Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.
Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.
![]() |
| (klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD) |
- Teks asli penyerta foto:Bespreking met Indonesische hoofden over bestuurszaken na bezetting door Nederlandse leger op Java na de eerste politionele actie. "Samenwerking...Waarom niet met al onze vrienden? Direct na de bevrijding werd met de dorpshoofden over de opbouw overlegd. Soms, als het gebied aan nog niet bevrijd gebied grensde, dorst het dorpshoofd niet, bang voor wraak van de "Heilsbrengers" der T.R.I. Waarom werd slechts aan enkelen in Indiƫ gegund weer te leven bij Recht en Veiligheid?"
- Terjemahan:Pembicaraan dengan para pemuka masyarakat Indonesia tentang masalah administrasi setelah pendudukan Jawa oleh tentara Belanda setelah Aksi Polisionil I. "Kerja sama... Mengapa tidak dengan semua teman kita? Segera setelah pembebasan [oleh militer Belanda], para pemuka desa membahas pembangunan kembali. Terkadang, jika daerah itu berbatasan dengan wilayah yang belum dibebaskan [dari kekuasan Republik], para pemimpin desa tidak berani, karena takut akan pembalasan dari "pembawa keselamatan" T.R.I. Mengapa hanya sedikit orang di Hindia-Belanda yang diberi hak untuk hidup kembali di bawah keadilan dan keamanan?"
- Bahasan:Teks ini mengikuti pola yang biasa dipakai, yaitu 1) tentara Belanda membawa pembebasan, keadilan, serta keamanan; 2) masyarakat luas sebenarnya merasa lebih nyaman dengan kekuasaan Belanda; dan 3) TNI/TRI adalah kelompok yang menyebut diri pembawa keselamatan tetapi sebenarnya menyebar ketakutan.
- Catatan:
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar