Tampilkan postingan dengan label nelayan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nelayan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juni 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang kesibukan di pesisir Jakarta

Karya Joseph Meyer yang diwarnai: Menampilkan orang berkuda dengan topi lebar, nelayan yang sibuk di atas perahu mereka, dua perempuan di bawah pohon, serta gedung-gedung di balik dinding batas pertahanan
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Versi tak berwarna salinan oleh W. Wallis, yang menyalin dari C. Reiss (yang menyalin dari Joseph Meyer)
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1850
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Jerman
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: aslinya oleh Joseph Meyer, disalin oleh C. Reiss, dan kemudian oleh W. Wallis
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Versi lain dari lukisan di atas pernah dimuat di posting ini.

Sabtu, 06 Juni 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang kemungkinan Pintu Besar di pertengahan abad ke-19

Kawasan yang menghubungkan sungai dan laut, kemungkinan di Pintu Besar, yang sibuk dengan perahu nelayan serta perahu angkut beratap datar yang bentuknya masih bisa ditemui hingga sekara
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1844
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: aslinya oleh Charles William Meredith van de Velde, diolah lebih lanjut oleh P. Lauters
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Versi tidak berwarna dari gambar di atas pernah dimuat di posting ini sebelumnya.

Sabtu, 11 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (17)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Air terjun Nglirip di Singgahan, Tuban. Seorang warga tampak berdiri di dekat fenomena alam ini. Bandingkan juga dengan lukisan karya Abraham Salm di posting ini yang mengambil sudut yang berbeda.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sekelompok petani memanen padi di sawah dengan topi caping beraneka warna
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah konvoi kawanan kuda yang tampaknya digunakan untuk mengangkut hasil bumi yang disimpan di dalam karung-karung di atas pundak kuda. Kemungkinan hasil bumi ini berasal dari kawasan atas pegunungan dan akan diperdagangkan di pasar atau diolah lebih lanjut di wilayah yang lebih rendah.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Lukisan ini diberi judul "Tjiliwoeng", dan kemungkinan besar menggambarkan suasana di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa, dengan mengambil patokan dua tanggul di kiri kanan yang menjorok dari daratan ke laut. Selain perahu tradisional tampak kapal uap sudah ikut meramaikan perairan Jakarta saat itu.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Perahu tradisional di pesisir Jawa yang menggunakan dua bilah penyeimbang di tiap sisi dan biasan digunakan para nelayan untuk melaut
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 06 Agustus 2025

Kumpulan beberapa ilustrasi zaman dulu tentang Nusantara (3)

Berbagai jenis perahu dan kapal serta peralatan yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan
[P.A. van der Lith, 1875, Amsterdam]
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Edisi lain dari gambar di atas
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
D.ki.k.ka. serta d.at.k.ba.
Kampung di Manila (!)
Warga Arafuru
Desa warga Melayu
Pengantin, bangsawan, dan prajurit di Jawa
Reruntuhan Borobudur
Warga Dayak di sebuah pesisir
Warga Timor
Sebuah kampung di Timor
Kuburan di Ambon
Sebuah desa di Jawa
[1850, Jerman]
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1850, 1875
Tempat terbit: Amsterdam, Jerman
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: a.l. P.A. van der Lith
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 25 Februari 2025

Dari Padang sampai ke Banda: Lukisan pemandangan Nusantara karya Charles William Meredith van de Velde, 1844 (5b - Jakarta)

Charles William Meredith van de Velde (1818-1898) tampaknya seorang dengan berbagai bakat dan kemampuan. Dia pernah menjadi perwira angkatan laut, tentara bayaran, pembuat peta, anggota palang merah, hingga misionaris. Salah satu keahlian dia adalah menangkap keindahan alam dari tempat yang dia kunjungi, dan menuangkannya ke atas kanvas. Dia terkenal sebagai pembuat peta Palestina di pertengahan abad ke-19, serta pelukis kota dan tempat di Palestina yang dia singgahi. Sebelumnya, dia juga mengabadikan banyak tempat di Nusantara dalam beberapa karya lukisannya, yang akan kita lihat di seri berikut ini.


Keramaian di Ryswyk, sekarang Lapangan Banteng, di mana warga Eropa dan Tionghoa berjalan dipayungi, menaiki kuda, atau mengendarai kereta kuda
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Persimpangan Harmoni, dengan pemandangan warga Erop berkuda atau menaiki kereta, sementara warga lokal berkerumun di beberapa sudut
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kawasan yang menghubungkan sungai dan laut, kemungkinan di Pintu Besar, yang sibuk dengan perahu nelayan serta perahu angkut beratap datar yang bentuknya masih bisa ditemui hingga sekarang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1844
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar: Charles William Meredith van de Velde
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 19 Februari 2025

Dari Padang sampai ke Banda: Lukisan pemandangan Nusantara karya Charles William Meredith van de Velde, 1844 (4a - Banten)

Charles William Meredith van de Velde (1818-1898) tampaknya seorang dengan berbagai bakat dan kemampuan. Dia pernah menjadi perwira angkatan laut, tentara bayaran, pembuat peta, anggota palang merah, hingga misionaris. Salah satu keahlian dia adalah menangkap keindahan alam dari tempat yang dia kunjungi, dan menuangkannya ke atas kanvas. Dia terkenal sebagai pembuat peta Palestina di pertengahan abad ke-19, serta pelukis kota dan tempat di Palestina yang dia singgahi. Sebelumnya, dia juga mengabadikan banyak tempat di Nusantara dalam beberapa karya lukisannya, yang akan kita lihat di seri berikut ini.


Masjid Agung Banten, Serang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kapal-kapal layar yang memenuhi Selat Sunda
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sekelompok nelayan menarik jaring ikan di Anyer
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1844
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar: Charles William Meredith van de Velde
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


UPDATE 22 Juni 2026: Edisi lain dari lukisan nomor 3, dari khazanah Bartele Gallery
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Minggu, 04 Agustus 2024

Warga di sekitar Danau Tondano setelah Perang Dunia II usai, 1945/1946

Gunung Soputan dilihat dari tepian Danau Tondano
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Perahu nelayan di dermaga-dermaga di tepi Danau Tondano
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga mandi dan mencuci baju di Danau Tondano
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945/1946
Tempat: Danau Tondano (Minahasa)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 18 Mei 2024

Suasana di Minahasa setelah Jepang kalah perang, 1945 (1)

Papan petunjuk arah
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Danau Tondano (?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Nelayan di Danau Tondano dengan latar belakang gedung yang beratap rusak peninggalan perang (?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah keluarga nelayan di tepi Danau Tondano
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sungai yang berasal dari Danau Tondano (?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Keramaian di jalan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Minahasa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 22 Oktober 2023

Hindia-Belanda dalam foto stereoskopi (11)

PENGANTAR
Di akhir abad ke-19 foto stereoskop cukup populer untuk melihat foto dengan kesan tiga dimensi. Teknik yang digunakan saat itu adalah dengan membuat dua foto dengan sudut pengambilan yang sedikit berbeda. Kemudian kedua foto ini disandingkan, dan dilihat dengan menggunakan alat bersekat yang memisahkan pandangan mata kiri dan kanan. Gambar di kiri memperlihatkan contoh alat ini.

Wilayah Hindia-Belanda pun tak luput dari mode fotografi ini. Seri berikut akan menampilkan beberapa motif foto dari Hindia-Belanda yang ada di koleksi penggemar stereoskopi.

Warga Kisam di Pulau Beringin, Ogan Komering Ulu Selatan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kemungkinan sebuah pasar
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kampung nelayan Sungsang, Banyuasin
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pujun, Kapuas Tengah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Hotel Joling atau Hotel Schwartz di Palembang (sekarang kantor Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: tidak ada keterangan
Tempat: Sumatera Selatan (a.l. Banyuasin, Ogan Komering Ulu Selatan, Palembang), Kalimantan Tengah
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 28 Agustus 2023

Dari koleksi studio foto Onnes Kurkdjian tentang Jawa (4): … dan Bali

Sebuah air terjun
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Bali, 1913: Nelayan menangkap penyu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Edisi lain dari foto di atas
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah danau
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gembala kerbau (di Tosari?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Nelayan memancing ikan
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1913
Tempat: Bali, Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: studio foto Onnes Kurkdjian, Surabaya
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto #2 pernah dimuat sebelumnya di posting ini dan ini.

Sabtu, 12 Agustus 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (31)

Istana Bogor dengan latar depan kolam teratai
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1872: Hotel Bellevue, Bogor, dilihat dari sisi Kali Ciliwung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Cibodas (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1938: Sekelompok perahu nelayan di sebuah pesisir
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1898: Foto studio yang menampilkan warga Jawa; dengan garis retouche untuk mengesankan ada air di latar bawah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1885: Dua abdi dalem Keraton Surakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1872, 1885, 1898, 1935
Tempat: a.l. Bogor, Cibodas (?). Surakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 08 Mei 2023

Dari serakan hasil jepretan fotografer M. Alberts

Nelayan dan perahunya di Banyuwangi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Peempuan Garut memainkan angklung di tepi Situ Bagendit
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kemungkinan Telaga Cipanas di Garut
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Danau Toba di sisi Parapat
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pesawahan di tempat yang tidak disebutkan
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: ?
Tempat: Bayuwangi, Garut, Parapat (Simalungun)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: M. Alberts
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: