Sabtu, 07 September 2019

Jakarta, Oktober 1945: Suasana warga Belanda di kamp tahanan Jepang di Kampung Makassar (2)

PENGANTAR

Jakarta di sekitar bulan September dan Oktober 1945 berada di situasi yang tidak menentu. Jepang sudah kalah perang, tetapi bala tentaranya masih berada di mana-mana lengkap dengan persenjataannya. Indonesia sudah menyatakan diri merdeka, tetapi aparat negara dan pemerintahan masih dalam tahap pembentukan.

Belanda berusaha kembali ke Indonesia, tetapi di tanah airnya masih terkendala proses pemulihan setelah pendudukan Jerman, dan di Hindia-Belanda terkendala kenyataan bahwa para lelaki dewasa mereka dibuang Jepang ke Manchuria. Sisa-sisa lelaki Belanda berada di penjara militer Jepang, atau jompo dan sakit di penampungan darurat.

Sementara itu Inggris, atas nama pihak Sekutu, mendatangkan kesatuan tentara Indianya dengan tugas resmi mengurus sisa-sisa militer Jepang, tetapi bentrok dengan para pemuda Indonesia yang mencurigai Inggris mempermudah masuknya kembali Belanda ke Indonesia.

Di situasi ini, seorang fotografer bernama H. Ripassa berhasil membuat beberapa foto dari berbagai sudut Jakarta. Kemungkinan besar Ripassa ini seorang campuran Eropa-Asia sehingga dia memiliki berbagai kemudahan untuk bergerak dan mengambil foto. Seri ini akan menampilkan beberapa jepretan dia.


Kamp tahanan di Kampung Makassar berbeda dengan kamp lain seperti yang di Cideng, Halimun, atau Kramat yang dari asalnya memang sudah merupakan area pemukiman dengan perumahan yang permanen beserta fasilitasnya. Di Kampung Makassar warga Belanda harus tinggal di rumah berdinding bilik bambu, bukan tembok; beratap rumbia, bukan genting; dan alas serta jalanan dari tanah, bukan plasteran. Kamp ini tampaknya juga langsung bertetangga dengan alam, bukan perkotaan.

Bisa dibayangkan bahwa kehidupan di kamp ini lebih berat buat orang Belanda daripada kamp lain di Jakarta. Tetapi, foto-foto ini memperlihatkan bagaimana orang tetap berusaha menjalankan kehidupannya di suasana berat ini.

Mencuci di antara jemuran
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Batas kamp dengan kawat berduri
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tampak dalam kamp
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak dan wanita penghuni kamp
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Salah satu sudut kamp dilihat dari luar
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Perumahan di dalam kamp
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Waktu: kemungkinan September/Oktober 1945
Tempat: Kamp Kampung Makassar (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H. Ripassa
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 06 September 2019

Bangsawan Jawa dalam jepretan S.W. Camerik, 1860: Sultan Hamengkubuwono VI

Hamengkubuwono VI dalam pakaian kebesaran Jawa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Hamengkubuwono VI dalam seragam mayor-jenderal KNIL
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1860
Tempat: Yogyakarta
Tokoh: Sri Sultan Hamengkubuwana VI (Gusti Raden Mas Mustojo, Sultan Yogyakarta 1855-1877)
Peristiwa:
Fotografer: S.W. Camerik
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Kamis, 05 September 2019

Jakarta, Oktober 1945: Suasana warga Belanda di kamp tahanan Jepang di Kampung Makassar (1)

PENGANTAR

Jakarta di sekitar bulan September dan Oktober 1945 berada di situasi yang tidak menentu. Jepang sudah kalah perang, tetapi bala tentaranya masih berada di mana-mana lengkap dengan persenjataannya. Indonesia sudah menyatakan diri merdeka, tetapi aparat negara dan pemerintahan masih dalam tahap pembentukan.

Belanda berusaha kembali ke Indonesia, tetapi di tanah airnya masih terkendala proses pemulihan setelah pendudukan Jerman, dan di Hindia-Belanda terkendala kenyataan bahwa para lelaki dewasa mereka dibuang Jepang ke Manchuria. Sisa-sisa lelaki Belanda berada di penjara militer Jepang, atau jompo dan sakit di penampungan darurat.

Sementara itu Inggris, atas nama pihak Sekutu, mendatangkan kesatuan tentara Indianya dengan tugas resmi mengurus sisa-sisa militer Jepang, tetapi bentrok dengan para pemuda Indonesia yang mencurigai Inggris mempermudah masuknya kembali Belanda ke Indonesia.

Di situasi ini, seorang fotografer bernama H. Ripassa berhasil membuat beberapa foto dari berbagai sudut Jakarta. Kemungkinan besar Ripassa ini seorang campuran Eropa-Asia sehingga dia memiliki berbagai kemudahan untuk bergerak dan mengambil foto. Seri ini akan menampilkan beberapa jepretan dia.


Kamp tahanan di Kampung Makassar berbeda dengan kamp lain seperti yang di Cideng, Halimun, atau Kramat yang dari asalnya memang sudah merupakan area pemukiman dengan perumahan yang permanen beserta fasilitasnya. Di Kampung Makassar warga Belanda harus tinggal di rumah berdinding bilik bambu, bukan tembok; beratap rumbia, bukan genting; dan alas serta jalanan dari tanah, bukan plasteran. Kamp ini tampaknya juga langsung bertetangga dengan alam, bukan perkotaan.

Bisa dibayangkan bahwa kehidupan di kamp ini lebih berat buat orang Belanda daripada kamp lain di Jakarta. Tetapi, foto-foto ini memperlihatkan bagaimana orang tetap berusaha menjalankan kehidupannya di suasana berat ini.

Barang-barang warga Belada di luar tembok kamp, kemungkinan sebelum penutupan kamp dan pemindahan mantan warga kamp ke tempat lain
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Makan di alam terbuka
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bersahabat dengan anjing, babi, dan kambing
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kamp difoto dari luar perimeter pembatas dari bambu dan kawat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Cuci, jemur, dan masak di luar rumah
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Suasana kamp setelah para lelaki Belanda mulai kembali
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan September/Oktober 1945
Tempat: Kamp Kampung Makassar (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H. Ripassa
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 04 September 2019

Warga Tionghoa yang menjadi pekerja perkebunan tembakau di Deli, 1890

Para pekerja Tionghoa di barak pengolahan tembakau, dengan diawasi oleh mandor Belanda. Di sebelah kiri kemungkinan adalah barak tempat para pekerja ini tidur. Di sebelah kanan tampak digantung beberapa potong pakaian, dan ... payung.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Para pekerja Tionghoa berkumpul di rumah mandor yang juga Tionghoa (tampaknya yang berdiri di tengah di teras atas). Menarik untuk dicatat adanya seorang penjaga bangsa Keling, dan seorang wanita berkebaya panjang.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1890
Tempat: Deli
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Selasa, 03 September 2019

Jakarta, Oktober 1945: Wanita dan anak-anak Belanda di kamp tawanan Kramat

PENGANTAR

Jakarta di sekitar bulan September dan Oktober 1945 berada di situasi yang tidak menentu. Jepang sudah kalah perang, tetapi bala tentaranya masih berada di mana-mana lengkap dengan persenjataannya. Indonesia sudah menyatakan diri merdeka, tetapi aparat negara dan pemerintahan masih dalam tahap pembentukan.

Belanda berusaha kembali ke Indonesia, tetapi di tanah airnya masih terkendala proses pemulihan setelah pendudukan Jerman, dan di Hindia-Belanda terkendala kenyataan bahwa para lelaki dewasa mereka dibuang Jepang ke Manchuria. Sisa-sisa lelaki Belanda berada di penjara militer Jepang, atau jompo dan sakit di penampungan darurat.

Sementara itu Inggris, atas nama pihak Sekutu, mendatangkan kesatuan tentara Indianya dengan tugas resmi mengurus sisa-sisa militer Jepang, tetapi bentrok dengan para pemuda Indonesia yang mencurigai Inggris mempermudah masuknya kembali Belanda ke Indonesia.

Di situasi ini, seorang fotografer bernama H. Ripassa berhasil membuat beberapa foto dari berbagai sudut Jakarta. Kemungkinan besar Ripassa ini seorang campuran Eropa-Asia sehingga dia memiliki berbagai kemudahan untuk bergerak dan mengambil foto. Seri ini akan menampilkan beberapa jepretan dia.



(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan September/Oktober 1945
Tempat: Kamp Halimun (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H. Ripassa
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 02 September 2019

Suasana multi-etnis di perkebunan tembakau di Sumatera Utara di tahun 1890

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1890
Tempat: Sumatera Utara (kemungkinan sekitar Deli)
Tokoh:
Peristiwa: Enam meneer Belanda yang mengelola perkebunan tembakau duduk berpose bersama para asistennya yang berdiri di belakang, yang beretnis Tionghoa (7 orang), Keling (2 orang), Jawa (2 orang).
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: Lihat juga posting tanggal 17 Juni 2014, 28 Februari 2015, dan 29 September 2016.


Minggu, 01 September 2019

Jakarta, Oktober 1945: Pembebasan warga Belanda dari kamp tahanan Jepang di Halimun (4)

PENGANTAR

Jakarta di sekitar bulan September dan Oktober 1945 berada di situasi yang tidak menentu. Jepang sudah kalah perang, tetapi bala tentaranya masih berada di mana-mana lengkap dengan persenjataannya. Indonesia sudah menyatakan diri merdeka, tetapi aparat negara dan pemerintahan masih dalam tahap pembentukan.

Belanda berusaha kembali ke Indonesia, tetapi di tanah airnya masih terkendala proses pemulihan setelah pendudukan Jerman, dan di Hindia-Belanda terkendala kenyataan bahwa para lelaki dewasa mereka dibuang Jepang ke Manchuria. Sisa-sisa lelaki Belanda berada di penjara militer Jepang, atau jompo dan sakit di penampungan darurat.

Sementara itu Inggris, atas nama pihak Sekutu, mendatangkan kesatuan tentara Indianya dengan tugas resmi mengurus sisa-sisa militer Jepang, tetapi bentrok dengan para pemuda Indonesia yang mencurigai Inggris mempermudah masuknya kembali Belanda ke Indonesia.

Di situasi ini, seorang fotografer bernama H. Ripassa berhasil membuat beberapa foto dari berbagai sudut Jakarta. Kemungkinan besar Ripassa ini seorang campuran Eropa-Asia sehingga dia memiliki berbagai kemudahan untuk bergerak dan mengambil foto. Seri ini akan menampilkan beberapa jepretan dia.



Kamp Halimun merupakan salah satu area di mana militer Jepang menginternir wanita dan anak-anak Belanda. Kamp yang terletak di sekitar pemakaman Menteng Pulo sekarang ini, merupakan komplek perumahan yang sudah berdiri sebelumnya, dan kemudian oleh pasukan Jepang ditutup sekelilingnya dengan pagar bambu yang dilengkapi dengan kawat berduri.

Setelah Jepang kalah perang, pasukan Inggris datang serta membebaskan kamp ini. Mereka juga mendatangkan beberapa lelaki Belanda dengan truk dari penjara militer Glodok.

Wanita dan anak-anak di gerbang utama menyambut pembebasan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Wanita dan anak-anak membongkar pagar yang mengukung kamp
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pagar bambu yang dirobohkan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak membantu mengumpulkan kayu (bakar?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Ibu-ibu Belanda antri di truk palang merah yang kemungkinan membawa bantuan kemanusiaan. Tampak seorang tentara Jepang menyaksikan.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan September/Oktober 1945
Tempat: Kamp Halimun (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H. Ripassa
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: