampaknya para wartawan ini menemui Soekarno di pengasingannya di Bangka. Setelah itu mereka pergi ke Yogyakarta untuk bertemu dengan para tokoh Republik. Seterusnya, para wartawan ini berkunjung ke Jakarta untuk berbicara dengan tokoh-tokoh Serikat. Kemudian perjalanan mereka dilanjutkan ke Medan untuk berbicara dengan tokoh anti-republik.

Seperti disebutkan sebelumnya, ketika mereka meneruskan penerbangan ke India, kecelekaan pesawat menewaskan semua peserta rombongan ini. Foto-foto kegiatan mereka selama di Indonesia tapi tetap terwariskan ke kita.


Para wartawan AS mencatat pamflet PKI yang ditempel di sebuah pohon
(klik untuk memperbesar | Theo van Pinxteren / © AVS)
Para wartawan AS mewawancara Sultan Hamengkubuwono IX
(klik untuk memperbesar | Theo van Pinxteren / © AVS)

Waktu: 23 Juni 1949
Tempat: Yogyakarta
Tokoh: Hamengkubuwono IX (Sultan Yogyakarta)
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Theo van Pinxteren
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 28 Juli 2021

Penandatanganan hasil Konferensi Meja Bundar dalam sketsa dan berita koran Belanda, 27 Desember 1949

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Koran Nieuwe Rotterdamse Courant terbitan 27 Desember 1949 mewartakan penandatangan hasil Konferensi Meja Bundar di halaman utamanya. Tampak PM Belanda, Willem Drees sedang membubuhkan tanda tangannya, dengan disaksikan oleh Ratu Juliana di sebelahnya, serta Muhammad Hatta dan Sultan Hamid II. Acara berlangsung di Koninklijk Paleis op de Dam (Istana Kerajaan di Amsterdam).

(klik untuk memperbesar | © Chris Schut / AVS)

Peristiwa yang sama dalam sketsa karya Chris Schut yang dibuat di bulan Februari 1950. Di sketsa ini tampak dokumen hasil Konferensi Meja Bundar diperlihatkan kepada Ratu Juliana untuk ditandatangani.

Waktu: 27 Desember 1949
Tempat: Amsterdam
Tokoh: Juliana (Juliana Louise Emma Marie Wilhelmina; Ratu Belanda), Muhammad Hatta (anggota delegasi Indonesia), Sultan Hamid II (anggota delegasi Indonesia), Willem Drees (Perdana Menteri Belanda)
Peristiwa: l.d.a.
Juru foto/gambar:  Chris Schut
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: lihat juga foto di posting ini.

Sabtu, 24 Juli 2021

Tempat-tempat bersejarah di Jakarta menjelang akhir 1940-an (2)

Gerbang Amsterdam
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Jembatan Kota Intan
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Kawasan Pasar Ikan (kanan) dengan benteng kuno Cuylenburch dan Zeeburch di sebalah kanan
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Jembatan angkat yang memiliki banyak nama: Jembatan Rusman, Jembatan Berak, Scheidbrug (Jembatan Perpisahan) yang tampaknya diplesetkan menjadi Schijtsburg (yang memang berarti Jembatan Berak)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Waktu: antara 1946-1949
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 22 Juli 2021

Tempat-tempat bersejarah di Jakarta menjelang akhir 1940-an (1)

De Uitkijk Post, sekarang bernama Menara Syahbandar di kawasan Sunda Kelapa
(klik untuk memperbesar | © AVS)
De Uitkijk Post, dilihat dari arah Pasar Ikan
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Ereveld Ancol, monumen untuk mengenang warga Belanda, dan juga Indonesia, yang dieksekusi Jepang di masa 1942-1945
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Monumen Pieter Erberverd, si Pangeran Pecah Kulit
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Rangkaian kuburan di Ereveld Ancol
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Waktu: antara 1946-1949
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 18 Juni 2021

Kunjungan rombongan wartawan Amerika untuk meliput Indonesia, 1949 (1)

PENGANTAR

Di salah satu posting sebelum ini, blog ini menampilkan foto bagaimana Ki Hajar Dewantara memperlihatkan dan menerangkan pamflet PKI ke rombongan wartawan Amerika Serikat yang berkunjung ke Yogyakarta. Berikut ini tambahan dan update dari kegiatan para jurnalis ini.

Awalnya tampaknya para wartawan ini menemui Soekarno di pengasingannya di Bangka. Setelah itu mereka pergi ke Yogyakarta untuk bertemu dengan para tokoh Republik. Seterusnya, para wartawan ini berkunjung ke Jakarta untuk berbicara dengan tokoh-tokoh Serikat. Kemudian perjalanan mereka dilanjutkan ke Medan untuk berbicara dengan tokoh anti-republik.

Seperti disebutkan sebelumnya, ketika mereka meneruskan penerbangan ke India, kecelekaan pesawat menewaskan semua peserta rombongan ini. Foto-foto kegiatan mereka selama di Indonesia tapi tetap terwariskan ke kita.


(klik untuk memperbesar | © Theo van Pinxteren / AVS)

Waktu: Bangka
Tempat: 21 Juni 1949
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa: Soekarno menghadapi para wartawan asal Amerika Serikat yang menemui di pengasingannya di Bangka.
Juru foto/gambar: Theo van Pinxteren
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Sebelumnya, posting ini berjudul Wartawan Amerika menemui Soekarno di pengasingannya di Bangka, 1949 yang sekarang diubah setelah ditemukan tambahan foto-foto lain yang terkait dengan aktifitas rombongan para wartawan ini.

Kamis, 04 Februari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1949-1952

De Vlam, 26 Maret 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Salah satu saat paling kelam dalam sejarah Belanda adalah era pendudukan Jerman Nazi di masa Perang Dunia II. Karenanya, membandingkan petinggi sipil dan militer Belanda dengan tokoh Nazi merupakan sindiran yang sangat pedas. Dan ini dilakukan oleh karikaturis Wim van Wieringen.

Pemicunya adalah sanggahan dari para pejabat Belanda atas adanya kekerasan atau malah kejahatan perang yang dilakukan KNIL dan/atau militer Belanda di Indonesia; padahal, laporan tentang itu paling tidak terdengar dari Sulawesi Selatan, Pakishaji, Bondowoso, Karawang, dan Bangka. Wim membandingkan sanggahan ini dengan penyangkalan para tokoh Nazi bahwa mereka tahu adanya pengiriman kaum Yahudi ke kamp pemusnahan.

Wim menggambarkan Komisioner Tinggi untuk Hindia-Belanda, Louis Beel (kelak menjadi PM Belanda), dan Panglima Belanda Jenderal Simon Spoor, berbaris seirama dengan Panglima SS, Heinrich Himmler, dan Menteri Propaganda Jerman, Joseph Goebbels, dan semuanya berteriak dalam bahasa Jerman "Es ist nicht wahr" (Itu tidak benar).

De Vlam, 5 November 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Penghujung 1949 adalah masa ketika Belanda harus mengakui kedaulatan Indonesia. Karikatur di atas menggambarkan burung garuda yang menjadi terbang bebas meninggalkan sebagian kalangan Belanda yang tampaknya selama ini memiliki beberapa rencana yang terpaksa menjadi batal dan berantakan. Rencana yang terbaca a.l. penangkapan atas ibunda Soekarno, pergerakan tentara, serta rencana atas Papua.

Vrij Nederland, 28 Januari 1950
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Buku sejarah di Indonesia umumnya menyebut pemberontakan APRA sebagai ulah Westerling. Tetapi karikatur di atas menggambarkan bahwa Westerling hanyalah sebagai bidak catur yang dimainkan orang lain. Karikatur ini bertanya: "Wie is de speler?" (Siapa pemainnya/dalangnya?).

Vrij Nederland, 31 Maret 1952
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Pada tanggal 22 Mei 1952, atasa militer Indonesia di Belanda, Kolonel Mas Tirtodarmo Haryono, dikepung dan ditodong dengan pistol oleh 2 orang tak dikenal. Sempat terjadi pergulatan dan tembakan, namun Haryono selamat meskipun kepalanya berdarah terpukul gagang pistol. Karikatur di atas memperlihatkan bagaimana PM Belanda, Willem Drees, bersama Nona (Nyonya?) Belanda harus kaget melihat bahwa di kasur mereka (artinya di negeri mereka) banyak sekali kutu busuk. Menurut catatan atas karikatur ini, pelaku kekerasan atas Haryono bukanlah perorangan, melainkan bagian dari kelompok anti-Indonesia yang terorganisir.

Waktu: 1949, 1950, 1952
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Belanda dan Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 09 Januari 2021

Karikatur karya Leo Jordaan tentang lahirnya Uni Belanda-Indonesia, 1946/1949

Buat sebagian pihak, ide untuk membentuk Uni Belanda-Indonesia merupakan gagasan yang menarik. Di satu sisi Indonesia mendapatkan kemerdekannya, di lain pihak Belanda tetap memiliki pengaruh kuat di Nusantara. Serikat dari dua negara ini dipandang kompromi yang bisa menghindari konflik berkepanjangan yang memakan banyak korban. Sejarah tapi memperlihatkan bahwa konsep ini, meskipun tercantum di perjanjian Konferensi Meja Bundar, akhirnya tidak berjalan.

De Groene Amsterdammer 21 Desember 1946
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Sudah sejak tahun 1946 sudah ada gagasan untuk membentuk serikat dua negara ini, sebagai hal yang baru yang lahir dari puing-puing sisa perang dan pertikaian. Uni ini digambarkan sebagai burung phoenix yang lahir dari abu api. Menarik untuk dicatat adanya kemiripan dengan lambang yang kemudian menjadi Garuda Pancasila.

Vrij Nederland 31 Desember 1949
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Di akhir tahun 1949, Leo Jordaan mengulangi lagi motif karikaturnya. Kali ini nama Uni Belanda-Indonesia sudah resmi, dan burung phoenix ini digambarkan terlahir baru dari abu penjajahan.

Waktu: 1946, 1949
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke konflik Belanda-Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 01 Januari 2021

Karikatur karya Leo Jordaan tentang Mbok Indonesia, 1949

Vrij Nederland, 7 Mei 1949
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Di Eropa ada tradisi tiang Mei di mana masyarakat menari bersama di sekeliling sebuah tiang/batang pohon yang dihias. Di bulan Mei 1949 hanya negara kolonial Inggris, diwakili PM Clement Atlee, yang menari senang bersama mantan jajahannya, India; sementara Belanda (diwakili PM Willem Drees) dan Perancis (diwakili PM Robert Schuman) masing-masing harus pusing menghadapi penentangan dari wilayah jajahan Indonesia dan Vietnam.

Vrij Nederland, 14 Mei 1949
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Seminggu kemudian, Willem Drees sudah bisa mencapai beberapa kesepakatan dengan Mbok Indonesia. Namun ini bukan tanpa tantangan: PM Belanda sebelumnya, Louis Beel, tanpa menghindar dan tidak mau tahu tentang pendekatan Belanda-Indonesia ini. Perlu dicatat bahwa ketika kemudian Drees turun sebagai perdana menteri di tahun 1958, dia digantikan oleh Beel.

Waktu: 7 dan 14 Mei 1949
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke konflik Belanda-Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 16 Desember 2020

Poster organisasi Katolik dan Protestan Belanda di masa perang kemerdekaan, 1946-1949

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster ini dikeluarkan oleh Katholiek Thuisfront (Front Tanah-Air Katolik) di sekitar tahun 1946/1947. Bagian bawah memperlihatkan aksi militer Belanda di darat, laut, dan udara di Indonesia (dilambangkan dengan dua pohon kelapa); sementara bagian atas memperlihatkan Belanda dengan kincir angin dan siluet bangunan. Setan mencoba merobek pita penghubung kedua bagian ini, tetapi tidak berhasil, sebagaimana tertulis di atas: onverbreekbaar (tak terpecahkan).

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster ini juga keluaran Katholiek Thuisfront (Front Tanah-Air Katolik) antara tahun 1946 dan 1949, dan berbunyi Achter elk soldaat 'n burger (di belakang tiap prajurit ada warga sipil) yang tampaknya bermakna bahwa penerjunan tentara Belanda di Indonesia didukung oleh khalayak sipil Belanda.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster yang ini dikeluarkan oleh Protestants Interkerkelijk Thuisfront (Front Tanah-Air Lintas Gereja Protestan) di sekitar tahun 1947, dan tidak bertema militer, malah menggambarkan burung perdamaian, dan mengajak Doe mee aan de boekenactie (Ayo ikutan dalam aksi buku) yang tampaknya menyeru warga Belanda untuk menyumbang buku ke Indonesia.

Waktu: antara 1946 dan 1949
Tempat: poster di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:


UPDATE 7 Februari 2021
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster yang lebih netral beredar di Belanda di bulan Januari 1946 dan menyerukan masyarakat Belanda untuk menyumbang demi Hindia-Belanda.

Minggu, 22 November 2020

Karikatur Belanda yang kritis atas pembentukan negara-negara "boneka" federal, 1947-1949

Salah satu cara Belanda dalam mempertahankan kekuasaan di Indonesia, atau paling tidak memegang pengaruh atau malah kendali atas beberapa wilayah, adalah dengan membentuk negara-negara federal, terutama di luar Jawa. Kelihatannya Belanda ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia hanyalah negara orang Jawa, atau malah hanya sebagian orang Jawa. Karikatur-karikatur di bawah ini memperlihatkan bahwa di Belanda sendiri ide ini dipertanyakan.

De Groene Amsterdammer, 31 Mei 1947
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini memperlihatkan bahwa Belanda, digambarkan sebagai 3 orang di belakang layar, mengatur seorang dalang untuk memperlihatkan besarnya "Negara Pasundan", yang sejatinya hanyalah bayangan dari sebuah wayang.

De Vlam, 15 Agustus 1947
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Karikatur ini memperlihatkan bagaimana Van Mook membuat Konferensi Malino dengan memilah-milah Indonesia menjadi Bangka, Belitung, Indonesia Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dsb. dengan merangkul tokoh-tokoh yang dia sukai. Sementara Republik Indonesia, digambarkan dengan Sutan Sjahrir, sama sekali tidak diperhatikan, dan tampak gusar dengan aksi Van Mook ini.

De Vlam, 23 Januari 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Karikatur ini menggambarkan bagaimana banteng Indonesia, yang sebenarnya kuat, terikat oleh perjanjian Linggarjati. Keterbatasan ruang gerak ini dimanfaatkan oleh Van Mook untuk mengganggu sang banteng dengan menembakkan peluru-peluru "negara federal", seperti Bangka, Belitung, Jawa Barat, Kaimantan, Madura, Minangkabau, dan Palembang sementara Aceh, Ambon, dan Bali siap ditembakkan.

Waktu: 1947, 1949
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke kejadian di Indonesia
Tokoh: Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda), Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI)
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: