Sabtu, 07 Desember 2019

Peninggalan purbakala dari bagian tenggara Jawa Barat: Panjalu dan Sadapaingan (Ciamis)

PENGANTAR

Pada tahun 1863-1864 Isidore van Kinsbergen menerbitkan sebuah album berjudul Oudheden van Java, op last der Ned. Indische regering, onder toezigt van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang berisi foto-foto peninggalan purbakala di Jawa, dari wilayah Banten hingga ke Jawa Timur.


Candi, arca, dan situs purbakala dari bagian tengah dan timur pulau Jawa umumnya sudah sangat terkena, banyak dibahas, dan menjadi objek wisata hingga sekarang. Berbeda dengan peninggalan purbakala di bagian barat, yang tampaknya tidak mendapat perhatian sebesar di bagian tengah dan timur.

Seri foto berikut akan mencoba untuk memperlihatkan apa yang sudah didokumentasikan oleh van Kinsbergen lebih dari 100 tahun lalu, dengan harapan mudah-mudahan tidak membuat kita lupa akan peninggalan nenek moyang ini.


Peta di bawah memperlihatkan situs-situs tempat ditemukannya benda-benda purbakala di bagian tenggara Jawa Barat, yang sekarang meliputi wilayah Ciamis, Garut, Kuningan, Majalengka, dan Tasikmalaya.
(klik untuk memperbesar)

Kentongan perungu dari Sadapaingan
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Kentongan yang sama difoto dari arah sebaliknya
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Piring berdekorasi dan genta dari Payungsari, Panjalu
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Ujung dwisula, penyangga lampu, dan pedang dari Panjalu
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)

Waktu: 1864
Tempat: Ciamis
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan:

Jumat, 06 Desember 2019

Sepak terjang, dan kekejaman, pasukan khusus Belanda di Sulawesi Selatan, 1946/1947 (1)

PENGANTAR

Seri foto berikut berasal dari sebuah unit DST (Depot Speciale Troepen, cikal bakal Korps Speciale Troepen yang kemudian mengilhami TNI untuk membentuk pasukan khusus Angkatan Darat) yang beroperasi di wilayah Sulawesi Selatan dari sekitar Desember 1946 hingga ke Juni 1947. Foto-foto ini diberi catatan tanggal, peristiwa, dan tempat; sehingga kita bisa menelusuri aktivitas unit DST ini. Nama tempat seperti Batu-batu, Camba, Gelenge, Maros, Parepare, dan Salomoni bisa diidentifikasi dengan jelas; tapi ada juga nama seperti "Tahalasi" (Takkalasi?) dan "Balla" (Ralla di dekat Salomoni?) yang perlu diteliti lebih lanjut.

(klik untuk memperbesar)

Seri foto ini, selain memperlihatkan patroli mereka dalam memburu para pejuang kemerdekaan, juga menunjukkan bagaimana mereka berkali-kali membakar rumah penduduk, bahkan juga menggranatinya, jika mereka mencurigai pemiliknya adalah pejuang atau bersimpati pada kemerdekaan Indonesia. Yang mencengangkan, mereka juga melakukan eksekusi massal di lapangan terbuka, di hadapan warga yang dikumpulkan, serta mempertontonkan jasad para warga yang mereka bunuh.

Mengejutkan bahwa foto-foto ini tidak hilang atau dihilangkan. Kita tidak tahu apakah ada kekejaman lain yang tidak mereka foto atau yang fotonya disembunyikan. Mudah-mudahan foto yang ada di sini bisa menambah kontribusi atas sejarah perjuangan kemerdekaan di Sulawesi Selatan.

Desember 1946: Ekspedisi menuju "Tahalasi" (Takkalasi?) dengan menggunakan warga lokal sebagai pemikul beban perlengkapan. Catatan foto menyebut nama Kapten Korinth van Oost sebagai komandan kesatuan.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Desember 1946, di wilayah utara Camba: Pembakaran rumah warga yang menurut unit DST ini merupakan milik seorang "ekstrimis"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Desember 1946, di wilayah utara Camba: Pembakaran rumah lain yang merupakan kediaman terduga "ekstrimis"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
18 Desember 1946, di wilayah utara Camba: Pembakaran rumah yang menurut unit DST ini merupakan tempat berkumpul para "rampokkers"; istilah Belanda lain untuk para pejuang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946Tempat: Sulawesi Selatan (Camba, Tahalasi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 05 Desember 2019

Peninggalan purbakala dari bagian tenggara Jawa Barat: Kawali (Ciamis)

PENGANTAR

Pada tahun 1863-1864 Isidore van Kinsbergen menerbitkan sebuah album berjudul Oudheden van Java, op last der Ned. Indische regering, onder toezigt van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang berisi foto-foto peninggalan purbakala di Jawa, dari wilayah Banten hingga ke Jawa Timur.


Candi, arca, dan situs purbakala dari bagian tengah dan timur pulau Jawa umumnya sudah sangat terkena, banyak dibahas, dan menjadi objek wisata hingga sekarang. Berbeda dengan peninggalan purbakala di bagian barat, yang tampaknya tidak mendapat perhatian sebesar di bagian tengah dan timur.

Seri foto berikut akan mencoba untuk memperlihatkan apa yang sudah didokumentasikan oleh van Kinsbergen lebih dari 100 tahun lalu, dengan harapan mudah-mudahan tidak membuat kita lupa akan peninggalan nenek moyang ini.


Peta di bawah memperlihatkan situs-situs tempat ditemukannya benda-benda purbakala di bagian tenggara Jawa Barat, yang sekarang meliputi wilayah Ciamis, Garut, Kuningan, Majalengka, dan Tasikmalaya.
(klik untuk memperbesar)

Dua bokor perungu
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Bokor yang sama, difoto dari arah sebaliknya
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Benda ritual Hindu-Buddha berupa genta dan pinggan dengan lambang lembu Nandi
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Peralatan ritual Hindu-Buddha lainnya, salah satunya berwujud ayam menggigit cicak dengan ular naga di bawahnya
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Dua genta dan tempat dupa
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Senjata tangan bermesiu
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)

Waktu: 1864
Tempat: Ciamis
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan:

Rabu, 04 Desember 2019

Para tokoh Belanda penentang perundingan Linggarjati dalam karikatur, 1946

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Beberapa kalangan di Belanda menentang perjanjian Linggarjati. Bagi mereka, perjanjian ini merupakan kekalahan bagi Belanda karena Republik Indonesia diakui secara hukum. Salah seorang penentang adalah Laksamana Conrad Helfrich, yang namanya terkenal karena kesatuan kapal selamnya di minggu-minggu pertama perang melawan Jepang di perairan Hindia-Belanda berhasil menenggelamkan lebih banyak kapal perang Jepang daripada kesatuan laut Inggris dan Amerika semasa perang secara keseluruhan.

Laksamana kelahiran Semarang ini digambarkan berada di kapal selam dan berteriak "Tembakkan torpedo ke kapal itu!" untuk menghalangi sebuah kapal penumpang bernama Cheribon yang merupakan simbol dari perundingan Linggarjati.

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Tokoh lain penentang perundingan Linggarjati adalah mantan PM Belanda, Pieter Sjoerds Gerbrandy, dan politisi dari Partai Katolik, Charles Welter, yang kelak menjadi ketua parlemen Belanda. Di karikatur di atas, Gerbrandy dan Welter digambarkan mengendap-endap bersama seorang tokoh lain bernama Marchant, yang bersama-sama tampaknya akan menyabot sebuah tenda berbendera "Lingga[d]jati".

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Karikatur di atas berjudul "[Perjanjian] Linggarjati ditandatangani" dan ada sebuah jembatan yang menghubungkan Belanda dan Indonesia. Namun, di bawah tampak berang-berang berwajah Gerbrandy tampak berkeliaran dan siap atau malah sedang menggeregoti tiang-tiang jembatan ini. Tulisan di bawah berbunyi "Sekarang, hati-hati dengan hewan pengerat!" Gerbrandy memang sangat menentang adanya Indonesia yang terpisah dari Kerajaan Belanda. Belakangan, dia mendukung Republik Maluku Selatan.

Waktu: 1946
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer / juru gambar: Leo Jordaan (nomor 2 dan 3)
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

UPDATE 9 November 2020: Karikatur nomor 2 dan 3 dalam versi yang lain

Karikatur karya Leo Jordaan ini terbit di Het Parool edisi 23 April 1947
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur karya Leo Jordaan ini terbit di Het Parool edisi 25 Maret 1947
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Selasa, 03 Desember 2019

Dua orang Jawa dan dua orang Tionghoa dalam perjalanan haji, 1901

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1901
Tempat: Aden (Yaman)
Tokoh:
Peristiwa: Warga Belanda bernama A.E.F. Muntz mengadakan perjalanan menuju Jawa dari Belanda di tahun 1901. Ketika singgah di Aden, Muntz mendapati Muslim dari Jawa yang sedang dalam perjalanan haji menuju Mekkah. Foto di atas cukup menarik karena kedua orang Jawa berfoto bersama dua Muslim Tionghoa.
Fotografer: A.E.F. Muntz
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Senin, 02 Desember 2019

Hasil perjanjian Linggarjati menurut karikatur Belanda, 1946

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
"Kesepakatan di Cirebon. Pas!" Menurut karikatur ini hasil perjanjian Linggarjati (yang berada di Kuningan, dan waktu itu termasuk Kresidenan Cirebon) menggembirakan semua pihak, baik yang pribumi maupun yang berkulit putih, baik yang melambaikan peci maupun yang mengacungkan topi kolonial. Hanya saja, karikatur ini termasuk pihak yang menafsirkan bahwa berdasarkan perjanjian Linggarjati semuanya tetap berada di naungan Kerajaan Belanda yang disimbolkan dengan mahkota.

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
"Waktu berlalu tanpa bisa ditahan!" Menurut karikatur ini Linggarjati merupakan usaha berat dari para pembesar Belanda, baik militer maupun sipil, untuk mencari kompromi di antara memberikan kemerdekaan (nationale vrijheid) kepada Indonesia dan menerapkan sanksi (poenale sanctie); sementara pilihan lain adalah hak yang sangat luas (exhorbitante rechten) atau eksploitasi penjajahan (koloniale uitbuiting).

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
"Prof. Romme melihat realitas Linggarjati". Karikatur ini memperlihatkan Carl Romme (anggota parlemen Belanda, pendiri Partai Rakyat Katolik) berdiri di pegunungan sekitar Linggarjati, sementara di sekelilingnya terlihat bagaimana Belanda menguasai Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya, sementara Soekarno bertahta di Yogyakarta, dengan pergerakan-pergerakan kelompok bersenjata di sekitarnya.

Waktu: 1946
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 01 Desember 2019

Konstruksi jembatan bambu zaman dulu: Jembatan gantung dari bambu di atas Kali Serayu (2)

PENGANTAR

Sebelum warga Nusantara belum mengenal konstruksi beton atau baja, bambu adalah bahan yang digunakan untuk membuat jembatan. Bambu relatif mudah didapat, tersedia dalam berbagai ukuran panjang, mudah dipotong sesuai kebutuhan, dan cukup elastis dalam menahan beban.

Kelemahan bambu tetapi adalah daya topangnya yang terbatas. Di sini, warga Nusantara mencoba menyiasatinya dengan berbagai kreasi struktur, yang akan kita lihat di beberapa foto berikut ini.

Ketika beban yang harus diseberangkan makin besar dan rumit, serta rentang jembatan makin panjang, akhirnya bambu menemui limit kemampuannya, dan harus menyerahkan fungsi jembatan kepada beton dan baja hingga sekarang ini.

Jembatan bambu di atas Kali Serayu juga merupakan karya yang mengesankan. Di sini orang menggunakan dan menyambung-nyambung bambu sebagai penahan suspensi, dan menggambungkan batang-batang bambu sebagai menara penyangga. Foto-foto di bawah memperlihatkan jembatan dengan penyangga yang terdiri dari beberapa lapis.

1910: Penyangga 2 lapis
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1922: Penyangga 2 lapis
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1900: Penyangga 4 lapis
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1902: Penyangga 4 lapis
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: 1900, 1902, 1910, 1922
Tempat: kemungkinan di wilayah Banjarnegara
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: