Jumat, 16 Agustus 2019

Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoekaän Anak-anak dan Iboe-bapanja (6)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Buku Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoekaän Anak-anak dan Iboe-bapanja pertama kali diterbitkan di tahun 1870, jadi lebih dari 100 tahun lalu. Buku ini terdiri dari 2x24 halaman yang berisi gambar-gambar berwarna dengan teks berbahasa Melayu Jakarta, disertai dengan terjemahan dalam bahasa Belanda. Tampaknya buku ini digemari masyarakat, sehingga harus menjalani beberapa kali cetak ulang, dan sisa-sisa peninggalannya sampai sekarang masih tersedia di perpustakan, museum, atau toko buku antik.

Jika kita mengamati buku ini sekarang, ada lumayan banyak hal yang bisa menjadi catatan kita tentang suasana di tanah air menjelang akhir abad ke-19 . Mulai dari penggunaan bahasa sebelum adanya nama Bahasa Indonesia, tradisi masyarakat saat itu, cara berpakaian, hal-hal yang dianggap penting saat itu, posisi orang Belanda, suasana warga Tionghoa, hingga ke peranan warga Arab, dsb.

(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Halaman 21 memperlihatkan nelayan dan kegiatannya. Di sini juga yang menjadi pembeli, atau yang menghampiri, adalah warga Belanda; di mana para perempuannya memakai kain dengan kebaya panjang putih.
Menjelam … melempar jala
Orang mendjala … nelayan dengan jala
Toekang goerami … tukang gurami
Toekang kapiting … tukang kepiting
Toekang tambra mas … tukang tambera mas
Toekang tiram … tukang tiram

(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Halaman 22: Seperti halnya di halaman 7, bagian ini memperlihatkan berbagai macam sarana pengangkutan, tapi kali ini dengan dominasi transportasi perairan.
Djangkar … jangkar.
Kapal api … kapal api (Uap)

Karèta tramwih … kereta trem
Kemoedi … kemudi (kapal)
Koeda pikoelan … kuda pikulan
Prahoe badawang … perahu badawang (?)
Prahoe kojan … perahu koyan (?)
Prahoe kroewis … perahu penjelajah
Prahoe majang … perahu mayang
Tandoe tjina … tandu Tionghoa
Tangkap ikan … menangkap ikan

(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Halaman 23 berisi aneka hal yang tampaknya terjadi di rumah besar seorang tuan Belanda, seperti datangnya tukang arang untuk isi ulang setrikaan, hingga ke pembantu yang main congklak. Ada pula tukang pinatu yang mengambil cucian, di mana di ibu Belanda tampak digambarkan juga memakai kain dan kebaya panjang putih.
Catatan: Dua perempuan bermain congklak mengingatkan pada sebuah posting lama di blog ini.
Main tjongkak (Dakon) … bermain congklak (dakon)
Papan toekang minatoe … papan cuci
Strika … setrikaan
Toekang arang … tukang arang
Toekang minatoe ambil barang … tukang penatu mengambil barang
Toekang potong roempoet … tukang potong rumput
Toekang sapoe … tukang sapu

(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Halaman 24 atau terakhir menampilkan lagi pedagang, kali ini penjual buah-buahan dan hewan peliharaan. Para pedagang ini ditampilkan tidak mengenakan baju, yang tampaknya memang menunjukan keadaan sebenarnya di masa itu; misalnya pedagang buah, contoh yang fotonya bisa dilihat di posting ini.
Boeroeng gelatik djinak … burung gelatik jinak
Toekang boeroeng belèkèt … tukang burung ???
Toekang boeroeng serindit … tukang burung serindit
Toekang boewah-boewah … tukang buah-buahan
Toekang kalkoen (ajam blanda) … tukang kalkun (ayam Belanda)
Toekang kelintji … tukang kelinci




Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar