Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.
![]() |
| Perlombaan estafet balok (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Perlombaan lintas aneka rintang (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Bocah-bocah kecil menonton kakak-kakaknya berlomba, ditemani tiga perempuan bernama Barendien, Ans de Jong, dan Weintré; dua anak dengan rambut dan kulit lebih gelap boleh jadi merupakan bocah campuran. (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Anak-anak sekolah di kamp Kampili didampingi Ny. Mobach (berkaca mata) dan Suster Willemien (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
![]() |
| Dua lelaki dewasa penghuni kamp yang semuanya rohaniwan: Pendeta Spreeuwenberg dan Pastoor Beltjens, didampingi Suster Van Goor dan Grechten van Veen (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:





Tidak ada komentar:
Posting Komentar