Minggu, 16 Februari 2020

Sekolah khusus perempuan di Jawa Barat pada awal abad ke-20

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: awal abad ke-20
Tempat: Bandung (?)
Tokoh:
Peristiwa: Sebuah foto kelas yang memperlihatkan pengajar dan murid dari sebuah sekolah yang tampaknya khusus untuk perempuan. Kemungkinan besar ada kelas yang dibedakan untuk perempuan yang duduk di lantai dengan pakaian yang sederhana, dan untuk para gadis yang duduk di kursi dengan pakaian yang lebih berkelas.
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Sabtu, 15 Februari 2020

Jepretan Charles Breijer 1947-1953: Keramaian di Jalan Malioboro, Yogyakarta (3)

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)

Waktu: 1948
Tempat: Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Charles Breijer
Sumber / Hak cipta: Het Geheugen van Nederland / Nederlands Fotomuseum
Catatan:

Jumat, 14 Februari 2020

Mesjid Agung Manonjaya di tahun 1901/1902

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: 1901/1902
Tempat: Manonjaya (Tasikmalaya)
Tokoh:
Peristiwa: Mesjid ini didirikan di alun-alun Manonjaya pada tahun 183, ketika tempat ini masih menjadi ibukota Tasikmalaya, atau "Sukapura" saat itu. Bentuk mesjid ini cukup menarik karena bagian atasnya bukan kubah, tapi disain atap Sunda/Jawa bertingkat. "Menara" pendek di kiri dan kanan juga cenderung berdisain Eropa dengan jendela bergaya kolonial. Tiang-tiang penyangga juga tampak jelas merupakan gaya Eropa.
Fotografer: A.E.F. Muntz
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Kamis, 13 Februari 2020

Jepretan Charles Breijer 1947-1953: Keramaian di Jalan Malioboro, Yogyakarta (2)

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)

Waktu: 1948
Tempat: Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Charles Breijer
Sumber / Hak cipta: Het Geheugen van Nederland / Nederlands Fotomuseum
Catatan:

Rabu, 12 Februari 2020

Wajah lelaki pulau Jawa di sekitar tahun 1900 dan kegiatan eksklusifnya

Sebuah pawai yang hanya terdiri dari anak dan dewasa pria
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Topeng monyet dan kambing di Jakarta, dengan penonton hanya anak-anak lelaki
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Mengiring jenazah ke kuburan, kegiatan khusus lelaki
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Menguburkan dan mendoakan mayat, hanya dihadiri para pria
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: sekitar tahun 1900
Tempat: Jakarta, Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Selasa, 11 Februari 2020

Jepretan Charles Breijer 1947-1953: Keramaian di Jalan Malioboro, Yogyakarta (1)

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)

Waktu: 1948
Tempat: Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Charles Breijer
Sumber / Hak cipta: Het Geheugen van Nederland / Nederlands Fotomuseum
Catatan:

Senin, 10 Februari 2020

Beberapa sarana transportasi zaman dulu

Sarana yang selama ratusan tahun telah terbukti cepat, lincah, dan fleksibel adalah berkuda, seperti yang dilakukan oleh pejabat muda Belanda ini, ketika menginspeksi wilayah Priangan di abad ke-19, dengan dikawal oleh rombongan kuda warga lokal.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Untuk pejabat yang lebih tinggi, kereta berkuda seperti yang terlihat di Cisokan (Cianjur, sebelum 1874) ini akan memberikan lebih banyak kenyamanan dalam perjalanan.
(klik untuk memperbesar | © Woodbury & Page / Universiteit Leiden)
Para pembesar yang sangat tinggi tentunya memiliki kereta kencana seperti milik Susuhunan Solo ini (sebelum 1874).
(klik untuk memperbesar | © Woodbury & Page / Universiteit Leiden)
Jika daya angkut lebih penting daripada kecepatan, maka pedati sapi merupakan pilihan yang telah teruji berabad-abad, seperti pengangkut air di Medan tahun 1900 ini.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pedati sapi juga sangat fleksibel dalam hal jenis beban yang bisa angkut. Pedati di Semarang pada tahun 1901/1902 ini misalnya mengangkut kaleng minyak.
(klik untuk memperbesar | © A.E.F. Muntz / Universiteit Leiden)
Penemuan dan produksi massal kendaraan bermotor di awal abad ke-20 perlahan-lahan menyingkirkan transportasi bertenaga hewan. Ketika mobil mulai populer, pemerintah Hindia-Belanda mulai membangun jembatan berbasis besi untuk menyeberangi sungai, seperti jembatan Sungai Cimanuk di Tomo (Sumedang) pada tahun 1915 ini.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: abad ke-19, 1874, 1900, 1901/1902, 1915
Tempat: Cianjur, Jawa Barat, Medan, Semarang, Sumedang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: A.E.F. Muntz / Woodbury & Page (Batavia)
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: